Kamis, 28 Agustus 2014

"Kluwung" Nono Warnono “Ranage” 2014

sastra-bojonegoro.blogspot.com

 

PENGANUGERAHAN HADIAH SASTRA “RANCAGE” 2014

DSC_0610

Pada hari Selasa, 19 Agustus 2014, di Aula Barat ITB Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB mendapatkan kehormatan untuk menyelenggarakan Penganugerahan Hadiah Sastra “Rancage” 2014 bersama-sama dengan Yayasan Kebudayaan “RANCAGE”. Yayasan Kebudayaan Rancage didirikan oleh Ajip Rosidi tahun 1989 yang menyelenggarakan anugerah Hadiah Sastera Rancage dan Konferensi Internasional Budaya Sunda pada tahun 2001 dan 2011. Hadiah sastera Semula hanya diberikan kepada karya-karya dan tokoh- tokoh sastera Sunda. Sejak tahun 1994  hadiah sastera mulai dikembangkan pada lingkup yang  lebih luas,yaitu  karya-karya dan tokoh-tokoh sastera Jawa kemudian sastera Bali  mulai 1998  dan sastera Lampung mulai 2008. Tujuan didirikannya Kebudayaan Rancage adalah: (a) Memelihara, mengembangkan, dan melestarikan  bahasa dan sastera daerah agar sejajar dengan sastera nasional dan internasional; (b) Menumbuhkan minat membaca masyarakat  terhadap buku-buku yang diterbitkan dalam bahasa daerah, dan menghormati serta mengapresiasinya sebagai warisan kekayaan rohani bangsanya; serta (c) Menciptakan iklim kreatifitas bagi para pengarang dan penggiat kebudayaan daerah.

Para penerima Hadiah Sastera dan Bahasa  tahun 2014 dari Yayasan Kebudayaan Rancage:

Hadiah Sastera “Rancage”

1. SASTERASUNDA
Titimangsa: 68 Sajak Alit, karya Abdullah Mustappa
Mangle untuk jasa, majalah basa Sunda yang mulai
terbit tahun 1957

2. SASTERAJAWA
Kluwung, Kumpulan crita cekak karya Nono Warnono
Dhanu Priyo Prabowo untuk jasa.

3. SASTRA BALI
Tutur Bali, Kumpulan cerita karya I Wayan Westa
I Gusti Made Sutjaja untuk jasa

4. SASTRA LAMPUNG
Suluh, Kumpulan sajak oleh Fitri Yani
Hadiah “Samsudi”
Prasasti nu Ngancik nu Ati, Karya Popon Saadah.

Hasil Lengkap Pemenang Hadiah Rancage 2014

 

BANDUNG,(PR)- Yayasan Kebudayaan Rancange untuk ke 26 kalinya kembali akan memberikan Hadiah Sastera Rancage 2014 untuk karya sastera Sunda dan lembaga. Tahun 2014 Hadiah Sastera Rancage diberikan pada budayawan sastrawan Sunda Abdulah Mustappa, Hadiah Samsudi kepada Popon Saadah dan Hadiah Rancage bidang jasa diberikan kepada Majalah Mangle.


Hadiah Rancage selain diberikan kepada sastrawan, budayawan dan lembaga Sunda, juga diberikan kepada sastrawan dan budayawan Bali, Jawa serta Lampung. “Untuk sastera Sunda Hadiah Rancage memasuki tahun ke-26, sastera Jawa ke-21 kalinya, sastera Bali untuk ke-18 kali dan untuk sastera Lampung buat keempat kalinya,” ujar Apip Catrik , Wakil Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage, ditemui disela-sela pagelaran drama musikal Sunda religi, “Kasidah Cinta Al-Faruq”, Auditorium Padepokan Seni Mayang Sunda.


Sepanjang tahun 2013 buku sastera bahasa Sunda dan bacaan anak-anak yang terbit ada 42 judul, yaitu 27 judul buku baru dan 15 judul merupakan cétak-ulang, lebih sedikit dari buku yang terbit tahun sebelumnya (ada 68 judul). “Seperti biasa buku cétak ulang, karya bersama dan karya Ajip Rosidi tidak masuk hitungan, artinya tidak dipertimbangkan untuk mendapat Hadiah ‘Rancagé’,” terang Apip.


Penerbit yang menerbitkan buku bahasa Sunda dalam tahun 2013 kian banyak. Selain Kiblat Buku Utama yang menerbitkan 17 judul, ada Geger Sunten (5 judul), Green Smart Books Publishing (4 judul), TBM Nurul Huda (4 judul), Pustaka Jaya (3 judul), Wisata Literasi (3 judul), Studio Titik Dua (1 judul), Rak Buku (1 judul), MSB Publishing (1 judul), dan Galeri Padi (1 judul). Dua judul diterbitkan oléh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemda Jawa Barat.


Dari 27 judul buku baru ada sebuah yang merupakan terjemahan (Si Démplon karya Guy de Maupassant diterjemahkan oléh Duduh Durahman). Dari 26 judul karya asli, satu berupa ésai berjudul Wanoh ka Lakuning Jagat yang ditulis oléh Adjat Sudradjat, guru besar géologi dan vulkanologi Universitas Padjadjaran. Buku-buku lainnya berupa fiksi: Berlian : 11 carpon wanoja (karya bersama), Boa-boa karya Irianto; Wayahna karya Irianto, Tunggu Hujan karya Irianto, Nunang Nunaning karya Irianto, Lalakon Awon karya Godi Suwarna, Ronggéng Sajajagat karya Ahmad Bakri, Lalaki na Tungtung Peuting karya Tiktik Rusyani, Londok karya Hérmawan Aksan, Randa Ték Dung karya Muryana Surya Atmaja dan Nénéng Sumarni, Bulan Buleud dina Jandéla karya Dudung Ridwan, Kalakay karya Dény Riaddy, A Liong karya Nyi Roro, Kumaha Aing Wéh karya @KumahaAingWéh, Srie Sunarsasi karya Enas Mabarti, Kabungbulengan karya H.D. Bastaman, Sabalakana karya Dadan Sutisna, Tariking Angin karya Godi Suwarna, Katumbiri: Antologi Sajak Sunda diédit oléh Téddi Muhtadin, Hariweusweus Leuweung Pineus karya Arom Hidayat dan Titimangsa: 68 Sajak Alit karya Abdullah Mustappa.


Yayasan Kebudayaan “Rancagé” menerima buku-buku dalam bahasa Madura dan bahasa Banjar terbitan tahun 2013. Dua judul buku bahasa Madura semuanya kumpulan puisi, dan keduanya ditulis oléh seorang penyair yaitu Yayan K.S. “Kejhung Aghung”, merupakan kumpulan sajak modéren dalam bahasa Madura dan”Puisi Jhâpa”, merupakan puisi mantera dalam bahasa Madura. Kecuali itu ada kiriman buku kumpulan sajak dalam bahasa Banjar “Sisigan Sungai” karya Abdurrahman El Husaini.


Pada acara penyerahan yang akan dilaksanakan Selasa (19/8) bertempat di Aula Barat ITB Jalan Ganesha Bandung Hadiah Sastera Rancage 2014 selain diberikan pada budayawan sastrawan Sunda Abdulah Mustappa, Hadiah Samsudi kepada Popon Saadah dan Hadiah Rancage bidang jasa diberikan kepada Majalah Mangle, juga akan diberikan pada sasterawan dan budayawan Jawa, Bali dan Lampung.


Hadiah Sastera “Rancagé” 2014 untuk sastera Jawa diberikan kepada Nono Warnono untuk katyanya berupa kumpulan cerita “Kluwung” dan untuk jasa diberikan kepada Dhanu Priyo Prabowo. Sementara untuk sastera Bali diberikan kepada I Wayan Westa untuk kumpulan cerita “Tutur Bali” dan untuk jasa diberikan kepada I Gusti Made Sutjaja. Sedangkan sastera Lampung diberikan kepada Fitri Yani untuk karya kumpulan sajak “Suluh”. (Retno Heriyanto/A-89)***

Selasa, 10 Juni 2014

Pertemuan Penyair Asia Tenggara dan Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra II

sastra.bojonegoro






Pertemuan Penyair Asia Tenggara
dan Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra II

Keberadaan kesusastraan di tengah kehidupan masyarakat memiliki peranan yang sangat penting. Tidak saja dikarenakan kesusastraan dapat dijadikan indikator pengukuran nilai-nilai sosio-kultural, sosio-politik bahkan para ranah transenden sekalipun, melainkan dapat juga dijadikan sebagai cerminan  peradaban manusia. Sebut saja, penandaan masa prasejarah dan sejarah diberlakukan melalui penemuan tulisan, bahkan sebutan prasejarah dewasa ini juga dikenal dengan nama praaksara.

Sungguhlah tidak berlebihan, jika mengatakan kesusastraan sebagai cerminan peradaban manusia, sebagaimana kita ketahui bersama, penandaan masa prasejarah dan sejarah diberlakukan melalui penemuan tulisan, bahkan sebutan prasejarah dewasa ini juga dikenal dengan nama praaksara. Kemudian, kenyataan akan pentingnya kesusastraan sebagai bagian dari kegiatan literasi manusia yang estetis dan luhur, tidak sejalan dengan perkembangannya di era modern ini.

Tingkat kesadaran masyarakat Asia Tenggara—tidak  terkecuali Indonesia—mengalami kemunduran nilai serta minat terhadap dunia sastra. Fakta ini mesti ditanggapi dengan cepat dan mesti ditangani dengan tepat. Bukan perkara bagaimana mesti melainkan bagaimana kita memulai pergerakan yang berkelanjutan serta tepat sasaran.

Gagasan untuk mengundang para penyair dari berbagai negara khusunya di wilayah Asia Tenggara, akhirnya sangat penting untuk dilaksanakan. Akan tetapi, tidak sebagaimana pertemuan-pertemuan penyair yang kerap selesai begitu saja, kegiatan ini diharapkan benar-benar memberikan suatu pengaruh terhadap dunia sastra. Dalam hal ini, tidak sedang berbicara pengaruh dalam artian popularitas atawa selebritas kepenyairan, melainkan mengenai penyair yang benar-benar berbaur dengan pelajar, mahasiswa, pendidik,  dan atau tanpa terkecuali seluruh lapisan masyarakat.

Bagaimana mengaplikasikan wacana yang sebegitu membumi? Melalui kegiatan ini, para penyair akan diajak untuk tinggal di rumah-rumah warga tanpa pengecualian di rumah birokrat yang telah bersedia menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal. Hal tidak lain tidak bukan, untuk memberikan kebebasan kepada para penyair untuk mencercap nilai-nilai tanah, udara, dan air dengan gaya dan caranya masing-masing.

Sekolah-sekolah di Kota Cilegon pun telah bersedia menjadi tempat pementasan para penyair, seminar, serta tempat obrolan ringan antara para penyair dan dengan para siswa. Akan ada pembagian kelompok penyair untuk mendatangi sekolah-sekolah yang kami bagi menjadi empat wilayah, yakni Wilayah Selatan, Utara, Timur, dan Barat. Tentu saja, kami pun telah membagi panitia dalam empat kelompok untuk kelancaran acara tersebut.

Kemudian, para penyair diharapkan menuliskan maksimal 3 puisi, esai, atau cerpen semasa tinggal di Kota Cilegon. Karya-karya tersebut akan dibukukan oleh Dewan Kesenian Cilegon dengan sponsor yang turut membantu dan dibagikan di sekolah-sekolah yang ada di Provinsi Banten. Para penyair juga akan mendapatkan bukti penerbitannya masing-masing 1 eksamplar.

Perlu diketahui, tidak hanya penyair yang karyanya termuat dalam buku Lentera Sastra II saja yang diundang. Penyair-penyair yang ingin turut mengisi kegiatan ini sangat dipersilakan, dengan syarat memberitahu lebih dahulu kepada panitia.

Kira-kira begitu, hal sederhana mengenai Pertemuan Penyair Asia Tenggara, tidak ada yang berlebihan.

AGENDA ACARA:

Adapun agenda acara secara umum dibagi menjadi empat bagian:

1. Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra II
-       Gembrung Budaya Indonesia.
-       Pentas Sastra Asia Tenggara.
-       Pentas Sastra Pelajar.

2. Seminar Sastra Negeri Serumpun
-       Dinamika Sastra Asia Tenggara.
-       Indonesia dalam khazanah literasi dunia.
-       Eksotisme Sastra Banten.

3. Penyair Asia Tenggara Masuk Sekolah
-       MA Al-Khairiyah Karangtengah (Utara)
-       SMP IT Raudatul Jannah Cilegon (Selatan)
-       Dua sekolah lagi masih dalam tahap komunikasi (Barat dan Timur)

4. Jelajah Kultur 
-       Komplek Kerajaan Banten Lama.
-       Ziarah Geger Cilegon.
-       Ziarah Produksi Kebudayaan Cilegon.


WAKTU PELAKSANAAN

Pembukaan dan Peluncuran Buku Puisi Penyair Asia Tenggara (Lentera Sastra II)

Hari, tanggal                : Jumat, 08 Agustus 2014
Pukul                           : 15.30-selesai
Tempat                        : Rumah Dinas Cilegon.

Penyair Asia Tenggara Masuk Sekolah

Hari, tanggal                : Sabtu, 09 Agustus 2014
Pukul                           : 08.30-12.00 WIB
Tempat                        : MA Al-Khairiyah Karangtengah (Utara), SMP IT Raudatul Jannah (Selatan), Barat, dan Timur.

Seminar Sastra Asia Tenggara

Hari, tanggal                : Sabtu, 09 Agustus 2014
Pukul                           :15.45-17.15 WIB
Tempat                        : Tentatif

Pentas Sastra Asia Tenggara

Hari, tanggal                : Sabtu, 09 Agustus 2014
Pukul                           : 19.30-23.30 WIB
Tempat                        : Lapangan Bola Mini Cilegon

Jelajah Kultural

Hari, tanggal                : Minggu, 10 Agustus 2014
Pukul                           : 08.00 s.d. selesai.
Tempat                        : Komplek Kerajaan Banten Lama, Situs Geger Cilegon, dll.


NAMA-NAMA PENYAIR YANG AKAN KAMI UNDANG BAIK YANG TERGABUNG DALAM BUKU LENTERA SASTRA II MAU PUN TIDAK TIDAK TERGABUNG DI DALAMNYA:

INDONESIA
  1. Abdul Malik,  (Medan, Sumut)
  2. Achmad Sultoni                (Cilacap, Jateng)
  3. Adri Sandra (Payakumbuh, Padang)
  4. Ady Harboy  (Medan, Sumut)
  5. Aldi Istanzia Wiguna, (Bandung, Jabar)
  6. Alhusni Husni, (Kajhu, Aceh Darussalam)
  7. Arafat AHC, (Demak, Jateng)
  8. Ari Witanto, (DI Yogyakarta)
  9. Arsyad Indradi, (Banjarbaru, Kalsel)
  10. Asrul Irfanto, (Bojonegoro, Jateng)
  11. Aulia Nur Inayah, (Tegal, Jateng)
  12. Ayat Khalili, (Madura, Jatim)
  13. Ayu Cipta, (Tangerang, Banten)
  14. Badruddin SA , (Madura, Jatim)
  15. Bambang Eka Prasetya, (Magelang, Jateng)
  16. Bagus Burhan, (Kudus, Jateng)
  17. Chipz Mirza Sastroatmodjo, (Kudus, Jateng)
  18. Daladi Ahmad, (Magelang, Jateng)
  19. Darman D Hoeri , (Malang, Jatim)
  20. Dedet Setiadi, (Magelang, Jateng)
  21. De Kemalawati, (Aceh)
  22. Dhenok Kristianti, (Bali)
  23. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
  24. Dimas Indiana Senja, (Brebes, Jateng)
  25. Edi S Febri, (Gringsing, Jateng)
  26. DR. TRI Budhi Sastri, (Siduardjo, Jatim)
  27. Ega Prayoga, (Cilegon, Banten)
  28. Ekohm Abiyasa, (Karanganyar, Jateng)
  29. Eni Meiniar Gito, (Rejang Lebong, Bengkulu)
  30. En Kurliadi NF, (Kranji, Bekasi)
  31. Fajar Timur, (Tangerang, Banten)
  32. Farida Sundari, (Sidorejo Hilir, Medan)
  33. Gampang Prawoto, (Bojonegoro, Jatim)
  34. Gia Setiawati Nesa, (Kotamobagu, Gorontalo)
  35. Gie Ferdiyan, (Cilegon, Banten)
  36. Gito Waluyo (Serang, Banten)
  37. Gol A Gong (Serang, Banten)
  38. Helfi Hendri Hanif, (Jakarta)
  39. Helin Avinanto, (Ngawi, Jatim)
  40. Hesti Sartika, (Medan, Sumut)
  41. Irham Kusumah, (Bandung, Jabar)
  42. Irna Novia Damayanti, (Purbalingga, Jateng)
  43. Isroni Muhammad Zulfa, (Banyumas, Jateng)
  44. Julia Asviana, (Pontianak, Kalbar)
  45. Karmila Ratna Dewi, (Malang, Jatim)
  46. Khoer Jurzani , (Sukabumi, Jabar)
  47. Kurnia Hidayati,                (Batang, Jateng)
  48. Lalu Muhammad Syamsul Arifin, (Lombok, NTT)
  49. Marina Novianti, (Bogor, Jabar)
  50. Muh Ali Sarbini, (Gresik, Jatim)
  51. Muhammad Asqalani Eneste, (Riau)
  52. Muhammad Lefand, (Jember, Jatim)
  53. Muhammad Rinaldy, (Palembang)
  54. Nastain Achmad Attabani, (Tuban, Jatim)
  55. Niam At-Majha, (Kudus, Jateng)
  56. Nova Linda, (Pekanbaru)
  57. Nurhadi, (Kendal, Jateng)
  58. Okto Muharman, (Batuhampar, Sumbar)
  59. Oscar Amran , (Bogor, Jabar)
  60. Retno Handoko, (Sumatra Utara)
  61. Riyanto, (Purwokerto, Jateng)
  62. Ruhyati, (Indramayu, Jabar)
  63. Seruni Tri Padmini, (Solo, Jateng)
  64. Sofyan rh Zaid, (Bekasi)
  65. Sri Wintala Achmad, (Cilacap, Jateng)
  66. Sulaiman Djaya (Serang, Banten)
  67. Sus Setyowati Hardjono (Sragen, Jateng)
  68. Syaki Zanky, (Bogor, Jabar)
  69. Teja Alhabd, (Dewan Kesenian Tanjungpinang)
  70. Toto ST Radik (Serang, Banten)
  71. Trisnatun Mpd, (Ajibarang, Jateng)
  72. Vanera El Arj, (Wonosobo, Jateng)
  73. Wanto Tirta, (Ajibarang, Jateng)
  74. Winarno Jumadi, (Bandung, Jabar)
  75. Wahyu Arya (Serang, Banten)
  76. WYAZ Ibnu Sinentang, (Ketapang, Kalbar)
  77. Windu Mandela, (Sumedang, Jabar)
  78. Yasintus T Runesi, (Jakarta)
  79. Yudi Damanhuri, (Tangerang, Banten)
  80. Yupnical Saketi, (Jambi)
  81. Zen AR  (Sumenep, Jatim)
  82. Zulkifli, S.Pd, (Jambi)


SINGAPORE
  1. Rohani Din, (Toa payoh)
  2. Jumadi Safar (Toa payoh)
  3. Faridah Bte Taib,  (National Institute of Education)
  4. Nordita Bte Taib, (Singapore Sports Council)
  5. Nor Aisya Bte Buang, (Marsiling Drive)
  6. Herman Mutiara, (Singapore)
  7. Khaziah Bte Yem, (Ministry of Education, Singapore)
  8. Dodi Alfy AZ, (Changi Airport & Road Sweeper)
  9. Ifa Hanifah, (Singapore)
  10. Khaireen Faezah, (Nanyang)
  11. Norhidayat Bin Mohamad Noor, (Bukit Batok)
  12. Mohd Khair Mohd Yasin, (Singapore)
  13. A.Jaaffar Munasip,  (Woodlands, Singapore)
  14. Kamaria Bte Buang, (Yhisun)



MALAYSIA
  1. Prof. Dr. Wan Abu Bakar, (Kuala Lumpur)
  2. Ampuan Awang, (Kinabalu)
  3. Azmi Nordin, (Klantan)
  4. Che Fauziah binti Idrus, (Kuala Lumpur)
  5. Ilya kalbam, (Kuala Lumpur)
  6. Didi Pengeja Adabi , (Hang Tuah)
  7. Gabriel Kimjuan, (Labuan)
  8. Mahlis Tompang, (Malaka)
  9. Mohd Ayadi, (Klantan)
  10. Norjanah MA, (Pulau Pinang)
  11. Roslan Syarif, (Slangor)
  12. Rosnani Ahmad, (Kedah)
  13. Teratai Abadi, (Kuala Lumpur)
  14. Sani La Bise, (Sabah)
  15. Sharimi Che Rus, (Kedah)
  16. Syafrein Effendi Usman, (Malaka)
  17. Ummi Marsheyta, (Kuala Lumpur)
  18. Umar Uzair, (Kuala Lumpur)
  19. Shirly Idris, (Pulau Penang)
  20. Rosmiaty Shaari, (Malaka)
  21. Djazlam Zainal, (Malaka)
  22. Abdullah Abdul Rahman, (Ipoh)
  23. Ahmad Ahnaf, (Kuala Lumpur)
  24. Ezah Nor, (Kuala Lumpur)
  25. Badaruddin Sabaruddin, (Kuala Lumpur)
  26. Kamelia Kameel                , (Kuala Lumpur)
  27. Yatim Ahmad, (Sabah)
  28. Hazwan Arif Hakimi, (Petaling Jaya)
  29. Md Radzi Mustafa, (Kuala Lumpur)
  30. Amran Ibrahim Rasidi, (Kuala Kangsar)
  31. Nur Azian Liza, (Ipoh)
  32. Ibnu Din Assingkiri
  33. Ahmad Sirajudin Mohd Tahir, (Perak)
  34. Afik Ikram Muslimin, (Johor)

BRUNEI DARUSSALAM
  1. Abdullah Tahir , (Tutong)
  2. Haji Jawawi, (Brunei)

TAILAND
  1. Dr. Phaosan Jehwae, (Pattani)
  2. Mahroso Doloh, (Pattani)

TAIWAN & HONGKONG
  1. Aini Sekar Arum, (BMI, Formosa )
  2. Jay Wijayanti, (BMI, Taipei)
  3. Lintang Panjer Sore, (BMI, Hongkong)


HAL-HAL LAIN

  1. Undangan resmi akan diserbarkan secara periodik mulai tanggal 20 Juni 2014.
  2. Untuk mempermudah kawan-kawan berkomunikasi dengan pemerintah setempat, kami mengundang juga dinas kesenian dan kebudayaan setempat.
  3. Tamu undangan akan mendapatkan akomodasi berupa penginapan dan konsumsi selama kegiatan berlangsung.
  4. Tamu undangan diharapkan hadir sebelum acara pembukaan dimulai (Jumat, 08 Agustus 2014 pukul 15.30 Waktu Indonesia Barat).
  5. Tamu undangan dari luar kota atau luar negeri yang menggunakan pesawat akan dijemput di Bandara/airport Soekarno Hatta, Jakarta dari pukul 09.00-13.00 Waktu Indonesia Barat.
  6. Tamu undangan yang menggunakan kereta akan dijemput di Stasiun Merak dari pukul 09.00-13.00 Waktu Indonesia Barat.
  7. Tamu undangan yang menggunakan Bus umum akan dijemput di Terminal PCI, Cilegon dari pukul 09.00-13. 00 WIB Barat.
  8. Tamu undangan yang datang di atas jam 13.00 akan diberi rute jalan menuju tempat kegiatan oleh panitia.

Demikian informasi sementara mengenai Pertemuan Penyair Asia Tenggara dan Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra ini disampaikan. Ada pun hal-hal yang ingin ditanyakan silakan diajukan kepada pantia.



Salam hormat kami,

Muhammad Rois Rinaldi
Ketua Pelaksana


Indra Kusumah
Ketua Umum Dewan Kesenian Cilegon


 sastra.bojonegoro

Rabu, 04 Juni 2014

Persiapan Festival Bengawan Bojonegoro, Gelar rapat

sastra.bojonegoro





Persiapan Festival Bengawan, Gelar Rapat Gabungan  


Reporter:Hazhu Muthoharoh

SastraBojonegoro. - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bersama Dewan Kebudayaan Bojonegoro (DKB) menggelar pematangan konsep Festival Bengawan Bojonegoro Rabu (4/6/2014). Rencananya festival akan digelar Agustus mendatang.

Rapat koordinasi juga dihadiri Satuan kerja terkait seperti Dinas Perhubungan, Dinas Perindustrian dan perdagangan serta Forum Komunitas Peduli Budaya (FKPB). Rapat membahas konsep yang akan diusung pada festival nanti dengan tujuan memperingati Hari Jadi Bojonegoro serta Hari Kemerdekaan RI, juga untuk menciptakan lingkungan budaya yang bersih.

"Di Bojonegoro, sungai melintas mulai Margomulyo hingga Baureno melewati 89 Desa di 11 Kecamatan. Jadi Festival ini nantinya akan menampilkan potensi-potensi yang dimiliki Bengawan Solo Bojonegoro mulai dari budaya, sejarah hingga kuliner," terang Kadisbudpar Bojonegoro, Bambang Suharno.

Festival ini juga sesuai dengan instruksi Bupati Bojonegoro untuk memperkenalkan potensi yang ada di Bengawan Bojonegoro baik dikancah lokal, nasional hingga international. Dengan mengangkat budaya daerah yang ada. Diharapkan masyarakat bisa tahu dan paham, seperti salah satunya budaya teplok sebelum membakar batu bata di tepian sungai bengawan, serta kuliner khas Bengawan seperti ikan wader dan ikan Jendil.

Seperti diketahui DKB sebelumnya mengusulkan konsep festival Bengawan Bojonegoro selama 3 hari 3 malam dengan aneka hiburan, budaya dan lomba-lomba. Namun konsep ini masih dikaji dan dimatangkan demi terselenggaranya acara yang sesuai dengan potensi yang dimiliki Bojonegoro.

"Masih kita bahas terus, untuk selanjutnya akan kami ajukan ke Bupati mana konsep yang disetujui,"terang Ketua DKB, Kuzaini.[zhu/ang]






Selasa, 27 Mei 2014

Panitia Festival Bengawan Bojonegoro Dibentuk









Reporter: Hazhu Muthoharoh

sastraBojonegoro. - Bersamaan dengan perayaan Hari Jadi Bojonegoro nanti, Dewan Kebudayaan Bojonegoro(DKB) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro akan menggelar Festival Bengawan Bojonegoro.

Malam ini, Jumat (23/5/2014) anggota DKB menggelar rapat pembentukan panitia yang akan menjadi koordinator acara yang rencananya akan digelar selama 3 hari 3 malam dengan setting Bengawan Bojonegoro.

Menurut Ketua DKB, Kuzaini, Festival ini akan dipusatkan di 3 titik yang berdekatan dengan Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, di antaranya Desa Ringinrejo, Desa Sukoharjo dan Lapangan Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk.

"Selain untuk memperingati Hari Jadi Bojonegoro, Festival Bengawan Bojonegoro ini juga bertujuan untuk mengenalkan kebudayaan Bojonegoro, tidak hanya skala nasional tetapi juga di Asia Pasifik," ungkap penulis buku ]Untu Emas ini.

Festival ini diperkirakan akan berjalan sangat meriah dengan berbagai acara seni juga budaya seperti lomba gethek atau perahu hias, suguhan tari-tari tradisional, langen tayub, wayang kulit, lomba layang-layang, dongeng cerita rakyat, lomba melukis dan masih banyak lagi.

Untuk hari dan tanggal pelaksanaan, sementara masih belum ditentukan. Namun yang pasti masih dalam rangkain HJB usai hari raya Idul Fitri.

"Harapan kami  bisa disiarkan di 7 Jaringan TV internasional karena nantinya juga akan mengundang media nasional untuk meliput festival besar ini," pungkas pria yang akrab disapa Kang Zen ini. [zhu/yud]

Kamis, 15 Mei 2014

Pelatihan Sastra Jawa

sastra-bojonegoro.blogspot.com







sastra bojonegoro - Puluhan guru Bahasa Jawa tingkat SMP se-Bojonegoro mendatangi aula SMP Model Terpadu guna menghadiri acara pelatihan menulis cerito cekak (cerkak) dan membaca geguritan, Rabu (14/5/2014). Sebelum memasuki ruangan, bazar buku karya penulis Bojonegoro menyambut para guru. Misalnya buku Kumpulan Cerkak SMP 1 Baureno, juga penulis PSJB lainnya.

Acara ini terselenggara atas kerja sama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Bojonegoro dan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Selain dihadiri peserta dari Bojonegoro, beberapa peserta ternyata berasal dari luar kota. Ketua PSJB, JFX Hoery, mengatakan ada peserta yang datang dari Ngawi dan Blora.

“Iya cukup puas dengan terselenggaranya acara ini, karena para peserta juga antusias. Semoga ada hasilnya dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Selain Hoery, tampak pegiat sastra lain juga hadir. Seperti Gampang Prawoto dan Hary Nugroho. Sementara tiga peraih rancage: Widodo Basuki, Nono Warnono dan Djayus Pete didapuk sebagai narasumber dalam pelatihan tersebut. Widodo Basuki memeragakan bagaimana membaca geguritan. Sedangkan Djayus dan Nono menyampaikan materi bagaimana mencari ide penulisan dan teknik-teknik penulisan cerkak.

Bagi Djayus, ide cerita bisa datang dari mana saja. Bisa dari orang, buku dan kejadian tertentu. Baginya seorang sastrawan harus pandai-pandai menangkap sinyal dari alam. Karena alam memberikan sejuta ide untuk bisa ditulis dalam karya sastra. Melihat banyaknya penulis sastra jawa di Bojonegoro, Djayus menganggap bahwa Bojonegoro bisa dianggap sebagai barometer sastra jawa di Jawa Timur.

“Oleh sebab itu dengan adanya seperti ini saya berharap akan muncul generasi-generasi penulis sastra dari Bojonegoro yang berkualitas,” pungkas pria yang mengaku tak pernah merasa tua tersebut. [rul/yud]


Sekitar 120 peserta mengikuti pelatihan menulis Bahasa Jawa "cerkak" (cerita cekak) dan "geguritan", yang diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Daerah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Ketua MGMP Bahasa Daerah SMP/Mts Bojonegoro Sri Kuniwati, mengatakan, tujuan diselenggarakannya pelatihan menulis Bahasa Jawa tersebut merupakan usaha meningkatkan kamampuan guru Bahasa Daerah SMP dan Mts baik negeri maupun swasta, juga para siswa.

Selain itu, pelatihan tersebut juga sebagai usaha mengenalkan Bahasa Jawa kepada para siswa yang tertarik untuk menekuni Bahasa Daerah.

Ia menyebutkan sekitar 120 peserta pelatihan menulis Bahasa Jawa tersebut tidak hanya guru lokal, tetapi ada juga sejumlah guru asal Ngawi dan Magetan, bahkan asal Kabupaten Grobokan, Jawa Tengah.

Kehadiran peserta luar daerah mengikuti pelatihan, katanya, karena memperoleh undangan dari Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB), yang mendukung pelatihan.

"Kami datang mengikuti pelatihan Bahasa Jawa, sebab di Ngawi dan Magetan tidak pernah ada pelatihan menulis Bahasa Jawa," kata seorang guru SMPN 3 Ngawi Wening, yang datang bersama tiga guru asal Ngawi dan tiga guru asal Magetan.

Oleh karena itu, katanya, pelatihan yang diikuti tersebut merupakan usaha para guru Bahasa Daerah Ngawi dan Magetan, untuk memperoleh ilmu dalam menulis Bahasa Jawa.

"Di Ngawi dan Magetan jarang ada sastrawan Jawa, tetapi di Bojonegoro cukup banyak," ujarnya.

Pelatihan menulis Bahasa Jawa tersebut menampilkan nara sumber sastrawan Jawa Bojonegoro Djajus Pete dan Nono Warnono, dengan materi cara menulis "cerkak", selain itu juga Redaksi Majalah Joyoboyo di Surabaya Widodo Basuki.

"Pelatihan menulis Bahasa Jawa ini layak mendapatkan apreasisasi, sebab sangat jarang ada pelatihan menulis Bahasa Jawa," jelas Djajus Pete.

Di lokasi pelatihan, sekaligus juga dijual berbagai buku dalam Bahasa Jawa yang diterbitkan PSJB dalam bentuk "cerkak", "geguritan", novel, juga sejarah.

"Ada 15 judul buku Bahasa Jawa yang sudah ditertibkan PSJB. Kalau di pasaran umum harganya berkisar Rp25.000 sampai Rp40.000/buku," kata Ketua PSJB, JFX Hoery. (*)





Sumber:
blokBojonegoro.com -antarajatim.com