Rabu, 17 Desember 2014

KEGIATAN GEBYAR 28 TAHUN 2014

Gebyar 28 Balai Bahasa Jawa Timur 2014

   

    

1.1 Latar Belakang Kegiatan

Dalam rangka menyambut dan memeriahkan Bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBJT) secara rutin menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk Gebyar ’28. Kegiatan tersebut merupakan puncak kegiatan dari serangkaian kegiatan yang telah diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur sebelumnya.
            Kegiatan Gebyar ’28 tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur untuk memberi perhatian dan penghargaan pada aktivitas sastra. Kegiatan Gebyar ’28 tersebut dikemas dalam tiga tahap, yaitu seminar, pentas sastra, dan penghargaan sastra 2014.
            Dalam acara seminar mengambil tema “Efek Media Sosial bagi Perkembangan Berbahasa dan Berbangsa”. Hal penting yang bisa digarisbawahi dalam acara seminar ini adalah perkembangan media sosial saat ini banyak memberikan pengaruh besar dalam perkembangan berbahasa. Media sosial dapat dengan mudah dan cepat menyebarkan istilah-istilah baru kepada publik.  Oleh karena itu, dengan bahasa Indonesia  yang memiliki aturan dan kaidah-kaidah dalam menyikapi hal tersebut untuk menjaga dirinya sendiri dari gempuran istilah-istilah yang muncul dalam media sosial.
            Untuk acara pentas sastra, panitia menampilkan kembali para pemenang lomba yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur tahun 2014 dan juga sastrawan dari luar Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Penampilan pertama adalah tim musikalisasi puisi dari SMKN 12 Surabaya sebagai pemenang pertama dalam kegiatan Lomba Musikalisasi Puisi Tingkat SLTA dan Sederajarat se-Jawa Timur Tahun 2014. Kedua, pemenang pertama Lomba Tembang Macapat Tingkat Remaja se-Jawa Timur Tahun 2014. Pemenang lomba tembang macapat diraih oleh mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Kerawitan (STKW) Surabaya. Penampilan ketiga, pembacaan puisi oleh mahasiswa Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya. Penampilan keempat adalah pembacaan puisi berbahasa Madura oleh Moh. Fauzi. Beliau berasal dari kalangan sastrawan yang berasal dari STKIP PGRI Sumenep, Madura. Penampilan keempat atau terakhir adalah acara tambahan secara spontanitas yaitu pembacaan geguritan oleh sastrawan terkenal bernama Gampang Prawoto. Beliau adalah salah satu penerima penghargaan sastra tahun 2014.

            Penghargaan sastra tahun 2014 ini diberikan kepada Drs. Tjahjono Widarmanto, M.Pd., Suyanto, M.Pd., Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan, Yunani Sri Wahyuni, dan Gampang Prawoto. Kriteria penilaian berdasarkan empat kategori, yaitu komunitas sastra, karya sastra, sastrawan berdedikasi, dan sastra anumerta.

  1. 2.        Dasar Hukum Kegiatan
  2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lembaga Negara       serta Lagu Kebangsaan
  3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata   Kerja Kementerian Pendidikan Nasional
  4. Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 022/O/1999 tanggal 28           Januari 1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Bahasa Provinsi
  5.  Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Nomor (DIPA) Balai Bahasa Surabaya tahun 2014
  6. Keputusan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Nomor 061/I4.08/Kep/BB.2014            tentang Penunujukkan Panitia Gebyar ’28 Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.
  7. Keputusan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Nomor 062/I4.08/Kep/BB/2014            tentang Penunjukan Narasumber Gebyar ’28 Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

  1. 3.        Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi sastra bagi masyarakat sastra terutama pelajar, guru, mahasiswa, sastrawan, dan pemerhati sastra, serta mereka yang tergabung dalam komunitas atau sanggar sastra sehingga lebih kreatif dan produktif dalam bersastra.

  1. 4.        Manfaat Kegiatan
Gebyar ’28 merupakan kegiatan sastra yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat terutama komunitas sastra sekaligus sebagai  rangsangan tumbuhnya rasa penghargaan bagi penggiat sastra Indonesia dan Jawa Timur sehingga memicu dorongan untuk berkreasi lebih giat dalam bersastra.
            Kegiatan ini sekaligus sebagai wadah kreativitas bagi masyarakat dan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan peserta melalui acara seminar, penghargaan sastra, dan pentas sastra yang diselenggarakan dalam kegiatan Gebyar ’28 ini.

  1. 5.        Sasaran Kegiatan
Peserta dalam kegiatan ini adalah dari kalangan akademisi, dosen, mahasiswa, guru, siswa, praktisi sastra dan seni, dan masyarakat umum.

  1. 6.        Hasil yang Diharapkan
Dengan diselenggarakan kegiatan Gebyar ’28 ini diharapkan adanya peningkatan kesadaran dari seluruh peserta untuk lebih menghargai dan menghormati bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

  1. 7.        Tahapan Kegiatan
Kegiatan Gebyar ’28 ini tahun 2014 ini dilaksanakan dalam tiga tahapan kegiatan, yakni persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan.

7.1    Persiapan Kegiatan
Dalam tahap persiapan, kegiatan yang dilakukan adalah penunjukan panitia kegiatan, penyusunan proposal, penunjukan narasumber, penunjukan pementas sastra, dan peserta, pembuatan dan pengiriman surat, menyiapkan tempat, serta sarana kegiatan. Kepanitiaan dalam Gebyar ‘28 tahun 2014 terdiri atas pejabat dan staf Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Penunjukan dan pembentukan panitia dilakukan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur dalam bentuk surat keputusan.
            Narasumber yang ditunjuk sebagai pembicara dalam acara Gebyar ’28  dengan tema “Efek Media Sosial bagi Perkembangan Berbahasa dan Berbangsa”. adalah dua orang yang ahli dibidangnya. Kedua narsumber tersebut berasal dari Universitas Airlangga (Unair). Pertama, Dr. Ni Wayan Sartini, M.Hum., beliau ahli dibidang sosiolinguistik. Narasumber kedua adalah Kandi Aryani Suwito, M.A. yang ahli di bidang komunikasi.
            Sesuai dengan bentuk kegiatan dan sasaran kegiatan, pembuatan dan pengiriman surat ditujukan kepada narasumber, peserta, dan komunitas sastra penerima penghargaan. Kegiatan akan dilaksanakan di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

  1. Panitia Kegiatan
Kegiatan Gebyar ’28 tahun 2014 dilaksanakan oleh sebuah kepanitiaan yang terdiri atas pejabat dan staf Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Penunjukkan panitia dilakukan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu dasar dalam pelaksanaan sebuah kegiatan. Berikut ini susunan panitia pelaksanaan kegiatan Gebyar ’28 tahun 2014.

No.
Nama
Jabatan
1.
Drs. Amir Mahmud, M.Pd. Penanggung Jawab
2.
Yuyun Kartini, S.Pd. Ketua
3.
Drs. Yani Paryono, M.Pd. Anggota
4.
Drs. Anang Santosa, M.Hum. Anggota
5.
Dian Roesmiati, S.S. Anggota
6.
Yulitin Sungkowati, M.Hum. Anggota
7.
Mashuri, S.S. Anggota
8.
Rahmidi Anggota
9.
Budi Aries Santoso, A.Md. Anggota
10.
Supartono Anggota


  1. Narasumber
Narasumber yang ditunjuk sebagai pembicara dalam acara Gebyar ’28  dengan tema “Efek Media Sosial bagi Perkembangan Berbahasa dan Berbangsa”. adalah dua orang yang ahli dibidangnya. Kedua narsumber tersebut berasal dari Universitas Airlangga (Unair). Pertama, Dr. Ni Wayan Sartini, M.Hum., beliau ahli dibidang sosiolinguistik. Narasumber kedua adalah Kandi Aryani Suwito, S.Sos., M.A. yang ahli di bidang komunikasi. Moderator yang ditunjuk dalam acara seminar adalah Drs. Anang Santosa, M.Hum. dan Slamet ari Wibowo.

  1. Peserta Kegiatan dan Pementas Sastra
 Peserta kegaitan Gebyar ’28 tahun 2014 berjumlah 150 orang. Peserta tersebut berasal dari beberapa kalangan dari sastrawan, akademisi, pendidik tingkat lanjutan, praktisi sastra, mahasiswa, dan pelajar. Peserta Gebyar ’28 berasal dari Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten  Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Blitar, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Kediri, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Jombang, Kabupaten Tuban, Kabupaten Bojonegoro, dan Kota Surabaya.

  1. Pembuatan/Pengiriman Surat
Sesuai dengan bentuk kegiatan dan sasaran kegiatan, pembuatan dan pengiriman surat dilakukan dan ditujukan kepada semua narasumber, seluruh penampil, seluruh komunitas pemenang penghargaan sastra, pihak kepolisian setempat, dan seluruh tamu undangan.

  1. Penyiapan Tempat dan Sarana Kegiatan
Untuk mendukung pelaksanaan Gebyar ’28 diperlukan berbagai sarana antar lain: spanduk, tenda besar beserta alat kelengkapannya, sound system. Bagi peserta disediakan tas yang berisi seminar kit yang terdiri atas ATK, materi seminar, blocknote, bolpoin. Tempat penyelenggaraan kegiatan Gebyar ’28 di halaman Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.
                                      
7.2    Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan Gebyar ’28 dilaksanakan dalam tiga sesi kegiatan, yaitu pentas sastra, seminar, dan penghargaan sastra tahun 2014. Pelaksanaan kegiatan Gebyar ’28 dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober tahun 2014 di halaman Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Kegiatan diawali dengan acara pembukaan yang akan ditandai dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, kemudian dilanjutkan dengan laporan ketua panitia dan sambutan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur diteruskan pembukaan acara secara resmi.
            Setelah pembukaan, acara diawali dengan pentas sastra berupa musikalisasi puisi. Musikalisasi puisi ditampilkan oleh siswa-siswi SMKN 12 Surabaya sebagai pemenang pertama dalam lomba musikalisasi puisi yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur pada tahun 2014. Rangakaian acara selanjutnya adalah seminar bertema “Efek Media Sosial bagi Perkembangan Berbahasa dan Berbangsa”. Narasumber seminar adalah Dr. Ni Wayan Sartini, M.Hum. dan Kandi Aryani Suwito, S.Sos., M.A. Kedua narasumber adalah dosen Unair.
Setelah seminar, acara dilanjutkan dengan beberapa penampilan antara lain: pembacaan puisi yang ditampilkan oleh mahasiswa UNIPA sebagai juara umum tingkat nasional, penampilan nembang macapat sebagai pemenang pertama lomba tembang macapat yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur tahun 2014, pembacaan puisi berbahasa Madura oleh sastrawan dari STKIP PGRI Sumenep, dan penampilan terakhir adalah pembacaan geguritan secara spontanitas oleh sastrawan sebagai salah satu penerima penghargaan sastra tahun 2014.
            Acara terakhir dari seluruh rangkaian kegiatan Gebyar ’28 tahun 2014 adalah penghargaan sastra yang diberikan kepada komunitas sastra yang memiliki komitmen dan prestasi dalam bidang  sastra, baik sastra daerah maupun Indonesia.

7.3    Penyusunan Laporan Kegiatan
Laporan kegiatan disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban panitia penyelenggara secara administratif dan sebagai dokumen Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.


http://balaibahasajatim.org/balit_/html/index.php?id=berita&kode=53

Selasa, 09 Desember 2014

Purnama Sastra Bojonegoro 04

 
 
JFX. Hoery:
BOJONEGORO TAMBAH REGENG.
Bojonegoro saiki tambah regeng anane pentas seni nir laba. Sawise Purnama sastra Bojonegoro kang kagelar saben malem rembulan purnama (senajan mangsa udan, rembulane ora ketok), lan wis lumaku kaping 4, saiki para kadang pendhemen budaya , saben malem Jumat minggu ka2 saben wulan bisa mirsani lan pentas seni ing pendapa Budpar Bojonegoro, kang dipandhegani komunitas Sayap Jendela, kanthi juluk MALAM LABORATORIUM-SAYAP JENDELA. Yen PSB manggone pindhah-pindhah wiwit kutha tekan ngadesa-desa (sing siaga kanggonan), ML-SJ netep. Selamat Kanjeng Masnoen.:

Foto Burhanudin Joe.






Muh. Subeki
Pemilik Griya MCM Bojonegoro
Tuan rumah PSB "Purnama Sastra Bojonegoro 04
Siap membantu dan memfasilitasi seniman yang ada di kota ledre ini
bahkan untuk saat ini sedang membangun WAPRES "Warung Apresiasi" siapapun dan seni apapun bisa pentas kapanpun.

Kang Dadang MC
Seniman yang sekaligus guru Seni Budaya di SMKN 2 Bojonegoro
sedang mewancarai pembaca puisi pertama
siswi SMK PGRI Bojonegoro

Emi Sudarwati 
 "Purnama Sastra 4 di MCM berjalan lancar, meski diiringi guyuran hujan"
Membacakan satu judul dari kumpulan Cerkanya "Ngilon"
  


Musikalisasi Puisi Puisi
"Rerasa Nunggal Rasa"
Guru-guru Taman Kanak-Kanak
Hindah Setyoningsih, Guru TK Kartini Bojonegoro
Siti Mulyani, Guru TK Pertiwi Bojonegoro
Erlin Mis'idati TK Dharma Wanita Balenrejo
Mas Yanto MYM,  Sang Sutradara sekaligus penabuh gamelan
bersama Burhanudin dan KI Slamet Santoso


Kelompok "Thuthak Thuthuk Gathuk"



Kang Anas AG
"Purnama Sastra Bojonegoro sudah melewati masa kritis
PSB sudah sampai pada jilid 04
hujan bukan sebuah halangan, buktinya walau hujan tiada henti PSB berjalan lancar
"Terimakasih semuanya"



Mas Yanto Myk.
saat membacakan geguritannya "Samin"


Mas Masnun
lantunkan lagu sisa banjir


Saat membacakan Guritnya "Atas Anin"


"ngik n ngok....diacara Purnama Sastra Jilid 4 di MCM Hotel n Resto" 
Musikalisasi Puisi

"Asyiknya kebersamaan semalam bisa berekspresi meski hy mewakili atas nama RSJ dlm musikalisasi puisi di acr Purnama Sastra...semangat meski diguyur hujan"
" Membangun kesadaran utk berkomunitas yang menyegarkan tanpa memandang siapa figur dibaliknya............‪#‎seniagawerukun‬"
 
  Sinta atau Cinta
dari "Sindikat Baca" Bojonegoro membacakan sepenggal cerpenya
Timur Budi Raja
Musikalisasi Puisi 


  Gampang Prawoto

G u R I T    S U L U K

nalika
dadi  dhalang
sulukmu  ngelik, ngongang, ngumandhang
brantayudha  tinandur jroning dhadha
pangalembana  marang pandhawa
panyandra ala mring bala kurawa

yogene
nalikane dhapuk wayang
suluk-sulukmu banter ringkike jaran
nyruput kopi ndodhog  cempala
nyulet udut  njejak  kempyak
saka warung siji menyang warung liyane

ana ngendi
kelir pawayanganmu
nalikane debog-debog  bacut bosok
blencong ora bisa nyipta  ayang-ayang
mbedakake becik klawan ala.

Bojonegoro, 29112014
 
 " PSB manggone pindhah-pindhah wiwit kutha tekan ngadesa-desa"
 
Yonathan Rahardjo
Semalam saya mengungkap di diskusi penghujung Acara Purnama Sastra Bojonegoro ke-4 bahwa seniman-seniman Bojonegoro umumnya berintelenjesia tinggi. Tidak hanya yang hadir pada acara bulanan saat malam bulan purnama itu, tapi juga yang tidak hadir dan berkegiatan di luarnya. IQ (intelligence quotient) berkesenian setidaknya. Rata-rata memang demikian dan ini didukung oleh amunisi yang didapat di mana-mana di luar Bojonegoro. Setelah keluar Bojonegoro mereka kembali dengan amunisi tidak main-main itu! Ambillah contoh Anas Ag yang balik ke Bojonegoro dengan amunisi dari Fakultas Sastra UGM dan aktivitasnya di Balairung media mahasiswa sastra UGM. Masnoen, Dadang pelukis, Gampang Prawoto sastrawan Jawa, Herry Abdi Gusti sastrawan Jawa, dan lain-lain ... Tambah pula yang tidak keluar Bojonegoro tapi menekuni amunisinya dalam kota secara konsisten di dalam kota, seperti sejumlah nama yang kini bercokol dalam dunia kesenian di Bojonegoro. Keragaman IQ tinggi berkesenian ini rupanya tak serta-merta membawa iklim berkesenian Bojonegoro kondusif dalam beberapa kepengurusan Dewan Kesenian Bojonegoro bahkan kini Dewan Kebudayaan Bojonegoro. Apa pasal? Rupanya benar kata orang, orang ber IQ tinggi rata-rata kurang EQ (Emotional Quotient) yang berhuibungan dengan masalah bersosial dengan orang lain. Makanya dibilang orang ber-IQ tinggi rata-rata egois. Dan nyatanya demikian dalam hubungan aktivitas berkesenian di Bojonegoro. Kerjasama yang dijalin rata-rata tidak membangun dunia kesenian dan kebudayaan sebagai suatu kegiatan bersama yang dimilki bersama. Alias, jalan sendiri-sendiri sesuai mau pelakunya sendiri-sendirinya. Terfragmentasi di wilayah masing-masing, sedang kerjasama dan kerja bersama di DKB yang dibangun sebagai wadah bersama: mandeg. 
 
Meski mandeg wadah bersamanya, bukan berarti kegiatan berkesenian masing-masing berhenti. Ya, mereka aktif setidaknya di komunitas masing-masing. Dan pada acara-acara tertentu mereka bertemu dan terjadi saling irisan kegiatan. Lomba, festival, acara perayaan dan peringatan hari-hari penting tertentu, misalnya. Dan kini selama empat (4) bulan berturut-turut, Purnama Sastra Bojonegoro menjadi oase yang menyegarkan para pegiat kesinian dan sastra ini. Tidak berupa bentuk organisasi kaku namun cair. Tanpa kepengurusan, semua yang hadir dan terlibat di dalamnya dapat memiliki. Purnama Sastra bojonegoro benar-benar menjadi wadah bersama tanpa ikatan yang membelenggu dan dapat hidup tanpa tergantung pada instansi tertentu apalagi APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Setiap orang dapat ketempatan acara dan bertindak sebagai tuan rumah sekaligus menyediakan konsumsi ala kadarnya, bahkan air saja pun tidak masalahnya. Acara diberlangsungkan sesederhana mungkin dengan gelaran di atas tikar di bawah temaram lampu atau bahkan tidak, di bawah sinar bulan purnama. Atau di dalam ruang tertutup kala hujan membasahi bumi. Kegiatan sebulan sekali setiap tanggal Jawa saat bulan sedang bersinar purnama atau meskipun dihalang mendung dan hujan sekalipun. Dan mereka dapat menampilkan segala macam pembacaan karya sastra dan kesenian lain. Perayaan dan apresiasi menjadi sifat Purnama Sastra ini. Siapapun dapat tampil tanpa memandang klas dan kualitas berkeseniannya. Yang penting maju dan berkarya. Namun disadari soal kualitas akan mengikuti dengan sendirinya dalam kebersamaan ini. Masing-masing ada kemampuan untuk menilai karya masing-masing yang ditampilkan dan secara alami ada kemauan dan perbaikan untuk penampilan-penampilan selanjutnya pada Purnama Sastra-Purnama Sastra berikutnya. Ya, hal ini sangat bersifat alami. Sekaligus dapat beredusir aroma tidak sedap selama ini dalam sejarah kesenian di Bojonegoro yang penuh dengan egoisme dari para pelaku yang secara individual ber-IQ tinggi tersebut.

Budaya yang tumbuh dan ditumbuhkan dalam Purnama Sastra Bojonegoro memang bukan budaya fragmentasi dan persaingan tidak sehat antar kubu berdasar nyinyirisme suka atau tidak suka yang telah merobek kebersamaan dalam kepengurusan DKB-DKB sebelumnya bahkan sekarang. Budaya yang bertumbuh secara alami di sini adalah budaya apresiasi dan berkarya tanpa perbedaan. Budaya ini rupanya solusi untuk kekinian Bojonegoro yang lebih kompleks dan plural dari segala sisi kehidupan di masyarakat. Dengan berkarya dan apresiasi secara alami masing-masing terdorong untuk membuat karya yang lebih bagus. Tumbuh dalam semangatnya mengikuti kesadaran bahwa di luar Bojonegoro dunia kesenian dan kebudayaan pun berkembang dan bergerak. Yang dihadapi para seniman dan pekerja seni dan sastrawan Bojonegoro bukan hanya antar mereka sendiri tapi juga di luar kota, provinsi, nasional dan global. Menempatkan peta Bojonegoro (dalam hal ini kesenian, kebudayaan dan sastra) layak dan patut dalam skala global, bukan lokal dalam satu kabupaten Bojonegoro tapi berhadapan dan berhubungan dengan daerah lain bahkan skala nasional dan global itu! Energi yang mengarah ke sini akan mereduksi energi negatif antar golongan dan kelompok yang membunuh daya hidup hanya karena soal proyek kesenian berdana pemerintah, dan sejenisnya yang selama ini terbukti nyata ada di kota agraris yang menyilih rupa menjadi kota industri minyak ini. Hal ini masih mungkin terjadi tapi tak begitu lagi terlalu menyakiti para pelaku yang punya cara pandang baru dan lebih luas dalam menghadapi pergerakan jaman. Kualitas yang terbangun dengan sendirinya dengan jam terbang tinggi dalam Purnama Sastra-Purnama Sastra mempertebal iman dan takwa berkesenian dan bersastra. Meski tidak terlisankan ajang pendadaran kualitas, pasti ada penilaian mutu guna perbaikan diri dalam diri masing-masing pelaku seni budaya sastra. Dan mereka tetap aman dan nyaman dalam kebersamaan, mengekspresikan diri dan menebus rindu setiap bulan untuk bersama melakoni dan menghayati seni dan apresiasinya. Satu bulan cukup untuk rentang waktu menumbuhkan kerinduan ini. Setelah masing-masing berkiprah, berpeluh lelah dan berdarah-darah dalam mata pencaharian masing-masing di habitat masing-masing, sebuah malam bulan purnama cukup untuk memberi gelaran yang melegakan kebutuhan rohani dan spirit dalam kebersamaan yang menghidupkan. Ya, ini berkat di sini ada kebersamaan, peningkatan kualitas secara alami (yang bermanfaat secara luas dalam segala bidang kehidupan juga secara luas) dan juga ada regenerasi.
Yonathan Rahardjo
 

 
 







Selasa, 25 November 2014

Festival Musikalisasi Geguritan Budi Pekerti Provinsi Jatim 2014


“Gusti Illahi”  paring dedalan
“Geguritan” minangka lantaran
Tembang dolanan  kalindhes rodhaning jaman
sabdaning  “Ratu Adil”  berkahing gesang bebrayan

Esensi  Geguritan “Rerasa Nunggal Rasa”
Kedatangan malam  purnama sangat dinantikan, dibawah sinar rembulan anak-anak bersuka cita, riang gembira,  bermain dan berjoget bersama. Tembang dolanan Tekade Dipanah, Lir-ilir, Cublak-cublak Suweng  dan Sluku-sluku Bathok  berkumandhang di halaman rumah dan tanah-tanah lapang tapi semua itu tinggal cerita.
Jaman sudah berubah, permainan  bersifat individu dan tidak lagi mengenal batasan waktu, play station menggantikan kedudukan ibu. Internet menjadi tumpuan sandaran kehidupan, rasa suka, duka, kebencian, amarah bahkan doa  tertuang dalam jejaring social dunia maya melunturkan  tradisi anjangsana.
Apakah ada yang merasa kehilangan ketika rumah-rumah tradisi lenyap dari pandangan penghuninya,  ketika bahasa-bahasa daerah diasingkan dengan penuturnya, bahasa yang syarat dengan makna,dan ajaran budi pekerti.  Apa jawaban kita apabila anak cucu  bertanya tentang warisan budaya nenek moyangnya.
Era modern tampak  menjanjikan namun banyak yang salah menafsirkan, salah menempatkan, salah menggunakan sehingga merugikan diri sendiri, keluarga bahkan bangsa dan negara. Perubahan peradaban sebuah bangsa hendaknya disiapkan kader sejak usia dini.
kegelisahan  awal dari kepedulian namun sebuah permasalahan  harus dicarikan jalan keluar. Hanya  kebersamaan yang mampu menjaga pintu itu dengan selalu taat pada ajaran agama, mengingat pesan  leluhur, patuh dengan orang tua  dan menghormati guru yang bersumber dari rasa  memiliki, menjaga dan melindungi sebagai dharma kepada Yang Maha Kuasa.



Nilai yang terkandung dalam geguritan Rerasa Nunggal Rasa adalah:
v   Mengembalikan tembang dolanan anak dan permainan anak sebagai sarana penanaman nilai sosial pada anak da.am kebersamaan, kerjasama sebagai bentuk tanggungjawab hidup bermasyarakat.
v   Penanaman rasa cintai budaya sendiri yang syarat dengan tata nilai keluhuran budi.
v   Penggunaan  bahasa daerah (Jawa) pada penuturnya dalam bahasa  tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi semata namun bahasa (Jawa) adalah sebuah ajakan, ajaran dan nilai rasa yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

 Kang Yanto Myk.,  Kang G. Prawoto, Yu S. Mulyani,
Yu Hindah S., Yu Erlin Mis'idati Kang Slamet, Kang Burhan
Ibu Dra. EndangAgustini, MM  (piala)   


Musikalisasi geguritan tidak meninggalkan aspek dasar sebuah pertunjukan yang bersifat tuntunan, tatanan dan tontonan.
1.      Tuntunan
Sajian isi dari geguritan “Rerasa Nunggal Rasa” mengandung nilai-nilai tuntunan hidup
Dalam watak jati diri bangsa yang berbudi pekerti luhur.
2.      Tatanan
Tatanan nilai dalam geguritan ini adanya rasa ingin mengembalikan tradisi yang sudah mulai luntur dari norma dan etika kehidupan dalam masyarakat.
3.      Tontonan
Bentuk sajian adalah performent art dalam pemetasan baca atau musikalisasi geguritan tanpa meninggalkan  unsur estetika sehingga roh kesenian tetap hidup maka ekspresi penyaji dapat berfungsi sebagai tontonan  yang sifatnya menghibur.