Sabtu, 22 November 2014

Lesehan Emper Mangku Putra



LENTERA CINTA

kejernihan air
mengurai kesejukan
embun mata pagi perempuan
tanpa sepatah kata
bersimpuh
pada tanah, bebatuan dan batin
merindu

bait lentera mensyair kasih
daundaun jatuh tanpa tiupan nada
debu tak memaknai daki
tatkala tayamum menyimpan bersit zaman


Cilegon, 24 Oktober 2014






BOJONEGORO – CILEGON



Rajekwesi

mengirama gendhing

gendhing tayub

pintas jalan
memutar roda
berarah laut
singgahan
jati-jati menanam rindu
sisa-sisa zaman.



roda
roda mengejar buih
ombak sepanjang deandles
memanen penderitaan pribumi.



Pati
mesin
tanpa asap
loket, sederet kedai
jajakan haus dan lapar
penghisap
gantikan kenalpot
gadis jengki melintas
lelehkan mata
mata lelah.



lelap tanpa kata
Jakarta mengeja nama
nama
Serang memanen padi
seruni turunkan kaki
nyiur hijau melambai
lantunkan syair
syair derita kata
bait-bait membaja
luluh
terucap
"katuran rawuh"
ing kota Cilegon.





Cilegon PPAT, 22102014

Jumat, 07 November 2014

Pertemuan Penyair se-Asia Tenggara di Cilegon








CILEGON - Dewan Kesenian Cilegon (DKC) terus berupaya mendekatkan masyarakat Cilegon kepada puisi dan kesusastraan pada umumnya. Salah satunya mengumpulkan para penyair dari berbagai negara pada acara temu sastra se-Asia Tenggara yang dibuka pada Kamis (23/10/2014) lalu, puluhan pelnyair berkumpul di rumah dinas Walikota. 

Seperti dikutip dari Radar Banten para penyair yang hadir saling bertukar pikiran tentang bagaimana perkembangan kesusastraan di negara masing-masing. 

“Mereka berasal dari beberapa negara, seperti Malaysia, Brunai Darussalam, juga Singapura,” ujar Ketua DKC Indra Kusuma. 

Ia mengatakan, para penyair dari sejumlah pulau di Indonesia juga ikut dihadirkan pada acara tersebut. Di antaranya dari Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Bali. “Para penyair nasional juga turut kami undang. Mereka antusias menerima undangan dari kami,” terang Indra.

Indra mengatakan, acara tersebut pada dasarnya digelar untuk mempererat silaturahmi antar pada penyair. Acara itu juga dimanfaatkan untuk mengenalkan budaya Banten kepada peserta acara. “Sejumlah tarian khas Banten kami perkenalkan malam itu. Begitu pula berbagai jenis makanan seperti rabeg dan sebagainya,” terangnya. (RB)

 
 Kunjungan di Ponpes "Nurul Bantany"  Serang Banten  

 
Laporan Ketua Panitia Muhammad Rois Rinaldi


Abah Arsyad Indradi perwakilan temanteman penyair



PERTEMUAN PENYAIR ASIA TENGGARA DAN PELUNCURAN ANTOLOGI PUISI LENTERA SASTRA II


Keberadaan kesusastraan di tengah kehidupan masyarakat memiliki peranan yang sangat penting. Tidak saja dikarenakan kesusastraan dapat dijadikan indikator pengukuran nilai-nilai sosio-kultural, sosio-politik bahkan para ranah transenden sekalipun, melainkan dapat juga dijadikan sebagai cerminan peradaban manusia. Sebut saja, penandaan masa prasejarah dan sejarah diberlakukan melalui penemuan tulisan, bahkan sebutan prasejarah dewasa ini juga dikenal dengan nama praaksara.

Sungguhlah tidak berlebihan, jika mengatakan kesusastraan sebagai cerminan peradaban manusia, sebagaimana kita ketahui bersama, penandaan masa prasejarah dan sejarah diberlakukan melalui penemuan tulisan, bahkan sebutan prasejarah dewasa ini juga dikenal dengan nama praaksara. Kemudian, kenyataan akan pentingnya kesusastraan sebagai bagian dari kegiatan literasi manusia yang estetis dan luhur, tidak sejalan dengan perkembangannya di era modern ini.

Tingkat kesadaran masyarakat Asia Tenggara—tidak terkecuali Indonesia—mengalami kemunduran nilai serta minat terhadap dunia sastra. Fakta ini mesti ditanggapi dengan cepat dan mesti ditangani dengan tepat. Bukan perkara bagaimana mesti melainkan bagaimana kita memulai pergerakan yang berkelanjutan serta tepat sasaran.

Gagasan untuk mengundang para penyair dari berbagai negara khusunya di wilayah Asia Tenggara, akhirnya sangat penting untuk dilaksanakan. Akan tetapi, tidak sebagaimana pertemuan-pertemuan penyair yang kerap selesai begitu saja, kegiatan ini diharapkan benar-benar memberikan suatu pengaruh terhadap dunia sastra. Dalam hal ini, tidak sedang berbicara pengaruh dalam artian popularitas atawa selebritas kepenyairan, melainkan mengenai penyair yang benar-benar berbaur dengan pelajar, mahasiswa, pendidik, dan atau tanpa terkecuali seluruh lapisan masyarakat.

Bagaimana mengaplikasikan wacana yang sebegitu membumi? Melalui kegiatan ini, para penyair akan diajak untuk tinggal di rumah-rumah warga tanpa pengecualian di rumah birokrat yang telah bersedia menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal. Hal tidak lain tidak bukan, untuk memberikan kebebasan kepada para penyair untuk mencercap nilai-nilai tanah, udara, dan air dengan gaya dan caranya masing-masing.

Sekolah-sekolah di Kota Cilegon pun telah bersedia menjadi tempat pementasan para penyair, seminar, serta tempat obrolan ringan antara para penyair dan dengan para siswa. Akan ada pembagian kelompok penyair untuk mendatangi sekolah-sekolah yang kami bagi menjadi empat wilayah, yakni Wilayah Selatan, Utara, Timur, dan Barat. Tentu saja, kami pun telah membagi panitia dalam empat kelompok untuk kelancaran acara tersebut.

Kemudian, para penyair diharapkan menuliskan maksimal 3 puisi, esai, atau cerpen semasa tinggal di Kota Cilegon. Karya-karya tersebut akan dibukukan oleh Dewan Kesenian Cilegon dengan sponsor yang turut membantu dan dibagikan di sekolah-sekolah yang ada di Provinsi Banten. Para penyair juga akan mendapatkan bukti penerbitannya masing-masing 1 eksamplar.

Perlu diketahui, tidak hanya penyair yang karyanya termuat dalam buku Lentera Sastra II saja yang diundang. Penyair-penyair yang ingin turut mengisi kegiatan ini sangat dipersilakan, dengan syarat memberitahu lebih dahulu kepada panitia. Kira-kira begitu, hal sederhana mengenai Pertemuan Penyair Asia Tenggara, tidak ada yang berlebihan.






Warga Siap Pamerkan Kuliner Khas Cilegon

Thursday, 23 Oct 2014 | 21:05:14 WIB
CILEGON, (KB).-
Warga Lingkungan Ketileng Barat, Kelurahan Ketileng, Kecamatan Cilegon yang tergabung dalam Ikatan Ketileng Barat siap memamerkan kuliner tradisional khas Kota Cilegon kepada penyair Asia Tenggara melalui kegiatan kuliner tradisional, Sabtu (25/10). Kegiatan ini merupakan salah satu upaya masyarakat dalam mempromosikan wisata kuliner asli warga Cilegon kepada masyarakat luas.
Ketua pelaksana kegiatan, Deni Efendi mengungkapkan, kegiatan pameran kuliner tradisional ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pertemuan penyair Asia Tenggara dan peluncuran antologi puisi Lentera Sastra II.
“Dala kegiatan ini kami bekerja sama dengan Disbudpar Kota Cilegon. Rencananya kegiatan ini juga akan dibuka oleh Wali Kota Cilegon Tb Iman Ariyadi, Plt Gubernur Banten Rano Karno dan para penyair dari seluruh Indonesia," kata Deni, Kamis (23/10).
Sejumlah makanan khas Kota Cilegon dan Banten yang akan ditampilkan dalam pameran ini antara lain gipang, ceplis, emping, bolu kuwuk, sate bandeng, ketan bintul, jejorong dan sejumlah makanan tradisonal lainnya.
“Kegiatan ini merupakan upaya kami mempromosikan kuliner meningkatkan citra kepariwisataan di Kota Cilegon, Kegiatan ini juga diharapkan menjadi tempat berkumpulnya pelaku usaha wisata kuliner agar bisa mendatangkan konsumen," ujarnya. Sementara itu, penanggungjawab kegiatan, Putu Maulana mengatakan, bahwa saat ini wisata kuliner telah menjadi salah satu alternatif penting bagi wisatawan di lokasi-lokasi potensial di Kota Cilegon."Cilegon memiliki keragaman makanan tradisional khas, serta layak dikedepankan sebagai bagian dari potensi dan kekayaan daerah," katanya.
Jika bisa dikemas dalam kemasan yang menarik, kata dia, kuliner khas ini dapat mempunyai nilai dan daya jual yang tinggi. Soalnya, dlihat dari nilai rasa, makanan khas Cilegon memang sudah dinilai mempunyai cita rasa yang sangat enak. "Seperti bolu kuwuk, sate bandeng, ketan bintul, dan jejorong sudah dikenal dan ini sangat potensial jika dikemas dengan baik," ungkapnya. (Vanny/"Job”)***







Sabtu, 18 Oktober 2014

Sastra Bengawan Bojonegoro

sastra bojonegoro.blogspot.com
 01
 
02
 03
04
05

11 Penyair dari Jawa Pentas di Festival "Sastra Bengawan Bojonegoro"


Panitia Penyelenggara Festival "Bengawan Bojonegoro" Arie Muryoko, Jumat  di Bojonegoro mengatakan penyair yang siap hadir di acara festival "Bengawan Bojonegoro" yaitu Jakarta, Semarang, Solo, Sragen, Tegal, Ngawi, Lamongan, Tuban, Nganjuk, Malang, dan Blitar.


Jakarta, Aktual.co — Penyair 11 kota di Pulau Jawa akan ikut memeriahkan pembacaan puisi di acara Festival "Bengawan Bojonegoro" di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada 16 Oktober, dalam rangka memeriahkan HUT kabupaten setempat ke-337.

Panitia Penyelenggara Festival "Bengawan Bojonegoro" Arie Muryoko, Jumat  di Bojonegoro mengatakan penyair yang siap hadir di acara festival "Bengawan Bojonegoro" yaitu Jakarta, Semarang, Solo, Sragen, Tegal, Ngawi, Lamongan, Tuban, Nganjuk, Malang, dan Blitar.

"Penyair Bojonegoro juga sudah siap tampil di ajang ini, apalagi sebagai tuan rumah," ucapnya, menegaskan.

Ia menjelaskan sudah memperoleh kepastian para penyair luar kota yang akan tampil di acara Festival "Bengawan Bojonegoro", yang sebagian besar sudah banyak berkarya, bahkan juga acapkali tampil di berbagai ajang pertunjukan pembacaan puisi.

"Bagi penyair ada dua hal bisa tampil di acara kami yaitu sensasi sastra juga bisa tampil menyatu dengan alam," papar Arie, yang juga Ketua Komunitas Sastra Etnik di Bojonegoro.

Lebih lanjut ia menjelaskan acara baca puisi Festival "Bengawan Bojonegoro" untuk panggung berada di utara Bengawan Solo di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, dengan memanfaatkan tiga buah perahu besar.

Selain itu, lanjutnya, panggung juga akan dihias dengan lima buah perahu yang ditempatkan di bagian samping panggung, tetapi diparkir berjajar di air.

Meski panggung di daratan, katanya, panitia juga menyediakan sebuah perahu yang bisa dimanfaatkan penyair untuk membaca puisi di atas air.

"Pertimbangan panggung utama di daratan, karena ada sebagian orang yang takut di atas air," ujarnya.

Karena acara digelar malam hari, sambungnya, panitia juga menyiapkan lampu, bahkan kemungkinan akan memasang layar di daratan agar penonton bisa melihat lebih jelas.

 
 
.

Rabu, 15 Oktober 2014

"Puser Bumi" Gampang Prawoto Raih Penghargaan Karya Sastra Jatim 2014

sastra-bojonegoro

 

 

 

 

Gurit Gampang Prawoto Raih Penghargaan Karya Sastra Terbaik Jatim

Reporter : Tulus Adarrma Gurit Gampang Prawoto Raih Penghargaan Karya Sastra Terbaik Jatim


Bojonegoro (beritajatim.com) -


puser  bumi manglung mangetan
kemrengseng swarane sedhan
kalah seru  swarane sepatu lerekan
prag-prog, brag-brug
ngidak-idak lemah warisan
ngurug dalan wetune pangan
ngosak-asik pranatan
nyadhong dhuwit sewan
kamar.

Sepenggal gurit (puisi Jawa) karya Gampang Prawoto yang berhasil menyabet penghargaan Karya Sastra Terbaik 2014 oleh Balai Bahasa Jawa Timur.

Buku antologi puisi bahasa Jawa (gurit) itu berhasil menyingkirkan beberapa buku puisi lain yang dikirim oleh sastrawan se-Jawa Timur. Usai menerima penghargaan, Gampang Prawoto kepada beritajatim.com mengatakan, jika dalam buku antologinya itu merupakan kumpulan sebanyak 78 puisi jawa yang ditulis sesuai kondisi realitas atau kegelisahan atas kondisi di sekitarnya.

"Saya tidak mengira sebelumnya akan mendapat penghargaan seperti ini. Yang saya lakukan hanya menulis untuk peluapan ide atau kegelisahan dari peristiwa di sekeliling saya," ungkapnya, Rabu (15/10/2014).

Dalam gurit Puser Bumi sendiri sebenarnya merupakan bentuk pesan yang ingin disampaikannya bahwa Bojonegoro adalah puser bumi dengan limpahan sumber minyak dan gas (migas) yang terkandung didalamnya. Menjadi pusat ekonomi negara. Menarik bagi pendatang untuk bisa ikut menikmati hasil bumi di Bojonegoro. "Bojonegoro sebagai puser bumi karena sumber minyaknya yang besar," terangnya.

Gampang Prawoto yang aktif dalam komunitas sastra, Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) itu juga telah banyak menerima penghargaan dari hasil karyanya. Seperti misalnya pinilih karya cerkak Jaya Baya 2004. Selain buku Puser Bumi, Dia juga menulis prosa liris yang berjudul Perempuan adalah Perempuan tahun 2013 lalu. "Dalam pengantarnya, Bonari Nabonenar, mengatakan bahwa puisi saya khas untuk dipanggungkan," pungkasnya.

Saat ditemui beritajatim.com, Gampang Prawoto sedang ganyeng ngobrol bersama sastrawan lain di Bojonegoro, diantaranya JFX Hoery yang juga pernah menyabet dua kali penghargaan Rancage pada tahun 2006 dan 2013, Nono Warnono pernah meraih penghargaan Rancage sekali pada tahun 2014, serta Yonathan Raharjo, pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, dengan novelnya Lanang.

Sekadar diketahui, selain memberikan penghargaan sebagai Karya Sastra Terbaik, Balai Bahasa Jawa Timur juga memberikan penghargaan untuk komunitas satra terbaik kepada Komunitas Lumpur, Bangkalan, Madura. Guru Bahasa Sastra berprestasi dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah tingkat Menengah. Serta penghargaan kepada Penulis diatas usia 60 tahun yang diberikan kepada Yunanik SW. [uuk/but] 



PUSER  BUMI

Kuthaku mabur ngawiyat
ilange keluk once mbako
nimbule crobong lenga.

puser  bumi manglung mangetan
kemrengseng swarane sedhan
kalah seru  swarane sepatu lerekan
prag-prog, brag-brug
ngidak-idak lemah warisan
ngurug dalan wetune pangan
ngosak-asik pranatan
nyadhong dhuwit sewan
kamar.

puser bumi munggah
sakilan
dol-tinuku
sadalan-dalan, warung
warung cilik nawakake
sawah apa tegal, kanthi sewan
dadi simpenan utawa cara gadhen.

puser bumi mudhun
sakilan
banyu panguripan


wutah ing sedhengah papan
gumrojog, kemricik
kaya swarane lenga

sesidheman
klesak-klesik
mumpung bojomu mlebu awan
janjian.

puser bumi minger ngalor-ngetan
kalisari lawange tutupan
gandul disangoni telung yutaan
widodari mabur saparan-paran
mula bapake arang mangan
icip pecel, njajal soto, imbuh rawon
wareg, rakaweruhan.

Bojonegoro,17012013

@ Jaya Baya No.31/LXVII  31 Maret-301 April  2013