Tampilkan postingan dengan label R A N C A G E. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label R A N C A G E. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2014

"Kluwung" Nono Warnono “Ranage” 2014

sastra-bojonegoro.blogspot.com

 

PENGANUGERAHAN HADIAH SASTRA “RANCAGE” 2014

DSC_0610

Pada hari Selasa, 19 Agustus 2014, di Aula Barat ITB Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB mendapatkan kehormatan untuk menyelenggarakan Penganugerahan Hadiah Sastra “Rancage” 2014 bersama-sama dengan Yayasan Kebudayaan “RANCAGE”. Yayasan Kebudayaan Rancage didirikan oleh Ajip Rosidi tahun 1989 yang menyelenggarakan anugerah Hadiah Sastera Rancage dan Konferensi Internasional Budaya Sunda pada tahun 2001 dan 2011. Hadiah sastera Semula hanya diberikan kepada karya-karya dan tokoh- tokoh sastera Sunda. Sejak tahun 1994  hadiah sastera mulai dikembangkan pada lingkup yang  lebih luas,yaitu  karya-karya dan tokoh-tokoh sastera Jawa kemudian sastera Bali  mulai 1998  dan sastera Lampung mulai 2008. Tujuan didirikannya Kebudayaan Rancage adalah: (a) Memelihara, mengembangkan, dan melestarikan  bahasa dan sastera daerah agar sejajar dengan sastera nasional dan internasional; (b) Menumbuhkan minat membaca masyarakat  terhadap buku-buku yang diterbitkan dalam bahasa daerah, dan menghormati serta mengapresiasinya sebagai warisan kekayaan rohani bangsanya; serta (c) Menciptakan iklim kreatifitas bagi para pengarang dan penggiat kebudayaan daerah.

Para penerima Hadiah Sastera dan Bahasa  tahun 2014 dari Yayasan Kebudayaan Rancage:

Hadiah Sastera “Rancage”

1. SASTERASUNDA
Titimangsa: 68 Sajak Alit, karya Abdullah Mustappa
Mangle untuk jasa, majalah basa Sunda yang mulai
terbit tahun 1957

2. SASTERAJAWA
Kluwung, Kumpulan crita cekak karya Nono Warnono
Dhanu Priyo Prabowo untuk jasa.

3. SASTRA BALI
Tutur Bali, Kumpulan cerita karya I Wayan Westa
I Gusti Made Sutjaja untuk jasa

4. SASTRA LAMPUNG
Suluh, Kumpulan sajak oleh Fitri Yani
Hadiah “Samsudi”
Prasasti nu Ngancik nu Ati, Karya Popon Saadah.

Hasil Lengkap Pemenang Hadiah Rancage 2014

 

BANDUNG,(PR)- Yayasan Kebudayaan Rancange untuk ke 26 kalinya kembali akan memberikan Hadiah Sastera Rancage 2014 untuk karya sastera Sunda dan lembaga. Tahun 2014 Hadiah Sastera Rancage diberikan pada budayawan sastrawan Sunda Abdulah Mustappa, Hadiah Samsudi kepada Popon Saadah dan Hadiah Rancage bidang jasa diberikan kepada Majalah Mangle.


Hadiah Rancage selain diberikan kepada sastrawan, budayawan dan lembaga Sunda, juga diberikan kepada sastrawan dan budayawan Bali, Jawa serta Lampung. “Untuk sastera Sunda Hadiah Rancage memasuki tahun ke-26, sastera Jawa ke-21 kalinya, sastera Bali untuk ke-18 kali dan untuk sastera Lampung buat keempat kalinya,” ujar Apip Catrik , Wakil Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage, ditemui disela-sela pagelaran drama musikal Sunda religi, “Kasidah Cinta Al-Faruq”, Auditorium Padepokan Seni Mayang Sunda.


Sepanjang tahun 2013 buku sastera bahasa Sunda dan bacaan anak-anak yang terbit ada 42 judul, yaitu 27 judul buku baru dan 15 judul merupakan cétak-ulang, lebih sedikit dari buku yang terbit tahun sebelumnya (ada 68 judul). “Seperti biasa buku cétak ulang, karya bersama dan karya Ajip Rosidi tidak masuk hitungan, artinya tidak dipertimbangkan untuk mendapat Hadiah ‘Rancagé’,” terang Apip.


Penerbit yang menerbitkan buku bahasa Sunda dalam tahun 2013 kian banyak. Selain Kiblat Buku Utama yang menerbitkan 17 judul, ada Geger Sunten (5 judul), Green Smart Books Publishing (4 judul), TBM Nurul Huda (4 judul), Pustaka Jaya (3 judul), Wisata Literasi (3 judul), Studio Titik Dua (1 judul), Rak Buku (1 judul), MSB Publishing (1 judul), dan Galeri Padi (1 judul). Dua judul diterbitkan oléh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemda Jawa Barat.


Dari 27 judul buku baru ada sebuah yang merupakan terjemahan (Si Démplon karya Guy de Maupassant diterjemahkan oléh Duduh Durahman). Dari 26 judul karya asli, satu berupa ésai berjudul Wanoh ka Lakuning Jagat yang ditulis oléh Adjat Sudradjat, guru besar géologi dan vulkanologi Universitas Padjadjaran. Buku-buku lainnya berupa fiksi: Berlian : 11 carpon wanoja (karya bersama), Boa-boa karya Irianto; Wayahna karya Irianto, Tunggu Hujan karya Irianto, Nunang Nunaning karya Irianto, Lalakon Awon karya Godi Suwarna, Ronggéng Sajajagat karya Ahmad Bakri, Lalaki na Tungtung Peuting karya Tiktik Rusyani, Londok karya Hérmawan Aksan, Randa Ték Dung karya Muryana Surya Atmaja dan Nénéng Sumarni, Bulan Buleud dina Jandéla karya Dudung Ridwan, Kalakay karya Dény Riaddy, A Liong karya Nyi Roro, Kumaha Aing Wéh karya @KumahaAingWéh, Srie Sunarsasi karya Enas Mabarti, Kabungbulengan karya H.D. Bastaman, Sabalakana karya Dadan Sutisna, Tariking Angin karya Godi Suwarna, Katumbiri: Antologi Sajak Sunda diédit oléh Téddi Muhtadin, Hariweusweus Leuweung Pineus karya Arom Hidayat dan Titimangsa: 68 Sajak Alit karya Abdullah Mustappa.


Yayasan Kebudayaan “Rancagé” menerima buku-buku dalam bahasa Madura dan bahasa Banjar terbitan tahun 2013. Dua judul buku bahasa Madura semuanya kumpulan puisi, dan keduanya ditulis oléh seorang penyair yaitu Yayan K.S. “Kejhung Aghung”, merupakan kumpulan sajak modéren dalam bahasa Madura dan”Puisi Jhâpa”, merupakan puisi mantera dalam bahasa Madura. Kecuali itu ada kiriman buku kumpulan sajak dalam bahasa Banjar “Sisigan Sungai” karya Abdurrahman El Husaini.


Pada acara penyerahan yang akan dilaksanakan Selasa (19/8) bertempat di Aula Barat ITB Jalan Ganesha Bandung Hadiah Sastera Rancage 2014 selain diberikan pada budayawan sastrawan Sunda Abdulah Mustappa, Hadiah Samsudi kepada Popon Saadah dan Hadiah Rancage bidang jasa diberikan kepada Majalah Mangle, juga akan diberikan pada sasterawan dan budayawan Jawa, Bali dan Lampung.


Hadiah Sastera “Rancagé” 2014 untuk sastera Jawa diberikan kepada Nono Warnono untuk katyanya berupa kumpulan cerita “Kluwung” dan untuk jasa diberikan kepada Dhanu Priyo Prabowo. Sementara untuk sastera Bali diberikan kepada I Wayan Westa untuk kumpulan cerita “Tutur Bali” dan untuk jasa diberikan kepada I Gusti Made Sutjaja. Sedangkan sastera Lampung diberikan kepada Fitri Yani untuk karya kumpulan sajak “Suluh”. (Retno Heriyanto/A-89)***

Senin, 03 Juni 2013

JFX. Hoery Ketua Sanggar Sastra PSJB Terima "Rancage" 2013

sastra-bojonegoro.blogspot.com


sastra-bojonegoro.blogspot.com - Hadiah Sastra "Rancage" 2013 untuk jasa dalam bahasa Jawa diberikan kepada JFX Hoery,   Penggiat sastra Jawa di Bojonegoro sekaligus Ketua Sanggar Sastra "Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro.  Pmenulis guritan dan cerita pendek bahasa Jawa yang
kerap dimuat dalam majalah-majalah bahasa Jawa juga kemudian dibukukan. Buku dia, misalnya,
Pagelaran (mendapat Hadiah "Rancage" 2004 untuk karya), Banjire Wis Surut (2006), dan Wulu Domba Pancal Panggung (2011).

JFX. Hoery pernah menjadi wartawan media massa bahasa Jawa seperti Kumandang (Jakarta), Djaka Lodang dan Mekarsari (Jogjakarta). Juga dalam media massa berbahasa Indonesia seperti Kedaulatan Rakyat (Semarang) dan Berita Nasional (Jogjakarta).

 Hadiah Sastra "Rancage" 2013 untuk sastra Jawa kategori karya diberikan kepada "Pratisara", kumpulan cerita pendek karya Krisna Mihardja terbitan Leutikaprio,  Jogjakarta. Sedangkan Hadiah Sastra "Rancage" 2013 untuk jasa dalam bahasa Jawa diberikan kepada JFX Hoery, Penggiat sastra Jawa sekaligus Ketua Sanggar Sastra "Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro.

Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia mendapat penghargaan Hadiah Sastera "Rancage" 2013 untuk jasa dalam bahasa Sunda berkat keaktifannya dalam kegiatan kesundaan sejak mahasiswa dan gagasannya menyelenggarakan Hari Bahasa Ibu Internasional di Unpad.

Siaran panitia "Rancage" 2013, Kamis, menyebutkan berkat gagasan Ganjar Kurnia, Unpad menjadi lembaga pertama di Indonesia yang memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, yaitu kegiatan yang dipromosikan oleh Unesco.

Untuk kategori karya sastra Sunda, panitia memilih "Lagu Padungdung", kumpulan sajak Deni A Fajar, sebagai pemenang.

Untuk sastra Bali 2013, penghargaan serupa diberikan kepada "Sentana", roman pendek karya I Made Sugianto, terbitan Pustaka Ekspresi. I Made Sugianto pernah mendapat Hadiah Sastra "Rancage" sastra Bali untuk jasa tahun 2012. Sedangkan Hadiah Sastra "Rancage" sastra Bali untuk jasa tahun 2013 diberikan kepada I Nyoman Suprapta.

I Nyoman Suprapta pernah bekerja sebagai guru agama (1981-1997), dan kini memusatkan perhatian pada penulisan karya puisi tradisional Bali jenis geguritan. Sejak 2000 Suprapta sudah menulis 100 judul geguritan, 80 di antaranya sudah diterbitkan sebagai buku.

Panitia juga memberikan Hadiah "Samanhudi" 2013 untuk "Dongeng Aki Guru" karya Elin Samsuri terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung. Penghargaan ini diberikan kepada bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda.

Upacara penyerahan Hadiah Sastera "Rancage" dan Hadiah "Samsudi" 2013 akan dilaksanakan atas kerjasama Yayasan Kebudayaan "Rancage" dengan Universitas Padjadjaran di Kampus Unpad, di Jalan Dipatiukur, Bandung, Mei.

Setiap yang memperoleh penghargaan akan mendapat hadiah Rp5 juta. Penghargaan "Rancage" sudah berjalan selama 25 tahun tanpa jeda.

 sastra-bojonegoro.blogspot.com

Selasa, 25 Desember 2012

Ombak Wengi, Ombak Kahuripan

Add

image


















Ombak Wengi

 
Ombak Wengi
BERMULA dari sebuah sentilan, lalu jadilah sebuah bunga rampai puisi. Demikianlah Yusuf Susilo Hartono (YSH), yang dikenal luar sebagai salah satu wartawan senior seni rupa itu melatarbelakangi buku kumpulan puisi jawa, atau geguritan berjudul Ombak Wengi.Antalogi 99 Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer Pilihan 1981-2011.

Syahdan, dia bercerita, pada tahun 90-an ketika mengikuti Kongres Bahasa Indonesia, Profesor Suripan Sadi Hutomo -yang dikenal sebagai HB Jassin Sastra Jawa- mengatakan kepada dirinya, jika dia telah menjadi pengkhianat Sastra Jawa karena telah menyeberang ke Sastra Indonesia, dan mulai emoh menulis Sastra Jawa lagi, "Hanya gara-gara saya harus menyambung nasib bekerja ke Jakarta, dan meninggalkan Bojonegoro sebagai akar Sastra Jawa saya," katanya.

Berangkat dari sentilan itu, YSH yang tidak hanya menulis puisi, tapi juga melukis sketsa, juga melakukan reportase di sejumlah media tentunya dan menjalankan sejumlah organinasi kesenian, akhirnya terus mengasah jiwa sastra Jawanya. "Tidak semua jadi gurit, tapi apapun itu, harus menjadi penanda dalam hidup saya," imbuh dia.

Maka, langkah selanjutnya, setelah mengkurasi sejumlah geguritannya yang membentang dari tahun 1981 hingga 2011, maka lahirlah buku ini. Sejauh mana geguritan YSH memaknai kehidupan metropiltan seperti Jakarta? Sangat berwarna. Atau dalam bahasa Titah Rahayu dari Kalawarti Jaya Baya, menuliskan,"Guritan-guritane YSH ngelengake aku marang lukisan-lukisan sketsane. Spontan, jujur, lugas, open, serta trengginas nangkep moment. Prasaja neng nyeni."

Seberapa spontan, jujur, terbuka, lugas, bersahaja dan mengandung nilai seni dari 99 kumpulan puisi Jawa ini? Tentu sangat gegabah jika langsung mengamini pendapat di atas. Meski yang pasti, menyimak puisi Jawa bukan pekerjaan mudah, menimbang nilai rasanya -jika menilik acuan geografis, Sastra Jawa diasup masyarakat Jawa Tengah dan Timur yang sangat mempunyai perbedaan lebar dalam hal nilai rasa bahasa Jawa.

Tapi apapun itu, buku Ombak Wengi ini telah malih menjadi semacam kazanah kehidupan Indonesia dari kaca mata seorang penyair, pelukis, pewarta, dan organisator yang baik. Sebab di dalamnya berbagai sajak, atau guritnya bernarasi tentang berbagai hal. Dari ihwal hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhannya, manusia dengan negaranya, hingga manusia dengan dirinya sendiri.

Teristimewa untuk ihwal manusia dengan Tuhannya, terlihat jelas pada gurit "Adan", "Angon", "Jejapa", "Kere", "Ombak Wengi", "Rembulan Ing Pucuk Esuk", "Kembang Jatirogo", "Ngilo", dan masih banyak gurit lainnya. Dari sini sangat bisa dibaca jika aku orang pertama adalah sosok yang religius. Karena hampir semua perkara senantiasa YSH membawa-bawa Gusti Allah dalam guritnya.

Meski dalam beberapa hal, YSH langsung memilih posisi bersemuka dengan pembuat kebijakan negeri ini. Seperti terlihat di gurit berjudul "Jula-Juli Monas", "Jare Demokrasi", "Gendera Mung Bisa Dedonga", "Indonesia Sia-Sia", "Ndonyane Iklan" dan beberapa lainnya. Atau simaklah sebentar pada gurit berjudul "Bangsa Apa Iki"? YSH pada bait terakhirnya itu, dia menuliskan: //Bangsa apa awake dhewe iki/ Maling pada ngganggi dasi lan lenga wangi luar neger/Angka-angka ing layar komputer departemen/ munyer seser jungkir walik kaya dene akrobat/ Dadi angka-angka sekongkol miliaran lan triliunan/ banjur wong0wing padha wijik sikil lan tangan/ Mbuwang saben awu iblis lan setan/ Banjur sajadah digelar. Allahu AKbar/ Gusti Allah Nyuwun Ngapura!//.

Demikianlah YSH yang pada tahun 84-an bersama Arswendo Atmowiloto dan George Quin (Ahli Sastra Jawa dari Australia) pernah "menghidupkan" Sastra Jawa via bendera Sanggar Sastra "Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)" mengguritkan perasaannya. Menyaksikan Indonesia, juga kehidupan dan Tuhan dari kaca mata kesenian dan kewartawanannya. Tercatat sampai saat ini, setelah bekerja di berbagai media cetak, YSH sekarang menjabat sebagai Pemred majalah Visual Art.
=========================
Judul buku : Ombak Wengi.Antalogi 99 Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer Pilihan 1981-2011.
Penulis : Yusuf Susilo Hartono.
Penerbit: Elmatera.
Cetakan: I, Oktober 2011
Tebal buku : VII - 114 halaman.
(Benny Benke/CN15)   

Jumat, 30 September 2011

RANCAGE 2011 "Pulo Asu" HERWANTO

Ad    



   
Pemenang Hadiah Sastra Rancage 2011
Posted on February 17, 2011

http// sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Yayasan Kebudayaan Rancage kembali memberikan anugerah Hadiah Sastra Rancage kepada pengarang karya sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Selain diberikan kepada pengarang buku sastra berbahasa daerah tersebut, Rancage juga dianugerahkan kepada individu atau lembaga yang dinilai berjasa dalam mengembangkan sastra daerah-daerah tadi.

Tahun ini Rancage untuk sastra Sunda diberikan kepada Us Tiarsa untuk buku kumpulan cerita pendeknya, Halis Pasir. Buku terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung, tersebut adalah antologi cerpen pertama Us selama 30 tahun ia menulis berbagai karya sastra dalam bahasa Sunda.

Buku berisi 13 cerita pendek US Tiarsa itu mengungguli 10 judul lainnya yang dipilih juri. Karya lainnya antara lain kumpulan tiga cerita pendek berjudul Sapeuting di Cipawening karya Usep Romli H.M., Layung Katumbiri karya Nunung Saadah, dan naskah sandiwara Rosyid E. Abby, Kabayan Ngalanglang Jaman. Buku lainnya berupa roman, kumpulan esai, dan buku anak-anak Rasiah Kodeu Biner karangan Dadan Sutisna.

Juri Rancage Teddy Muhtadin melihat karya sastra Sunda berwarna senada dengan cerita lebih mengarah ke realitas atau persoalan hidup sehari-hari. Namun kritikus sastra Sunda itu menilai karya Us Tiarsa lebih halus dan sabar. Keunggulan itu hampir merata di 13 cerita pendeknya. “Dia lebih matang dan struktur bahasa Sundanya sangat baik. Juga banyak kata yang muncul terasa pas,” ujar Ketua Program Studi Sastra Sunda Universitas Padjadjaran itu.

Selain buat Us, penghargaan sastra Sunda tahun ini juga diberikan kepada Usep Romli yang dianggap berjasa dalam pengembangan sastra Sunda. Usep Romli banyak menulis sajak, cerita anak, dan novel termasuk Sanggeus Umur Tunggang Gunung yang tahun lalu mendapat penghargaan Rancage.

Sementara itu Rancage untuk sastra Jawa diberikan kepada Pulo Asu, kumpulan cerpen karya Herwanto, yang diterbitkan Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro. Lanang Setiawan juga menerima Rancage sastra Jawa karena dianggap berjasa mengembangkan sastra Tegal sejak 1984.

Lalu Rancage sastra Bali diberikan kepada Sang Lelana, kumpulan sajak karya I.D.K. Raka Kusuma, yang diterbitkan Sanggar Buratwangi. Raka juga menyabet Rancage pada 2002 atas jasanya dalam mengembangkan sastra Bali.

Sayangnya tahun ini tak ada hadiah untuk sastra Lampung. Juri tak menemukan ada buku sastra yang terbit dalam bahasa itu sepanjang 2010.

Hadiah Sastra Rancage digagas oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi pada 1989. Mulanya hadiah ini khusus untuk karya sastra Sunda, tapi kemudian diluaskan untuk sastra Jawa, Bali, dan Lampung juga.

Lewat Rancage, Ajip ingin sastra Sunda tetap hidup. Selain membuat hadiah Rancage, ia mendirikan penerbitan Kiblat Buku Utama pada 2000 dari hasil penjualan dua lukisan potret diri dan pemandangan laut pemberian maestro Affandi senilai Rp 500 juta. Sekarang ia bersiap menjual koleksi lukisannya lagi untuk mendirikan Perpustakaan Ali Sadikin di Bandung, yang akan menjadi pusat seni Sunda. “Saya sendiri tidak mengharapkan apa-apa dari Indonesia dengan kondisi sekarang ini,” katanya.

Bukunya – dari pelbagai sumber terutama tulisan Majalah Tempo Rancage Merawat Sastra Sunda



Penyerahan Hadiah Sastera RANCAGÉ dan Hadiah SAMSUDI

Oleh Miss_Late | 14:59 | 30 April, 2011 | Sekolah-Kampus. | RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Sabtu (30/04/2011), Yayasan Kebudayaan Rancagé UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan kegiatan Penyerahan Hadiah Sastera RANCAGÉ 2011 untuk Sastera Sunda, Jawa, dan Bali, dan Hadiah SAMSUDI. Acara ini adalah acara penyerahan hadiah yang ke-24 yang diselenggarakan di Auditorium UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada pukul 08.00-14.00 WIB.
Penerima hadiah Sastera RANCAGÉ 2011 untuk kategori Sastera Sunda adalah HALIS PASIR (Kumpulan Cerpén) karya Us Tiarsa, serta H. Usép Romli H. M (Jasa). Untuk kategori Sastera Jawa adalah PULO ASU (Kumpulan Cerpén) karya Hérwanto, serta Lanang Setiawan (Jasa). Untuk kategori Sastera Bali adalah SANG LELANA (Kumpulan Sajak) karya IDK Raka Kusuma, serta Bali Orti sisipan bahasa Bali sk. Bali Post Minggu (Jasa). Kemudian Penerima hadiah SAMSUDI 2011 adalah RASIAH KODEU BINÉR karya Dadan Sutisna.
Acara ini dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa Fakultas ADAB dan HUMANIORA UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dengan Prof. Ajip Rosidi sebagai salah satu bintang tamu (sastrawan). Acara ini diisi dengan berbagai kesenian Sunda, yakni kesenian Karinding dan tarian Jaipong. Kesenian lain yang juga ditampilkan adalah kesenian Qasidah. Seluruh agenda acara berlangsung dengan lancar dan para hadirin nampak antusias mengikuti seluruh agenda acara tersebut.


                                                                                                                                on

Jumat, 15 Oktober 2010

RANCAGE "Pagelaran" JFX. Hoery

Rancage 2004
http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/
_____________________________________________________________









__





         Rancage Award 2004
Pagelaran Geguritan Pangarang JFX. Hoery Negara Indonesia Basa Jawa Tipe Geguritan Penerbit •Yogyakarta: Sanggar Sastra Pamarsudi Sastra Jawi (Bojonegoro) (PSJB) kanthi kaliyan Penerbit Narasi Tanggal terbit 2003 Cacahing kaca 195 kaca ISBN kerjasama  979-97564-14-2
Buku iki anggitane JFX Hoery kang sepisan lan langsung antuk Hadhiah Sastra Rancage Isine 190 geguritan kang katulis salawase dadi penulis Geguritan-geguritan iku akeh-akehe wis kapacak ing majalah basa jawa


          JFX Hoery lair ing Pacitan, 17 Agustus 1945. Dheweke sawijining penulis sastra jawa 
          modhern.  JFX Hoery wiwit nulis nalika isih SMP ing Majalah Taman Putra, majalah basa jawa 
          kang kababar dening kalawarti Panjebar Semangat. Tulisane kasebar ing sadengah majalah kang 
          arupa cerkak, cerbung, geguritan, crita rakyat, reportase, lan esai. Penulis iki nate dadi 
          Bojonegoro masa bhakti 1999-2004, staf Komsos Keuskupan Surabaya, Ketua  
          Sanggar   Sastra Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Sejatine, dheweke lulusan STM 
          jurusan Mesin, nanging yen urusan nulis wis luwih seka 100 cerkak lan 300-an geguritan. 
          Ana kalane yen nulis nganggo jeneng sesinglon (samaran) Cantrik Gunung Limo lan Retna  
          Yudhowati. Kajaba nulis nganggo basa Jawa, dheweke uga nulis nganggo basa Indonesia lan 
          nate dadi wartawan ing Kedaulatan Rakyat lan Bernas. Buku-bukune kang nate kababar antara 
          liya:


          Sumber artikel iki saka kaca situs web: "http://jv.wikipedia.org/wiki/J._F._X._Hoery"

                                                                               
Rebo, 31 Maret. Moch. Nursyahid P. lan JFX Hoery nampa hadiah Rancage, manggon       ing  auditorium Fakultas Sastra Universitas Pakuan, Bogor (PS. No. 17, 2004, kaca. 25-26). Bab 
     Rancage iki, dianggep rutin ya bisa, tegese saben taun ana sing bakal nampa; dianggep 
     mirunggan   pancen ya mangkono amarga ya mung siji iki ‘penghargaan tetap’ kanggo sastrawan  
     Jawa apadene kanggo sapa bae sing ‘berjasa’ tumrap mekare sastra Jawa. Yen ing taun iki  
     Moch. Nursyahid P. lan JFX  Hoery sing nampa, penulis kira wis sak  mesthine. Sing bisa kita 
     semak saka tokoh  kekarone iki yakuwi yen sing jenenge ‘prestasi’ ora  bisa dikarbit utawa
     dadakan, nanging butuh wektu sing suwe. ‘Kesetiaan’ lan ‘konsistensi’ sing diregani ing babagan 
     iki. Kita bisa nyemak uga yen karyane JFX Hoery, Pagelaran, mujudake antologi geguritan  
     kang  karipta sajroning 30 taun (1970-2000) (PS. No. 8, 2004: 17). Dene Moch. Nursyahid P. 
     dhewe ora kurang-kurang anggone tansah ngupaya amrih ngrembakane sastra Jawa. Tetela nganti 
     saiki panjenengane isih tetep setya nulis. Uwal saka ‘kontroversi’ ing babagan ‘penjurian’ 
     (contone ‘pengadilan sastra Jawa’ ing Surabaya ing wektu kepungkur), kita melu mangayubagya 
      marangsapa bae sastrawan Jawa kang nampa Rancage iki. Muga-muga para penulis mudha 
     tansah kagugah semangate kanggo‘berkarya" 

                                                       JFX. Hoery Nampa Rancage
                                                
         caption




































    Enam Sastrawan Raih Hadiah Sastra Rancage 2004
   
Ad  Jakarta, Sinar Harapan
Untuk kesekian kalinya, Yayasan Kebudayaan Rancage pimpinan Ajip Rosidi memberikan Hadiah Sastera Rancage 2004, sebuah penghargaan bagi para sasterawan yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali pada tahun sebelumnya. Sama seperti penyelenggaraan sebelumnya, hadiah terbagi atas dua kategori, yaitu karya dan jasa dengan total enam pemenang. Masing-masing pemenang berhak mendapatkan piagam dan uang sebesar Rp 5 juta.
Pemenang Hadiah Sastera Rancage bahasa Sunda untuk kategori karya adalah Penganten, sebuah roman karya Deden Abdul Aziz terbitan PT Kiblat Buku Utama, Bandung. Sementara Hadiah Rancage untuk kategori jasa jatuh ke tangan Yayasan Cangkurileung yang dinilai telah memberikan sumbangan besar dalam pemeliharaan dan pengembangan bahasa Sunda.
Hadiah Sastera Rancage bahasa Jawa untuk kategori karya, dimenangkan oleh Pagelaran, kumpulan geguritan J.F.X. Hoery terbitan Narasi dan Pamarsudi Sastra Jawi, Bojonegoro. Adapun tokoh sastra Jawa yang terpilih menerima penghargaan atas jasanya mengembangkan bahasa dan sastra Jawa adalah Moch. Nursyahid Purnomo, pengarang sekaligus wartawan yang aktif menulis baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.
Terakhir, peraih Hadiah Sastera Rancage 2004 untuk karya dalam bahasa Bali adalah Coffee Shop karya I Dewa Gede Windhu Sancaya terbitan Yayasan Paramasatra Bali, Denpasar. Sedangkan untuk kategori jasa dimenangkan oleh Nyoman Tusthi Eddy yang selama ini aktif mengamati, menulis dan membina sastera Bali modern sejak 1970.
Selain Hadiah Sastera Rancage, yayasan juga memberikan Hadiah Samsudi 2004, sebuah penghargaan khusus untuk bacaan kanak-kanak berbahasa Sunda terbaik yang terbit tahun sebelumnya. Sayang, tidak setiap tahun tersedian buku bacaan kanak-kanak yang cukup baik sehingga tak setiap tahunnya hadiah ini diberikan. Tahun ini, yang beruntung memperoleh Hadiah Samsudi adalah Dadan Sutisna yang mengarang Misteri Haur Geulis. Selain piagam, Dadan yang pernah meraih Hadiah Samsudi 2002 lewat buku Nu ngageugeuh Legok Kiara ini juga berhak atas uang sebesar Rp 2,5 juta.
Upacara penyerahan Hadiah Sastera Rancage dan Hadiah Samsudi ini akan diselenggarakan menjelang akhir Maret 2004 mendatang di Kampus Universitas Pakuan, Bogor atas kerjasama Yayasan Kebudayaan Rancage dan Universitas Pakuan, Bogor.

Penurunan
Selain memberikan penghargaan, Yayasan Kebudayaan Rancage juga menemukan sejumlah fakta menarik. Dari pengamatan selama 2003, Yayasan menemukan bahwa buku dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali mengalami penurunan dalam jumlah judul buku yang diterbitkan. Jika dibandingkan, buku dalam bahasa Sunda tahun 2002 terbit 27 judul, sementara tahun 2003 hanya 16 judul. Buku bahasa Jawa tahun 2002 terbit 10 judul, tapi tahun 2003 hanya 8 judul. Sementara buku bahasa Bali tahun 2002 terbit 19 judul, namun tahun 2003 mengalami penurunan drastis menjadi 5 judul saja. Buku bacaan kanak-kanak yang terbit dalam bahasa Sunda tahun 2003 juga hanya 2 judul.
Secara umum, jumlah buku yang terbit dalam setiap bahasa daerah masih sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang diklaim sebagai penuturnya. Apalagi jika kita memperhitungkan jumlah cetak buku-buku tersebut. Hingga kini, buku-buku bahasa daerah umumnya masih diterbitkan oleh para penerbit karena dorongan con amor dan tidak ditangani secara profesional. Mungkin ini juga disebabkan adanya mitos yang menyatakan bahwa penerbitan –baik buku maupun pers—dalam bahasa daerah tidaklah menguntungkan. Padahal, terobosan untuk mengatasi kelangkaan buku bahasa daerah hanya dapat dilakukan melalui penanganan secara profesional. Mengharapkan bantuan atau uluran tangan dari pemerintah atau pihak lain, ternyata tak pernah menyelesaikan masalah malah menimbulkan masalah karena jalan itu sering memberikan kesempatan untuk KKN. (din)
        on
Copyright © Sinar Harapan 2003 

         Rancage Award 2004
        Rancage Literary Foundation recently announced its 2004 literary award for authors writing works in  
        Sundanese, Javanese, and Balinese languages published in 2003, and also for persons or institutions 
        deemed to have rendered services to the regional languages. In the category of Sundanese literature,  
        Deden Abdul Aziz got the award for his work, Roman Penganten (Wedding Romance), and Tatang 
        Benyamin Koswara for his merit in the development of the Sundanese language. In the category of 
        Javanese literature, JFX Hoery snatched the award for his collection of poems, published by Narasi 
        and Pamarsudi Sastra Jawi, and Moch Said Purnomo, a journalist of Panyebar Semangat Magazine,
        was given the prize for his efforts to develop the Javanese language. As for the category of Balinese 
        literature, I Dewa Gede Windhu Sancaya won the award for his work, entitled Coffee Shop, while 
        that  for services in the development of the Balinese language was won by Nyoman Trusti Eddy.   
        Besides, the Samsudi award was given to Dadan Sutisna for his work Mister Haur Geulis, in the 
        category of Sundanese children books, published in 2002. According to Ajip Rosidi, head of Rancage 
        Foundation, the awards were presented to the winners at the end of March, at Pakuan University, 
        Bogor.
        (February 2004, Alfons Taryadi, ABD Correspondent)
                                                                                caption
              
                  

   Hadiah Sastra Rancage 2004 Jalan Terus Meski Terpuruk

   
Sampai sekarang buku-buku bahasa daerah, umumnya masih diterbitkan karena dorongan con amor dan tidak ditangani secara profesional.

Penerbitan karya sastra bahasa-bahasa daerah boleh lesu. Peminatnya pun boleh terus merosot. Tapi, penghargaan Hadiah Sastera Rancage tak ikut-ikutan mogok. Penghargaan kepada para sastrawan yang menulis dalam bahasa-bahasa daerah --Sunda, Jawa, dan Bali-- tetap bergulir. Para pemenangnya telah ditetapkan. Hadiah sastra Rancage 2004 --berupa piagam dan uang masing-masing sebesar Rp 5 juta-- bakal diserahkan Maret nanti di Universitas Pakuan, Bogor.



Hadiah Rancage tanpa terputus diberikan setiap tahun. Penghargaan untuk sastrawan yang menulis dalam bahasa daerah Sunda tahun ini merupakan yang ke-16 kalinya, dalam bahasa Jawa untuk yang ke-11 kalinya, dan dalam bahasa Bali menginjak yang ketujuh. Untuk setiap bahasa, tersedia dua macam hadiah, yaitu untuk karya dan untuk jasa.

Hadiah Rancage 2004 untuk karya diberikan kepada sasterawan yang pada tahun 2003 menerbitkan buku karya sastra yang dianggap paling berhasil. Sedangkan hadiah jasa disampaikan kepada orang atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam mengembangkan bahasa dan sastera daerah yang bersangkutan.

Di samping Rancage, disediakan pula hadiah Samsudi untuk pengarang yang menerbitkan buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda yang baik yang terbit tahun sebelumnya. Sayang bahwa tak selalu ada buku bacaan kanak-kanak yang cukup baik yang terbit setiap tahun, sehingga kadang-kadang hadiah ini tak diberikan.

Dalam catatan Yayasan Kebudayaan Rancage, pemberi anugerah ini --dengan bantuan berbagai pihak, jumlah judul buku dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali yang diterbit tahun lalu mengalami penurunan. Buku bahasa Sunda yang pada 2002 terbit 27 judul, tahun 2003 hanya 16 judul; dalam bahasa Jawa tahun 2002 terbit 10 judul, tahun 2003 hanya 8 judul; sedangkan dalam bahasa Bali yang tahun 2002 terbit 19 judul, tahun 2003 hanya terbit 5 judul. Buku bacaan kanak-kanak yang terbit dalam bahasa Sunda tahun 2003 juga hanya ada 2 judul.

Rendahnya jumlah buku yang terbit dalam setiap bahasa daerah tersebut, menurut Yayasan Kebudayaan Rancage, masih sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang diklaim sebagai penuturnya. Ini tanpa memerhitungkan jumlah-cetak buku-buku itu.

''Sampai sekarang buku-buku bahasa daerah, umumnya masih diterbitkan oleh para penerbit karena dorongan con amor dan tidak ditangani secara profesional, mungkin karena adanya semacam mitos yang mengatakan bahwa penerbitan (baik buku maupun pers -- dan usaha dalam bidang lain juga semisal radio atau televisi) dalam bahasa daerah tidaklah akan menguntungkan,'' tutur Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, pada pengantar keputusan pemberian Hadiah Sastera Rancage 2004.

Kondisi itu, menurut Ajip, menyebabkan, tidak ada pemodal yang mau mempercayakan uangnya dalam bidang tersebut. Padahal terobosan untuk mengatasi kelangkaan buku bahasa daerah, hanya dapat dilakukan melalui penanganan secara profesional. ''Mengharapkan bantuan atau uluran tangan dari pemerintah atau dari pihak lain yang selama ini sering bahkan selalu dilakukan, ternyata tak pernah menyelesaikan masalah, malah menimbulkan masalah karena jalan itu sering memberikan kesempatan untuk KKN,'' katanya.

Menurunnya penerbitan buku berbahasa daerah, khususnya Sunda, diakui oleh Prof Dr Edi S Ekajati, mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. ''Saya prihatin dengan kondisi itu. Bagaimana tidak akan menurun, banyak faktor yang menunjang terjadinya keterpurukan buku-buku bahasa daerah itu. Misalnya menurunnya minat baca masyarakat, lunturnya rasa cinta masyarakat terhadap budayanya, lemahnya perhatian pemerintah terhadap eksistensi bahasa daerah, dan minimnya pemodal yang berbisnis dalam penerbitan buku bahasa daerah,'' katanya.

Faktor-faktor itulah yang membuat bahasa daerah menjadi urutan terbelakang dalam perhatian masyarakat. Padahal, tambah Ekajati, pelestarian bahasa daerah itu merupakan tuntutan dari UUD 1945 dan UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dalam kacamata budayawan Yakob Sumardjo, perkembangan penerbitan bahasa daerah tergantung dari kondisi pasar yang ada. Kalau memang tidak memungkinkan untuk membaik pasti investor pun akan enggan terlibat. Memburuknya produk-produk buku berbahasa daerah, kata Yakob, tidak terlepas dari minat masyarakatnya. ''Kalau memang kebutuhan masyarakat menurun terhadap buku itu, maka akan sulit dipaksakan untuk menambah penerbitan.''

Adapun penyebab menurunnya kebutuhan masyarakat itu, menurut dia, kini kebanyakan masyarakat lebih cinta terhadap budaya luar. Akibatnya, budaya nenek moyangnya sendiri terlupakan. Kondisi ini diakibatkan kurang sadarnya masyarakat dan pemerintah terhadap pentingnya bahasa itu. ''Masyarakat lebih terbiasa berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan sesamannya. Pemerintah pun nyaris tidak menganggap penting terhadap bahasa tersebut,'' tambah Yakob.

Bagaimana dengan kemungkinan kurangnya inovasi tema dari pengarang buku? ''Bisa saja itu terjadi,'' jawab Ekajati. Namun yang jelas, katanya tema dari pengarang itu masih cukup beragam. Apalah artinya banyak tema apabila tidak diterbitkan. ''Saya yakin banyak tulisan buku pengarang yang tersimpan karena tidak diakomodasi oleh suatu penerbitan.''

Penerbit, kata Ekajati, pun akan berpikir ketika hendak mencetak seluruh karya buku bahasa Sunda. Kondisi saat ini, satu kali penerbitan tidak akan lebih dari 1000 eksemplar buku. Itu pun tidak akan habis dalam waktu satu tahun. ''Pokoknya dari kacamata bisnis sudah sangat terpuruk,'' jelas Ekajati.

Karya sastra Sunda hanya melejit pada tahun 1960-an. Dalam waktu 10 tahun ke depan, menurut dia, produk tulisan itu menurun hingga 50 persen. Jumlah buku, majalah, serta surat kabar saat ini bisa dihitung dengan jari. Penurunan produk buku itu terus menurun hingga sekarang. Dia khawatir nasib bahasa daerah akan terus memburuk bila tidak ada keinginan dari seluruh pihak untuk berupaya mempertahankannya.

Ekajati yang juga anggota Paguyuban Pangarang Sastera Sunda menilai penetrasi kebudayaan asing saat ini sangat kuat di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. Kondisi itu membuat masyarakan 'terninabobokan' dengan budaya sendiri. Apalagi kecenderungan masyarakat selama ini menganggap bahwa budaya asing itu merupakan trademark dalam pergaulan. Paradigma itu secara tidak disadari akan membuat rasa cinta dan kepemilikan masyarakat terhadap budayanya meluntur. Sementara menurunnya minat baca masyarakat merupakan persoalan bangsa ini. Jangankan membaca bahasa daerah, mengkonsumsi bacaan informasi pun sudah sering ditinggalkan.

Dengan segala keprihatinan itu Yayasan Kebudayaan Rancage menetapkan para pemenang Hadiah Sastera Rancage 2004. Pemenang karya sastra bahasa Sunda diraih Penganten, sebuah roman karya Deden Abdul Aziz, terbitan PT Kiblat Buku Utama, Bandung. Pengarang kelahioran Cianjur 28 Agustus 1972 itu dinilai berhasil memperkaya khazanah sastra bahasa Sunda dengan karya yang otentik dan sangat sublim.

Sedangkan hadiah Rancage 2004 untuk jasa karena besar sumbangannya dalam pemeliharaan dan pengembangan bahasa Sunda jatuh pada Yayasan Cangkurileung. Yayasan yang didirikan Mang Koko (Koko Koswara) ini bergerak dalam bidang karawitan, terutama di lingkungan sekolah, walau aktif juga di luarnya. Apalagi dengan acara tetap setiap minggu (Taman Cangkurileung 2 kali, Bincarung 2 kali, dan Setia Putra sekali setiap bulan) di RRI Bandung, maka kegiatannya dikenal secara luas dalam masyarakat. Lagu-lagu yang digarapnya kebanyakan karya Mang Koko baik kawih, tembang (pupuh rancag) maupun sekar tandak. Lagu-lagunya adalah lagu-lagu Sunda dan mempergunakan bahasa Sunda, sehingga secara tidak langsung usaha Yayasan Cangkurileung ini merupakan usaha memelihara dan mengembangkan bahasa Sunda.

Setelah memperbandingkan lima buku kumpulan guritan bahasa Jawa, Hadiah Sastera Rancage 2004 untuk karya ditetapkan untuk Pagelaran, umpulan geguritan JFX Hoery, Penerbit Narasi dan Pamarsudi Sastra Jawi, Bojonegoro. Adapun pemenang untuk jasa diberikan kepada Moch. Nursyahid Purnomo, sastrawan dan wartawan media massa bahasa Jawa. Dia dinilai besar sumbangannya dalam mengembangkan bahasa dan sastera Jawa.

Karya sastra berbahasa Bali terbitan 2003 yang ditetapkan mendapatkan Rancage adalah Coffee Shop, karya I Dewa Gede Windhu Sancaya, terbitan Yayasan Paramasastra Bali, Denpasar. Sedangkan pemenang untuk jasa dalam mengembangkan bahasa dan sastera Bali ialah Nyoman Tusthi Eddy. Dia aktif mengamati, menulis dan membina sastera Bali modern sejak tahun 1970.
(san/is )

@ sastra bojonegoro

sastra bojonegoro