Tampilkan postingan dengan label Artikel dan Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel dan Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2013

Kekuatan Sastra

sastra-bojonegoro









Kekuatan Sastra, Sebagai Benteng Kultur Lokal di Tengah Era global*
Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti kajian buku di Sindikat Baca – salah satu komunitas penggerak literasi di Bojonegoro - kebetulan yang dibicarakan pada saat itu adalah novel Bukan Pasar Malam karya Pramodya Ananta Toer. Seorang tokoh fenomenal, sastrawan nasional terkenal bahkan sudah meng-internasional. Karya-karyanya sering dibedah, baik di dalam maupun di luar negeri.
Dalam kegiatan tersebut – kebanyakan yang datang adalah mahasiswa - ada diskusi panjang tentang sastra. Di tengah-tengah diskusi, muncul sebuah pertanyaan; apakah sastra bisa memberi perubahan positif pada masyarakat ? Menanggapi pertanyaan itu, seorang kawan di samping saya ikut menambahkan bahwa sastra menurutnya hanya membuat pembaca melambungkan hayali (angan-angan) belaka. Karenanya dia tidak begitu tertarik pada dunia sastra. Menanggapinya, saya katakan bahwa kalau itu yang ditangkap adalah nilai hayali atau hayalannya saja mungkin ada benarnya. Apalagi jika dia seorang intlektual atau mahasiswa. Sebagaimana dikatakan Gunnar Myrdal “Kepercayaan seorang mahasiswa ialah keyakinanya pada kebenaran itu adalah segala-galanya dan bahwa khayalan itu merusak, terutama khayalan-khayalan yang oportunistis”[1].
Tetapi berbicara sastra tidak sesederhana itu tentunya. Ada sejarah panjang tentang pertarungan dan kritik pada sastra itu sendiri. Seperti yang dikisahkankan oleh Gunawan Muhammad dalam bukunya Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2005). Dalam bukunya tersebut ia menceritakan bagaimana pertarungan hebat sastrawan nasional terkemuka pernah terjadi pada pasca kemerdekaan. Yakni pada masa demokrasi terpimpin waktu itu. Pertarungan dan kritik sastra dimulai dari Pramodya Ananta Toer yang menyerang-mengkritik habis beberapa karya sastra yang waktu itu dimuat di majalah Sastra saat itu. Ia menuduh beberapa sastrawan anti-revolusi, menganggap tulisan-tulisan mereka telah berpihak pada the perspiring and toiling masses, pro-Barat, dan lain sebagainya. Puncak dari konfrontasi tersebut adalah dilarangnya Manifestasi Kebudayaan 8 Mei 1964. Ada pula tokoh sastra pada saat itu yang sampai masuk penjara, dan ada yang harus menandatangani noktah permintamaafan pada Pimpinan Besar revolusi, yakni Presiden Soekarno sendiri.
Begitu juga pada masa pasca reformasi, terjadi pula polemik sastra, seperti yang terjadi pada Taufik Ismail versus Hudan Hidayat, dkk. Taufik Ismail dalam pidatonya di depan Akademi Jakarta (2006) menyerang beberapa sastrawan yang mengumbar seksualitas, vulgar dan nakal dengan sebutan GSM (Gerakan syahwat merdeka) atau FAK (Fiksi Alat Kelamin). Menurutnya, gerakan mereka akan mendistorsi/mengikis ahbis budaya malu. Selain itu juga, masih menurutnya, gerakan itu ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, serta disokong kapitalisme dunia. Serangat maut Taufik Ismail ini kemudian dijawab oleh Hudan Hidayat dalam artikelnya dengan argumentatif-logis. Katanya, “ Tuhan itu lebih "nakal" dari Taufik Ismail. Dalam sebuah ayat dari surat-Nya (QS 7 ayat 22), Tuhan Yang Maha Imajinatif menggambarkan Adam dan Hawa telanjang, setelah melanggar "aturan main". Begitu salah satu pembelaannya.
Saya tidak ingin terlalu jauh membahas polemik tersebut, kenyataannya bahwa sastra mengandung falsafah moral dan karakteristik yang berbeda-beda dan tersembunyi di balik jubah para penulisnya. Sastra, seperti dikatakan oleh kalangan pemerhati sastra bahwa merupakan gambaran kehidupan. Ia adalah cerminan kehidupan yang seringkali disumberkan dari kenyataan sosial. Karena bersumbernya dari kenyataan social itulah, sastra bisa dipandang sebagai “kebenaran” penggambaran atau yang digambarkan oleh si-penulis. Kebenaran itu meliputi nilai-nilai humanisme, releguitas, social-budaya, meski kadang nilai-nilai tersebut dikemas dalam bentuk kiasan-kiasan.
Ada beberapa karya sastra yang menghebohkan bahkan memberi sumbangan pengaruh pada paradigma masyarakat, bahkan menembus dimensi social-politik. Seperti novel Max Havelar karya Eduard Douwes dengan nama samara Multatuli. Novel ini dikatakan bisa menghebohkan parlemen pemerintahan Belanda waktu itu karena kekejaman penjajahan pada penduduk pribumi di wilayah Hindia Belanda (Selanjutnya bernama Indonesia) dilukiskan dalam novel tersebut. Potret dari kemiskinan dan kesadisan penjajah ini, kemudian melahirkan sebuah perubahan politik yang dikenal dengan sebutan ‘politik etis’. Meski kemudian politik etis ini tidak sesuai dengan harapan awal perintisannya. Namun keberadaan novel itu telah menjadi perhatian beberapa kalangan.
Selanjutnya ada novel “Djalan Tak Ada ujung” karya Mochtar lubis, “Tjerita dari Blora” karya Pramodya Ananta Toer, mampu menjadi bacaan penting yang dapat menginspirasi semangat revolusi mahasiswa, sebagaimana yang tergambar dari catatan Soe Hok Gie. Ada pula novel Zaratustra karya Nietzse, dan masih banyak lagi karya-karya sastra yang menjadi rujukan dalam sumbangsihnya bagi pengembangan falsafah moral, nilai-nilai social-politik dan lain-lain. Bahkan tidak kurang beberapa aktifis kemanusiaan, seperti feminisme-gender memperjuang nilai-nilai tersebut melalui sastra, baik novel, puisi maupun yang lainnya.
Sastra Lokal Bojonegoro Sebagai Solusi di Tengah Globalisasi ?
Di tengah kekhawatiran adanya akulturasi budaya asing di Bojonegoro, sebagai konsekuensi dari dampak geliat industrialisasi-globalisasi, maka perlu ada upaya strategis-praktis guna mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang sudah ada. Globalisasi, sebagimana dikatakan oleh Francis Wahono Nitiprawiro, bahwa secara bahasawi dapat didefinisikan sebagai proses menjadikannya satu bumi, satu dunia. Akan tetapi, karena selain dari tatanan bahasa, globalisasi sebagai konsep juga dicetuskan oleh berbagai tatanan lain yang saling terkait, seperti ekonomi, politik-ideologi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya maka globalisasi memiliki berbagai pengertian (Francis Wahono Nitiprawiro, Teologi Pembebasan, 2000).
Masih menurutnya, sebagai pengertian budaya, globalisasi tidak hanya merupakan harmonisasi ide-ide dan norma-norma, seperti pluralitas keberagaman, hak asasi, namun juga gaya hidup konsumerisme dan pornografi.proses demikian merupakan gerakan menuju kewargaan dunia universal yang melampui batas-batas kebangsaan.[2]
Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa globalisasi berpotensi melemahkan ikatan-ikatan tradisional dan menimbulkan benturan nilai-nilai, khususnya humanitas masyarakat Bojonegoro yang masih kental. Begitu juga pergeseran otonomi individualistik diperkirakan makin besar. Bagi kalangan tertentu, hal ini mungkin bukan suatu ancaman, karena telah dibekali edintitas cultural yang kuat. Lantas bagi kaum awam, khususnya kaum muda dan ABG (Anak Baru Gede) yang masih labil dan gampang terpengaruh.
Sebagai bentuk pewaspadaan dini atas bakal terbentuknya ‘redefinisi budaya’ dan masyarakat terbuka, dunia sastra yang disebut sebagai roh kebudayaan, menurut saya memiliki andil besar dalam beberapa hal. Pertama, menjaga nilai/etika, atau humanitas lokal. Dikatakan oleh Plato bahwa sastra merupakan mimesis, yaitu tiruan realita[3]. Sehingga dengan begitu, perlu ada gerakan bersama – khususnya bagi yang berkecimpung di dunia sastra – dalam mewujudkan karya sastra berbasis lokalitas. Realita - seperti tatanan nilai/etika, historis, setting lokasi, hendaknya di-copy dalam perwujudan sastra berbasis daerah ini. Butuh perjuangan serius memang. Termasuk kesadaran penuh dari lembaga-lembaga pendidikan sastra baik formal maupun non-formal, pemerintah daerah, akademisi dan masyarakat umum. Dibutuhkan pula ruang/media publikasi luas dan mudah dijangkau. Kegiatan yang sifatnya kampanye budaya terus ditingkatkan, dan lain-lain.
Kedua, mengglobalkan nilai lokalitas Bojonegoro. Seperti yang dijelas di atas, bahwa globalisasi menciptakan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa melewati batas-batas ideologis, geografis, social politik. Dengan begitu, melalui dunia sastra potret kehidupan – meliputi social-budaya, politik, sejarah, dan sumberdaya daerah bisa jadi ikut terbawa dalam ruang globalitas. Meski ini terkesan muluk-muluk, dalam ranah jangka panjang musti harus dipikirkan. Sebagaimana karya-karya Pramodya Ananta Toer, ternyata mendapat pengakuan dunia internasioanal.
Ketiga, sebagi benteng dari keterasingan identitas dan karakter masyarakat lokal. Di tengah-tengah modernitas saat ini, saya memandang ada keasingan pada identitas atau jati diri ke-Indonesiaan kita. Bukannya saya tidak suka, tapi saya melihat – khususnya pemuda – lebih terobsesi meniru gaya atau tren luar negeri. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran, apa jadinya jika identitas ke-Indonesiaan kita mulai luntur ?
Demikian sebatas pemikiran yang saya buat sebagai refleksi atas pergeseran nilai dan keterasingan identitas masyarakat terhadap nilai-nilai local wisdom. Semoga bermanfaat.

*Aw. Abde Negara
Tukang Sapu di Sindikat Baca !
& Mahasiswa STIE Cendekia Bojonegoro

Rabu, 28 Maret 2012

Buku-buku Jawa Terhimpit di Gang Sempit

 
Add
     

     24 April 2005
     Buku-buku Jawa  Terhimpit di Gang Sempit


     LELAKI tua itu tinggal di sebuah rumah sederhana
    bersama istri dan seorang anaknya. Rumah itu
    terletak di sebuah gang sempit di kawasan padat
    penduduk di Peterongan Tengah, Semarang. Beberapa
    pot bunga menghiasi teras rumahnya. Sebuah mobil
    Suzuki keluaran 1983 tertutup rapat di halaman
    rumahnya yang sempit. Mobil tua itu sudah jarang
    dikendarai.

   Pemiliknya Agus Mulyono, 67 tahun. Di dunia sastra
Jawa ia lebih populer dengan nama samaran Ariesta
Widya. Dari tangannya sejak 1959 telah lahir 100
prosa, lima cerita bersambung, 39 geguritan
(puisi), dan sejumlah cerita pendek (cerita cekak).
Terakhir dia baru saja meluncurkan kumpulan
cerita pendek Manjing Daging yang diterbitkan Mascom
Media Semarang.

Lewat kegiatan mengarang dalam bahasa Jawa itu ia
beberapa kali menerima penghargaan sebagai
sastrawan Jawa terbaik versi Dewan Kesenian Surabaya,
majalah Djaka Lodang, Javanologi Yogyakarta,
dan Taman Budaya Yogyakarta.

Namun, kehidupan sastra Jawa tampaknya tak jauh
berbeda dengan kehidupan Agus: terhimpit di gang
sempit. Sastra Jawa nyaris punah bila orang-orang
seperti Agus tidak bertahan mati-matian
menghasilkan sejumlah karya yang layak baca.

Tapi itu saja tak cukup. Karya itu butuh pembaca, dan
kini pembaca sastra Jawa makin berkurang.
"Kalaupun kesejahteraan para sastrawan Jawa dijamin
oleh negara, tidak ada jaminan sastra Jawa akan
tetap maju jika apresiasi dari masyarakatnya sendiri
rendah," kata Agus pada Maret lalu.

Kehidupan pengarang sastra Jawa masa kini tidak bisa
dilepaskan dari media massa berbahasa Jawa.
Selain berisi berita dan artikel, majalah bahasa Jawa
juga dipenuhi karya-karya sastra seperti
cerita bersambung (crita sambung), cerita pendek
(crita cekak), cerita anak-anak (wacan bocah),
cerita wayang (pedhalangan), crita rakyat, dan cerita
misteri (alaming lelembut).

Di antara materi fiksi tersebut, hanya crita sambung
dan crita cekak yang dianggap karya sastra. Di
kedua rubrik ini hanya karya yang memiliki mutu sastra
tinggi saja yang lolos ke pemuatan.

Tak banyak sastrawan yang konsisten mengirim karyanya.
Biasanya mereka selalu datang dan pergi.
Kalaupun ada yang konsisten, jumlahnya cuma dapat
dihitung dengan jari. Pengarang angkatan tua yang
boleh digolongkan tetap produktif hingga kini ialah
Suparto Brata, Ismoe Rianto, Suharmono Kasiyun,
Yunani (Surabaya), Suryadi WS (Solo), Wisnu Sri Widodo
(Sragen), Tiwiek SA (Tulungagung) dan Djajus
Pete (Bojonegoro). Karya-karya mereka telah menghiasi
majalah bahasa Jawa sejak akhir 1950-an.

Generasi berikutnya yang produktif ialah Harwimuka
(Blitar), Widodo Basuki (Trenggalek), AY
Suharyono, Ardini Pangastuti (Semarang), Keliek SW
(Wonogiri) dan Turio Ragilputra (Kebumen).
Generasi termuda dari pengarang sastra Jawa yang tetap
produktif berkarya ialah Sumono Sandy Asmoro
(Ponorogo), Siti Aminah (Yogyakarta), Bambang P
(Wonogiri) dan Sudadi (Wonosobo).

Kecuali Suparto Barata, Tiwiek SA dan Harwimuka,
mereka adalah sastrawan majalah. Karya-karya cerita
pendek dan cerita bersambung mereka banyak menghiasi
Panjebar Semangat, Jaya Baya dan Djaka Lodang.
Sedangkan Suparto, Tiwiek dan Harwimuka selain
produktif di majalah juga telah banyak menghasilkan
buku sastra.

Namun, dunia sastra Jawa tidak bisa dilepaskan oleh
nama-nama seperti Tamsir AS, Any Asmara dan
Esmiet (semuanya telah almarhum). Nama-nama mereka
seperti melegenda di belantika sastra Jawa.
Selain sebagai pengarang Jawa yang sangat produktif,
karya-karya mereka banyak digemari pembaca.

Bahkan, misalnya, pada masa jayanya, di Palembang pada
1960-an pernah berdiri organisasi persatuan
penggemar Any Asmara.

Menurut Pemimpin Redaksi Panjebar Semangat, Moechtar,
78 tahun, oplah Panjebar Semangat langsung
naik bila memuat cerita bersambung karya ketiganya.

Bagi para pengarang sendiri, mereka juga sebuah
legenda. "Mereka tak tergantikan oleh siapapun,"
kata Tiwiek SA.

Di era 2000-an satu dua pengarang bermunculan.
Biasanya mereka mengirimkan karya cerita anak yang
"mutu sastranya" tidak berat. Kemunculan mereka makin
memperkaya jumlah pengarang. Ketika Jaya Baya
menggelar lomba mengarang remaja, peminatnya mencapai
127 orang. Namun, setelah lomba berakhir,
mereka tak pernah lagi mengirim karangan. "Mereka
hanya ingin hadiahnya saja," kata Widodo Basuki,
staf redaksi Jaya Baya.

Pengarang sastra Jawa umumnya tidak berangkat dari
tujuan komersial, karena honorarium mereka
tergolong kecil. Di Panjebar Semangat, misalkan, honor
sekali pemuatan cerita pendek hanya Rp 40
ribu. Tak heran bila produktivitas mereka lebih
bertumpu pada idealisme. "Honor menulis sastra Jawa
ibaratnya hanya cukup untuk beli pita mesin ketik
saja," kata Suparto Brata.

Buku-buku
Produktivitas adalah salah satu faktor yang membuat
buku karya sastra Jawa juga menurun 5 tahun
terakhir ini. Kalaupun ada, jumlahnya dapat dihitung
dengan jari, yaitu kumpulan geguritanLayang
Saka Paran (Widodo Basuki, 2000), Trem (Suparto Brata,
2001), Kreteg Emas Jurang Gupit (Djajus Pete,
2002), Candhikala Kapuranta (Sugiarto Sriwibawa,
2003), Pagelaran (JFX Hoeri, 2004), Serenada
Schubert (Moechtar, 2004), Donyane Wong Culika
(Suparto Brata, 2005), Donga Kembang Waru (Trinil,
2005) dan Medhitasi Alang-Alang (Widodo Basuki, 2005).

Dari keseluruhan buku-buku tersebut yang mendapatkan
hadiah sastra Rancage ialah Layang Saka Paran
(Rancage 2000), Trem (2001), Kreteg Emas Jurang Gupit
(2002), Candhikala Kapuranta (2002), Pagelaran
(2004) dan Donyane Wong Culika (2005).

Penerbitan semua buku-buku itu dimodali sendiri oleh
penulisnya. Suparto Brata, misalnya, rela
merogoh koceknya sendiri hingga Rp 8 juta untuk
menerbitkan Donyane Wong Culika kepada penerbit
Narasi Yogyakarta.

Hal yang sama juga dialami oleh Trinil dan Widodo
Basuki. Karya keduanya diterbitkan oleh penerbit
kecil, yakni Komunitas Cantrik, Malang. Sedangkan
Kreteg Emas Jurang Gupit karya Djajus Pete dicetak
oleh sebuah percetakan kecil tanpa nama di Jalan
Pagesangan, Surabaya. Dananya digotong rame-rame
oleh Aliansi Jurnalis Independen Surabaya dan Dinas
Informasi dan Komunikasi Jawa Timur. "Sastrawan
Jawa itu miskin, tapi idealis. Buktinya mereka bisa
menerbitkan sendiri karyanya," kata Widodo
Basuki.

Bahasa Jawa merupakan kesulitan tersendiri untuk
menawarkan ke penerbit. Rata-rata para penerbit
enggan menerbitkan dengan alasan sulit untuk dijual.
Penerbit tidak mau menanggung risiko merugi.
Akhirnya para pengarang itu membiayai sendiri
percetakan tanpa membebani percetakan untuk
menjualkan.

Namun, kesulitan lain tetap muncul. Setelah menjadi
buku, toko-toko buku besar emoh pula dititipi
untuk memasarkannya. Alasannya, buku berbahasa Jawa
sulit laku. "Saya menawarkan buku saya ke Toko
Buku Manyar Jaya, tapi langsung ditolak dengan alasan
bahasanya sulit dimengerti," kata Widodo
Basuki.

Penghargaan terhadap buku sastra Jawa cuma Rancage
saja. Penghargaan berupa uang senilai Rp 5 juta.
Di luar itu tidak ada lagi penghargaan terhadap buku
bahasa Jawa.

Pemerintah, khususnya pemerintah daerah Jawa Tengah,
Yogyakarya dan Jawa Timur, juga minim sekali
perhatiannya terhadap buku-buku bahasa Jawa ataupun
pengarangnya. Dewan Kesenian sebagai lembaga
kesenian yang mencakup karya sastra juga tidak
menunjukkan perhatian yang memadai. "Dewan Kesenian
hanya memfasilitasi pertemuan pengarang saja," kata
Widodo Basuki lagi.

Penerbitan buku
Dalam sejarah penerbit buku di Surabaya, hanya
Panjebar Semangat dan Jaya Baya saja yang mau
menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa. Di luar itu,
dengan alasan komersial, tidak ada penerbit yang
mau menyentuh sastra Jawa. Kalaupun ada, ya itu tadi,
mereka minta dibayar penuh dan tidak dibebani
ikut menjualkan.

Lain halnya dengan Panjebar Semangat dan Jaya Baya.
Sejak 1950-an Panjebar Semangat telah
menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa. Produk
terbitannya yang hingga kini tetap terkenal ialah
novel
Ngupaya Serat Pangruwating Papa dan Kitab Betal Jemur
Adam Makna.

Penerbitan ini berhenti setelah Pemimpin Umum Panjebar
Semangat, Imam Supardi, meninggal dunia.
Penerbitan selanjutnya diteruskan oleh Yayasan Jaya
Baya. Di tangan Jaya Baya, puluhan buku telah
diterbitkan dalam tiga dekade. Selain novel-novel
bahasa Jawa, ia juga menerbitkan buku kejawen,
kamus basa Jawa, kawruh basa Jawa dan, kawruh keris
dan tata cara pamedhar sabda.

Proyek idealis ini digarap oleh bekas Pemimpin Umum
Jaya Baya yang kini telah almarhum, Tadjib
Ermadi dan Satim Kadaryono. Mereka rela menyisihkan
laba Jaya Baya untuk membiayai proyek idealis
tersebut.

Menurut Pemimpin Redaksi Jaya Baya, Kicuk Parta,
sampai saat ini masih ada penggemar fanatik
buku-buku kejawen tersebut. Namun, karena jumlahnya
terbatas, setiap pembeli hanya diberi edisi foto
copy saja. Buku yang asli tidak boleh dibeli karena
tinggal satu-satunya. "Tapi, sejak dua tahun
terakhir percetakan kami tidak aktif," kata Kicuk.

Di kantor Jaya Baya yang terletak di Jalan Karah
Agung, Surabaya, masih banyak buku-buku berbahasa
Jawa, baik novel, cerita sejarah dan bacaan anak-anak.
Kicuk menjelaskan, selain dijual di kantor,
buku-buku terbitan Jaya Baya juga dititipkan ke Toko
Buku Sari Agung, Surabaya. Mereka sadar, sangat
sulit mengambil laba dari penjualan buku-buku itu.
"Karena ini proyek idealis, bagi saya impas saja
sudah bagus," kata dia.

Dari puluhan buku terbitan Jaya Baya, novel Dokter
Wulandari karya Yunani merupakan buku terlaris.
Novel yang dicetak tahun 1997 itu laku hingga 2 ribu
eksemplar. "Itu rekor tertinggi penjualan buku
bahasa Jawa," kata Kicuk.

Sayangnya, di Surabaya maupun di kota-kota lain di
Jawa Timur jarang dijumpai toko-toko buku yang
menjual buku berbahasa Jawa. Kalaupun ada, berupa buku
pengetahuan yang berhubungan dengan kejawen
yang ditulis dengan bahasa Indonesia.

Di Toko Buku Gramedia kini memang terdapat buku
Donyane Wong Culika karya Suparto Brata. Namun,
umumnya buku-buku sastra Jawa tidak mendapat tempat di
etalase toko besar. Jika masih ada, umumnya
dijumpai di pedagang-pedagang buku bekas di Jalan
Semarang maupun di Pasar Blauran, Surabaya.

Nasib buku-buku Jawa mutakhir tampak makin terhimpit
di gang-gang sempit pasar buku loak itu. Di
gang itu masih mungkin menjajakannya, tapi dia
tetaplah sebuah gang. Yang meliriknya terbatas pada
sebagaian kecil orang yang mungkin mau berpayah-payah
mencarinya. kukuh s wibowo/sohirin/kurniawan

Sumber: Laporan Yayasan Sastra Rancage




                                                                                                                                          caption

Kamis, 20 Oktober 2011

Kongres Sastra Jawa III, Masih Melawan?

   Kongres Sastra Jawa III, Masih Melawan?
Add

.            Kongres Sastra Jawa III, Masih Melawan?










Oleh Sucipto Hadi Purnomo
(Suara Merdeka, 16 Oktober 2011)

Masih ingat Kongres Sastra Jawa (KSJ)? Kongres yang pernah disebut-sebut sebagai tandingan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) itu bakal digelar lagi untuk kali ketiga, 28-30 Oktober 2011 mendatang, di Bojonegoro Jawa Timur.
Sebegitu perlukah digelar kembali kongres itu? Masihkah para penggeraknya punya nyali dan energi untuk kembali mengoreksi Kongres Bahasa Jawa yang telah lama bergerak sekadar jadi arisan mengumpulkan makalah, kontes pidato, namun miliaran rupiah anggaran negara dihabiskan?

Sekadar menyegarkan ingatan, KSJ I digelar di Solo, 2001. Kongres kala itu diadakan untuk mengakomodasi para satrawan Jawa dan anak-anak muda pemikir kebudayaan Jawa yang terabaikan oleh KBJ. Maklumlah, sebagai kongres pelat merah, KBJ lebih tepat disebut sebagai rapat dinas yang dibingkai dalam kegiatan ilmiah lewat penumpukan makalah. Padahal, setiap harinya yang bergelut dengan jagat bahasa dan sastra Jawa adalah sastrawan itu.
Tak ayal lagi, KSJ pun menjelma sebagai perlawanan. Setidaknya sebagai sindiran paling tandas. Ketika KBJ, yang ditopang oleh tiga pemerintah provinsi: Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur, dianggarkan miliaran rupiah dari uang rakyat, justru KSJ diadakan secara swaragat.
Mereka yang datang dan terutama yang tergabung sebagai panitialah yang membiayai kegiatan itu. Pengalaman saya sendiri ketika menjadi ketua panitia KSJ II tahun 2006 di Semarang, harus ikut merogoh kocek dalam-dalam sekaligus menyiapkan BPKB di dasbor mobil jika sewaktu-waktu harus menggadaikannya lantaran harus menutup kekurangan biaya penyelenggaraan. Maklumlah, panitia harus ngopeni akomodasi dan konsumsi lebih dari seratus peserta dan puluhan pembicara selama tiga hari.
Untunglah saat itu, Arswendo Atmowiloto di tengah-tengah perannya sebagai pembicara kongres, menelepon dan berhasil ’’memaksa’’ Irwan Hidayat, bos Jamu Sido Muncul dan Suwarno Serad, jajaran pemimpin Djarum Kudus untuk menyumbang kegiatan tersebut dalam bilangan belasan juta rupiah.
Selaku ketua panitia, saya pun langsung ambil mikrofon dan di tengah-tengah kongres saya umumkan agar para peserta mengambil kembali uang pendaftaran ke sekretariat.
Tak hanya itu, setiap peserta juga mendapatkan buku sastra Jawa secara cuma-cuma yang antara lain diupayakan oleh sastrawan Jawa yang juga dosen Universitas Negeri Surabaya, Sugeng Wiyadi atau yang terkenal dengan nama pena Keliek SW. Kejadian yang nyaris sama dengan KSJ I di Taman Budaya Surakarta.
Semangat macam itulah yang kemudian mampu menjadi magnet, sehingga tak sedikit sastrawan, budayan, akademisi, dan tokoh lainnya hadir sebagai pembicara. Padahal, dalam surat permohonan selalu tersebutkan ’’panitia tidak bisa memberikan honorarium dan biaya transportasi, kecuali penginapan dan konsumsi ala kadarnya’’. Maka hadir dan menjadilah pembicara Darmanto Jatman, Ahmad Tohari, Ki Enthus Susmono, Dr Sudharto MA, Suparto Brata, RM Setyadji Pantjawidjaja, MASudi Yatmana, Prof Rahmat Djoko Pradopo, Triyanto Triwikromo, dan puluhan pengarang Jawa lainnya.
Tak pelak, nukilan suasana itu merupakan ledekan terhadap KBJ yang digelar tak lebih dari sekadar proyek. Ya, sebuah proyek yang digelar sebagai aktualisasi mereka yang bermental proyek, yakni meraup keuntungan dari kegiatan kebudayaan macam begini. Yang penting bathi, soal apa hasilnya, nanti.
Model Sekalipun kerap kali dianggap sebagai ’’barisan sakit hati’’, KSJ (tanpa bermaksud nggunggung dhiri) telah berhasil mengingatkan bahwa tidak sepatutnya mencari untung dari ’’tlatah cengkar’’ yang masih juga digeluti para pendekar sastran Jawa. KSJ juga telah berhasil menyuguhkan model, bagaimana semestinya semua pihak yang peduli terhadap bahasa dan sastra Jawa bersatu padu secara guyub rukun membangun sinergi. Persis dengan tema yang diusung kala itu ’’Saabipraya amrih Kuncara’’, yang kurang lebih artinya bersamasama supaya meraih kejayaan.

.       Pertanyaannya kembali, bagaimana dengan KSJ III? Akankah hajatan budaya itu kembali melanggengkan perlawanan. Sepanjang yang saya tangkap dari beberapa pertemuan persiapan, mulai dari Solo hingga Padangan Bojonegoro, tidaklah tampak mengemuka hasrat untuk menjadikan kongres ini sebagai ajang untuk melakukan tandingan. Meski demikian, dengan penyelenggaraan yang kembali beriringan dari sisi waktu sekaligus tempat yang samasama di Jawa Timur ( KBJ IV di Surabaya 27-30 November 2011), sulit dimungkiri bahwa kedua kegiatan itu tak punya hubungan.
Memang, KSJ III diniatkan untuk memampangkan reputasi sastra Jawa, setidaknya selama lima tahun terakhir ini sekaligus mencari terobosan untuk mengoptimalkan daya hidup sastra Jawa masa kini. Namun, KSJ tetap saja dipandang perlu agar ’’mekanisme kontrol’’ yang pernah didorongkan itu tidak ’’kepaten obor’’ meski sesungguhnya sastra Jawa terus berdinamika. Dengan begitu, KSJ tidak perlu menyubordinasikan diri atas kekuatan dan pihak mana pun, termasuk terhadap KBJ.
Sekalipun demikian, sekali lagi, mengulangi hal yang sama, sebagaimana pada KSJ I dan II, hanyalah sebuah kemunduran belaka. Membangun sinergi dengan siapa pun, termasuk dengan para ’’pengawal’’ KBJ untuk kemudian berbuat secara nyata bagi bahasa dan sastra Jawa, bukan sekadar gagah di wacana tetapi kopong ada tingkat aksi jauh lebih urgen. KSJ sesungguhnya telah memiliki modal sejarah sekaligus modal sosial.
Apakah para penggerak kongres yang ketiga ini mampu mengoptimalkan modal itu, mari kita lihat kiprah mereka.

..          Sucipto Hadi Purnomo, ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ)    dan dosen Sastra Jawa Unnes

                                                                                                                                  caption

Minggu, 10 April 2011

Benarkah sastra indonesia itu ada ?







http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/





Benarkah sastra indonesia itu ada ?



Oleh : (Yogi Sutopo)

Esensi dari sastra adalah sebuah karya yang lahir dari eksistensi sastra itu sendiri. Eksistensi sastra akan sangat mudah dilihat jikalau mampu melahirkan banyak karya sastra. Namun sebelum membahas lebih jauh, alangkah baiknya kita mengetahui pengertian sastra sendiri itu seperti apa. Pengertian sastra sampai sekarang masih sangat subyektif, dalam artian tidak ada patokan yang jelas untuk mendeskripsikannya. Namun dari yang sering dikatakan oleh para pakar sastra, pengertian sastra adalah karya imaginatif yang bermediumkan bahasa dan berunsur estetis puitis.

Bagaimana dengan Sastra Indonesia? Mengutip pendapat dari Ajip Rosidi pengarang buku Iktisar Sejarah Sastra Indonesia, ”Sastra Indonesia adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia”. Jelas disebutkan di sini, semua karya yang ditulis dalam bahasa Indonesia bisa dikatakan adalah termasuk sastra Indonesia. Tapi benarkah demikian? Benarkah semua orang akan setuju dengan pendapat Ajip Rosidi? Dan pertanyaan terakhir yang paling ekstrim, benarkah sastra Indonesia itu ada?

Masih ingatkah Anda tentang sebuah karya fenomenal yang membuat Hamka menjadi sastrawan besar, karya itu adalah Tenggelamnya Kapal VanDer Wijck. Orang akan terkagum-kagum ketika membacanya, inilah karya sastra karya anak bangsa, inilah karya sastra, sastra Indonesia. Namun ketika dunia apresiasi akan sastra mulai bergairah dan di dalamnya terdapat pembandingan karya sastra dari berbagai negara yang berbeda kita akan sadar bahwa karya Hamka tersebut bukanlah karya yang feomenal. Ya, pada tahun 1962, Hamka dituduh sebagai plagiat ketika menulis novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Novel ini memiliki kemiripan dengan karya seorang pengarang Mesir, Mustafa Luthfi Al Manfaluthi. Tidak mungkin seseorang mampu berimaginasi persis seperti imaginasi orang lain. Apalagi jarak yang begitu jauh antara Indonesia dan Mesir. Yang palinng memungkinkan adalah bahwa memang benar Hamka hanya seorang plagiator.

Ada lagi seorang sastrawan terkenal dengan karyanya yang berjudul Aku, dialah Chairil Anwar. Sastrawan yang dianggap sebagai pelopor angkatan 1945 inipun tak lepas dari masalah ini. Banyak karya Chairil Anwar yang juga merupakan hasil plagiat, seperti Datang Dara Hilang Dara palgiat dari karya Hsu Chih Mo yang berjudul A Song of Sea, Karawang-Bekasi plagiat dari sajak Archibald MacLeish berjudul The Young Dead Soldiers, demikian juga yang lain Kepada Peminta-minta, Rumahku dan lainnya.

Sebenarnya masalah plagiatisme ini sudah pernah menjadi polemik saat pengarang ini masih hidup atau sudah mati. Bukan bermaksud untuk memunculkan lagi masalah ini, tetapi setelah kita sendiri masyarakat Indonesia melihat kenyataan yang ada, bahwa sastrawan kebanggaan kita melakukan plagiat, apakah kita masih percaya sastra Indonesia itu sendiri ada. Mengingat pengarang besar inipun ikut memberi andil gaya pengarang berikutnya.

Dari kasus yang dialami Hamka dan Chairil Anwar di atas memang ada pembelaan setelah orisinalitasnya dipertanyakan, salah satunya dari HB Jasin. Dia menganggap Hamka hanyalah mengadaptasi karya dari Mesir, dan Chairil Anwar hanyalah menyadur dan menerjemahkan karya dari Eropa. Lalu batasan seperti apa yangn bisa disebut plagiat atau tiruan. Apakah dengan mengadaptasi, menerjemahkan, dan menyadur tidak disebut sebagai plagiat. Jelas-jelas karyamereka sama persis, kalaupun tidak sama hanyalah bahasanya,dan kalau diterjemahkan isinya juga masih sama. Nampaknya ada unsur kesengajaan yang dibuat-buat untuk melindungi sastrawan besar seperti Hamka dan Chairil Anwar yang dilakukan oleh HB Jasin. Takutnya mereka yang menjadi pelopor dan namanya sudah sangat besar akan jatuh hanya karena kasus plagiat.

Namun jika ditanya jiwa kritis kita, jelas-jelas apa yang dilakukan Hamka dan Chairil Anwar serta tidak menutup kemungkinan sastrawan lain adalah sebuah plagiatisme karena memang dari segi isi esensinya sama. Kemudian jika ditanya apakah sastra Inodnesia ada, kita akan berfikir dua kali. Mungkin sastra Indonesia ada karena sastra negara lain ada dan Indonesia sendiri tidak memiliki kekhasan karya, kecuali kekhasan dalam plagiat. Terakhir, tentang perguruan tinggi yang masih membuka fakultas sastra yang di dalamnya terdapat jurursan sastra Indonesia apakah hal nama ini masih pantas untuk dipakai. Sebenarnya yang lebih pantas adalah Jurusan Sastra Berbahasa Indonesia. Ya karena karya sastranya yang dipelajari adalah karya yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bukan karya sendiri. Menarik untuk diteliti dan diamati lebih mendalam.

Oleh : (Yogi Sutopo)http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Senin, 04 April 2011

KEBANGKITAN SASTRA ETNIK

http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Minggu, 25 April 2010
KEBANGKITAN SASTRA ETNIK


John Naisbitt,Patricia Aburdene, Rederic dan Mery Ann Brussat mengungkapkan bahwa sekarang ini adalah "zaman kemelekan spiritual". Ada semacam arus besar kebangkitan spiritual yang melanda generasi baru dewasa ini



Malam ini tepatnya tanggal 25 April 2010 ada undangan menarik dari SPS (Studi Pertunjukan Sastra) Jogja tentang sebuah acara perform dan dilanjut dengan bincang-bincang sastra di TBY (Taman Budaya Yogyakarta) yang bertajuk "KEBANGKITAN SASTRA ETNIK". Dengan beberapa sebab saya memutuskan untuk hadir ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) sekaligus reuni, karena saya juga pernah mejadi bagian dari SPS.


Sangat menarik dari judul acara tersebut adalah terdapat sastra etnik, awalnya saya merasa bahwa sebenarnya satra etnik ini apa? apakah ada beda dengan sastra daerah? karena yang saya tahu adalah sastra daerah, atau pernah ada sastra etnik sebelumnya namun punah lalu diungkap kembali dan dipentaskan? atau mungkin juga semacam bentuk perkembangan sastra baru?


Rasa penasaran saya akhirnya mendorong saya ke TKP. Banyak sastrawan yang hadir dalam acara itu dengan gaya msing-masing yang unik-unik. dan dipanggung dipenuhi juga performer dari luar daerah Jogja. Pertunjukan pun dimulai, masing-masing performer membawakan beberapa karya dengan gaya-gaya yang unik tetapi yang pasti menarik dengan setting panggung berserak daun jati dan beberapa bingkai kayu dengan desain unik dan dibuat menggantung. Sebelah kanan dan kiri panggung terdapat lentera dari bambu. Dalam pertunjukan kali ini benar-benar membuktikan bahwa sastra adalah lugas tidak ada tedeng aling, meskipun kadang terselip kata-kata sperti "manuk" "tit-tit" tapi aneh tak ada satu pun yang mengolok atas itu. Saya pikir semua yang menghariri pertunjukan ini tidak begitu saja mudah memaknai kata. Bertujukan berlangsung meriah dengan tepuk tangan setiap awal dan akhir perform.


Saya mulai menerka-nerka bukankah ini adalah sastra daerah? tapi disana terdapat sastra etnik. Tetapi terkaan saya terjawab juga di termin diskusi. jadi sastra etnik ini adalah sama dengan sastra daerah hanya saja penuturan dari mereka adalah sastra etnik.


Yang jauh lebih menarik adalah perkembangan sastra nasional atau indonesia atau bahkan dunia ini mengacu pada kebudayaan global, dimana banyak varibel yang mempengaruhi sehingga sastra daerah menjadi agak hilang tergusur oleh satra yang lain dan ini yang menjadi latar belakang pertunjukan ini digelar, yaitu sebagai titik awal kebangkitan sastra etnik. satra etnik dirasa perlu dibangkitkan kembali tentu dengan pengorban pikir dan waktu juga tenaga dan dana mereka. (nguri-uri kabudayan lokal).


Yah, seterusnya mungkin tidak hanya saya, kita semua pasti merasakan bahwa memang nilai-nilai kelokalam kita hampir sirna tergeser oleh kepentingan yang lain seiring perkembangan peradaban. Kita akan lebih senang berbahasa asing daripada bahasa lokal. Kita banyak menghabiskan waktu untuk menyimak beberap kejadian konflik sosial dan politik juga tuntutan kebutuhan ekonomi yang mendesak sehingga terdikte dan harus segera menyusul kemajuan negara lain. Nah mungkin pada titik ini kita akan merasa jenuh dan mulai merindukan ketentraman dan kenyamanan seperti yang diceritakan nenek atau kakek kita tentang kehidupan mereka. kita merindukan bercengkrama dengan keluarga setelah banyak menghabiskan waktu untuk bekerja.
Begitu juga pada pertujukan sastra etnik kali ini, kejenuhan akan perkembangan sastra masakini mengantar pada titik untuk berbalik arah dan membangkitkan sastra etnik kembali.

Diposkan oleh John WS di 11:02
Label: article

Diposkan oleh John WS di 11:02 Label: articlehttp://sastra-bojonegoro.blogspot.com/