Tampilkan postingan dengan label Sastra Bojonegoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Bojonegoro. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2012

Yusuf Susilo Mendapat Hadiah Rancage 2012

Add

   Yusuf Susilo Juga Mendapat Hadiah Rancage


TEMPO.CO, Jakarta - Selain memberikan penghargaan kepada sastrawan Sunda, tahun ini Yayasan Kebudayaan Rancage juga memberikan hadiah kepada karya sastra Jawa dan Bali. "Ombak Wengi" karya sastrawan Jawa, Yusuf Susilo Hartono, dan "Metek Bintang" karya sastrawan Bali, Komang Adnyana, mendapat Hadiah Sastra Rancage 2012. Demikian keputusan yang disiarkan Ajip Rosidi, ketua dewan pembina yayasan itu pada Selasa, 31 Januari 2012.

"Ombak Wengi" memuat 99 guritan pilihan karya Yusuf dari periode 1981-2011. Buku itu berhasil mengalahkan sembilan unggulan lainnya, yakni kumpulan sajak "Raja Gurit" karya Yudi Joyokusumo, "Layang Saka Kekasih" karya R. Djoko Prakosa, "Mutung Suwung, Aja Mutung Mundhak Suwung" karya R. Ng. Suisdiyati Sarmo, "Kidung saka Bandungan" karya Rini Tri Puspohardini, dan "Bocah Cilik Diuber Srengenge" karya Widodo Basuki; roman "Ing Manila Tresnaku Kelara-lara" karya Fitri Gunawan", "Dilabuhi Jajah Desa Milangkori" karya Rahmat Ali, dan "Sisip ing Dalan Sidhatan" karya Harwimuka; serta kumpulan cerita pendek "Puber Kedua" karya Ary Nurdiana.

Yusuf Susilo Hartono dikenal sebagai wartawan, pelukis sketsa, dan sastrawan. Dia lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 18 Maret 1958, dan kini mukim di Jakarta. Puisinya pernah menang dalam Festival Puisi Surabaya pada 1984. Kumpulan puisinya yang telah terbit, antara lain Wajah Berkabung (1981) dan Ikan-ikan Hias (1985).

Adapun "Metek Bintang" karya Komang Adnyana berhasil menyisihkan tujuh unggulan lainnya, yakni roman "Cicih", "Sam Pek Engtay", dan "Jayaprana-Layonsari" karya I Nyoman Manda; kumpulan cerita pendek "Bor" karya IBW Widiasa Keniten serta "Sundel Tanah" dan "Bunga Valentine" karya I Madé Sugianto; dan prosa liris "Kama Bang Kama Putih" karya I Made Suarsa.

Buku "Metek Bintang" memuat 13 cerita, yang, menurut Ajip, hampir semuanya menarik dalam hal tema dan penggarapan. "Pengarang mampu untuk 'terang-terangan menyembunyikan' titik-titik penting cerita, sehingga pembaca dibuat terpaksa memikirkan dan membayangkan hubungan-hubungan antara peristiwa dan ucapan para tokoh," kata Ajip.

Yayasan juga memberikan hadiah kepada Sucipto Hadi Purnomo, sastrawan kelahiran Pati, 6 Agustus 1972, atas jasanya dalam pengembangan bahasa dan sastra Jawa. Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang itu adalah redaktur tabloid Yunior Suara Merdeka dan membina lembar khusus bahasa Jawa "Sang Pamomong". Ia juga menjadi sekretaris Forum Bahasa Media Massa Jawa Tengah dan memimpin Organisasi Pengarang Sastra Jawa sejak 2006.

Adapun I Made Sugianto, sastrawan kelahiran Tabanan, 19 April 1979, juga mendapat Hadiah Sastra Rancage atas jasanya dalam pengembangan bahasa dan sastra Bali. Dia banyak menulis cerita pendek berbahasa Bali modern di "Bali Orti", suplemen khusus bahasa Bali di Bali Post Minggu. Dia juga menerbitkan karya sastra Bali melalui penerbitannya, Pustaka Ekspresi.
                                                                                                             caption

Selasa, 21 Februari 2012

JFX Hoery Pelestari Sastra Jawa

JFX Hoery
Pelestari Sastra Jawa

















Di tengah maraknya budaya pop dan minimnya perhatian masyarakat terhadap eksistensi budaya Jawa, masih ada orang yang tetap setia melestarikan budaya Jawa.

Hoery salah satunya. Warga Dusun Kalangan, Desa/Kecamatan Padangan. Bojonegoro tidak surut langkah dan semangatnya untuk melestarikan budaya dan tradisi Jawa. Memang tidak mulus jalan yang ditempuh Hoery. Dia telah menguras energi, biaya, dan waktu untuk meraih tujuannya.

Hoery tidak patah semangat. Berbagai upaya dilakukan pria kelahiran Pacitan, 7 Agustus 1945 ini.

Kesetiaannya terhadap sastra dan budaya Jawa diwujudkan dengan menulis berbagai karya sastra Jawa. Sudah belasan buku sastra Jawa ditulisnya sampai sekarang. Hingga saat ini telah terkumpul 107 kumpulan cerita cekak (cerita pendek) berbahasa Jawa dan 400 geguritan (puisi bahasa Jawa).

Dari jumlah itu, 90% karyanya telah diterbitkan di sejumlah media massa. Kesetiaannya terhadap bahasa dan sastra Jawa juga dibuktikan dengan menulis di sejumlah majalah berbahasa Jawa sejak 1970.

Dia juga mendokumentasikan karya sastra Jawa, baik karyanya maupun tulisan orang lain.

Karya Hoery sudah dikenal secara luas. Sejumlah majalah yang pernah memuat tulisan sastra Hoery di antaranya majalah Joyoboyo, Penjebar Semangat, Mekarsari, Joko Lodang, Parikesit, Kumandang, dan Damarjati.

Kecintaan Hoery terhadap sastra dibuktikan dengan kiprahnya menulis buku berbahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Atas dedikasinya itu, pada 2004 mantan wartawan Harian Bernas dan Kedaulatan Rakyat ini memperoleh piagam penghargaan Rancage, yakni penghargaan atas penulisan karya sastra Jawa dari Yayasan Rancage yang berbasis di Jakarta.

"Motivasi saya ingin melestarikan dan mengembangkan sastra, bahasa, dan budaya Jawa," jelas Hoery, saat ditemui di beranda rumahnya.

Hoery sudah lama gelisah dan khawatir bila suatu saat nanti budaya dan tradisi Jawa akan mati. Dia bersama beberapa pemerhati budaya, yakni Yusuf Susilo Hartono, Jayus Pete, Yes Ismi Soeryaatmadja, Moh Maklum, dan Sri Setyo Rahayu, mendirikan sanggar sastra Jawa Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) pada 6 Juni 1982.

Melalui organisasi itu, mereka mengadakan sarasehan, seminar, hingga lokakarya tentang sastra daerah. Dua tahun setelah PSJB berdiri, mereka sudah mengadakan sarasehan sastra daerah yang dihadiri sastrawan dari Sunda, Batak, Minang, Jawa, Banjar, Madura, dan Bali.

PSJB terus bergerak dan menggelar Kongres Sastra Jawa I di Solo pada 2001. Lima tahun kemudian Kongres Sastra Jawa II diadakan di Semarang.

Pada dua kongres tersebut, pemerintah tidak menaruh perhatian. Barulah pada Kongres Sastra Jawa III yang digelar di Desa Seni dan Budaya Njono, Kecamatan Temayang, Bojonegoro, perhatian Pemkab Bojonegoro dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai tercurah.

Minim peminat

Gebrakan Hoery itu sayangnya tidak mendapat dukungan generasi muda. Penerus pegiat sastra Jawa di Bojonegoro bahkan sangat minim. Hanya ada segelintir pemuda yang mau memperhatikan dan belajar sastra Jawa.

Hoery dan teman-temannya melakukan kederisasi untuk penerus PSJB.

Sudah ada 14 mahasiswa asal Bojonegoro yang dengan sukarela menjadi kader dan bergabung di PSJB.

Para mahasiswa yang kuliah di Universitas Negeri Surabaya itu bersama Hoery saat ini menyusun antologi cerkak dan gurit. Mereka menargetkan kumpulan tulisan itu akan diterbitkan dalam bentuk tulisan pada April mendatang.

Atas usaha yang tidak kenal lelah dalam merawat sastra Jawa ini, Hoery kerap menjadi narasumber penelitian dari mahasiswa dan dosen di sejumlah perguruan tinggi.

Tidak hanya perguruan dalam negeri saja yang tertarik mengupas sastra Jawa dengan narasumber Hoery. George Quinn, peneliti dari Australia, bahkan juga pernah meneliti karya-karya Hoery.

Padahal, karya sastra Jawa dahulu sangat terkenal. Nama-nama besar lahir di lingkungan dalam dan luar keraton. Mereka menghasilkan karya sastra Jawa yang nilainya sangat tinggi dan penuh dengan petuah-petuah bijak.

Profesor Poerbatjaraka pun telah membagi karya sastra Jawa sesuai dengan terminologi waktu. Karya sastra Jawa Kuno Ramayana dan Kakawin Bharata Yudha telah ada sejak masa kebangkitan sastra Jawa Kuno. Dalam masa Jawa Pertengahan pada 1400-1700 yang kemudian dilanjutkan dengan Jawa sekarang ini telah lahir pujangga-pujangga besar seperti Pangeran Karang Gayam yang menulis Nitisutri pada masa kekuasaan Amangkurat II di Kartasura. Ada juga Raden Ranggawarsita, pujangga sastra Jawa yang masih saudara dengan Pangeran Karang Gayam.

Kemudian muncul pujangga lainnya, Yasadipura I dan Yasadipura II, yang merupakan pujangga Kasunanan Surakarta. Sastra Jawa pernah memasuki masa keemasan pada abad XVII-XIX, yang ditulis pujangga-pujangga besar Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Karya sastra Jawa pada masa itu hingga kini menjadi perhatian para peneliti sejarah sastra.

Sayangnya, lanjut Hoery, masa keemasan sastra Jawa sampai sekarang belum berulang. Hoery mengharapkan masyarakat Jawa peduli dengan karya sastra daerah mereka. Hanya dengan cara itu, sastra Jawa akan tetap eksis sampai kapan pun. (N-3)


Ac Rama Hoery saat menjadi pemakalah di KBJ 5 Surabaya (29 Nopember 2011)on
 http://sastra-bojonegoro.blogspot.com

Senin, 25 April 2011

“ Konflik Sajroning Rol ”

Sastra Bojonegoro


http://www.sastra-bojonegoro.blogspot.com/





Yerys Dika Diarta













         Oleh: Moch. Dhuchrizal                                                                                                                                                                                                                                                                              

  A.                Purwaka
Urip bebrayan ing kaanane masyarakat pancen mbutuake pambiantu saka manungsa siji lan manungsa liyane, ora mungkin manungsa iku bisa nglakoni urip kanthi dhewekan amerga manungsa iku kagolong jenising makhluk sosial. Ananging ing urip ing tengahing masyarakat iku kudu anduweni tatakrama, tenggang rasa, tepo slira, lan sapiturute. Ananging yen wong iku ora anduweni sifat kang kaya mengkunu iku marang liyan, mesthi wong iku kerep ngalami  masalah  antarane manungsa siji lan liyane sahingga dadi konflik.
Nenani babagan konflik, manungsa ing ndunya ora mungkin ora tau ngalami konflik, amerga knflik iku ora kur amung konflik marang wong liyane, ananging konflik uga bisa kedadeyan karo awake dhewe, biasane kasebut konflik batin. konflik ing sastra biasane kerep ditemoni ing sajroning cerkak uga cerbung, nanging  ora kur iku wae, ing makalah iki dakandharake ngenani konflik kang ana sajroning naskah drama rol anggitane Bambang widoyo.
Drama yaiku sandiwara kang diperanake karo seperangan wong utawa paraga kang disertai solah bawa.  Sajroning drama mesthi ana unsur sastrane, sastra dhewe anduweni arti yaiku wujud lan asil pakaryan seni kang obyeke yaiku manungsa lan kasunyatan kang ngunaake basa kang dadi punjere. Sajroning karya sastra uga ana unsur intrinsik lan unsur ekstrinsik.
Unsur intrinsik ing sajroning kajian struktural yaiku unsure kang mbangun karya sastra iku dhewe, unsure intrinsik kang dimaksud yaiku sajroning teks drama anane tokoh, penokohan, alur (plot), latar utawa seting, sudut pandang crita, gaya bahasa. Unsure ekstrinsik yaiku unsure kang ana ing sajabane karya sastra,ananing secara ora langsung mempengaruhi system organisme karya sastra.
Ing makalah iki dakandharake ngenani unsur Intrinsik kang unja sajroning naskah Drama Rol anggitan Bambang widoyo yaiku babagan Konflik kang dialami para paraga sajroning cerita. Ing kene narik wigatiku ngaji nganggo kajian struktural, amarga ing drama iki pancen pantes dikaji nganggo kajian struktural(intrinsik), ing kene dakjupuk ngeneni babagan konflik sing dialami paraga ing sanjroning crita, saka konflik kang dialami paraga sajroning crita iku mau bisa ngunjoake crita sahingga narik wigatine para pemaos anggone maca crita lan bisa nggayutake antarane unsur intrinsik siji lan sijine sahingga crita mau bisa urip kaya-kaya kedadeyan ing urip kasyunyatan.                                                                                                                                                                                                                                                                                  
B.   Andharan
Strukturalisme mujudake paham ngenani unsur-unsur yaiku struktur iku dhewe, kanthi mekanisme gagayutaning unsur siji lan sijine. Strukturalisme luwih unja ing unsur intrinsik sastra yaiku faktor kang timbul saka sajroning crita iku dhewe, salah sijine yaiku konflik
Teks drama kang becik iku kudu anduweni syarat-syarat kang perlu digatekake karo para pengarang cerita pada umumme supaya teks cerita  iku mau uga bisa nggawe pemaos supaya bisa melu kitut nyempung utawa mengimajinasi teks  kang diwaca para pemaos nang sajroning carita. syarat kang penting yaiku kudu anane Tema, yaiku gagasan kang miwiti sawijining crita. Ana kalane tema di nyataake sarana eksplisit/ketara lan ana uga sing implisit/ didhelekake (panuti sudjiman, 1992 : 50). Tema kang eksplisit tuladhane bisa katon saka judule kang bisa di bedhek dening pemaose apa kira-kira isine carita kang diwaca iku mau. Tema kang implisit carane nggoleki yaiku pemaos kudhu maca lan neliti kanthi teliti ngenani babakan kang dibahas ing sajroninh isi cerita. Lan uga kudu ana Tokoh lan Penokohane, nangendi penokohan iku banget pentinge ing sajroning teks carita, geneya ing penokohan iku  nduduhake peran utama lan tambahan sahingga uga bisa nduduhake watak utawa sifat-sifate paraga kang kasiji lan liyan-liyane (penokohan).
Sajroning teks drama uga kudu ana kajian Stuktural kayata Pemplotan utawa alur cerita, alur cerita iku kapirang dadi telu yaiku,(1) maju (2) mundur/ flashback, lan (3)campuran. Lan uga urutan alur kapirang dadi lima yaiku perkenalan, awal masalah, Menuju Klimaks, klimaks, Penyelesaian, akhmad saliman (1996 : 24) Amerga unsur iki unsur kang senget esensial ing panembangan plot carita. Ing sajroning Pemplotan uga kudu bisa munculake plausibilitas, suspense, surprise, lan kesatupaduan, perangan kasebut uga dijenengake kaidah pemplotan. Kayata suspense, nang teks drama, suspense uga penting amarga anane suspense para pemaos anduweni rasa penasaran kepinginan weruh terusane cerita kang diwaca dheweke amarga para pemaos anduweni rasa eman kanggo ninggalake cerita kang wis diwaca sahingga pemaos pingen nutukake utawa ngrampungake cerita nganti tamat. Terus surprise, surprise nang sajjroning cerkak uga kanggo, nang ndi surprise iki anggawe kejutan para pemaos, kang sadurunge pemaos anduweni pikiran A tibakne pikiran kang di pikirake pemaos ndlalah iku mau B. Latar utawa seting, nang carita latar kagawe unsur fiksi, lan uga agawe latar panggonan, wektu, lan latar social. Ora keri maneh ing sajroning karya sastra fiksi kudu anane konflik, ingendi konflik anduweni peran penting sajroning carita. konflik dhewe kapirang dadi loro (stanton, 1965: 16) yaiku:
Maceme konflik
konflik yaiku unsur kang kagolong penting (esensial) anggone ngembangake plot, konflik dhewe andhuweni teges yaiku kedadeyan kang anduweni sipat dramatik, kang ngacu ing pertentangan  sing nyebabake aksi lan reaksi (wellek & warren, 1989: 285).
1.    Konflik eksternal
Konflik eksternal yaiku konflik kang kadadeyan antarane manungsa siji lan liyane, uga antarane manungsa karo lingkungan alam.
a.       Konflik fisik
b.      Konflik sosial
2.      Konflik internal
Konflik kang kedadeyan ing sajroning ati (konflik batin/ kejiwaan), anane konflik batin iki amarga anane pertentangan antarane kepinginan kang beda, lan uga keyakinan kang beda.
Rol utawa drama reriptane Bmbang Widoyo miturutku pancen narik wigati anggonku ngaji nganggo teknik struktural, amarga sajroning naskah drama iki anduweni unsur unsur intrinsik kang unjo sajronning naskah drama yaiku ngenani babagan konflik. Ingendi paraga-paraga ing sajroning crita anduweni watak kang beda-beda. Bab ing rol iki anduweni tokoh antarane yaiku Gambleh utawa purnama  nduweni sipat lucu. Mbok Jiah nduweni sipat judes, Salamun anduweni sipat lucu, bisa kadeleng yen dheweke wektu cecaturan , Kanjeng anduweni sipat kang putusasanan, Gembok(polisi kang nyamar ) Gembok andhuweni watak kang teges, ora brubah saka pendiriane, lan setia marang negara, iki kagambar wektu dheweke wis ngerti pawongan kang andhuweni jeneng kanjeng iku lara ananging dheweke tetep ora goyah anggone nyekel anake kanjeng, Mukiya( wong ghendeng utawa wong edan), Gawuk( putune kanjeng utawa anake bandrek ) anduweni sipat kang lucu, Bandrek(anake kanjeng kang dadi buron-buronane polisi) anduweni sipat kang ala uag anduweni sipat kendel, saka sipate bandrek, dheweke nganti toh nyawa anggone pingen methuki anake.
Andharan ing ndhuwur bisa digolongake ngenani penokohan paraga ing sajroning karya fiksi, mila miturut fungsi penampilan tokoh/ paraga bisa digolongake dadi loro yaiku tokoh protagonis, tokoh kang anduweni watak kang becik sajroning karya sastra, sahingga kerep agawe para pemaos agawe rasa simpati lan uga empati marang paraga kang andhuweni kang kaya meng kunu iku. tokoh anagonis yaiku tokoh/ paraga  kang andhuweni wipat kang ala, biasane uga disebut paraga sing agawe unjone konflik. Ananging penyebabe konflik iku ora kur amung kadadeyan saka tokoh/ paraga kang andhuweni sipat antagonis bae ananging konflik iku uga bisa kadadeyan saka paraga kang nduwe watak protagonis sing biasae disebut konflik batin.
Ing makalah iki dakandharke ngenani babakan konflik amarga naskah Drama anggtane Bambang widoyo kang andhuweni judul Rol pancen kerep anane konflik, yaiku konflik batin, lan konflik antar paraga. Wiwitane tahap klimaks ing sajroning crita iki amarga saka watak bejate kang di andhuweni bandrek. Ing kene ngakibatake minangka kanjeng bapake bandrek nganti uripe kepragah. Saliyane dheweke konflik karo paraga kang ndhuweni jeneng Gembok, dheweke uga ngalami konflik batin, ingendhi dheweke kaweden lan ngrasa nduwe rasa salah kang gedhe marang bandrek, amerga dheweke salah lan kurang ngopeni bandrek wektu cilikane nganti dheweke (bandrek) dadi manungsa kang anduwesi sipat kang ora tata amerga dheweke luwih ngopeni wayang wong.
Cuplikan konflik batin sajroning crita.
Ngenani babagan konflik batin sajroning carita, ing kene paraga kang ngalami konflik batin yaiku paraga kang andhuweni jeneng kanjeng. Saka konflik batin kang dialami kanjeng bisa kacuplik kang kaya mengkene.
Kanjeng (kutipan 1)
Aku pancen kakean polah, mesakne bandrek sing nampa panandhange. Mbiyen aku ora kober ngrumat Bandrek, kebacut kedanan wayang wong, nganti ora mikir anak bojo. Karepku nguber nggoleki jagat alit sing rumangsaku wis oncatsaka ragaku. Nanging mung entuk kesenaengan lamis. Aku kelalen, nganti bandrek kecer saka pangkonku. Lumrah yen dheweke goek sendhenan sing luwih anget. Sing bisa nyantosani. Kepulut kena bujuke Kahar. Samubarange dadi kebacut. Saki bocahe dadi buron, patine wis diarah. Arepa bocahe saiki malah wis ana kene, nanging aku ora bisa cawe-cawe. Oh kok kaya ngene ta ngger lelakonmu. Aku sing luput lelakon ki malah kaya ngene pungkasane...
Saka cuplikan konflik batin sing dakandharake ing ndhuwur, bisa kadheleng yen kanjeng nggetuni ngenani solah bawa kang ditindakake mbiyen iku ndhadekake bandrek dadi wong sing andhuweni watak kang ala, gara-gara dheweke pengin nggolek jagad alit dheweke nganti lali karo anak-bojo. Sahinga bisa diwaca yen dheweke luput karo lakune kang wus dilakoni.
Kanjeng (kutipan 2)
  bandrek.... bandrek... kowe kuwi arep ngapa?kok ndadak bali? Mulih kur nyetorake nyawa. Kepancig tenan. Apa ora ngerti yen lagi di telik? Wis pirang- pirang sasi kowe diuber, dadi buron. Saiki kowe kok ndadak mulih. Aku ngerti kowe kangen karo anakmu(gawuk), nagnging apa ra kuat mbok empet dhisik?kahanane lagi kaya ngene. Pancen abot ninggalake anak.. Gawuk pancen lagi dadi ati, sing kudune isih mbok kudang, mbok keloni, mbok leledhung..sing dadi gegadhangan. Mbiyen aku ora kober ngudang kowe, aku ora kober ngeloni kowe, apa maneh nggegadhang kowe. Iki aku sing luput... aku luput...
Ing cuplikan dhuwur bisa kanalisis maksud saka apa kang di ngudarasaake kanjeng, ing kunu dheweke ya nggetuni yen mbiyen dheweke ora bisa ngudang bandrek, lan uga ing ndhuwur uga ngandharake kenek apa bandrek mulih menyang omah, sahingga dheweke nganthi wani toh nyawa anggone ngadhepi polisi sing ana ing kenjengan. 
kanjeng (kutipan 3)
tambah siji ! tambah siji maneh sing dadi korban. Sapa...? bandrek....? Mokal. Aja mbok anggep sepele, yan mung sak pellor durung bisa ngrampungi Bandrek. Nyawane luwih alot ketimbang korban liyane. Diuber pirang-pirang sasi, dikepung bola-bali isih bisa mbrajal, ucul terus. Genah dudu bandrek ora gampang ngraket Bandrek. Sa-plok-e melu kahar dadi begundhale , tandhange tansah miriske ati, pikirane dadi ora nggenah, nggugu karepe dhewe. Aku ora kuwawa mbujuk apamaneh nuruti.
Saka andharan kang dhiandharake kanjeng ing dhuwur bisa diwawas lan bisa di mangerteni ngenani sebab musababe kenek apa bandrek dadi bajingan, ing kunu wis dijlentrehake, yen bandrek sakploke melu kahar, bandrek dadi wong kang ora nggenah, lan tumindhak sakkarepe dhewe.
Kanjeng (kutipan 4)
Ora. Ora daktutuge. Aku wis pasrah, aku wis ngakoni kalah. Awakku ringkih, atiku rngkih. Kebacut kelangan dalan, muspra kabeh lelakonku. Wis ketuwan yen kudu mbaleni mek-ji. Aku wis ora bisa neruske, mbuh apa ngko dadine,..saya tuwa saya ngrekasa....
Kutipan kapingpapat bisa kadeleng yen kenjeng ing kunu wis kenthekan daya anggone mbelani bandrek kang di oyak-oyak karo anggota polisi, salah sijining yaiku Gembok. Sahingga dheweke among pasrah nedha trima.
 Saka cuplikan konflik batin saka nomer siji ngnthi nomer papat nduduhke ngenani dalane crita penyebabe konflik, uga asal usule kenek apa bisa dadi konflik. Ingkunu wis bisa kawawas ngenani asal-usule bandrek nganti dadi manungsa kang ala. Saka sifate bandrek kang kaya mengkunu iku ndadeake konflik ing sajroning crita, lan ndhadekake crita luwih tambah seru. Saliyane nimbulake konflik batin, sifate bandrek kang kaya mengkunu iku mau uga ndadeake konflik antar paraga.
konflik antarane Paraga siji karo paraga liyane (konflik eksternal)
Konflik antaraning Kanjeng karo gembok
Saka konflik antarane Kanjeng karo Gembok iki ya mbahas ngenani babagan Bandrek. Ingendi bisa kacuplik wektu dhewekelag cecaturan karo salahsawijining anggota polisi, kang kaya mengkene cuplikane :
“............”
Kanjeng :
Aku bisa luwih tentrem, luwih ayem, yen babar pisan ora ngerti urusanmu iki. Apa maneh nganti mbok peksa melu cawe-cawe. Nganggo cara sing wis mbok lakoni kowe sak kanca-kancamu rak malah cepet ngrampungi. Yen wis bisa mbok telik, ndhang rangketen, gawanen lunga sing adoh, di thor ngenggon, Rampung.
Gembok :
Merga Bandrek anakmu tatakramane beda.
Kanjeng :
Aku durung mudheng karepmu. Tatakrama sing kapriye? Aturane sapa! Apa merga aku iki kanjeng? Hya!! Apa amerga aku tau ndhuwe wayang wong? Jenengku nganti kondhang! Tatakrama nggon apa..!! apa merga ndhisik aku tau nyekel bedhil melu gerilya! Nggembol bintang jasa!
Gembok :
..aku mung petugas, mung nampa perintah.
Kanjeng :
 wis ora ana ragat, ora duwe kekuatan, kanggo ndeliake bandrek menyang sabrang. Bandrek pancen mung tilas brandhal...Rasane isih nganjel, ana sing mendhekel neng dhadha. Kenek apa bandrek isih dioyak- oyak?Bandrek rak wis gelem nyoba ndandani uripe, gelem sadar, wis bali ing dalan sing bener. Kena apa saiki dioyak-oyak maneh
Gembok :
yen ora salah eneng apa bandrek ndadak mlayu? Kok ndadak ndelik?
Kanjeng :
merga rumangsa mbok oyak-oyak. Bandrek mbok pepetke, mbok dheseg...!
Gembok :
yen wis tobat tenan bandrek ora bakal wedi. Nyatane bandrek nganti mlayu, mesthi ana apa-apane
 kanjen :
patine sengaja mbo arah. Ngendi ana pawongan sing manut yen arep dijagal! Cacing wae yen kapidak mesthi polah
..............”
     Cuplikan dialoge kanjeng karo gembok ing ndhuwur, kita bisa mastani yen gembok lan kanjeng lagi konflik, ananging konflik iki ora nganti ngalami konflik fisik (gelut) anaging  ingkene amung padu antaraning paraga. Lan bisa kawawas saka dialoge wong loro iku mau njengkerake paraga kang andhuweni  jeneng bandrek. Ingendi kanjeng mbelani bandrek supaya bandrek ora usah dicampuri urusane amerga bandrek amung tilas brandhal lan wis gelem tobat, ananging saka dialoge iku mau bisa kadeleng yen gembok ora ngandel yen bandrek wis tobat.
     Saka konflik kang dialami para paraga sajoning carita ing ndhuwur, agawe suasana dadi luwih kaku (tegang) atine para pemaos anggone maca sahingga para pemaos pingin ngrampungake olehe maca sampe pungkasan. Saka kene, konflik bisa ndadekake suspense marang para pemaos. Ana maneh konflik sajroning crita iki, lan konflik iki mungkasi carita ing naskah drama rol anggitane Bambang Widoyo Sp. Yaiku konflik antarane bandrek karo anggotane polisi, wektu iku dheweke lagi ana ing njero gedhung pementasan wayang wong, ing njero kunu dheweke konflik fisik karo salahsawijining anggota polisi, wektu konflik iku dheweke kena bedhil lengene saka polisi wadon ing sajroning gedhung. Sateruse iku dheweke menyat saka njoning gedhung banjur dibrondong mimis bedhil karo anggota polisi.                                                                                                                                                                                               
C.  Panutup
     Konflik sajroning karya sastra ora mungkin ora ana ing sajroning karya sastra, amarga konflik iku salahsawijning unsur karya sastra kang kagolong penting (esensial) anggone ngembangake plot, konflik dhewe andhuweni teges yaiku kedadeyan sing nduweni sipat dramatik, kang ngacu ing pertentangan  sing nyebabake aksi lan reaksi. Kaonflik dhewe kagolong dadi rong macem, yaiku konflik internal lan konflik eksternal. Internal yaiku Konflik kang kedadeyan ing sajroning ati (konflik batin/ kejiwaan), anane konflik batin iki amarga anane pertentangan antarane kepinginan kang beda, lan uga keyakinan kang beda. Konflik eksternal yaiku konflik kang kadadeyan antarane manungsa siji lan liyane, uga antarane manungsa karo lingkungan alam. Kayata ing sajroning crita drama Rol ing kunu ana rong macem konflik kang dialami paraga-paragane, yaiku konflik batin uga konflik antarane paraga siji karo paraga liyane.                                                                                                                                                                               
            Kapustakan
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University.
Pradopo, Djoko. 1988. Prinsip prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gajahmada University.                                                                                                                                                                             










Minggu, 10 April 2011

Wina Bojonegoro "Moonlight Sonata "

http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/










Wina Bojonegoro

Di dalam tulisan-tulisannya, perempuan kelahiran Bojonegoro 10 Agustus 1962 ini biasa memakai nama Wina Bojonegoro. Endang Winarti (itu nama KTP-nya) bekerja sebagai: Sekretaris di PT. TELKOM Surabaya. Alamat kantor: Jl. Ketintang 156 Surabaya 60231.
Karya yg pernah Dimuat: [1] Orang-orang tersayang, Pertiwi,1988 [2] Takdir, Surabaya Post, 1988, [3] Surat, Jawa Pos, 1999, [4] Namaku Giri, Surabaya Post, 2001, [5] Miss Markonah, Jawa Pos, 2003, [4] Arimbi Vs Basuki, Jawa Pos, 2002, [5] Musim Semi di Yunani, Jawa Pos, 2002, [6] Perempuan Yang Menanti, Jawa Pos, 2001, [7] Perjalanan Terakhir, Jawa Pos, 2004,
Buku: Kumpulan Cerpen : Episode Surat Kejantanan ( Logung Pustaka, 2005 )
Lain-lain : [1] Editor WEB Internal TELKOM, [2] Akstris terbaik Lomba Drama Lima Kota (LDLK) 1988, [3] Pendiri Sekolah ketrampilan “PUTRI KINASIH “

Moonlight Sonata
















Moonlight Sonata Ala Wina Bojonegoro

Diposkan oleh Diana AV pada 05 Feb 2011 | Beri Tanggapan

IBOEKOE, SURABAYA-Iringan biola yang dimainkan Filesky dan aksi teaterikal Indri dari jurusan Teater
SMKN 9 mengiringi peluncuran The Souls:Moonlight Sonata, tetralogi pertama novel
karya Wina Bojonegoro di Metropolis Room, Graha Pena, Surabaya hari ini (5/2).

Jika ada orang bilang bahwa tugas sastra di antaranya adalah untuk memperhalus
sebuah pesan dan makna serangkaian kejadian, The Souls: Moonlight Sonata berhasil
melakukan tugas ini secara baik.

Lebih dari sekadar mengungkap serangkaian kejadian, Wina Bojonegoro membuat
novel ini menjadi sebuah perayaan imajinasi dan kekayaan rasa antara kepolosan,
perkara hidup, cinta, dan kasih sayang yang dibalut secara apik. Kekuatan energi alam,
jiwa-jiwa yang hidup, mengantarkan para tokoh memasuki dunia yang penuh haru-biru
dan pergolakan. Dan, “Musiklah yang menyatukan para pecinta dan cintanya”.

The Soul adalah novel 4 seri yang berkisah tentang perjalanan sebuah warisan biola
selama 7 turunan generasi. Dia datang untuk mencari garis darah, dimana cinta dan
kasih sayang dipertanyakan sepanjang hidup seorang anak manusia.
Moonlight
Sonata adalah serpihan pertama. Berkisah tentang biola yang menjadi alat pemersatu
bagi anak-anak manusia. Kelahiran yang tak dikehendaki pun berubah menjadi sebuah
entitas yang mewarnai kehidupan seorang perempuan muda bernama Padmaningrum.

Endang Winarti yang lebih akrab dipanggil Wina Bojonegoro, memang seorang
cerpenis yang berasal dari kota Bojonegoro. Dalam The Souls, Ia merangkai cerita
tentang kehidupan Padmaningrum yang menggelinding kearah berbeda seiring
perjalanan sang biola bersejarah yang memiliki perjanjian leluhur. Ketenaran dan
kemahiran akhirnya justru menggelinding kearah jurang kiamat. Prestasi dan ketenaran
yang semula direncakan sebagai medan magnit bagi sang ayah, ternyata menjadi
medan magnit bagi cinta lain, cinta yang absurd. Tapi toh roda kehidupan harus terus
berjalan, perjuangan belum selesai. Hidup baru saja dimulai, meskipun berdarah. Kata
siapa kematian adalah akhir? Bagi James dan Padma, kematian justru awal segalanya.

Dr. Sugeng Susilo Adi, M.Hum.,M.Ed , Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Brawijaya yang menjadi testimoner pembaca novel The Souls mengatakan ,

“Membaca Wina Bojonegoro ini adalah membaca rangkaian kata-kata hidup yang
magis mengalir lewat kalimat yang tali-temali menjadi paragraf yang hidup pula. Dan,
yang paling saya suka dari tulisan Wina Bojonegoro adalah monolog ‘aku’ bahwa apa
yang ada di dalam hati sang ‘aku’ dia tampilkan dalam rangkaian kata-kata magis yang
sangat-sangat enak disimak. Ungkapan perasaan ‘aku’ yang dia tampilkan terkadang
nakal, menggelitik, filosofis, menyindir ke-’ego’-an kita”.

Wina berharap novel pertamanya ini akan diterima baik oleh pembaca sehingga ia akan
mampu menuliskan serial selanjutnya dari The Soul(ND)





http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Minggu, 03 Oktober 2010

PSJB:Bojonegoro Ing Gurit 2006



Sanggar Sastra:
( PSJB ) Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro 
**********************************************

Add           
Sanggar Sastra:
( PSJB )  
Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro
Menerbitkan
Menerbitkan:
Kumpulan Geguritan

"Bojonegoro Ing Gurit"

KaryaNE:
HADI MULYONO MP
- Sawijining Esuk Ing Pesisir Binangun
- Sido Wayah
- Curug Sewu
- Mliwis Pitih
- Grahana Ing Desaku
- Nrowo
- Singer Tuwa
- Pasar Bangi

SRI SETYO RAHAYU
- Kutha Kelairan
- Kangen
- Nalika Aku Ngerti
- Saiki Wis Ora Ana Maneh Tanjung Semi
- Kita Ketemu Ing Guritan
- Sapa Jenengmu Cah Ayu
- Ing Kene Dina Iki
- Layangan
- Kembang Isih Mekar Ing Plataran Kampus
- Ing Tengah Sawah Saben Sabtu Awan
- Banjarsari
- Wadhuk Pacal
- Kauman
- Ing Sawijining Dina
- Bagavathgita
- Lagu Ing Bengi Iki

NONO WARNONO
- Gurit
- Nyekar
- Satumpuk Gurit Kang Kokindhit
- Sketsa
- Ing Sawijining Panggonan
- Sadawane Rel-rel
- Gurit Kangen
- Bebadra
- Aja
- Kingkin
- Kaki Tuwa Pinggir Tlaga
- Ing Sarasehan
- Sore Ing Plataran-Mu
- Rembulan Ing Tlaga-Mu
- Gurit Pitakon

DJAYUS PETE
- Ing Magelang
- Kucing
- Pengadilan
- Tanah Jawa
- Guritan Kanggo Kenya Sundha
- Prahara
- Kangen
- Lestaria
- Inspirasi
- Sepur Tuwa
- Pungkasan
- Vignet
- Pejuang
- Ijasah
- Kemladhehan
- Panandhang

MOCH. MAKLOEM
- Kalisari
- Puisi Kanggo Dewi
- Stasiun Sepur Kalikethek
- Nonton Bioskop Ing Kursi Kelas Embek
- Puisi Kanggo Sawijining Sumitra
- Bojonegoroku Banjir
- Mlaku-mlaku Ing Trotoar
- Sawise Bubaran Bioskop Pakri
- Gurit Marang Mas Sigit
- Gurit Katresnan
- Layang Kanggo Dhik Yat
- Nalika Numpak Sepur
- Marang Bojonegoroku
- Tikus-tikus
- Wayange Mas Dhalang Sastra
- Ing Pesisir Kutha Rembang

YUSUF SUSILO HARTONO
- Ombak Wengi
- Layang Abang Kagem Dra Thea Kusumo
- Sumberarum
- Mawas Dhiri
- Sangisore Jati Garing
- Pang Alas
- Dongeng Panglipur
- Cup Menenga Dewi
- Brang Lor
- Sinerat Gurit Marang Charles Ing Inggris
- Gegadhangane Prenjak Awan
- Puji Tembaru
- SMS
- Kembang Kadurjanan
- Jakarta

JFX. HOERY
- Sengkeran
- Apa Abamu Panggurit
- Alun-alun Bojonegoro 1982
- Wadhuk Leran
- Bojonegoro
- Dakcathet Ing Banjarjo 22
- Daksekseni
- Repleksi Kasunyatan
- Kodrat
- Panggugat
- Sing Katon Kae
- Ing Kamar Bih
- Aku Iki
- Panggresah Ing Tengah Sawah
- Pedhut
- Wis Ora Ana Papan Teban Pisambat

YES ISMIE SORYAATMAJA
- Kanggo Sliramu Ing V
- Katresnanku
- Tas
- Ponorogo
- Impen
- Ngudarasa
- Tobo
- Ing Kamarmu

HARTONO KARYO SEDONO
- Sepur Tuwa
- Kelangan
- Tekad
- Pasar Wage
- Ublik

NARDI
- Sapu Gerang
- Aja Dhisik
- Esrek
- Angin
- Kidung
- Kahanan
- Bocah Kepradah
- Dluwang Lungset
- Gara-gara
- Bothekan

HERWANTO
- Paseksen
- Tetenger
- Sketsa
- Ing Pelabuhan
- Mahakan

L. ISNUR SUKMANA
- Nggowah
- Biyung
- Cacah Sanga
- Yhen Yhen
- Omah Gladhag
- Pitakonku
- Lunga

MAS GAMPANG PRAWOTO
- Umbul
- Gladhag
- Angon
- Bonang Branang
- Anakku
- Panginepan
- Lemah Aking
- Ngelak
- Ana Ambune Ora Ana Rupane
                                                                 
                                                                                                                                                                          in

 

      Cetakan 1, 2006    ISBN  979-7564-91-6