Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

puisi: Slamet Agus Sudarmojo 'BUMIKU GERING'

sastra-bojonegoro,blogspot.com








 Slamet Agus Sudarmojo






BUMIKU GERING

"grang, gring, grung, grenggrang, gring, grung, greng"
bumiku gering
bumiku ya bumimu bumiku, "ya bumi sak nyari bumi sak dumuk batuk"
bumiku gering selalu dipijak tuan-tuan kapitalis
selalu dijitak menjadi petak umpet

jrang, jring, jrung, jrengjrang, jring, jrung, jreng

Tatkala untung berhitung
semua tersenyum
sama-sama menakar sesaji
dari muntahan perut bumi

anak cucu hanyalah kerikil imajinasi
sekelebat membayang trus menghilang
mirip burung sriti di pagi hari
sekelebat terbang senyap
berlama-lama melayang
meliuk menghilang di telan kabut
tanpa janji
datang dan berlalu
terbanglah mimpi ribuan mulut anak negeri

Di antara sesar Porong - Porwodadi
di antara tanah lumpur dan "walet bengawan"
bau menyengat menebar kerontang rasa
teriakan dan celoteh anak manusia

"piyelehi, piyeleh,piyeleh
jarene matoh"

panaspun bergulir
mengukir tembang-tembang keserakahan
mengelegak
di batas gelapnya cakrawala yang membentang
jauh hari berganti
bumi pertiwi tlah terkapling teriris iris
di atas meja pertaruhan terakhir
grang, gring, grung, grengbumiku kering gering "kemringking"


Bojonegoro, 27 Oktober 2011









Senin, 24 Desember 2012

Setia Tanpa Jeda

Add
link buku ini di Leutika Prio disini

Judul: Setia Tanpa Jeda
ISBN: 978-602-225-216-0
Terbit: Desember 2011
Tebal: 206 halaman
Harga: Rp. 43.200,
PENULIS BUKU SETIA TANPA JEDA

Deskripsi:
Setia Tanpa Jeda merupakan kumpulan cerpen dan puisi pilihan yang terseleksi dari hampir 400 peserta yang mengikuti ajang lomba UNSA Award 2011. Di antaranya memuat cerpen terbaik UNSA Award 2011, yaitu “Senja Terakhir” karya Zoel Ardi, dan puisi terbaik UNSA Award 2011, yaitu “Ziarah Malam Qamariyah” karya Shohifur Ridho’i.

Para penulis di dalam buku ini terdiri dari para penulis muda yang karya-karyanya telah banyak dipublikasikan, baik dalam bentuk buku maupun pada media cetak. Di dalam buku ini pula terdapat beberapa penulis berprestasi yang telah memenangkan berbagai perlombaan menulis di tingkat nasional. Artinya, buku ini menampilkan karya para penulis muda berbakat, yang perlu dikedepankan demi kian semaraknya dunia literasi tanah air.


Penulis: Zoel Ardi, Shohiful Ridho I, Dkk.

CERPEN
(1) Zoel Ardi. (2) Ika Pratiwi. (3) Eko Hartono (4) Rama J Mawardi (5) Rana Wijaya Soemadi. (6) Rafif Amir.(7) Ade Batari.(8) Ardy Kresna Crenata. (9) Desti Adzkia. (10 Sandza. (11) Dariansyah Putra. (12) Ahmad Ijazi H.(13) Aia Aisyah Yusdiyani. (14) Ragil Kuning. (15) Pretty Angelia Wuisan (16) Yetti A. Ka (17) Dang Aji Sidik (18) Nessa Kartika

PUISI
(01) Shohifur Ridho Ilahi (02) Dalasari Pera (03) Kurnia hidayati. (04) M. Maniro AF (05) Gampang Prawoto(06) Kemas Ferri Rahman (07) Rini Febriani Hauri. (08) Edu Badrus Shaleh (09) Zen AR (10) El Fasya. (11) Dee Dyantry (12) Usup Supriyadi (13) Ibeth Beth-I (14) Oksa Puko Yuza(15) Azzam Asrawi (16) Wldansyah basthomy ion

Minggu, 01 April 2012

SAJAK : Gampang Prawoto (3)

@ Pejambon 3
Add   





Gampang Prawoto       puisi lama:                        
Pak Demokrasi

siapa dirimu …..
kalau engkau berani
tampakkan wujudmu
agar kami takmencari kesana
kemari

kamu takkemana-mana
kamu ada dimana-mana
kata teori, kamu dapat dipercaya
kata teori, kamu mampu menampung aspirasi masa

saat penipu ulung memerlukanmu
engkau dipuja, disanjung dan dijunjung
dengan embel-embel tinggalkan kemiskinan
dengan hiasan berantas korupsi dan kolusi

tengah malam …..
demokrasi terjaga dari tidurnya
sadar akan mimpinya,
ia membohongi rakyat
ia mengobral janji gombal pada rakyat
ia menipu rakyat
ia mengobral janji palsu pada rakyat.

Surabaya, 29051997

                    
Balada Canngkul Sang Petani

Matahari dimana engkau berada, cahayamu selalu mempesona, sinarmu amat sangat berharga, engkau simpan tenaga perkasa.

Saat engkau muncul, mereka mulai mengasah cangkul, dengan semangat dan langkah penuh harapan, mereka garap sawah dan ladang luas membentang.

Dengan tenaga tanpa perhitungan. Lalu, ia tanamkan bibit-bibit padi hasil utangan. Tumbuh subur, ijo royo-royo, berkat kotoran ternak banpres dan pupuk bimas.

Petaniku  ……. Berkat kerja kerasmu, berkat doa khusukmu petiklah hasil panenmu.

Sepertinya petani bangga dan bahagia. Hasil panen tampak dipelupuk mata. Namun, apa yang ia pikirkan dan ia rasakan hingga petaniku tampak sedih dan lunglai.

Kebayan dan Jagabaya sudah menabuh kentongan, menyampaikan hasil konperensi di pendapa. Bayarlah bibit padi dan pupukmu karena pegawai KUD sudah menunggumu.

Dengan menghisap rokok tengwe sembari mengerutkan dahi. Sang petani berpikir, kemana tenagaku, dimana hasil kerjaku dan siapa yang memanen padiku.

Haruskah aku terus begini, menanti terbit dan terbenamnya mentari. Sembari mengasah cangkul tumpulnya petani menanti datangnya kemakmuran tiba
  
Bojonegoro, 12 Juli 1997
 

Bencana Dosa

hujanku …..
apa engkau marah
hingga sungai-sungai menangis kehausan
sawah dan ladang merana kekeringan

hutanku …..
benarkah kau terbakar
benarkah kau dibakar
atau mungkin mati obong, daripada ditebang

gunungku …..
mengapa engkau bergerak-gerak
selalu ingin berontak
apa mungkin sesaji belum diarak

mungkin …..
kau …..
hingga kekeringan melanda
hutan terbakar menyala
gunung meletus terus-menerus
bencana merajalela
kelaparan dimana-mana.

Surabaya, 17121997



Berputar Di Dinding

Orang kecil
tenagamu harus kuat
karena kerjamu lebih berat
hasilpun tak kan dilihat

Orang sedang
tenaga hasil menghadang
kerjamu cumah memecut orang
hasil baik tuk laporan juragan

Orang besar
tenaga tersimpan tuk di kamar
duduk-duduk santai tunggu laporan

detik berapa? ……., tak ada yang bertanya
menit berapa? ……., Lebih atau kurang
jam berapa? ……., pasti ada jawabnya.


Surabaya, 20121997



     Raja Diraja


     Kalau di hutan, aku kenal dirimu
    tak ada yang mengangkat
    tak ada yang melantik
    tak ada yang mewisuda
    kau sebut dirimu si raja hutan
    auumm  ….. , heemm ………
    penguasa rimba belantara

    Disini ….., semua orang tahu
    akulah penguasa tunggal negeri ini
    penguasa tidak untuk dan untuk tidak diganti
    aku penguasa belum mau diganti
    penguasa tak mau diganti

    Semua orang kan tahu, siapa aku …..
    akulah penyelamat negeri ini dari tikus-tikus sawah
    yang berusaha makan ketela pohon yang masih mentah

    Suussttt!
    semua orang kan tidak tahu
    ketela itu …..   ketelaku sendiri
    dan tikus-tikus itu ………
    suusstt!  ……..
    betapa bodohnya kamu

    Hebat!
    raja semasa hidupku
    hingga anak-anakku bercita-cita
    kalu sudah besar nanti mau jadi raja,
                
        Surabaya, 11031998


                                        caption

Kamis, 08 Maret 2012

Puisi : Wahyu S.










Puisi-puisi: Wahyu S.

 Wahyu S.



















Add
        MERAKIT HILIR BENGAWAN

        Merakit getek manyatu di ujung tepian bengawan
.       bilah-bilah kayu memercik air mutiara tertimpa 
                  matahari..
.       mangayuh mengantar detak nadi kehidupan
.       adalah ayunan langkah hidup dan menghidupi
.       bagi jelata
.       bagi harap tak kunjung tiba
.       bagi orang-orang yang tak pernah Merdeka
.       Merakit hilir bengawan mandayung lintas batas
        walau legam badan
.       walau diterpa terik
.       walau iprik Bengawan naik
.       walau ongkas tak pernah naik
.       Merakti getek adalah keikhlasan membantu sesama
.       karena hidup untuk menghidupi
.       keikhlasan adalah tanaman
.       buahnya adalah keutamaan
  caption

Add
SEPERTIGA MALAM

Merajut tali rasa
.pada sepertiga malam, ketika aku terjaga
.Setapak perjalanan menuju surau
.nafas yang mengendap di hati

..Memerintah sukma menembah Gusti
kubasuh raga yang tersiram
.jiwa dengan kesejukan.
.kugelar sajadah
.dihamparan rumah Tuhan, bersujud aku melepas beban. .
.membuang pasrah
.melangkah dalam lorong-lorong putih tak berujung
,menuju cahaya tahta abadi
,Bersimpuh keharibaan Yang Kuasa Bertahta

Pasrah... raga... jiwa... sukma... hati
.menebar rasa dan kerinduan
.air mata bak mata air lepas mengalir lepas terampas
.membasuh asa yang Esa
.tabik padanya yang tak tersepa
.kahadiran adalah hamba
.yang alfa pada ruh yang merangkai janji di alamnya
.
.Sepertiga Malam aku menata bahasa
Ketika bercengkrama
.membasuh sukma
.kebersihan jiwa untuk meminta
.menghamba
.pada siapa
.untuk siapa
.pada Aku
.adalah Jiwa, Raga, Sukma menyatu
..Hati yang meniti
Untuk sampai padaMu

Sepertiga malam
.ketika berkah adalah syukur
..maka akupun bersyukur
.ketika sujud adalah tahajud
.akupun bersujud
karena aku tlah tahu
.bahwa akupun tlah satu
.menyatu...
.pada Mu
.Tuhan..ku
.amin.
  caption

                   Add
        LEGENDA MASA

       Terukir malam
.      dengan sunyi dan dinginnya
.       deret pohon jati berbaris rona-jingga
.       adalah bias api yang melenggok muncul
.       dari rekahan bumi antara batu-batu menumpuk

        Keheningan tetap sunyi
.       kureguk malam
.       menerawang masa
.       ingat akan pada kala
.       Sang Empu mengolah bilah-bilah keris
.       pusaka Raja atau penglima
.       Kayangan api adalah legenda
.       skala zaman
.       lenggok penari dengan dupa dan bunga
.       terukir bingkai malam
.       siang kusapa tak bermakna
        Api yang menyala adalah makna
.       adalah bara yang hidup
.       dalam kesenyapan malam
.       dan nyanyi sunyi

        Kayangan Api adalah Bara api
.       yang menyala sepanjang masa
.       Kayangan Api Legenda Masa
.       yang mengukir bingkai malam
        Lembut......
        Hangat.......
.         dingin dipesona malam.
  caption

Add
     KINI KELAK

     Rindang Pohon jati bertebar teduh
.    yang menguntai batas kampung
.    adalah wajahmu
     Tembakau hijau lembut beraroma
.    terhampar jauh mata memandang
.    adalah nafasmu

     Lekuk liku bengawan yang menyusuri batas 
              desa dan kota
.    bak lukisan sang Dewa
.    adalah nadi kehidupanmu
.    anak cucu tak lagi mengerti
.    waktu berjalan pergi
     Tentang rindang pohon jati
.    tentang hijau tembakau beraroma
.    tentang lekuk likuk bengawan lukisan sang 
               Dewa
.    tentang gunung tapal batas Negri
     Mereka hanya tahu gedung-gedung menjulang
     Mereka hanya tahu kilang-kilang minyak kilau 
               bertebar
     Mereka hanya tahu bahu-bahu tol menjarah
               ladang

    Wajah dan rambut mereka bule
.   tangan mereka royal menabur dollar
.   kaki-kaki mereka berlaras koboy
.  tak lagi tahu...
.   Kapas, Ngasem, Kalitidu
.   yang mereka tahu
   Jonegoro tlah hilang.

                                                                                 caption
Add
NEGERI YANG TERGADAIKAN

Mutu manikampun kian pudar
Kejayaan yang dulu terengkuh
Bak pelangi terhembus kesenjaan sesaat hilang
Negri yang dulu di huni oleh patron-patron nasionalisme
kini tergadaikan sudah
Tinggal puing-puing massa
Des.... tinggal asa yang tertinggal
Dihuni dan dihidupi
.oleh tikus-tikus curut tak bermakna
.yang dihuni pewaris-pewaris Ken Arok
.yang berebut tahta
.saling mencekal dan menceret
Sejengkal tanah
.yang kusebut dengan darah
.pengorbanan kehormatan pun tergadaikan
Lautan pembatas Negri pun terjual sudah
Pulau-pulau yang nian cantik
.tertelan sudah ekstremisme
Tanah-tanah Negri pun terpasung polusi
Kayu di lautan terbang melayang pergi

Apa yang diharap Negri ini
.sedang kau di tahta tak lagi berfikir pada anak Negri
..yang sakit
..yang lapar
..yang terhina
..yang tertindas

Kau sibuk memasang dasimu
Menyemprot minyak wangimu
Kini tak lagi tumpuan di pundak satria
Karena tak ada lagi satria
.yang ada hanya punokawan
Punokawan pakeliran dengan dandanan lucu
.yang ada tari-tarian gojegan punokawan
.yang ada hanya lelucon dagelan
.yang ada hanya tiada dan tidak ada
Negri ini pun tak ada.

caption