Tampilkan postingan dengan label Anas AG.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anas AG.. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2012

SUKET : Samudra Banyu Bening (5)

SUKET : Samudra Banyu Bening (5)









http://samudrabanyubening.blogspot.com/











       Kamis, 23 September 2010

Menemukan Keindahan

 

Siapa tokoh pergerakan nasional yang lahir dan tumbuh wilayah edar Radar Bojonegoro? Ada banyak sebenanya, tapi menurut saya ada dua orang yang cukup mempengaruhi pergerakan nasional. Sebut saja tokoh pers nasional Tirto Adhi Soerjo yang lahir di Blora dan tumbuh di Bojonegoro. Ada tokoh komunisme juga Mas Marco Kartodikromo yang lahir di Cepu. Dan Sekarmaji Maridjan Kartosuwirjo, tokoh Negara Islam Indonesia (NII) yang lahir di Cepu dan tumbuh di Bojonegoro. Saya mungkin luput menyebut sejumlah tokoh lainya,sehingga Anda berhak untuk menambah daftar tokoh pergerakan nasional di Bojonegoro, Lamongan, Tuban dan Blora.
Tanah yang tandus seperti Blora dan Bojonegoro ternyata menjadi lahan tumbuh dan berkembangnya sejumlah tokoh yang ikut mempengaruhi pergerakan nasional. Tirto Adhi Suryo ditulis lengkap oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Juga ada tulisan biografi Tirto Adhi Suryo yang ditulis dalam Sang Pemula. Sedangkan Kartosuwirjo yang mendirikan NII, biografinya dicatat dalam buku Darul Islam (Sebuah Pemberontakan) karya Van Dijk dan Pemikiran Kartosuwirjo karya Al Chaidar.
Kartosuwirjo beruntung. Karena saat belajar kepada tokoh Sarekat Islam (SI) HOS Cokroaminoto di Surabaya, dia satu pondokan dan satu pendidikan bersama presiden RI 1 Soekarno dan tokoh komunisme Semaun.
Cokroaminoto berhasil mendidik para muridnya menjadi tokoh nasional. Menariknya ketiga muridnya, yakni Soekarno, Semaun dan Kartosuwirjo memilih jalan hidup ideologi yang berbeda-beda Namun tujuannya sama, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dari tiga tokoh itu, Soekarno dan Semaun telah banyak jejak yang menelusurinya. Bahkan,keduanya memiliki banyak massa yang tak sedikit pada zamannya hingga kini. Namun, bagaimana dengan tokoh NII Kartosuwirjo? Padahal, Kartosuwirjo dan NII menginspirasi sebagian umat Islam mendirikan Daulah Islamiyah di Indonesia. Hingga ngebet-nya mendirikan NII di Indonesia mereka pun kerap menempuh jalan kekerasan, seperti aksi bom bunuh diri. Majalah Tempo edisi khusus Kemerdekaan yang menurunkan laporan tentang Kartosuwirjo. Siapa sebenarnya Kartosuwirjo? Dia lahir di Cepu, Blora Jawa Tengah. Anak seorang mantri candu di Cepu. Dari laporan Tempo berhasil menelusuri, Kartosuwirjo menempuh pendidikan elite khusus anak Belanda Europeesche Lagere School di Bojonegoro. Kehidupan keluarga Kartosuwirjo sebenarnya bukan keluarga yang relijius tapi justru cenderung abangan. Pamannya Mas Marco Kartodikromo adalah tokoh Sarekat Islam yang cenderung merah. Sehingga Kartosuwirjo juga cenderung membaca buku-buku berhaluan kiri. Namun dari catatan Tempo, saat menempuh pendidikan di Bojonegoro, Kartosuwirjo sempat belajar agama kepada tokoh Muhammadiyah dan Partai Sarekat Islam Indonesia di Bojonegoro, Notodiharjo. Hingga Kartosuwiryo pindah ke Malangbong Jawa Barat. Dari lereng gunung yang sejuk, dia menyusun kekuatan bersama para pengikutnya mulai dari Aceh yang dipimpin Daud Beureuh dan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan. Akhirnya NII dideklarasikan NII pada 7 Agustus 1949.
***
Lulus SMA, saya pernah terpesona dengan ajaran Kartosuwirjo. Saya sempat ikut diskusi penulis buku Pemikiran Kartosuwirjo, Al Chaidar saat berjumpa di Jogjakarta. Namun, diskusi dengan sejumlah pengikut Kartosuwirjo ternyata kurang memuaskan. Saya kurang tertarik dengan konsep merasa ajarannya paling benar. Saya percaya ijtihad, tapi ijtihad yang tidak buta. Ijtihad harus didasarkan kepada landasan yang kuat. Saat saya ikut bersama sejumlah pengikut NII, saya melihat mereka adalah orang-orang yang melakukan ijtihad buta atau taklid.
Ketika masuk kampus, saya tidak bersemangat ikut organisasi mahasiswa keislaman dan nasionalisme. Saya memilih nyemplung ke dunia jurnalistik. Di dunia inilah, gagasan saya harus bertarung dan bertaruh. Saya bertemu beragam ras, agama dan pemikiran yang beragam. Seperti kata Nabi Muhammad, Allah sesungguhnya Indah dan mencintai keindahan. Dalam keberagaman itulah saya justru menemukan keindahan dan kebenaran. 


Menemukan Keindahan





SUKET : Samudra Banyu Bening (4)

SUKET : Samudra Banyu Bening (4)










 

Mengolah Sastra


Apakah yang mereka saksikan sebenarnya di Sarajevo:
Sebentang samun, tanah yang redam?
Apakah yang mereka saksikan sebenarnya?
Keyakinan dipasak
Diatas mihrab dan lumbung gandum
Dan tak ada lagi orang membaca(Misalkan Kita Di Sarajevo, 1994, Goenawan Mohamad)

Membaca puisi di atas, ingatan kita mengembara ke Eropa. Saat Serbia membasmi orang-orang muslim Bosnia. Hanya soal keserakahan kekuasaan, Serbia membumihanguskan Bosnia. Sarajevo adalah ibu kota Bosnia Herzegovina. Puisi itu ditulis Goenawan Mohamad atau akrab dipanggil GM untuk mengenang kekerasan di Bosnia oleh Serbia. GM bukan hanya sastrawan tapi juga salah satu patron wartawan di Indonesia.
Tiap kali membaca puisi-puisi GM, saya seperti diajak berselancar dari satu negara ke negara lain. Ada kisah menarik yang selalu bisa menjadi puisi. Seperti Untuk Frida Kahlo, Berlin 1993, Zagreb, Di Yerussalem, Aung Sang Suu Kyi dan sejumlah puisi lainnya.
GM dalam pengembaraannya ke sejumah negara selalu mencatat dalam bait-bait yang magis. Semagis novel Seribu Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marques. Kata magis saya kutip dari pengamat seni dan budaya Bambang Sugiharto dalam kata pengantar buku Catatan Pinggir 7, Disana ada kata-kata yang berdaya, nyaris magis. Seperti bait dalam puisi Untuk Frida Kahlo.
Frida Kahlo menulis dalam catatan hariannya. ‘’Hidup yang diam, pemberi dunia, apa yang paling penting ialah tiada harap.’’ Di sana disebutnya juga fajar, pagi, rekan-rekan merah, ruang besar biru, daun-daun di tangan, burung yang gaduh….
Anda yang biasa membaca Catatan Pinggir di Majalah Tempo maka tak akan asing dengan penulisan kalimat dalam puisi itu. Kalimat pendek dan mengena.
Frida adalah seorang perempuan pelukis dari Meksiko. Saya pernah melihat film tentang Frida Kahlo. Dimainkan cukup bagus oleh aktris cantik Salma Hayek.
***
GM lebih dulu dikenal sebagai seorang sastrawan ketimbang wartawan. Sebelum aktif menjadi wartawan, dia sastrawan yang aktif menolak Orde Lama. Salah satu bentuk penolakannya adalah tergabung dalam Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang diusung oleh Wiratmo Soekito dkk.
Esai-esainya di Majalah Tempo selalu menarik dibaca. Saya baru saja membeli kumpulan esai Catatan Pinggir ke-7. Lima buku lainnya telah saya miliki. Namun, Caping yang ke-6 saya belum menemukannya. Capingnya lebih nyastra ketimbang esai yang ditulis wartawan lainnya.
Seperti juga caping, saya pun menikmati puisi-puisi GM. Ada dua buku kumpulan puisi GM yang saya miliki, Asmaradana (1992) dan Misalkan Kita Di Sarajevo (1998). Saya tak mempunyai buku kumpulan puisi GM selain dua buku tersebut. Satu buku lagi karya GM adalah naskah drama, Tan Malaka dan Dua Lakon Lainnya (2009). Buku teranyar GM itu tafsir tentang Tan Malaka, soal Sawunggaling, dan visa. Lakon yang ditulis oleh GM itu telah dipentaskan di sejumlah kota di Indonesia.
Menulis lakon adalah bentuk produktifas GM mengolah sastra. Soal produktifitas menulis puisi. GM mungkin tergolong kurang produktif. Namun, puisi-puisinya selalu enak dibaca. Jika dilihat dari rentang waktu buku puisi dan dramanya yang terbit maka jaraknya cukup jauh. Dari tahun 1992, 1998 hingga 2009, GM baru berkarya. Namun, untuk menulis Catatan Pinggir di Tempo, produktifitas GM cukup terjaga karena tiap pekan di Majalah Tempo, GM menulis Catatan Pinggir.
Membaca dan menulis sastra sesungguhnya adalah proses mengendapkan pikiran dan hati. Ujungnya adalah mengolah kemanusian kita. Seperti GM yang tak berhenti mengolah sastra.

                          http://sastra-bojonegoro.blogspot.com


 










 


Sabtu, 01 Oktober 2011

SUKET: Samudra Banyu Bening (3)

Suket 3




















Teladan Sang Pencerah
 
‘’Apakah agama  itu?’’ kata salah satu santri kepada KH Ahmad Dahlan. Tanpa menjawab, KH Ahmad Dahlan lalu mengambil biola dan memainkan biola. Denting dawai biola mengalun. Pelan tapi iramanya merdu. Usai memainkan biola, KH Ahmad Dahlan bertanya kepada santrinya. ‘’Apa yang kalian rasakan?’’’’kata pendiri Muhammadiyah itu kepada santrinya.
‘’Keindahan,’’ jawab santrinya.
‘’Ketenangan,’’kata santri lainnya. Bahkan ada satu santri tertidur saking merdunya petikan dawai biola yang dialunkan KH Ahmad Dahlan. Setelah mendengar jawaban dari masing-masing santrinya.
KH Ahmad Dahlan lalu memetik biolanya secara acak, suaranya tidak karuan dan memekakkan telinga. Dia lalu melontarkan pertanyaan yang sama, ‘’Apa yang kalian rasakan?’’
‘’Kekacauan,’’kata santrinya.
***

Dialog diatas saya kutip tak menyeluruh dari film Sang Pencerah. Saya menonton film itu tiga hari pasca-Lebaran lalu. Saya tergoda menontonnya karena film ini mampu memberikan tema alternatif tontonan yang mencerahkan ditengah gempuran tema-tema film berbau demit dan lendir yang memuakkan. Meski masih banyak kritik namun film karya Hanung Brahmantyo tersebut mampu menampilkan sosok muda KH Ahmad Dahlan yang toleran dan menghargai perbedaan pendapat. Film itu, saya kira, dapat menjadi inspirasi bagi siapapun yang mendambakan Islam menjadi sebagai agama rahmatan lil alamin.
Bahkan, dalam film itu ada adegan KH Ahmad Dahlan tanpa ragu memberikan pelajaran agama bagi siswa-siswa Belanda yang notebene non-muslim. Cara mengajar KH Ahmad Dahlan yang atraktif dan akrab memikat para siswanya. Islam ditangan KH Ahmad Dahlan menjadi agama yang benar-benar sejuk bagi siapapun.
Usai menonton film itu, saya teringat catatan penyair Goenawan Mohammad dalam kata pengantarnya di buku Pintu-Pintu menuju Tuhan karya Noercholish Madjid, setiap kali saya mendengarkan Noercholish Madjid, setiap kali saya merasa ada yang terselamatkan dalam iman saya: Tuhan yang esa itu adalah Tuhan yang inklusif. Ke dalam kemahapemurahan itu saya tidak ditampik.
Ya, saya merasakan iman ini juga terselamatkan ketika usai menonton Sang Pencerah. Ada keteguhan. Ada rasionalitas. Dan ada kelembutan menjalankan nilai-nilai agama yang diajarkan KH Ahmad Dahlan.
Namun, hati ini juga ikut miris ketika agama alat pembenar untuk melakukan kekerasan terhadap penganut agama lain dan aliran agama. Sejumlah penganut Ahmadiyah diserang oleh salah satu kelompok massa yang mengatasnamakan agamanya. Dalihnya, Ahmadiyah telah melenceng dari Islam. Saya bukan ahli agama. Tapi bagi saya, menggunakan kekerasan untuk menyerang kelompok yang berbeda pendapat merupakan kekejian terhadap agama.
Dalam salah satu adegan Sang Pencerah, KH Ahmad Dahlan juga mengalami kekerasan yang luar biasa yang dilakukan oleh penghulu agama Keraton Jogjakarta. Langgar yang menjadi tempat belajar santrinya dirobohkan paksa oleh penganut konservatif.
Namun, KH Ahmad Dahlan tak membalas kekerasan yang diterimanya. Justru KH Ahmad Dahlan bangkit dan membuktikan jika dirinya mampu memberikan manfaat bagi umat. Sikap dan teladan inilah yang kerap tidak dimiliki umat beragama saat ini. Kekerasan kerap kali dibalas dengan kekerasan. Ujungnya, kekerasan menjadi lingkaran yang tak berujung. Keberagaman adalah kodrat. Dalam keberagaman itulah kita menemukan keindahan.

Diposkan oleh samudrabanyubening

Selasa, 10 Mei 2011

SUKET: Samudra Banyu Bening (2)

@ SUKET 02


Soal dokumentasi sastra, saya jadi teringat sastrawan Jawa asal Bojonegoro, JFX Hoerry. Rumahnya di Padangan kerap didatangi sejumlah peneliti sastra Jawa. Peneliti itu bukan hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. JFX Hoerry termasuk sastrawan dan pengumpul data yang tekun tentang sastra Jawa. Dia mempunyai koleksi lengkap, majalah Penjebar Semangat dan Djoko Lodang dari edisi perdana hingga paling akhir. Makalah-makalah tentang sastra Jawa pun, dia tekun mengumpulkannya. Ketua Paguyuban Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB) ini juga peraih penghargaan Rancage. Penerusnya Herwanto pun tahun ini adalah penerima penghargaan Rancage. Artinya, barometer sastra Jawa ternyata bukan Solo dan Jogjakarta. Barometer sastra Jawa ternyata adalah Bojonegoro. Karena itu, sepatutnya jika seluruh dokumentasi sastra Jawa yang dimiliki oleh JFX Hoerry diselamatkan oleh pemerintah. Caranya, pemkab Bojonegoro bisa membuat seperti yang dilakukan oleh Ali Sadikin, yakni membangun Pusat Dokumentasi Sastra Jawa. Saya yakin, Bojonegoro akan makin dikenal bukan hanya kebudayaan dan keseniannya. Tapi juga pusat laboratorium sastra Jawa. Peneliti sastra Jawa, baik dari dalam maupun luar negeri akan berdatangan ke Bojonegoro. Mereka akan mengabarkan kepada siapa saja yang akan meneliti sastra Jawa tak afdhol jika tak ke Bojonegoro.
Bupati Bojonegoro, Suyoto sesungguhnya telah memulainya menjadi pemimpin yang hidup berkesenian dan nyastra. Dia telah mencipta banyak puisi. Bahkan telah membuat buku kumpulan puisinya. Modal sudah ada. Yakni, Bojonegoro adalah barometer sastra Jawa dan bupati juga senang berkesenian. Tinggal membangun pusat dokumentasi sastra Jawa. Bagaimana menurut Anda? 


Rabu, 04 Mei 2011

SUKET: Samudra Banyu Bening (1)

@ Suket   01
A                    

= Max Havelar, Sejarah Kelam Indies   

= Tohari dan Ronggeng Tak Pernah Mati


   









 

Samudra Banyu Bening 


Max Havelar, Sejarah Kelam Indies

Sabtu, 03 Juli 2010



Ya, aku bakal dibaca(Max Havelaar)    

Roman Max Havelaar karya Multatuli memasuki tahun ke 150 pada 2010 ini. Senin (12/4) lalu, Fakultas Ilmu Budaya UGM Jogjakarta menggelar peringatan 150 tahun Max Havelaar. Saya sempat diundang oleh almamater. Namun, saya tak bisa datang. Saya memilih membaca ulang Max Havelaar saat menikmati suasana sore yang mendung dengan kereta api Blora Jaya Senin lalu menuju Semarang. Sesampai di Semarang, saya sengaja turun stasiun Tawang. Keluar dari pintu stasiun, di sore yang gerimis, saya menikmati suasana Kota Lama Semarang yang dibangun Belanda. Gedung-gedung tua yang menjulang. Gereja Bledug yang masih kokoh. Saya membayangkan, satu sisi Belanda mampu membangun gedung-gedung sangat megah. Namun, di sisi lain, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten nasib bangsa ini ditulis sangat tragis oleh Multatuli dalam Max Havelaar. Rakyat Lebak ditindas dan dihisap kekayaanya oleh kolonial Belanda.

Max Havelaar terbit pertama pada 1860 di Eropa. Buku ini di tulis pada 1859 pada musim dingin di Belgia. Karya ini diterjemahkan di berbagai negara Eropa. Untuk edisi Indonesia diterjemahkan oleh HB Jassin dan terbit kali pertama pada 1972.
Saya beruntung memiliki buku itu sejak SMA. Saya membeli toko buku legendaris di Solo, Budi Laksana. Kali pertama membaca, saya agak kurang paham. Maklum masih duduk di bangku SMA. Pemahaman saya tentang buku sejarah masih minim. Saya mendapatkan informasi Max Havelaar dari sebuah tulisan panjang tentang perayaan Max Havelaar pada sebuah koran nasional. Saya membeli Max Havelaar tapi saya tak tuntas saya membacanya.

Saat mengerjakan karya ilmiah sebagai persyaratan lulus SMA, saya menulis tentang sajak-sajak Rendra. Beruntung saya menemukan sebuah buku kumpulan puisi Rendra yang berjudul Orang-Orang Rangkasbitung. Puisi-puisi itu merupakan pembacaan Rendra atas roman Max Havelaar. Rendra dengan sikap tegas menolak kekuasaan yang korup. Kekuasaan harus membela rakyat seperti tokoh dalam Max Havelaar, Saijah dan Adinda

Syahwat saya membaca Max Havelaar bergelora kembali setelah membaca Orang-Orang Rangkasbitung. Lepas SMA saya tuntaskan lagi membaca Max Havelaar.
Sebenarnya apa itu isi Max Havelaar? Buku itu dari bab I-IV hanya menulis kehidupan suasana perdagangan utamanya kopi di Eropa, terutama Belgia-Belanda. Baru pada bab V, menceritakan kehidupan ekonomi masyarakat Lebak yang memprihatinkan.
Pada paragraf pertama bab V, Multatuli menulis jalan di Lebak sulit dilalui. Karena banyak jalan berlubang dan berlumpur. Hampir sama kondisinya dengan jalan berlubang di Bojonegoro saat ini. Digambarkan kereta kuda yang lewat di Lebak harus berhati-hati melalui jalan berlubang. Bacalah kutipan ini, perjalanan diteruskan beberapa waktu tergoncang-goncang, sampai datang lagi saat menyedihkan, kereta masuk lagi sampai ke asnya ke dalam Lumpur. Maka kedengaran minta tolong.

Yang menarik saat Multatuli masuk ke bab menceritakan kondisi Lebak adalah bercerita tentang jalan. Dia bercerita infrastuktur jalan. Soal infrastruktur jalan merupakan permasalahan di Indonesia hingga saat ini.
Bahkan, persoalan infrastruktur juga disinggung oleh CLM Penders dalam buku Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North-east Java-Indonesia. Penders menulis kondisi Bojonegoro hampir sama dengan Lebak kedua di Hinda-Belanda seperti yang ditulis oleh Multatuli, yakni infrastruktur jelek dan dibelit kemiskinan.
Roman ini dibaca di seluruh Eropa. Dari roman ini, bangsa Eropa tahu, Belanda bukan sekadar menjajah tapi juga menghisap dan menindas bangsa Indonesia kebijakan Belanda menjajah Indonesia mendapat kritikan. Akhirnya, Belanda mengubah kebijakan dengan mengganti Tanam Paksa dengan Politik Etis. Sayang, kebijakan politik etis juga tak tuntas.
Membaca ulang Max Havelaar, seperti membaca alur cerita kolonial yang filmis. Kekuasaan cenderung arogan dan menindas. Namun, menjadi berkuasa harus berpijak kepada politik kesejahteraan.




samudrabanyubening










 
Rabu, 28 Juli 2010
 
Dua pekan lalu, saya berkunjung ke rumah dalang wayang krucil kuno, Mbah Soekijah di Desa Soko Kecamatan Temayang, saya teringat novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Dua tokoh perempuan yang hampir sama, yakni merawat seni tradisi. Mbah Soekijah tetap mendalang dengan wayang krucilnya dan Srintil tokoh utama dalam Ronggeng Dukuh Paruk yang setia menjadi seorang ronggeng desa.
Namun, kesetiaan merawat kesenian tradisional terasa langka pada era saat ini. Sebab, bukan hanya pemerintah yang kurang peduli, tapi juga laju kebudayaan makin meminggirkan mereka. Tapi, kesetiaan memang tak pernah mengenal musim dan zaman. Dia harus tetap dirawat agar tidak punah.
Awalnya, saya kurang akrab dengan karya-karya Ahmad Tohari. Tapi, novel Ronggeng Dukuh Paruk membuat saya jatuh hati. Sebuah cerita yang filmis tentang jalan hidup dan pergulatan penari ronggeng dengan zamannya. Seperti novel Para Priyayi karya Umar Kayam, Ahmad Tohari mampu menukik ke dalam persoalan psikologi tokoh dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Jika novel Para Priyayi merupakan kitab sosiologi perubahan sosial kaum elit di Jawa. Maka Ronggeng Dukuh Paruk sebenarnya adalah kitab perubahan sosiologi masyarakat desa atau masyarakat kelas bawah. Bukan hanya perubahan kultural, tapi juga perubahan psikologi masyarakat desa.
***
Saya mengenal Ahmad Tohari saat SMA di Solo. Bukan dari karya sastranya tapi dari esai-esainya dalam Mas Mantri Gugat. Esai-esainya enak dibaca, mengangkat persoalan sosial dari kacamata masyarakat kelas bawah.
Saat kuliah, teman se kampus mengkaji novel Ronggeng Dukuh Paruk secara sosiologi menggunakan teori Michael Foucult. Saya tertarik membaca kajian itu. Jadilan saya membeli novel itu. Mak thek…rasanya di hati usai saya membaca novel itu, seorang Srinthil harus berjuang sendiri merawat seni tradisional ronggeng, apalagi kesenian ronggeng juga dicap sebagai pengikut partai terlarang pada awal Orde Baru. Bukan hanya itu, tarian ronggeng dianggap erotis sehingga dapat merusak moral generasi muda. Sehingga pergulatan Srintil cukup kompleks, merawat kesenian tradisional tapi dia juga berhadapan dengan masyarakat yang sok moralis dan pemerintah yang anti-kesenian.
Sayang, saya tidak lengkap dan tuntas membaca lanjutan dari Ronggeng Dukuh Paruk, yakni Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala. Beberapa kali, saya ngubek-ngubek toko buku di Semarang tapi tidak menemukan dua novel lanjutan dari Ronggeng Dukuh Paruk itu.
Tapi untung, saya masih menemukan dua novel karya Ahmad Tohari lainnya, yakni Kubah dan Bekisar Merah. Dua novel yang juga menjadi karya besar dari Ahmad Tohari. Kubah pernah menyabet Penghargaan Yayasan Buku Utama pada 1981 dan diterjemahkan ke Bahasa Jepang. Sedangkan Bekisar Merah pernah menjadi cerita bersambung di harian Kompas.
Ahmad Tohari hingga kini masih setia tinggal di Banyumas. Ahmad Tohari enggan pindah ke kota atau Jakarta seperti penulis lainya. Dinamika sastra yang terus bergerak ternyata juga tak menyurutkan Ahmad Tohari meninggalkan Banyumas.
Ditengah gencarnya, karya sastra yang bertema tubuh dan bergaya surealis, saya masih merindukan karya sastra yang realis. Yang berbicara bukan hanya untuk diri sendiri dan kaumnya saja. Tapi juga menyuarakan hati nurani masyarakat yang terpinggirkan.
Seperti Ahmad Tohari masih setia menunggu ronggengnya yang tak pernah mati.



samudrabanyubening

 http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       on