Reporter: Hazhu Muthoharoh
blokBojonegoro.com - Sastra dan budaya baca di Bojonegoro dikupas dalam sebuah seminar di Institute Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Bojonegoro Minggu (3/2/2013). Dalam seminar tersebut mahasiswa jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia diharapkan ikut menjadi pendorong minat membaca sastra di masyarakat.
Seminar yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB itu menghadirkan dua pembicara, yakni Anas AG alumnus UGM Yogyakarta dan Nanang Fahrudin pegiat Sindikat Baca. Dalam pemaparannya Anas AG menceritakan tentang sebuah karya sastra yang sudah mulai pudar di zaman modern seperti saat ini.
"Sastra itu soal rasa, masyarakat bisa lebih mudah memahami masalah sosial lewat sastra," ungkap pria berkacamata ini.
Sementara itu Nanang Fahrudin menjelaskan bahwa jika disederhanakan, dalam dunia sastra ada tiga "orang" yang mendiami "rumah sastra" yakni penulis(sastrawan), Kritikus sastra dan pembaca sastra.
Penulis buku "Membaca untuk Bojonegoro" ini juga menambahkan bahwa masyarakat Bojonegoro belum menjadikan sastra sebagai bacaan utama, sebagian lagi melihat satra hanyalah hiburan saja.
"Salah satu penyebab masih beradanya sastra di "ruang gelap" adalah mahalnya buku-buku sastra, apalagi untuk ukuran kantong siswa atau mahasiswa," ungkap pria dua anak ini.
Acara yang diikuti ratusan mahasiswa ini digelar di Aula atas Kampus IKIP PGRI Bojonegoro dengan dosen pembina Susanto. [zhu/lis]
Minggu, 03 Maret 2013
Minggu, 24 Februari 2013
Bojonegoro | Seminar Sastra, Mari Budayakan Baca Sastra
Bojonegoro | Seminar Sastra, Mari Budayakan Baca Sastra
Seminar Sastra, Mari Budayakan Baca Sastra
Minggu, 03 Februari 2013 15:00:21 Selasa, 01 Januari 2013
Asal Usul Desa Pomahan
Di desa Pomahan Kecamatan Baureno Kabupaten
Bojonegoro, yang terletak di sebelah barat baureno. Kurang lebih 5 km, terdapat
suatu makam kuno yang tergolong keramat khususnya bagi pegawai negeri.
Sampai sekarang untuk pegawai negeri yang sekiranya
sudah mengerti, tentu tidak akan berani menginjak dekat makan tersebut,
lebih-lebih masuk ke dalamnya. Tetapi bagi meraka yang belum mengerti, kalau
tidak bertanya-tanya terlebih dahulu, biasanya mendapatkan halangan entah
diberhentikan, diskors atau mendapat halangan—halangan lain.
Berdasarkan cerita dari orang-orang tua, di desa
tersebut terd
apat makam Demang Sosrobahu (Demang dari Negara Werkotho), ketika lari karena kalah perang dengan bala tentara dari Mataram. Adapun makam tersebut
dikenal dengan nama makam Mbah Dempok, yang berarti bahwa ia berlari sampai
mati tidak dapat lagi melanjutkan perjalanan.
Cerita mengenai makam Mbah Dempok di desa pomahan tersebut
juga terdapat hubungan dengan berdirinya desa Baureno, Desa Blongsong, Dukuh
Talun, makam Mbah Mijil dan Desa Tulung di Kecamatan Kepuhbaru.
Adapun asal mula makam-makam di desa-desa, menurut orang-orang
tua dan sesepuh di sekitar desa diceritakan:
Pada jaman itu di Kerajaan Mataram dipimpin oleh seorang raja
bergelar Sultan Mangkurat yang
mengadakan persekutuan dengan pemerintah Hindia Belanda di Batavia.
Sri Sultan dikaruniai seorang putra dan dua
putri, yaitu : Nyai Bandi, Pangeran Danu Sumitro dan Putri Kinasih.
Karena Sri Sultan sudah mulai tua, maka Sang Sultan mengharapkan Pangeran Danu Sumitro dapat
menggantikan kedudukannya. Namun satu-satunya Putra Mahkota
Kerajaan Mataram itu tidak mau melanjutkan kepemimpinan
Ayahandanya untuk menjadi Raja di Mataram dan
bertekad tidak ingin melaksanakannya. Kemudian Sang Pangeran meninggalkan Mataram.
Kepergian Pangeran Danu dari
Praja Mataram mendapat pertentangan yang
sangat hebat dari ayahandanya, walau Pangeran Danu meninggalkan Praja
dengan cara baik-baik sungkem dan
memohon restu namun Sang Raja tetap tidak memberikan ijin, bahkan
saat keberangkatannya sempat di
hadang prajurit utama kerajaan atas perintah Ayahandanya. Namun dengan sekali
gebrak prajurit-prajurit itu roboh dan bergelimpangan di tanah.
Pangeran Danu bukan orang sembarangan sejak,
kecil sudah di latih olah kanuragan . Satu-satunya anak laki-laki sekaligus
Sebagai seorang Putra Mahkota yang sejak awal sudah dipersiapkan matang-matang
dan kelak menggantikan kedudukan Ayahandanya menjadi Raja.
Akhirnya dengan berat hati Sultan
Amangkurat merelakan putranya meninggalkan
Mataram namun dengan satu sarat harus ditemani Tumenggung Surengrono dan
Nyai Alap Alap juga prajurit.
Diceritakan sesudah keberangkatanan Pangeran Danu Sumitro dan Tumenggung
Surengrono, Istana Mataram didatangi pencuri yang
saktimandraguna bernama Sontoboyo, yang berasal dari Madura. Kesaktian
pencuri itu
diantaranya mampu berubah wujud,
pada malam hari menjadi
buaya. Tetapi jika malam hari ia berubah menjadi manusia kembali. Saat menjadi manusia sering
melakukan tindakan-tindakan asusila dan perbuatan adigang-adigung yang
nerugikan masyarakat. Dengan ilmu panglimunannya Sontoboyo mampu menghilang dan dapat masuk di “keputrian” untuk
mengumbar hawa nafsunya, melakukan perbuatan zina tanpa seorangpun yang
mengetahuinya.
Perbuatan yang tidak baik
layaknya menyimpan bangkai, serapat-rapatnya ia menyimpan pada akhirnya berbau
juga. Lama-“ l”kelamaan perbuatan pencuri itu tercium diketahui oleh Sri
Sultan.
Namuni karena Sang Putri sudah terlanjur jatuh cinta, maka Sri Sultan merasa sulit untuk
memberikan hukuman dalam
memutuskan perkara tersebut
Akhirnya pencuri sakti yang bernama Sontoboyo itu
diperintahkan untuk pergi ke Negara Werkhoto. Untuk meminta Putranya (Danu
Sumitro) yang sudah menjadi raja di Negara Werkotho dan Patih Surengrono dengan
seluruh prajuritnya kembali ke Mataram. apabila berhasil melaksanakan perintah raja, si
pencuri itu diakui menjadi putranya, sedangkan apabila tidak dapat maka akan dijatuhi hukuman mati. Sontoboyo lalu berangkat dengan
disertai dengan bala tentara dari Mataram.
Ringkas cerita, Sontoboyo beserta bala tentaranya
itu sampalah di Negara Werkhoto, dan bertemu dengan Patih Surengrono. Dalam pertemuan itu terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan yang menjadikan sebab terjadinya peperangan dari kedua orang
sakt tui. Pada saat
peperangan tersebut, Sontoboyo berhasil diikat dan dilemparkan ke sungail. Tetapi tidak kemudian
berubahlah Sontoboyo menjadi “buaya putih" dan menyerang Patih Surengrono. Ki patih yang terlena
akhirnya ia tergigit oleh buaya tersebut.
Melihat keadaan musuhnya yang terluka itu, bala
tentara Mataram berniat ingin membunuhnya, tetapi Ki patih dapat menghindari dengan merangkak menjauhi
buaya itu. Saat itulah Patih Surengrono berkesempatan mencabut kerisnya kemudian digariskan ke tanah yang dilewatinya.
Pada saat itu terjadilah keanehan, ketika bala tentara Mataram melangkah di atas tanah bekas garis- goresan keris Patih Surengrono tersebut, seketika prajurit-prajurit itu
menjadi bingung dan gelap penglihatannya, matanya menjadi kabur (baur)
tidak tahu lagi kemana larinya Patih Surengrono. Nah, di tempat itulah sekarang bernama desa baureno.
Pelarian Patih Surengrono dari
tempat peperangan sampailah di suatu
tempat. Sang
Patih sudah tidak dapat melanjutkan perjalanannya lagi, karena terlalu banyak darah yang keluar dan
akhirnya ia meninggal
di tempat it.. Jenazahnya dimakamkan di desa
itu, dan yang sekarang disebut dengan makam
“Mbah Mijil”
Melihat musuhnya lari, Sontoboyo berusaha
mengejar. Akan tetapi setelah ia menginjak tanah yang digaris Patih Surengrono dengan kerisnya yang ampuh itu Sontoboyo matanya menjadi kabur dan kehilangan jejak,
tidak tahu
lagi kemana larinya Patih Surongrono.
Karena
lelah, lalu itu ia istirahat di sebelah
utara alun-alun Werkotho. Sekarang tempat tersebut Desa Talun. Karena sudah
tidak lagi berjumpa dengan musuhnya, maka Sontoboyo langsung pergi ke
Istana Werkotho. Sesudah berjumpa dengan pangeran
Danu Sumitro dan Nyai Bandi lalu menyampaikan maksudnya, agar
Pangeran bersedia diajak kembali bersama-sama. Ke Mataram.
Pangeran Danu Sumitro
menyanggupi, tetapi sang Pangeran dan Nyai Bandi ijin akan mandi terlebih dahulu, sedangkan Sontoboyo diperintahkan menunggu
di pintu gerbang. Suatu hal yang ajaib terjadi, sesampainya
di danau dua orang itu hilang dan tidak diketahui keberadaannya.
Prajurit Werkhoto mengamuk, sekuat tenaga melawan bala tentara
mataram
hinggatitik darah penghabisan,karena prajurit Werkhoto tinggal sedikit maka
meraka kalah, sedangkan yang lain lari menghindari peperangan.
Nyai Alap-Alap berlari ke selatan, dan sesudah
sampai di hutan dia tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan. Dia
minta tolong,tapi karena jauh dari tempat kediaman dan memang di tengah hutan,
maka Kyai Alap-Alap tidak ada yang menolong, sampai akhirnya meninggal dan di
makamkkan di situ. Tempat itu serang dinamakan desa
Tulung.
Surengrono berlari ke utara, dan akhirnya sampailah di desa
pomahan. Di tempat itu terpaksa dia tidak dapat melanjutkan
perjalanan dan akhirnya meninggal. Jasadnya dimakamkan di situ kemudian tempat itu dikenal dengan nama Dempok. Ada larangan untuk pegawai negeri untuk jangan
sampai masuk ke tempat itu.
Para prajurit Werkhoto habis, maka Sontoboyo
menjemput bala tentara Mataram, dan diperintahkan kembali untuk menyampaikan
laporan
pada Sultan.Sontoboyo merasa malu terhadap Sri Sultan dan diapun memutuskan untuk kembali ke Madura,
karena tidak berhasil menyelesaikan tugas membawa pulang musuhnya baik hidup maupun mat ke Matarami.
Suatu hal yang ajaib, sesampainya di muara sungai
Solo dan akan menyeberangg ke Madura perahunya karam, bahkan si Sontoboyo
kembali menjadi buaya putih.
Hingga sekarang saat sungai bengawan solo meluap/banjir, biasanya buaya
putih itu akan muncul. Menunjukkan bahwa dia akan datang untuk minta maaf kepada Mbah
Dempok yang berada di desa Pomahan. Dan banjir tersebut tidak akan surut
sebelum Sontoboyo kembali ke sungai bengawan solo.
Selasa, 25 Desember 2012
Gus Ris Fondatin Louncing Tiga Buku
| sastra-bojonegoro.blogspot.com | ||||||||
| Gus Ris Fondation Louncing Tiga Buku Jilid 2
|
Sabtu, 20 Oktober 2012 12:13:37 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Reporter : Tulus Adarrma
Bojonegoro (beritajatim.com) -
Tiga buku baru terbitan Gus Ris Fondation, yang ditulis oleh para
sastrawan dan penulis asli Bojonegoro dilauncing hari ini. Peluncuran
buku dilakukan di Hotel Pazia Bojonegoro, dengan tema 'Bojonegoro
Merayakan Gagasan'.
Mereka para penulis, adalah Nanang Fahrudin, yang menulis bukunya dengan judul "Buku yang Membaca Buku". Dalam tulisanya didalam buku setebal 93 lembar itu adalah upaya penulis agar para pembaca lebih bisa mengakrabkan diri dengan dunia buku dan tulis menulis.
Seperti yang tertulis dalam isi buku itu, lebih dari pengalaman penulis pribadi, bagaimana ia dengan caranya sendiri mengakrabkan diri dengan buku yang dibacanya serta pengalaman-pengalamannya mendapatkan buku bermutu.
"Buku saya yang paling tipis dan bahasanya Indonesia, ini beda dengan yang lain yang 2 karya lain menggunakan bahasa Jawa. Tapi ini semua sama karena intinya ingin menyampaikan pesan," ujar Nanang Fahrudin, Sabtu (20/10/2012).
Proses pencarian saat mencari buku, dan pada akhirnya dibeli itu juga disebutkan dalam buku tulisannya."Buku kecil saya ini sebenarnya saya persembahkan untuk buku-buku yang sudah saya baca," katanya.
Buku kedua, yang ditulis oleh Wartawan Senior, Kang Zen Samin, dengan judulnya Untu Emas. Kang Zen melalui Untu Emasnya itu berharap tetap para generasi muda tetap melestarikan budaya Jawa. "Budaya Jawa itu Adiluhung, kebak tuntunan dari anak Kecil hingga Dewasa," ujar Kang Zen.
Dan buku ketiga, dengan judul Wayang Urip, yang ditulis oleh Yonathan Rahardjo. Dalam bukunya itu, ditulis dengan cara Jawa Kontemporer. Penulis, pria yang juga sebagai seorang manteri hewan itu, memberikan pengertian bahwa setiap diri manusia merupakan tokoh pewayangan. "Karakter satu orang itu mewakili satu wayang," jelasnya.
Seakan hari ini para penulis sedang merayakan gagasan. Sebelumnya, Gus Ris, juga sudah melauncing 3 buku, yakni, Catatan Sastra dan Cerita Kecil Tentangnya, yang ditulis oleh Anas Abdul Ghofur, Gara-gara ka Giri-giri, ditulis oleh sastrawan Jawa, Djayus Pete, dan Cerita dari Mojodelik yang ditulis Muhammad Rokib.
Gur Ris Fondation, berharap dengan peluncuran buku pada jilid kedua yang bertema"Bojonegoro Merayakan Gagasan" itu bermaksud untuk mengangkat para penulis, khususnya di kabupaten Bojonegoro. "Pekarya akan ditempatkan sejajar dengan para pengambil kebijakan di Daerah masing-masing," kata Agus Susanto Rismanto, Owner GusRisFondation. [uuk/ted]
Mereka para penulis, adalah Nanang Fahrudin, yang menulis bukunya dengan judul "Buku yang Membaca Buku". Dalam tulisanya didalam buku setebal 93 lembar itu adalah upaya penulis agar para pembaca lebih bisa mengakrabkan diri dengan dunia buku dan tulis menulis.
Seperti yang tertulis dalam isi buku itu, lebih dari pengalaman penulis pribadi, bagaimana ia dengan caranya sendiri mengakrabkan diri dengan buku yang dibacanya serta pengalaman-pengalamannya mendapatkan buku bermutu.
"Buku saya yang paling tipis dan bahasanya Indonesia, ini beda dengan yang lain yang 2 karya lain menggunakan bahasa Jawa. Tapi ini semua sama karena intinya ingin menyampaikan pesan," ujar Nanang Fahrudin, Sabtu (20/10/2012).
Proses pencarian saat mencari buku, dan pada akhirnya dibeli itu juga disebutkan dalam buku tulisannya."Buku kecil saya ini sebenarnya saya persembahkan untuk buku-buku yang sudah saya baca," katanya.
Buku kedua, yang ditulis oleh Wartawan Senior, Kang Zen Samin, dengan judulnya Untu Emas. Kang Zen melalui Untu Emasnya itu berharap tetap para generasi muda tetap melestarikan budaya Jawa. "Budaya Jawa itu Adiluhung, kebak tuntunan dari anak Kecil hingga Dewasa," ujar Kang Zen.
Dan buku ketiga, dengan judul Wayang Urip, yang ditulis oleh Yonathan Rahardjo. Dalam bukunya itu, ditulis dengan cara Jawa Kontemporer. Penulis, pria yang juga sebagai seorang manteri hewan itu, memberikan pengertian bahwa setiap diri manusia merupakan tokoh pewayangan. "Karakter satu orang itu mewakili satu wayang," jelasnya.
Seakan hari ini para penulis sedang merayakan gagasan. Sebelumnya, Gus Ris, juga sudah melauncing 3 buku, yakni, Catatan Sastra dan Cerita Kecil Tentangnya, yang ditulis oleh Anas Abdul Ghofur, Gara-gara ka Giri-giri, ditulis oleh sastrawan Jawa, Djayus Pete, dan Cerita dari Mojodelik yang ditulis Muhammad Rokib.
Gur Ris Fondation, berharap dengan peluncuran buku pada jilid kedua yang bertema"Bojonegoro Merayakan Gagasan" itu bermaksud untuk mengangkat para penulis, khususnya di kabupaten Bojonegoro. "Pekarya akan ditempatkan sejajar dengan para pengambil kebijakan di Daerah masing-masing," kata Agus Susanto Rismanto, Owner GusRisFondation. [uuk/ted]
Ombak Wengi, Ombak Kahuripan
![]() |
| Add
Ombak Wengi
|
Ombak Wengi
BERMULA dari sebuah sentilan, lalu jadilah
sebuah bunga rampai puisi. Demikianlah Yusuf Susilo Hartono (YSH), yang
dikenal luar sebagai salah satu wartawan senior seni rupa itu
melatarbelakangi buku kumpulan puisi jawa, atau geguritan berjudul Ombak Wengi.Antalogi 99 Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer Pilihan 1981-2011.
Syahdan, dia bercerita, pada tahun 90-an ketika mengikuti Kongres
Bahasa Indonesia, Profesor Suripan Sadi Hutomo -yang dikenal sebagai HB
Jassin Sastra Jawa- mengatakan kepada dirinya, jika dia telah menjadi
pengkhianat Sastra Jawa karena telah menyeberang ke Sastra Indonesia,
dan mulai emoh menulis Sastra Jawa lagi, "Hanya gara-gara saya harus
menyambung nasib bekerja ke Jakarta, dan meninggalkan Bojonegoro sebagai
akar Sastra Jawa saya," katanya.
Berangkat dari sentilan itu, YSH yang tidak hanya menulis puisi,
tapi juga melukis sketsa, juga melakukan reportase di sejumlah media
tentunya dan menjalankan sejumlah organinasi kesenian, akhirnya terus
mengasah jiwa sastra Jawanya. "Tidak semua jadi gurit, tapi apapun itu,
harus menjadi penanda dalam hidup saya," imbuh dia.
Maka, langkah selanjutnya, setelah mengkurasi sejumlah geguritannya
yang membentang dari tahun 1981 hingga 2011, maka lahirlah buku ini.
Sejauh mana geguritan YSH memaknai kehidupan metropiltan seperti
Jakarta? Sangat berwarna. Atau dalam bahasa Titah Rahayu dari Kalawarti
Jaya Baya, menuliskan,"Guritan-guritane YSH ngelengake aku marang lukisan-lukisan sketsane. Spontan, jujur, lugas, open, serta trengginas nangkep moment. Prasaja neng nyeni."
Seberapa spontan, jujur, terbuka, lugas, bersahaja dan mengandung
nilai seni dari 99 kumpulan puisi Jawa ini? Tentu sangat gegabah jika
langsung mengamini pendapat di atas. Meski yang pasti, menyimak puisi
Jawa bukan pekerjaan mudah, menimbang nilai rasanya -jika menilik acuan
geografis, Sastra Jawa diasup masyarakat Jawa Tengah dan Timur yang
sangat mempunyai perbedaan lebar dalam hal nilai rasa bahasa Jawa.
Tapi apapun itu, buku Ombak Wengi ini telah malih menjadi
semacam kazanah kehidupan Indonesia dari kaca mata seorang penyair,
pelukis, pewarta, dan organisator yang baik. Sebab di dalamnya berbagai
sajak, atau guritnya bernarasi tentang berbagai hal. Dari ihwal
hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhannya, manusia
dengan negaranya, hingga manusia dengan dirinya sendiri.
Teristimewa untuk ihwal manusia dengan Tuhannya, terlihat jelas pada
gurit "Adan", "Angon", "Jejapa", "Kere", "Ombak Wengi", "Rembulan Ing
Pucuk Esuk", "Kembang Jatirogo", "Ngilo", dan masih banyak gurit
lainnya. Dari sini sangat bisa dibaca jika aku orang pertama adalah
sosok yang religius. Karena hampir semua perkara senantiasa YSH
membawa-bawa Gusti Allah dalam guritnya.
Meski dalam beberapa hal, YSH langsung memilih posisi bersemuka
dengan pembuat kebijakan negeri ini. Seperti terlihat di gurit berjudul
"Jula-Juli Monas", "Jare Demokrasi", "Gendera Mung Bisa Dedonga",
"Indonesia Sia-Sia", "Ndonyane Iklan" dan beberapa lainnya. Atau
simaklah sebentar pada gurit berjudul "Bangsa Apa Iki"? YSH pada bait
terakhirnya itu, dia menuliskan: //Bangsa apa awake dhewe iki/
Maling pada ngganggi dasi lan lenga wangi luar neger/Angka-angka ing
layar komputer departemen/ munyer seser jungkir walik kaya dene
akrobat/ Dadi angka-angka sekongkol miliaran lan triliunan/ banjur
wong0wing padha wijik sikil lan tangan/ Mbuwang saben awu iblis lan
setan/ Banjur sajadah digelar. Allahu AKbar/ Gusti Allah Nyuwun
Ngapura!//.
Demikianlah YSH yang pada tahun 84-an bersama Arswendo Atmowiloto
dan George Quin (Ahli Sastra Jawa dari Australia) pernah "menghidupkan"
Sastra Jawa via bendera Sanggar Sastra "Pamarsudi Sastra Jawi
Bojonegoro (PSJB)" mengguritkan perasaannya. Menyaksikan Indonesia,
juga kehidupan dan Tuhan dari kaca mata kesenian dan kewartawanannya.
Tercatat sampai saat ini, setelah bekerja di berbagai media cetak, YSH
sekarang menjabat sebagai Pemred majalah Visual Art.
=========================
Judul buku : Ombak Wengi.Antalogi 99 Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer Pilihan 1981-2011.
Penulis : Yusuf Susilo Hartono.
Penerbit: Elmatera.
Cetakan: I, Oktober 2011
Tebal buku : VII - 114 halaman.
(Benny Benke/CN15)
Judul buku : Ombak Wengi.Antalogi 99 Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer Pilihan 1981-2011.
Penulis : Yusuf Susilo Hartono.
Penerbit: Elmatera.
Cetakan: I, Oktober 2011
Tebal buku : VII - 114 halaman.
Senin, 24 Desember 2012
Setia Tanpa Jeda
![]() |
| Add
link buku ini di Leutika Prio disini
Judul: Setia Tanpa Jeda
ISBN: 978-602-225-216-0
Terbit: Desember 2011
Tebal: 206 halaman
Harga: Rp. 43.200,
PENULIS BUKU SETIA TANPA JEDA
Deskripsi:
Setia Tanpa Jeda merupakan kumpulan cerpen dan puisi pilihan yang
terseleksi dari hampir 400 peserta yang mengikuti ajang lomba UNSA Award
2011. Di antaranya memuat cerpen terbaik UNSA Award 2011, yaitu “Senja
Terakhir” karya Zoel Ardi, dan puisi terbaik UNSA Award 2011, yaitu
“Ziarah Malam Qamariyah” karya Shohifur Ridho’i.
Para penulis di dalam buku ini terdiri dari para penulis muda yang
karya-karyanya telah banyak dipublikasikan, baik dalam bentuk buku
maupun pada media cetak. Di dalam buku ini pula terdapat beberapa
penulis berprestasi yang telah memenangkan berbagai perlombaan menulis
di tingkat nasional. Artinya, buku ini menampilkan karya para penulis
muda berbakat, yang perlu dikedepankan demi kian semaraknya dunia
literasi tanah air.
Penulis: Zoel Ardi, Shohiful Ridho I, Dkk.
CERPEN
(1) Zoel Ardi. (2) Ika Pratiwi. (3) Eko Hartono (4) Rama J Mawardi (5)
Rana Wijaya Soemadi. (6) Rafif Amir.(7) Ade Batari.(8) Ardy Kresna
Crenata. (9) Desti Adzkia. (10 Sandza. (11) Dariansyah Putra. (12) Ahmad
Ijazi H.(13) Aia Aisyah Yusdiyani. (14) Ragil Kuning. (15) Pretty
Angelia Wuisan (16) Yetti A. Ka (17) Dang Aji Sidik (18) Nessa Kartika
PUISI
(01) Shohifur Ridho Ilahi (02) Dalasari Pera (03) Kurnia hidayati. (04)
M. Maniro AF (05) Gampang Prawoto(06) Kemas Ferri Rahman (07) Rini
Febriani Hauri. (08) Edu Badrus Shaleh (09) Zen AR (10) El Fasya. (11)
Dee Dyantry (12) Usup Supriyadi (13) Ibeth Beth-I (14) Oksa Puko
Yuza(15) Azzam Asrawi (16) Wldansyah basthomy ion
|
Sabtu, 15 Desember 2012
PSJB Ultah ke 30
Ultah ke 30, Pamarsudi Sastra Jawa Butuh Regenerasi
Reporter : Tulus Adarrma
Bojonegoro (beritajatim.com) -- Jarak rumah yang rindang dengan pohon dan burung yang banyak berkicau didepan rumah milik JFX Hoery yang akrab dipanggil Rama Hoery, di Jalan Diponegoro 59 B Padangan Bojonegoro harus ditempuh sekitar 1 jam perjalanan jika lalu lintas normal, namun karena banyak truk proyek yang hilir mudik sehingga harus molor hingga 1,5 jam dari Kota Bojonegoro.
Namun setelah sampai, panas penat perjalanan serasa luntur karena terdengar merdu suara siter yang dimainkan oleh Ny Rukini, Menyambut tamu yang datang dalam acara ulang tahun Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) ke 30, Minggu (01/07/2012)
Upacara dilakukan dengan model sangat sederhana, yakni duduk lesehan dibawah pohon yang rindang di depan rumah. Namun karena berkumpul para sastrawan jawa dan indonesia sehingga menjadi sangat meriah.
Apalagi dihiasi dengan pembacaan geguritan (puisi), diiringi musik solo siter menambah khas tentang kesederhanaan yang guyup rukun. Selain hanya berkumpul dan hajatan, mereka para sastrawa ini juga berdiskusi tentang proses mereka dan karya-karya mereka.
Rama Hoery, sebagai Ketua PSJB mengatakan, jika setelah PSJB ini masuk diusia yang ke 30, diharapkan anggotanya yang kini sudah mencapai sekitar 30an orang itu bisa lebih produktif. "Dengan gotong royong untuk menerbetkan buku sendiri.
Setiap tahun harapanya bisa produktif, agar bisa diaplaksikan di kongres sastra jawa," harapnya, Minggu (01/07/2012).
Seperti karya kumpulan cerkak milik Sri Setya Rahayu, Rembulane wis Ndhadhari, kumpulan dari 30 cerkak yang bercerita tentang sebuah perjalanan. "Ini diharapkan juga menjadi semangat untuk para generasi muda untuk mempelajari sastra jawa. Sehingga ada regenerasi baru," lanjut Rama Hoery yang juga sebagai jurnalis senior jawa itu.
Sebab dalam pelestarian sastra jawa ini, katanya, sudah waktunya untuk regenerasi, kepada yang muda-muda. Sementara melihat trend anak muda saat ini lebih sedikit yang melirik sastra jawa dibanding dengan sastra indonesia. "Sebenarnya bahasa jawa menjadi pakar budaya nasional, sehingga harus mempelari sastra jawa yang dari leluhur,"pungkasnya. [uuk/ted]
Senin, 09 April 2012
Yusuf Susilo Mendapat Hadiah Rancage 2012
Hadiah Sastra Rancage 2012
![]() |
Add Tiga Karya Raih Hadiah Sastera Rancage 2012
Selasa, 31 Januari 2012, 16:26 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yayasan Kebudayaan Rancage kembali
menggelar perhelatan Hadiah Sastera Rancage. Hadiah ini merupakan bentuk
apresiasi yang diberikan kepada para penggiat sastera Sunda, Jawa,
Bali, dan Lampung. Pada perhelatan ke-24 tahun kali ini, Hadiah Sastera
Rancage menganugerahi hadiah kepada tiga karya sastra
Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajip Rosidi, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (31/1), menyatakan Hadiah Sastera Rancage untuk bahasa Sunda pada tahun ini diberikan kepada Acep Zamzam Noor untuk kumpulan sajaknya yang berjudul Paguneman. Sedangkan untuk bidang jasa dalam bahasa Sunda diraih Etti RS. Hadiah serupa untuk bahasa Jawa diberikan untuk karya sastra berjudul Ombak Wengi, karya Yusuf Susilo Hartono. Ombak Wengi berhasil mengungguli sembilan karya lainnya. Sementara untuk jasa dalam pengembangan bahasa dan sastera Jawa adalah dosen jurusan Bahasa dan Sastera Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Sucipto Hadi Purnomo. Untuk kategori bahasa Bali, anugerah ini diberikan pada tulisan berjudul Metek Bintang (Menghitung Bintang) karya Komang Adnyana. Sementara untuk jasa dalam mengembangkan bahasa dan sastera Bali diraih I Made Sugianto. Sugianto berjasa dalam menulis karya dalam bahasa Bali moderen, terutama cerita pendek. Selain itu, dia juga berusaha menerbitkan sastra Bali moderen dalam buku Jasa I Made Sugianto terhadap perkembangan sastera Bali ada dua hal. Pertama, dia banyak menulis karya dalam bahasa Bali moderen terutama berupa cerita pendek yang dimuat dalam Bali Orti, suplemen Bali Post Minggu yang khusus untuk bahasa Bali. Kedua, dalam usahanya menerbitkan karya-karya sastera Bali moderen menjadi buku melalui penerbit kecil yang dikelolanya bernama Pustaka Ekspresi. Selain itu, Yayasan Kebudayaan Rancage juga memberikan Hadiah Samsudi untuk bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda. Hadiah ini diberikan untuk tulisan berjudul Asal-Usul Hayam Pelung jeung Dongéng-dongéng Cianjur Lianna, karya Tatang Setiadi.
Redaktur: Dewi Mardiani
Reporter: Nidia Zuraya
sastra - bojonegoro.blogspot.com caption |
Minggu, 08 April 2012
CERKAK : JFX . Hoery (2)
Langganan:
Postingan (Atom)







