Minggu, 24 Februari 2013

Bojonegoro | Seminar Sastra, Mari Budayakan Baca Sastra

Bojonegoro | Seminar Sastra, Mari Budayakan Baca Sastra
Seminar Sastra, Mari Budayakan Baca Sastra
Minggu, 03 Februari 2013 15:00:21 Seminar Sastra, Mari Budayakan Baca Sastra
Reporter: Hazhu Muthoharoh

blokBojonegoro.com - Sastra dan budaya baca di Bojonegoro dikupas dalam sebuah seminar di Institute Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Bojonegoro Minggu (3/2/2013). Dalam seminar tersebut mahasiswa jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia diharapkan ikut menjadi pendorong minat membaca sastra di masyarakat.

Seminar yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB itu menghadirkan dua pembicara, yakni Anas AG alumnus UGM Yogyakarta dan Nanang Fahrudin pegiat Sindikat Baca. Dalam pemaparannya Anas AG menceritakan tentang sebuah karya sastra yang sudah mulai pudar di zaman modern seperti saat ini.

"Sastra itu soal rasa, masyarakat bisa lebih mudah memahami masalah sosial lewat sastra," ungkap pria berkacamata ini.

Sementara itu Nanang Fahrudin menjelaskan bahwa jika disederhanakan, dalam dunia sastra ada tiga "orang" yang mendiami "rumah sastra" yakni penulis(sastrawan), Kritikus sastra dan pembaca sastra.

Penulis buku "Membaca untuk Bojonegoro" ini juga menambahkan bahwa masyarakat Bojonegoro belum menjadikan sastra sebagai bacaan utama, sebagian lagi melihat satra hanyalah hiburan saja.

"Salah satu penyebab masih beradanya sastra di "ruang gelap" adalah mahalnya buku-buku sastra, apalagi untuk ukuran kantong siswa atau mahasiswa," ungkap pria dua anak ini.

Acara yang diikuti ratusan mahasiswa ini digelar di Aula atas Kampus IKIP PGRI Bojonegoro dengan dosen pembina Susanto. [zhu/lis]


Selasa, 01 Januari 2013

Asal Usul Desa Pomahan


DESA POMAHAN

Di desa Pomahan Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro, yang terletak di sebelah barat baureno. Kurang lebih 5 km, terdapat suatu makam kuno yang tergolong keramat khususnya bagi pegawai negeri.
Sampai sekarang untuk pegawai negeri yang sekiranya sudah mengerti, tentu tidak akan berani menginjak dekat makan tersebut, lebih-lebih masuk ke dalamnya. Tetapi bagi meraka yang belum mengerti, kalau tidak bertanya-tanya terlebih dahulu, biasanya mendapatkan halangan entah diberhentikan, diskors atau mendapat halanganhalangan lain.
Berdasarkan cerita dari orang-orang tua, di desa tersebut terd apat makam Demang Sosrobahu (Demang dari Negara Werkotho), ketika lari karena kalah perang dengan bala tentara dari Mataram. Adapun makam tersebut dikenal dengan nama makam Mbah Dempok, yang berarti bahwa ia berlari sampai mati tidak dapat lagi melanjutkan perjalanan.
 Cerita mengenai makam Mbah Dempok di desa pomahan tersebut juga terdapat hubungan dengan berdirinya desa Baureno, Desa Blongsong, Dukuh Talun, makam Mbah Mijil dan Desa Tulung di Kecamatan Kepuhbaru.
Adapun asal mula makam-makam di desa-desa, menurut orang-orang tua dan sesepuh di sekitar desa diceritakan:

Pada jaman itu di Kerajaan Mataram dipimpin oleh seorang raja  bergelar Sultan Mangkurat yang mengadakan persekutuan dengan pemerintah  Hindia Belanda di Batavia.
Sri Sultan dikaruniai seorang putra dan dua  putri, yaitu : Nyai BandiPangeran Danu Sumitro  dan Putri Kinasih.
Karena Sri Sultan sudah mulai tua, maka Sang Sultan mengharapkan Pangeran Danu Sumitro dapat menggantikan kedudukannya. Namun satu-satunya Putra Mahkota Kerajaan Mataram itu  tidak mau melanjutkan kepemimpinan Ayahandanya untuk menjadi Raja di Mataram dan bertekad tidak ingin melaksanakannya. Kemudian Sang Pangeran meninggalkan Mataram.

Kepergian Pangeran Danu dari Praja Mataram mendapat pertentangan yang  sangat hebat dari ayahandanya, walau Pangeran Danu meninggalkan Praja dengan cara baik-baik  sungkem dan memohon restu namun Sang Raja tetap tidak memberikan  ijin, bahkan  saat   keberangkatannya sempat di hadang prajurit utama kerajaan atas perintah Ayahandanya. Namun dengan sekali gebrak prajurit-prajurit itu roboh dan bergelimpangan di tanah.
 Pangeran Danu bukan orang sembarangan sejak, kecil sudah di latih olah kanuragan . Satu-satunya anak laki-laki sekaligus Sebagai seorang Putra Mahkota yang sejak awal sudah dipersiapkan matang-matang dan kelak menggantikan kedudukan Ayahandanya menjadi Raja.
Akhirnya dengan berat hati Sultan Amangkurat merelakan putranya meninggalkan  Mataram namun dengan satu sarat harus ditemani Tumenggung Surengrono dan Nyai Alap Alap juga  prajurit.



Diceritakan sesudah keberangkatanan Pangeran Danu Sumitro dan Tumenggung Surengrono, Istana Mataram didatangi pencuri yang saktimandraguna bernama Sontoboyo, yang berasal dari Madura. Kesaktian pencuri itu diantaranya mampu berubah wujud, pada malam  hari menjadi buaya. Tetapi jika malam hari ia berubah menjadi manusia kembali. Saat menjadi manusia sering melakukan tindakan-tindakan asusila dan perbuatan adigang-adigung yang nerugikan masyarakat. Dengan ilmu panglimunannya Sontoboyo mampu menghilang dan dapat masuk di keputrian untuk mengumbar hawa nafsunya, melakukan perbuatan zina tanpa seorangpun yang mengetahuinya.
Perbuatan yang tidak baik layaknya menyimpan bangkai, serapat-rapatnya ia menyimpan pada akhirnya berbau juga. Lama- lkelamaan perbuatan pencuri itu tercium diketahui oleh Sri Sultan. Namuni karena Sang Putri sudah terlanjur jatuh cinta, maka Sri Sultan merasa sulit untuk memberikan hukuman dalam memutuskan perkara tersebut
            Akhirnya pencuri sakti yang bernama Sontoboyo itu diperintahkan untuk pergi ke Negara Werkhoto. Untuk meminta Putranya (Danu Sumitro) yang sudah menjadi raja di Negara Werkotho dan Patih Surengrono dengan seluruh prajuritnya kembali ke Mataram. apabila  berhasil melaksanakan perintah raja, si pencuri itu diakui menjadi putranya, sedangkan apabila tidak dapat maka akan dijatuhi hukuman mati. Sontoboyo lalu berangkat dengan disertai dengan bala tentara dari Mataram.
Ringkas cerita, Sontoboyo beserta bala tentaranya itu sampalah di Negara Werkhoto, dan bertemu dengan Patih Surengrono. Dalam pertemuan itu terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan yang menjadikan sebab terjadinya  peperangan dari  kedua orang sakt tui. Pada saat peperangan tersebut, Sontoboyo berhasil diikat dan dilemparkan ke sungail. Tetapi tidak  kemudian berubahlah Sontoboyo menjadi buaya putih" dan menyerang Patih Surengrono. Ki patih yang terlena akhirnya ia tergigit oleh buaya tersebut.
Melihat keadaan musuhnya yang terluka itu, bala tentara Mataram berniat ingin membunuhnya, tetapi Ki patih dapat menghindari dengan merangkak  menjauhi buaya itu. Saat itulah Patih Surengrono berkesempatan mencabut kerisnya kemudian digariskan ke tanah yang dilewatinya.
Pada saat itu terjadilah keanehan, ketika bala tentara Mataram melangkah di atas tanah bekas garis- goresan keris Patih Surengrono tersebut, seketika prajurit-prajurit itu menjadi bingung dan gelap penglihatannya, matanya menjadi kabur (baur) tidak tahu lagi kemana larinya Patih Surengrono. Nah, di tempat itulah sekarang bernama desa baureno.
            Pelarian Patih Surengrono dari tempat peperangan sampailah di suatu tempat. Sang Patih sudah tidak dapat melanjutkan perjalanannya lagi, karena terlalu banyak darah yang keluar dan akhirnya ia meninggal di tempat it.. Jenazahnya dimakamkan di desa itu, dan yang sekarang disebut dengan makam “Mbah Mijil”
Melihat musuhnya lari, Sontoboyo berusaha mengejar. Akan tetapi setelah ia menginjak tanah yang digaris Patih Surengrono dengan kerisnya yang ampuh itu Sontoboyo  matanya menjadi kabur dan kehilangan jejak, tidak tahu lagi kemana larinya Patih Surongrono. Karena lelah, lalu itu ia istirahat di sebelah utara alun-alun Werkotho. Sekarang tempat tersebut Desa Talun. Karena sudah tidak lagi berjumpa dengan musuhnya, maka Sontoboyo langsung pergi ke Istana Werkotho. Sesudah berjumpa dengan pangeran Danu Sumitro dan Nyai Bandi lalu menyampaikan maksudnya, agar Pangeran bersedia diajak kembali bersama-sama. Ke Mataram.
Pangeran Danu Sumitro  menyanggupi, tetapi sang Pangeran dan Nyai Bandi ijin akan mandi terlebih dahulu, sedangkan Sontoboyo diperintahkan menunggu di pintu gerbang. Suatu hal yang ajaib terjadi, sesampainya di danau dua orang itu hilang dan tidak diketahui keberadaannya.
Prajurit Werkhoto mengamuk, sekuat tenaga melawan bala tentara mataram hinggatitik  darah penghabisan,karena prajurit Werkhoto tinggal sedikit maka meraka kalah, sedangkan yang lain lari menghindari peperangan. 
Nyai Alap-Alap berlari ke selatan, dan sesudah sampai di hutan dia tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan. Dia minta tolong,tapi karena jauh dari tempat kediaman dan memang di tengah hutan, maka Kyai Alap-Alap tidak ada yang menolong, sampai akhirnya meninggal dan di makamkkan di situ. Tempat itu serang dinamakan desa Tulung.
Surengrono berlari ke utara, dan akhirnya sampailah di desa pomahan. Di tempat itu terpaksa dia tidak dapat melanjutkan perjalanan dan akhirnya meninggal. Jasadnya dimakamkan di situ  kemudian tempat itu dikenal dengan nama Dempok. Ada larangan untuk pegawai negeri untuk jangan sampai masuk ke tempat itu.
Para prajurit Werkhoto habis, maka Sontoboyo menjemput bala tentara Mataram, dan diperintahkan kembali untuk menyampaikan laporan pada Sultan.Sontoboyo merasa malu terhadap Sri Sultan dan diapun memutuskan untuk kembali ke Madura, karena tidak berhasil menyelesaikan tugas membawa pulang musuhnya baik hidup maupun mat ke Matarami.
Suatu hal yang ajaib, sesampainya di muara sungai Solo dan akan menyeberangg ke Madura perahunya karam, bahkan si Sontoboyo kembali menjadi buaya putih.
Hingga sekarang saat sungai bengawan solo meluap/banjir, biasanya buaya putih itu akan muncul. Menunjukkan bahwa dia akan datang untuk minta maaf kepada Mbah Dempok yang berada di desa Pomahan. Dan banjir tersebut tidak akan surut sebelum Sontoboyo kembali ke sungai bengawan solo.

Selasa, 25 Desember 2012

Gus Ris Fondatin Louncing Tiga Buku

sastra-bojonegoro.blogspot.com







Gus Ris Fondation Louncing Tiga Buku Jilid 2 
















 


Sabtu, 20 Oktober 2012 12:13:37 WIB
Reporter : Tulus Adarrma

Bojonegoro (beritajatim.com) - Tiga buku baru terbitan Gus Ris Fondation, yang ditulis oleh para sastrawan dan penulis asli Bojonegoro dilauncing hari ini. Peluncuran buku dilakukan di Hotel Pazia Bojonegoro, dengan tema 'Bojonegoro Merayakan Gagasan'.

Mereka para penulis, adalah Nanang Fahrudin, yang menulis bukunya dengan judul "Buku yang Membaca Buku". Dalam tulisanya didalam buku setebal 93 lembar itu adalah upaya penulis agar para pembaca lebih bisa mengakrabkan diri dengan dunia buku dan tulis menulis.

Seperti yang tertulis dalam isi buku itu, lebih dari pengalaman penulis pribadi, bagaimana ia dengan caranya sendiri mengakrabkan diri dengan buku yang dibacanya serta pengalaman-pengalamannya mendapatkan buku bermutu.

"Buku saya yang paling tipis dan bahasanya Indonesia, ini beda dengan yang lain yang 2 karya lain menggunakan bahasa Jawa. Tapi ini semua sama karena intinya ingin menyampaikan pesan," ujar Nanang Fahrudin, Sabtu (20/10/2012).

Proses pencarian saat mencari buku, dan pada akhirnya dibeli itu juga disebutkan dalam buku tulisannya."Buku kecil saya ini sebenarnya saya persembahkan untuk buku-buku yang sudah saya baca," katanya.

Buku kedua, yang ditulis oleh Wartawan Senior, Kang Zen Samin, dengan judulnya Untu Emas. Kang Zen melalui Untu Emasnya itu berharap tetap para generasi muda tetap melestarikan budaya Jawa. "Budaya Jawa itu Adiluhung, kebak tuntunan dari anak Kecil hingga Dewasa," ujar Kang Zen.

Dan buku ketiga, dengan judul Wayang Urip, yang ditulis oleh Yonathan Rahardjo. Dalam bukunya itu, ditulis dengan cara Jawa Kontemporer. Penulis, pria yang juga sebagai seorang manteri hewan itu, memberikan pengertian bahwa setiap diri manusia merupakan tokoh pewayangan. "Karakter satu orang itu mewakili satu wayang," jelasnya.

Seakan hari ini para penulis sedang merayakan gagasan. Sebelumnya, Gus Ris, juga sudah melauncing 3 buku, yakni, Catatan Sastra dan Cerita Kecil Tentangnya, yang ditulis oleh Anas Abdul Ghofur, Gara-gara ka Giri-giri, ditulis oleh sastrawan Jawa, Djayus Pete, dan Cerita dari Mojodelik yang ditulis Muhammad Rokib.

Gur Ris Fondation, berharap dengan peluncuran buku pada jilid kedua yang bertema"Bojonegoro Merayakan Gagasan" itu bermaksud untuk mengangkat para penulis, khususnya di kabupaten Bojonegoro. "Pekarya akan ditempatkan sejajar dengan para pengambil kebijakan di Daerah masing-masing," kata Agus Susanto Rismanto, Owner GusRisFondation. [uuk/ted]

Ombak Wengi, Ombak Kahuripan

Add

image


















Ombak Wengi

 
Ombak Wengi
BERMULA dari sebuah sentilan, lalu jadilah sebuah bunga rampai puisi. Demikianlah Yusuf Susilo Hartono (YSH), yang dikenal luar sebagai salah satu wartawan senior seni rupa itu melatarbelakangi buku kumpulan puisi jawa, atau geguritan berjudul Ombak Wengi.Antalogi 99 Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer Pilihan 1981-2011.

Syahdan, dia bercerita, pada tahun 90-an ketika mengikuti Kongres Bahasa Indonesia, Profesor Suripan Sadi Hutomo -yang dikenal sebagai HB Jassin Sastra Jawa- mengatakan kepada dirinya, jika dia telah menjadi pengkhianat Sastra Jawa karena telah menyeberang ke Sastra Indonesia, dan mulai emoh menulis Sastra Jawa lagi, "Hanya gara-gara saya harus menyambung nasib bekerja ke Jakarta, dan meninggalkan Bojonegoro sebagai akar Sastra Jawa saya," katanya.

Berangkat dari sentilan itu, YSH yang tidak hanya menulis puisi, tapi juga melukis sketsa, juga melakukan reportase di sejumlah media tentunya dan menjalankan sejumlah organinasi kesenian, akhirnya terus mengasah jiwa sastra Jawanya. "Tidak semua jadi gurit, tapi apapun itu, harus menjadi penanda dalam hidup saya," imbuh dia.

Maka, langkah selanjutnya, setelah mengkurasi sejumlah geguritannya yang membentang dari tahun 1981 hingga 2011, maka lahirlah buku ini. Sejauh mana geguritan YSH memaknai kehidupan metropiltan seperti Jakarta? Sangat berwarna. Atau dalam bahasa Titah Rahayu dari Kalawarti Jaya Baya, menuliskan,"Guritan-guritane YSH ngelengake aku marang lukisan-lukisan sketsane. Spontan, jujur, lugas, open, serta trengginas nangkep moment. Prasaja neng nyeni."

Seberapa spontan, jujur, terbuka, lugas, bersahaja dan mengandung nilai seni dari 99 kumpulan puisi Jawa ini? Tentu sangat gegabah jika langsung mengamini pendapat di atas. Meski yang pasti, menyimak puisi Jawa bukan pekerjaan mudah, menimbang nilai rasanya -jika menilik acuan geografis, Sastra Jawa diasup masyarakat Jawa Tengah dan Timur yang sangat mempunyai perbedaan lebar dalam hal nilai rasa bahasa Jawa.

Tapi apapun itu, buku Ombak Wengi ini telah malih menjadi semacam kazanah kehidupan Indonesia dari kaca mata seorang penyair, pelukis, pewarta, dan organisator yang baik. Sebab di dalamnya berbagai sajak, atau guritnya bernarasi tentang berbagai hal. Dari ihwal hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhannya, manusia dengan negaranya, hingga manusia dengan dirinya sendiri.

Teristimewa untuk ihwal manusia dengan Tuhannya, terlihat jelas pada gurit "Adan", "Angon", "Jejapa", "Kere", "Ombak Wengi", "Rembulan Ing Pucuk Esuk", "Kembang Jatirogo", "Ngilo", dan masih banyak gurit lainnya. Dari sini sangat bisa dibaca jika aku orang pertama adalah sosok yang religius. Karena hampir semua perkara senantiasa YSH membawa-bawa Gusti Allah dalam guritnya.

Meski dalam beberapa hal, YSH langsung memilih posisi bersemuka dengan pembuat kebijakan negeri ini. Seperti terlihat di gurit berjudul "Jula-Juli Monas", "Jare Demokrasi", "Gendera Mung Bisa Dedonga", "Indonesia Sia-Sia", "Ndonyane Iklan" dan beberapa lainnya. Atau simaklah sebentar pada gurit berjudul "Bangsa Apa Iki"? YSH pada bait terakhirnya itu, dia menuliskan: //Bangsa apa awake dhewe iki/ Maling pada ngganggi dasi lan lenga wangi luar neger/Angka-angka ing layar komputer departemen/ munyer seser jungkir walik kaya dene akrobat/ Dadi angka-angka sekongkol miliaran lan triliunan/ banjur wong0wing padha wijik sikil lan tangan/ Mbuwang saben awu iblis lan setan/ Banjur sajadah digelar. Allahu AKbar/ Gusti Allah Nyuwun Ngapura!//.

Demikianlah YSH yang pada tahun 84-an bersama Arswendo Atmowiloto dan George Quin (Ahli Sastra Jawa dari Australia) pernah "menghidupkan" Sastra Jawa via bendera Sanggar Sastra "Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)" mengguritkan perasaannya. Menyaksikan Indonesia, juga kehidupan dan Tuhan dari kaca mata kesenian dan kewartawanannya. Tercatat sampai saat ini, setelah bekerja di berbagai media cetak, YSH sekarang menjabat sebagai Pemred majalah Visual Art.
=========================
Judul buku : Ombak Wengi.Antalogi 99 Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer Pilihan 1981-2011.
Penulis : Yusuf Susilo Hartono.
Penerbit: Elmatera.
Cetakan: I, Oktober 2011
Tebal buku : VII - 114 halaman.
(Benny Benke/CN15)   

Senin, 24 Desember 2012

Setia Tanpa Jeda

Add
link buku ini di Leutika Prio disini

Judul: Setia Tanpa Jeda
ISBN: 978-602-225-216-0
Terbit: Desember 2011
Tebal: 206 halaman
Harga: Rp. 43.200,
PENULIS BUKU SETIA TANPA JEDA

Deskripsi:
Setia Tanpa Jeda merupakan kumpulan cerpen dan puisi pilihan yang terseleksi dari hampir 400 peserta yang mengikuti ajang lomba UNSA Award 2011. Di antaranya memuat cerpen terbaik UNSA Award 2011, yaitu “Senja Terakhir” karya Zoel Ardi, dan puisi terbaik UNSA Award 2011, yaitu “Ziarah Malam Qamariyah” karya Shohifur Ridho’i.

Para penulis di dalam buku ini terdiri dari para penulis muda yang karya-karyanya telah banyak dipublikasikan, baik dalam bentuk buku maupun pada media cetak. Di dalam buku ini pula terdapat beberapa penulis berprestasi yang telah memenangkan berbagai perlombaan menulis di tingkat nasional. Artinya, buku ini menampilkan karya para penulis muda berbakat, yang perlu dikedepankan demi kian semaraknya dunia literasi tanah air.


Penulis: Zoel Ardi, Shohiful Ridho I, Dkk.

CERPEN
(1) Zoel Ardi. (2) Ika Pratiwi. (3) Eko Hartono (4) Rama J Mawardi (5) Rana Wijaya Soemadi. (6) Rafif Amir.(7) Ade Batari.(8) Ardy Kresna Crenata. (9) Desti Adzkia. (10 Sandza. (11) Dariansyah Putra. (12) Ahmad Ijazi H.(13) Aia Aisyah Yusdiyani. (14) Ragil Kuning. (15) Pretty Angelia Wuisan (16) Yetti A. Ka (17) Dang Aji Sidik (18) Nessa Kartika

PUISI
(01) Shohifur Ridho Ilahi (02) Dalasari Pera (03) Kurnia hidayati. (04) M. Maniro AF (05) Gampang Prawoto(06) Kemas Ferri Rahman (07) Rini Febriani Hauri. (08) Edu Badrus Shaleh (09) Zen AR (10) El Fasya. (11) Dee Dyantry (12) Usup Supriyadi (13) Ibeth Beth-I (14) Oksa Puko Yuza(15) Azzam Asrawi (16) Wldansyah basthomy ion

Sabtu, 15 Desember 2012

PSJB Ultah ke 30


Ultah ke 30, Pamarsudi Sastra Jawa Butuh Regenerasi 
 
















Reporter : Tulus Adarrma

Bojonegoro (beritajatim.com) -- Jarak rumah yang rindang dengan pohon dan burung yang banyak berkicau didepan rumah milik JFX Hoery yang akrab dipanggil Rama Hoery, di Jalan Diponegoro 59 B Padangan Bojonegoro harus ditempuh sekitar 1 jam perjalanan jika lalu lintas normal, namun karena banyak truk proyek yang hilir mudik sehingga harus molor hingga 1,5 jam dari Kota Bojonegoro.

Namun setelah sampai, panas penat perjalanan serasa luntur karena terdengar merdu suara siter yang dimainkan oleh Ny Rukini, Menyambut tamu yang datang dalam acara ulang tahun Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) ke 30, Minggu (01/07/2012)

Upacara dilakukan dengan model sangat sederhana, yakni duduk lesehan dibawah pohon yang rindang di depan rumah. Namun karena berkumpul para sastrawan jawa dan indonesia sehingga menjadi sangat meriah.

Apalagi dihiasi dengan pembacaan geguritan (puisi), diiringi musik solo siter menambah khas tentang kesederhanaan yang guyup rukun. Selain hanya berkumpul dan hajatan, mereka para sastrawa ini juga berdiskusi tentang proses mereka dan karya-karya mereka.

Rama Hoery, sebagai Ketua PSJB mengatakan, jika setelah PSJB ini masuk diusia yang ke 30, diharapkan anggotanya yang kini sudah mencapai sekitar 30an orang itu bisa lebih produktif. "Dengan gotong royong untuk menerbetkan buku sendiri.
Setiap tahun harapanya bisa produktif, agar bisa diaplaksikan di kongres sastra jawa," harapnya, Minggu (01/07/2012).

Seperti karya kumpulan cerkak milik Sri Setya Rahayu, Rembulane wis Ndhadhari, kumpulan dari 30 cerkak yang bercerita tentang sebuah perjalanan. "Ini diharapkan juga menjadi semangat untuk para generasi muda untuk mempelajari sastra jawa. Sehingga ada regenerasi baru," lanjut Rama Hoery yang juga sebagai jurnalis senior jawa itu.

Sebab dalam pelestarian sastra jawa ini, katanya, sudah waktunya untuk regenerasi, kepada yang muda-muda. Sementara melihat trend anak muda saat ini lebih sedikit yang melirik sastra jawa dibanding dengan sastra indonesia. "Sebenarnya bahasa jawa menjadi pakar budaya nasional, sehingga harus mempelari sastra jawa yang dari leluhur,"pungkasnya. [uuk/ted]

Senin, 09 April 2012

Yusuf Susilo Mendapat Hadiah Rancage 2012

Add

   Yusuf Susilo Juga Mendapat Hadiah Rancage


TEMPO.CO, Jakarta - Selain memberikan penghargaan kepada sastrawan Sunda, tahun ini Yayasan Kebudayaan Rancage juga memberikan hadiah kepada karya sastra Jawa dan Bali. "Ombak Wengi" karya sastrawan Jawa, Yusuf Susilo Hartono, dan "Metek Bintang" karya sastrawan Bali, Komang Adnyana, mendapat Hadiah Sastra Rancage 2012. Demikian keputusan yang disiarkan Ajip Rosidi, ketua dewan pembina yayasan itu pada Selasa, 31 Januari 2012.

"Ombak Wengi" memuat 99 guritan pilihan karya Yusuf dari periode 1981-2011. Buku itu berhasil mengalahkan sembilan unggulan lainnya, yakni kumpulan sajak "Raja Gurit" karya Yudi Joyokusumo, "Layang Saka Kekasih" karya R. Djoko Prakosa, "Mutung Suwung, Aja Mutung Mundhak Suwung" karya R. Ng. Suisdiyati Sarmo, "Kidung saka Bandungan" karya Rini Tri Puspohardini, dan "Bocah Cilik Diuber Srengenge" karya Widodo Basuki; roman "Ing Manila Tresnaku Kelara-lara" karya Fitri Gunawan", "Dilabuhi Jajah Desa Milangkori" karya Rahmat Ali, dan "Sisip ing Dalan Sidhatan" karya Harwimuka; serta kumpulan cerita pendek "Puber Kedua" karya Ary Nurdiana.

Yusuf Susilo Hartono dikenal sebagai wartawan, pelukis sketsa, dan sastrawan. Dia lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 18 Maret 1958, dan kini mukim di Jakarta. Puisinya pernah menang dalam Festival Puisi Surabaya pada 1984. Kumpulan puisinya yang telah terbit, antara lain Wajah Berkabung (1981) dan Ikan-ikan Hias (1985).

Adapun "Metek Bintang" karya Komang Adnyana berhasil menyisihkan tujuh unggulan lainnya, yakni roman "Cicih", "Sam Pek Engtay", dan "Jayaprana-Layonsari" karya I Nyoman Manda; kumpulan cerita pendek "Bor" karya IBW Widiasa Keniten serta "Sundel Tanah" dan "Bunga Valentine" karya I Madé Sugianto; dan prosa liris "Kama Bang Kama Putih" karya I Made Suarsa.

Buku "Metek Bintang" memuat 13 cerita, yang, menurut Ajip, hampir semuanya menarik dalam hal tema dan penggarapan. "Pengarang mampu untuk 'terang-terangan menyembunyikan' titik-titik penting cerita, sehingga pembaca dibuat terpaksa memikirkan dan membayangkan hubungan-hubungan antara peristiwa dan ucapan para tokoh," kata Ajip.

Yayasan juga memberikan hadiah kepada Sucipto Hadi Purnomo, sastrawan kelahiran Pati, 6 Agustus 1972, atas jasanya dalam pengembangan bahasa dan sastra Jawa. Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang itu adalah redaktur tabloid Yunior Suara Merdeka dan membina lembar khusus bahasa Jawa "Sang Pamomong". Ia juga menjadi sekretaris Forum Bahasa Media Massa Jawa Tengah dan memimpin Organisasi Pengarang Sastra Jawa sejak 2006.

Adapun I Made Sugianto, sastrawan kelahiran Tabanan, 19 April 1979, juga mendapat Hadiah Sastra Rancage atas jasanya dalam pengembangan bahasa dan sastra Bali. Dia banyak menulis cerita pendek berbahasa Bali modern di "Bali Orti", suplemen khusus bahasa Bali di Bali Post Minggu. Dia juga menerbitkan karya sastra Bali melalui penerbitannya, Pustaka Ekspresi.
                                                                                                             caption

Hadiah Sastra Rancage 2012

Add        

Tiga Karya Raih Hadiah Sastera Rancage 2012

Selasa, 31 Januari 2012, 16:26 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yayasan Kebudayaan Rancage kembali menggelar perhelatan Hadiah Sastera Rancage. Hadiah ini merupakan bentuk apresiasi yang diberikan kepada para penggiat sastera Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Pada perhelatan ke-24 tahun kali ini, Hadiah Sastera Rancage menganugerahi hadiah kepada tiga karya sastra

Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajip Rosidi, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (31/1), menyatakan Hadiah Sastera Rancage untuk bahasa Sunda pada tahun ini diberikan kepada Acep Zamzam Noor untuk kumpulan sajaknya yang berjudul Paguneman. Sedangkan untuk bidang jasa dalam bahasa Sunda diraih Etti RS.

Hadiah serupa untuk bahasa Jawa diberikan untuk karya sastra berjudul Ombak Wengi, karya Yusuf Susilo Hartono. Ombak Wengi berhasil mengungguli sembilan karya lainnya. Sementara untuk jasa dalam pengembangan bahasa dan sastera Jawa adalah dosen jurusan Bahasa dan Sastera Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Sucipto Hadi Purnomo.

Untuk kategori bahasa Bali, anugerah ini diberikan pada tulisan berjudul Metek Bintang (Menghitung Bintang) karya Komang Adnyana. Sementara untuk jasa dalam mengembangkan bahasa dan sastera Bali diraih I Made Sugianto. Sugianto berjasa dalam menulis karya dalam bahasa Bali moderen, terutama cerita pendek. Selain itu, dia juga berusaha menerbitkan sastra Bali moderen dalam buku

Jasa I Made Sugianto terhadap perkembangan sastera Bali ada dua hal. Pertama, dia banyak menulis karya dalam bahasa Bali moderen terutama berupa cerita pendek yang dimuat dalam Bali Orti, suplemen Bali Post Minggu yang khusus untuk bahasa Bali. Kedua, dalam usahanya menerbitkan karya-karya sastera Bali moderen menjadi buku melalui penerbit kecil yang dikelolanya bernama Pustaka Ekspresi.

Selain itu, Yayasan Kebudayaan Rancage juga memberikan Hadiah Samsudi untuk bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda. Hadiah ini diberikan untuk tulisan berjudul Asal-Usul Hayam Pelung jeung Dongéng-dongéng Cianjur Lianna, karya Tatang Setiadi.
Redaktur: Dewi Mardiani
Reporter: Nidia Zuraya
sastra - bojonegoro.blogspot.com                                                                                                                                            caption

Minggu, 08 April 2012

CERKAK : JFX . Hoery (2)

Add


      
J.F.X. Hoery 
 
Oh  Anakku

            KUTHA Barcelona wektu iku wis dibroki kaum Komunis. Greja-greja apadene kapel-kapel sarta papan-papan ngibadah ing laladan negara Sepanyol ora luput saka pangrusake kaum Komunis. Imam-imam Katolik dalah umat Katolik tansah dikuya-kuya, sing kecekel disiksa lan dikunjara. Wong-wong Komunis bener-bener anggone ora nduweni rasa prikamanungsan. Saben omah sing digropyok ana gambare Yesus utawa tandha kayu pamenthangan, wong saomah ora perduli lanang apa wadon, tuwa apa bocah kabeh disiksa. Ing sadhengah panggonan tansah dijaga pulisi rahasia lan tentara Komunis. Penggledhahan menyang omah-omah tansah katindakake samangsa-mangsa, ora ngetung wayah. Doktrine Komunis ngresiki wong-wong kang isih manembah ing Allah.
Senajan mangkono, isih akeh imam-imam Katolik kang bisa lolos saka panggrebege kaum Komunis, kanthi nylamur laku. Ana kang dadi tukang nyapu dalan, tukang kayu, tukang batu, petani lan sapanunggalane. Sawayah-wayah para Pastor kang padha namur laku mau, uga nganakake kebaktian karo umate kanthi sesidheman. Anggone nganakake kebaktian ing omahe umat sarana peralatan kang prasaja. Kebaktian mau dianakake ing wayah esuk umun-umun sadurunge srengenge mlethek. Pamrihe supaya ora konangan tentara Komunis sing padha jaga. Umat sing melu misa tekane siji-siji, penganggone prasaja supaya ora nyujanani yen arep ngabekti ing Gusti.
Wengi iku malem Paskah, dina wungune Gusti Yesus saka seda. Tentara Komunis anggone njaga kutha Barcelona luwih rapet, kuwatir yen umat Katolik ing wengi iku nganakake misa agung. Kabeh dalan-dalan apadene gang-gang cilik dijaga tentara lan pulisi rahasia. Bengi iku dadi bengi kang sepi, prasasat ora ana wong kumliwer. Suwasana dadi tintrim, saben ana wong mlaku digledhah, mbokmenawa ana kang nggawa kitab suci kanggo misa. Kutha Barcelona dadi kutha mati, marga ora ana kumliwere wong liwat, kajaba para tentara kang padha patroli mubeng kutha.
Ing pinggire kutha Barcelona ana bocah umur rolasan taun, nyasak petenge wengi, lumaku kanthi dhedhemitan lan kebak pangati-ati. Yen ngliwati papan kang sepi lan ora ana tentara jaga, lakune digelak, amrih enggal tekan panggonan sing dituju, yaiku sawijining omah elek ing pinggiran kutha Barcelona. Bocah mau arane Cayetano, sing saben dina melu misa  umat Katolik sing tansah dikuya-kuya tentara Komunis.
Pungkasane Cayetano bisa tekan omah kang dituju kanthi slamet. Ora suwe kasusul ibune, kang tekane uga kanthi dhedhemitan. Bapake Cayetano mati syahid, mbelani agama nalika tentara Komunis ngrabasa tanah Sepanyol. Banjur kasusul wong-wong liyane padha teka, sing akhire gunggunge watara wong rongpuluhan. Manggon omah elek mau, sawijining Pastur kang luput saka panggrebege tentara Komunis,  bisa ngluhurake asmane Gusti, kanthi misa agung mengeti wungune Gusti Yesus. Saka  wong rongpuluhan mau, pranyata saperangan isih bocah-bocah, salah sijine Cayetano
Panggonan sing kanggo misa ora katata kaya ing greja utawa kapel. Kabeh kang teka lungguh ngupengi meja makan, kaya patrape yen pinuju mangan bebarengan. Semono uga Pastur kang mimpin misa uga ora nganggo jubah lan alat-alat misa liyane. Ora ana kumelune dupa lan kemlonenge gentha. Kayu pamenthangan, lilin ora ana, semono  misdinar uga ora ana. Kabeh iki kanggo njagani yen sawayah-wayah ana  utawa  pulisi rahasia utawa tentara Komunis nganakake penggledhahan.
Bocah-bocah cilik mau ora mung melu misa bae, nanging uga nduweni jejibahan kang gedhe. Ya bocah-bocah cilik iku sing bakal tinanggenah menehake hosti marang umat ing papan-papan liya sing ora padha bisa teka melu misa agung. Kaya Cayetano dhewe, saben dina antuk jejibahan nggawa hosti suci kanggo Suster-Suster kang dadi jururawat ing Rumah Sakit. Tertara Komuis sejatine uga ngerti yen ing Rumah Sakit mau ana sawatara Suster sing makarya,  nanging gandheng tenagane dibutuhake mula para Suster mau ora dikapak-kapakake. Mung bae, kegiyatan ngibadah pancen dilarang, lan tansah diawasi amrih ora sesambungan karo wong-wong sanjabane Rumah Sakit. Nanging Cayetano saben dina teka menyang Rumah Sakit saperlu ngeterake hosti kanggo para Suster mau, kanthi maneka cara.
Esuk iku Cayetano kaya biyasane, ing tangane ginegem jam tangan sing wis dipretheli mesine. Njerone diganti Hosti suci kanggo para Suster ing Rumah Sakit Barcelona. Lakune mlipir-mlipir ngendhani papan penjagaane pulisi lan tentara Komunis. Ing sadalan-dalan Cayetano nyumurupi  umate Gusti dipilara dening tentara Komunis. Lakune Cayetano dadi kawigatene tentara lan pulisi kang jaga,nanging tansah bisa lolos. Nalika lakune tekan dalan Martin de los Hero, ing kno pulisi rahasia anggone njaga luwih rapet. Dumadakan Cayetano dikagetake karo pambengoke salah sijine pulisi kang lagi jaga, aweh aba-aba kang dotujokake dheweke.
“He, mandheg. Kowe bocah saka ngendi lan arep menyang endi?’
Cayetano ora mangsuli, nanging mbalik terus mlayu menggok mlebu gang cilik. Pulisi kang jaga sujana, mula banjur nguber Cayetano karo mbengok sora.
“Bocah iku supaya dicekel. Dheweke mesthi nggawa hosti suci.”
Pating kedebug suwarane pulisi kang mlayu nguber Cayetano. Nanging playune Cayetano senajan isih bocah, luwih gesit lan cepet, mlipir-mlipir nlebu gang-gang cilik ing ing antarane omah-omahe pendhudhuk. Kaya-kaya playune Cayetano ora sabaene, entuk kekuwatan saka Gusti katitik rikate tikel matikel lan pulisi kang nguber ora bisa nyekel. Cayetano terus mlayu, nganti tekan dalan de Vicente Blasco Ibanes. Ing dalan mau ana pulisi wanita telu kang lagi jaga. Ngerti tekane Cayetano karo mlayu-mlayu sajak kaweden, pulisi wanita mau ngadeg. Sedheng saka kadohan keprungu pambengoke pulisi-pulisi sing nguyak, supaya nyekel bocah cilik iku.
“Stop! Mandheg, yen ora gelem mandheg taktembak,” pambengoke pulisi wanita mau karo ngarahake larasae bedhil menyang Cayetano.
Cayetano ora mangsuli, playune mandheg karo nolah-noleh golek dalan sidhatan. Nanging ora ana dalan simpangan, pulisi sing nguyak dheweke wis saya cedhak, sedheng ing ngarepe pulisi wanita telu wis ngadhang. Cayetano ngumpulake  sakehing kekuwatan lan ngetog karosan, cangkeme ndremimil nyuwun berkah keslametan marang Gusti, kanthi  wani dheweke nrajang pulisi telu kang ngadhang .
Katerjang Cayetano, senajan awake cilik, pulisi telu tiba glangsaran tubrukan karo kacane. Dumadakan  keprungu pambledhose bedhil, “ Dhor…. dhor….. dhor…..”
Swara bedhil kaping telu meh bebarengan, katembakake marang Cayetano dening pulisi wanita telu mau. Cayetano njerit, njungkel adus getih, wis ora sambat maneh. Pluru telu ngenani sirah lan gegere Cayetano. Pulisi-pulisi sing nguyak wis tekan papane Cayetano gumlethak adus getih. Awake Cayetano diolak-alik, banjur digledhah sake clana lan klambi, nanging pulisi ora nemokake apa-apa. Getih isih terus ngucur saka sirah lan geger kang kena pluru, cangkeme mingkem rapet, wis ora ana ketege senajan awake isih lemes lan anget. Cayetano gugur pinangka martir, pahlawan greja. Pulisi kang nggledhah bareng ora nemokake apa-apa saka awake Cayetano, banjur lunga ngono bae. Jisime Cayetano ditinggal gumlethak ana pinggir dalan cilik.
Bareng pulisi-pulisi Komunis mau wis lunga lan ora katon maneh, ana wong wadon sing omahe sacedhake kedadeyan mau runtuh welas lan asihe. Wong wadon mau marani panggonane Cayetano kang gumlethak, banjur dibopong  digawa mlebu ngomah diresiki. Penganggone sing gubras getih disalini. Nanging bareng wis rampung anggone ngresiki, thukul bingunge, amarga yen dikubur kuwatir yen wong tuwane ngoleki. Arep digawa menyang Rumah Sakit, isih awan kuwatir yen konangan tentara utawa pulisi rahasia lan dheweke dicekel. Sidane banjur disumenekake, mengko sore yen wis peteng arep digawa menyang. Rumah Sakit.
Ibune Cayetano dadi bingung lan kuwatir, marga anake wis awan durung bali. Tambah kuwatire bareng nganti surup anake tetep durung mulih. Kamangka padatane durung nganti tengange wis teka. Kuwatir yen anake nemoni apa ta apa, ibune Cayetano banjur nyusul menyang Rumah Sakit. Tekan Rumah sakit, para Suster kandha yen Cayetano durung ana teka. Atine ibune Cayetano tambah ora karu-karuwan. Dheweke banjur pamit mulih, arep matur karo Pastur yen Cayetano nganti bengi iku durung tekan Rumah Sakit lan uga durung mulih.
Bareng wis wengi, nalikane Suster-Suster Rumah Sakit Barcelona  lagi padha leren, dumadakan dikagetake tekane wong wadon gupuh-gupuh kandha yen ana bocah kena bedhil ing ngarep omahe, lan saiki digawa menyang Rumah Sakit.
“Suster, menika wonten lare ingkang dados kuban dipun bedhil pulisi wonten ngajeng griya kula.”
“Oh, inggih mangga  dipun beta mlebet,” jawabe sawijining suster karo menyat.
“Nanging sampun ninggal  Suster, kedadosanipun sampun kala wau enjing.”
“Sampun ninggal?”
“Inggih. Kula nyumerepi piyambak, lare menika mlajeng dipun uyak pulisi. Dumugi ngajeng griya kula, dumadakan kapireng suwanten bedhil mbedhos kaping tiga lan sesarengan suwanten wau lare menika njerit lajeng ambruk gubras erah. Sareng pulisi dhateng langsung nggledhah badanipun lare punika, duka menapa ingkang dipun padosi. Ketingalipun mboten manggihaken menapa-menapa, pulisi ingkang nggledhah wau lajeng kesah ngaten kemawon. Kula badhe langsung mitulungi mboten wantun, nembe sareng para pulisi kesah kula celaki. Nanging sampun  ninggal, lajeng kula bopong kula resiki wonten nglebet griya.”
“ Mesakaken, menapa ingkang dipun  padosi saking lare semanten menika?”
“Lha inggih, Suster, kula ugi gumun.”
“Menapa lare menika sanes tangginipun Ibu?”
“Sanes Suster. sajakipun lare tebih.  Suster, ketingalipun sampun dalu, kula kepareng nyuwun pamit rumiyin.”
“Inggih, manga-mangga. Ingkang ngatos-atos, mugi Gusti njampangi.”
“Matur nuwun, Suster.”
Sapuingkure wanita mau, jisime Cayetano banjur diangkat, dijejer karo jisim-jisim liyane, saperlu nunggu mbokmenawa ana kulawarga sing nggoleki. Nanging yen ora ana kulawargane, bakal karukti dening pihak  Rumah Sakit
Ing antarane para Suster kang dhines bengi iku, ana salah sijine sing gedhe kawigatene marang jisime bocah cilik sing ketembak mau. Embuh kena daya apa, Suster mau banjur njupuk senter marani pernahe jisime Cayetano, nyoloki lan nliti. Atine Suster mau gemeter, bareng nyawang sapa sabenere bocah kang ora dosa sing dadi kurban kawengisane pulisi-pulisi Komunis mau. Sanalika Suster mau mbengok, “ Cayetanoooo,…..”
Cayetano dirungket, diambungi pipine kiwa tengen karo nangis sesenggrukan. Suster mau banjur mlayu karo nutupi raine, marani panggonane Suster kepala lan ngomongi Suster-Suster liyane.
“Ibu, ibu lare ingkang dados korban tembakan kalawau Cayetano. Suster, Suster, bocah sing mati mau Cayetano,” kandhane Suster karo katon bingunge. Sanalika para Suster banjur padha mlayu, marani panggonane nurokake jisime Cayetano.
Bareng wis cetha tenan yen jisim bocah iku Cayetano, kanthi kapimpin Suster kepala jisime Cayetano diangkat dipisahake karo jisim-jisim liyane. Kabeh banjur padha jengkeng ndendonga ing ngarsane Gusti, nyuwun amrih rohe cayetano katampi ing astane Gusti. Bubar ndonga, Suster kepala banjur ngelus-elus sirah lan raine Cayetano,kaeo ngucap kebak tresna asih.
”Cayetano, kowe pinangka Martelar kang kendel. Kowe pahlawan greja, kowe gugur mbelani Kristus. Sakramen Suci wis karampas tentara Komunis, bengi iki para Suster ing Rumah Sakit kene dadi seksi lan nyuwun muga Gusti kersa nampa umate kang isih suci lan murni, kang wis wani dadi pahlawane Kristus.”
Kabeh Suster kanthi khusuk ndedonga ing ngarepe jisime Cayetano. Suster kepala banjur gawe tandha pamenthangan ing bathuke Cayetano.  Salah sijine Suster kang ngawasake raine Cayetano, kaget marga cangkeme  katon obah-obah kaya arep caturan. Suster mau mbengok.
“Suster, pirsanana iki Cayetano isih urip.”
Kabeh padha ngawasake, Suster kepala nyekel bathuke Cayetano. Cangkeme Cayetano obah-obah, lan baka sethithik mbukak, banjur mangap amba karo nglepeh barang kang ora liya jam sing njeroni diiseni Hosti Suci. Nalika Cayetano diburu pulisi, jam kang isi hosti mau diemut. Mula nalika dheweke ditakoni ora mangsuli, lan nalika dibedhil mung mbengok sepisan lan banjur eling yen cengkeme ana salirane Gusti, mula dheweke banjur mingkem rapet batine manter nyuwun marang Gusti supaya Hosti suci slamet lan bisa katampa para Suter.
Jam kang dilepeh Cayetano dijupuk dening Suster Kepala, kang pancen wis  alon-alon mingkem, banjur katon mesem raine sumringah kebak gegambaran kaluhuraning Gusti. Suster kepala banjur enggal-enggal kongkonan, supaya ngabari ibune Cayetano, yen anake tinemu tiwas ing Rumah Sakit. nyumurupi Cayetano saben-saben anggone nggawa hosti dilebokake ing njero jam mau. Hosti banjur kaparingake marang para Suster. Tutuke Cayetano
Ing bengi iku uga ibune Cayetano teka. Sawise antuk keterangan saka Suster Kepala, ibune banjur diterake menyang panggonane jisime anake sing wis didandani rapi. Ibune Cayetano ora bisa ngempet rasa sedhih lan tangise. Anake ditubruk, diruket lan nangis ngguguk. Suster kepala lan Suster liyane banjur aweh panglipur.
“Sampun Ibu, sadaya mugi katampia kanthi sabaring penggalih. Keng putra sampun kapilih dening Gusti, katimbalan kanthi katentreman miwah kabagyan. Piyambakipun sampun mimpang. Piyambakipun taksih alit, taksih suci, taksih murni, kakersakaken dening Gusti gugur dados martir, dados pahlawanipun Kristus,…..”:
Ibune Cayetano bisa meneng lan rada lejar atine, kanthi rasa tresna asihing biyung , pipine diarani lan raine dielus-elus, mung sak tembung suwara sing kawetu kang jero tebane, “ Oh anakku,….” @
          (Cukilan saka pangrabasane Komunis ing  Spanjol taun 1936)


PANJEBAR SEMANGAT, No. 15
Tanggal 10 April 1982.
caption