Selasa, 10 Juni 2014

Pertemuan Penyair Asia Tenggara dan Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra II

sastra.bojonegoro






Pertemuan Penyair Asia Tenggara
dan Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra II

Keberadaan kesusastraan di tengah kehidupan masyarakat memiliki peranan yang sangat penting. Tidak saja dikarenakan kesusastraan dapat dijadikan indikator pengukuran nilai-nilai sosio-kultural, sosio-politik bahkan para ranah transenden sekalipun, melainkan dapat juga dijadikan sebagai cerminan  peradaban manusia. Sebut saja, penandaan masa prasejarah dan sejarah diberlakukan melalui penemuan tulisan, bahkan sebutan prasejarah dewasa ini juga dikenal dengan nama praaksara.

Sungguhlah tidak berlebihan, jika mengatakan kesusastraan sebagai cerminan peradaban manusia, sebagaimana kita ketahui bersama, penandaan masa prasejarah dan sejarah diberlakukan melalui penemuan tulisan, bahkan sebutan prasejarah dewasa ini juga dikenal dengan nama praaksara. Kemudian, kenyataan akan pentingnya kesusastraan sebagai bagian dari kegiatan literasi manusia yang estetis dan luhur, tidak sejalan dengan perkembangannya di era modern ini.

Tingkat kesadaran masyarakat Asia Tenggara—tidak  terkecuali Indonesia—mengalami kemunduran nilai serta minat terhadap dunia sastra. Fakta ini mesti ditanggapi dengan cepat dan mesti ditangani dengan tepat. Bukan perkara bagaimana mesti melainkan bagaimana kita memulai pergerakan yang berkelanjutan serta tepat sasaran.

Gagasan untuk mengundang para penyair dari berbagai negara khusunya di wilayah Asia Tenggara, akhirnya sangat penting untuk dilaksanakan. Akan tetapi, tidak sebagaimana pertemuan-pertemuan penyair yang kerap selesai begitu saja, kegiatan ini diharapkan benar-benar memberikan suatu pengaruh terhadap dunia sastra. Dalam hal ini, tidak sedang berbicara pengaruh dalam artian popularitas atawa selebritas kepenyairan, melainkan mengenai penyair yang benar-benar berbaur dengan pelajar, mahasiswa, pendidik,  dan atau tanpa terkecuali seluruh lapisan masyarakat.

Bagaimana mengaplikasikan wacana yang sebegitu membumi? Melalui kegiatan ini, para penyair akan diajak untuk tinggal di rumah-rumah warga tanpa pengecualian di rumah birokrat yang telah bersedia menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal. Hal tidak lain tidak bukan, untuk memberikan kebebasan kepada para penyair untuk mencercap nilai-nilai tanah, udara, dan air dengan gaya dan caranya masing-masing.

Sekolah-sekolah di Kota Cilegon pun telah bersedia menjadi tempat pementasan para penyair, seminar, serta tempat obrolan ringan antara para penyair dan dengan para siswa. Akan ada pembagian kelompok penyair untuk mendatangi sekolah-sekolah yang kami bagi menjadi empat wilayah, yakni Wilayah Selatan, Utara, Timur, dan Barat. Tentu saja, kami pun telah membagi panitia dalam empat kelompok untuk kelancaran acara tersebut.

Kemudian, para penyair diharapkan menuliskan maksimal 3 puisi, esai, atau cerpen semasa tinggal di Kota Cilegon. Karya-karya tersebut akan dibukukan oleh Dewan Kesenian Cilegon dengan sponsor yang turut membantu dan dibagikan di sekolah-sekolah yang ada di Provinsi Banten. Para penyair juga akan mendapatkan bukti penerbitannya masing-masing 1 eksamplar.

Perlu diketahui, tidak hanya penyair yang karyanya termuat dalam buku Lentera Sastra II saja yang diundang. Penyair-penyair yang ingin turut mengisi kegiatan ini sangat dipersilakan, dengan syarat memberitahu lebih dahulu kepada panitia.

Kira-kira begitu, hal sederhana mengenai Pertemuan Penyair Asia Tenggara, tidak ada yang berlebihan.

AGENDA ACARA:

Adapun agenda acara secara umum dibagi menjadi empat bagian:

1. Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra II
-       Gembrung Budaya Indonesia.
-       Pentas Sastra Asia Tenggara.
-       Pentas Sastra Pelajar.

2. Seminar Sastra Negeri Serumpun
-       Dinamika Sastra Asia Tenggara.
-       Indonesia dalam khazanah literasi dunia.
-       Eksotisme Sastra Banten.

3. Penyair Asia Tenggara Masuk Sekolah
-       MA Al-Khairiyah Karangtengah (Utara)
-       SMP IT Raudatul Jannah Cilegon (Selatan)
-       Dua sekolah lagi masih dalam tahap komunikasi (Barat dan Timur)

4. Jelajah Kultur 
-       Komplek Kerajaan Banten Lama.
-       Ziarah Geger Cilegon.
-       Ziarah Produksi Kebudayaan Cilegon.


WAKTU PELAKSANAAN
 Kamis-Sabtu, 23-25 Oktober 2014


Pembukaan dan Peluncuran Buku Puisi Penyair Asia Tenggara (Lentera Sastra II)

Hari, tanggal                : Kamis, 23 Oktober 2014
Pukul                           : 15.30-selesai
Tempat                        : Rumah Dinas Cilegon.

Penyair Asia Tenggara Masuk Sekolah

Hari, tanggal                : Jumat,  24 Oktober 2014
Pukul                           : 08.30-12.00 WIB
Tempat                        : MA Al-Khairiyah Karangtengah (Utara), SMP IT Raudatul Jannah (Selatan), Barat, dan Timur.

Seminar Sastra Asia Tenggara

Hari, tanggal                :  2014
Pukul                           :15.45-17.15 WIB
Tempat                        : Tentatif

Pentas Sastra Asia Tenggara

Hari, tanggal                :  2014
Pukul                           : 19.30-23.30 WIB
Tempat                        : Lapangan Bola Mini Cilegon

Jelajah Kultural

Hari, tanggal                : 2014
Pukul                           : 08.00 s.d. selesai.
Tempat                        : Komplek Kerajaan Banten Lama, Situs Geger Cilegon, dll.


NAMA-NAMA PENYAIR YANG AKAN KAMI UNDANG BAIK YANG TERGABUNG DALAM BUKU LENTERA SASTRA II MAU PUN TIDAK TIDAK TERGABUNG DI DALAMNYA:

INDONESIA
  1. Abdul Malik,  (Medan, Sumut)
  2. Achmad Sultoni                (Cilacap, Jateng)
  3. Adri Sandra (Payakumbuh, Padang)
  4. Ady Harboy  (Medan, Sumut)
  5. Aldi Istanzia Wiguna, (Bandung, Jabar)
  6. Alhusni Husni, (Kajhu, Aceh Darussalam)
  7. Arafat AHC, (Demak, Jateng)
  8. Ari Witanto, (DI Yogyakarta)
  9. Arsyad Indradi, (Banjarbaru, Kalsel)
  10. Asrul Irfanto, (Bojonegoro, Jateng)
  11. Aulia Nur Inayah, (Tegal, Jateng)
  12. Ayat Khalili, (Madura, Jatim)
  13. Ayu Cipta, (Tangerang, Banten)
  14. Badruddin SA , (Madura, Jatim)
  15. Bambang Eka Prasetya, (Magelang, Jateng)
  16. Bagus Burhan, (Kudus, Jateng)
  17. Chipz Mirza Sastroatmodjo, (Kudus, Jateng)
  18. Daladi Ahmad, (Magelang, Jateng)
  19. Darman D Hoeri , (Malang, Jatim)
  20. Dedet Setiadi, (Magelang, Jateng)
  21. De Kemalawati, (Aceh)
  22. Dhenok Kristianti, (Bali)
  23. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
  24. Dimas Indiana Senja, (Brebes, Jateng)
  25. Edi S Febri, (Gringsing, Jateng)
  26. DR. TRI Budhi Sastri, (Siduardjo, Jatim)
  27. Ega Prayoga, (Cilegon, Banten)
  28. Ekohm Abiyasa, (Karanganyar, Jateng)
  29. Eni Meiniar Gito, (Rejang Lebong, Bengkulu)
  30. En Kurliadi NF, (Kranji, Bekasi)
  31. Fajar Timur, (Tangerang, Banten)
  32. Farida Sundari, (Sidorejo Hilir, Medan)
  33. Gampang Prawoto, (Bojonegoro, Jatim)
  34. Gia Setiawati Nesa, (Kotamobagu, Gorontalo)
  35. Gie Ferdiyan, (Cilegon, Banten)
  36. Gito Waluyo (Serang, Banten)
  37. Gol A Gong (Serang, Banten)
  38. Helfi Hendri Hanif, (Jakarta)
  39. Helin Avinanto, (Ngawi, Jatim)
  40. Hesti Sartika, (Medan, Sumut)
  41. Irham Kusumah, (Bandung, Jabar)
  42. Irna Novia Damayanti, (Purbalingga, Jateng)
  43. Isroni Muhammad Zulfa, (Banyumas, Jateng)
  44. Julia Asviana, (Pontianak, Kalbar)
  45. Karmila Ratna Dewi, (Malang, Jatim)
  46. Khoer Jurzani , (Sukabumi, Jabar)
  47. Kurnia Hidayati,                (Batang, Jateng)
  48. Lalu Muhammad Syamsul Arifin, (Lombok, NTT)
  49. Marina Novianti, (Bogor, Jabar)
  50. Muh Ali Sarbini, (Gresik, Jatim)
  51. Muhammad Asqalani Eneste, (Riau)
  52. Muhammad Lefand, (Jember, Jatim)
  53. Muhammad Rinaldy, (Palembang)
  54. Nastain Achmad Attabani, (Tuban, Jatim)
  55. Niam At-Majha, (Kudus, Jateng)
  56. Nova Linda, (Pekanbaru)
  57. Nurhadi, (Kendal, Jateng)
  58. Okto Muharman, (Batuhampar, Sumbar)
  59. Oscar Amran , (Bogor, Jabar)
  60. Retno Handoko, (Sumatra Utara)
  61. Riyanto, (Purwokerto, Jateng)
  62. Ruhyati, (Indramayu, Jabar)
  63. Seruni Tri Padmini, (Solo, Jateng)
  64. Sofyan rh Zaid, (Bekasi)
  65. Sri Wintala Achmad, (Cilacap, Jateng)
  66. Sulaiman Djaya (Serang, Banten)
  67. Sus Setyowati Hardjono (Sragen, Jateng)
  68. Syaki Zanky, (Bogor, Jabar)
  69. Teja Alhabd, (Dewan Kesenian Tanjungpinang)
  70. Toto ST Radik (Serang, Banten)
  71. Trisnatun Mpd, (Ajibarang, Jateng)
  72. Vanera El Arj, (Wonosobo, Jateng)
  73. Wanto Tirta, (Ajibarang, Jateng)
  74. Winarno Jumadi, (Bandung, Jabar)
  75. Wahyu Arya (Serang, Banten)
  76. WYAZ Ibnu Sinentang, (Ketapang, Kalbar)
  77. Windu Mandela, (Sumedang, Jabar)
  78. Yasintus T Runesi, (Jakarta)
  79. Yudi Damanhuri, (Tangerang, Banten)
  80. Yupnical Saketi, (Jambi)
  81. Zen AR  (Sumenep, Jatim)
  82. Zulkifli, S.Pd, (Jambi)


SINGAPORE
  1. Rohani Din, (Toa payoh)
  2. Jumadi Safar (Toa payoh)
  3. Faridah Bte Taib,  (National Institute of Education)
  4. Nordita Bte Taib, (Singapore Sports Council)
  5. Nor Aisya Bte Buang, (Marsiling Drive)
  6. Herman Mutiara, (Singapore)
  7. Khaziah Bte Yem, (Ministry of Education, Singapore)
  8. Dodi Alfy AZ, (Changi Airport & Road Sweeper)
  9. Ifa Hanifah, (Singapore)
  10. Khaireen Faezah, (Nanyang)
  11. Norhidayat Bin Mohamad Noor, (Bukit Batok)
  12. Mohd Khair Mohd Yasin, (Singapore)
  13. A.Jaaffar Munasip,  (Woodlands, Singapore)
  14. Kamaria Bte Buang, (Yhisun)



MALAYSIA
  1. Prof. Dr. Wan Abu Bakar, (Kuala Lumpur)
  2. Ampuan Awang, (Kinabalu)
  3. Azmi Nordin, (Klantan)
  4. Che Fauziah binti Idrus, (Kuala Lumpur)
  5. Ilya kalbam, (Kuala Lumpur)
  6. Didi Pengeja Adabi , (Hang Tuah)
  7. Gabriel Kimjuan, (Labuan)
  8. Mahlis Tompang, (Malaka)
  9. Mohd Ayadi, (Klantan)
  10. Norjanah MA, (Pulau Pinang)
  11. Roslan Syarif, (Slangor)
  12. Rosnani Ahmad, (Kedah)
  13. Teratai Abadi, (Kuala Lumpur)
  14. Sani La Bise, (Sabah)
  15. Sharimi Che Rus, (Kedah)
  16. Syafrein Effendi Usman, (Malaka)
  17. Ummi Marsheyta, (Kuala Lumpur)
  18. Umar Uzair, (Kuala Lumpur)
  19. Shirly Idris, (Pulau Penang)
  20. Rosmiaty Shaari, (Malaka)
  21. Djazlam Zainal, (Malaka)
  22. Abdullah Abdul Rahman, (Ipoh)
  23. Ahmad Ahnaf, (Kuala Lumpur)
  24. Ezah Nor, (Kuala Lumpur)
  25. Badaruddin Sabaruddin, (Kuala Lumpur)
  26. Kamelia Kameel                , (Kuala Lumpur)
  27. Yatim Ahmad, (Sabah)
  28. Hazwan Arif Hakimi, (Petaling Jaya)
  29. Md Radzi Mustafa, (Kuala Lumpur)
  30. Amran Ibrahim Rasidi, (Kuala Kangsar)
  31. Nur Azian Liza, (Ipoh)
  32. Ibnu Din Assingkiri
  33. Ahmad Sirajudin Mohd Tahir, (Perak)
  34. Afik Ikram Muslimin, (Johor)

BRUNEI DARUSSALAM
  1. Abdullah Tahir , (Tutong)
  2. Haji Jawawi, (Brunei)

TAILAND
  1. Dr. Phaosan Jehwae, (Pattani)
  2. Mahroso Doloh, (Pattani)

TAIWAN & HONGKONG
  1. Aini Sekar Arum, (BMI, Formosa )
  2. Jay Wijayanti, (BMI, Taipei)
  3. Lintang Panjer Sore, (BMI, Hongkong)


HAL-HAL LAIN

  1. Undangan resmi akan diserbarkan secara periodik mulai tanggal 20 Juni 2014.
  2. Untuk mempermudah kawan-kawan berkomunikasi dengan pemerintah setempat, kami mengundang juga dinas kesenian dan kebudayaan setempat.
  3. Tamu undangan akan mendapatkan akomodasi berupa penginapan dan konsumsi selama kegiatan berlangsung.
  4. Tamu undangan diharapkan hadir sebelum acara pembukaan dimulai (Jumat, 08 Agustus 2014 pukul 15.30 Waktu Indonesia Barat).
  5. Tamu undangan dari luar kota atau luar negeri yang menggunakan pesawat akan dijemput di Bandara/airport Soekarno Hatta, Jakarta dari pukul 09.00-13.00 Waktu Indonesia Barat.
  6. Tamu undangan yang menggunakan kereta akan dijemput di Stasiun Merak dari pukul 09.00-13.00 Waktu Indonesia Barat.
  7. Tamu undangan yang menggunakan Bus umum akan dijemput di Terminal PCI, Cilegon dari pukul 09.00-13. 00 WIB Barat.
  8. Tamu undangan yang datang di atas jam 13.00 akan diberi rute jalan menuju tempat kegiatan oleh panitia.

Demikian informasi sementara mengenai Pertemuan Penyair Asia Tenggara dan Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra ini disampaikan. Ada pun hal-hal yang ingin ditanyakan silakan diajukan kepada pantia.



Salam hormat kami,

Muhammad Rois Rinaldi
Ketua Pelaksana


Indra Kusumah
Ketua Umum Dewan Kesenian Cilegon


 sastra.bojonegoro

Rabu, 04 Juni 2014

Persiapan Festival Bengawan Bojonegoro, Gelar rapat

sastra.bojonegoro





Persiapan Festival Bengawan, Gelar Rapat Gabungan  


Reporter:Hazhu Muthoharoh

SastraBojonegoro. - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bersama Dewan Kebudayaan Bojonegoro (DKB) menggelar pematangan konsep Festival Bengawan Bojonegoro Rabu (4/6/2014). Rencananya festival akan digelar Agustus mendatang.

Rapat koordinasi juga dihadiri Satuan kerja terkait seperti Dinas Perhubungan, Dinas Perindustrian dan perdagangan serta Forum Komunitas Peduli Budaya (FKPB). Rapat membahas konsep yang akan diusung pada festival nanti dengan tujuan memperingati Hari Jadi Bojonegoro serta Hari Kemerdekaan RI, juga untuk menciptakan lingkungan budaya yang bersih.

"Di Bojonegoro, sungai melintas mulai Margomulyo hingga Baureno melewati 89 Desa di 11 Kecamatan. Jadi Festival ini nantinya akan menampilkan potensi-potensi yang dimiliki Bengawan Solo Bojonegoro mulai dari budaya, sejarah hingga kuliner," terang Kadisbudpar Bojonegoro, Bambang Suharno.

Festival ini juga sesuai dengan instruksi Bupati Bojonegoro untuk memperkenalkan potensi yang ada di Bengawan Bojonegoro baik dikancah lokal, nasional hingga international. Dengan mengangkat budaya daerah yang ada. Diharapkan masyarakat bisa tahu dan paham, seperti salah satunya budaya teplok sebelum membakar batu bata di tepian sungai bengawan, serta kuliner khas Bengawan seperti ikan wader dan ikan Jendil.

Seperti diketahui DKB sebelumnya mengusulkan konsep festival Bengawan Bojonegoro selama 3 hari 3 malam dengan aneka hiburan, budaya dan lomba-lomba. Namun konsep ini masih dikaji dan dimatangkan demi terselenggaranya acara yang sesuai dengan potensi yang dimiliki Bojonegoro.

"Masih kita bahas terus, untuk selanjutnya akan kami ajukan ke Bupati mana konsep yang disetujui,"terang Ketua DKB, Kuzaini.[zhu/ang]






Selasa, 27 Mei 2014

Panitia Festival Bengawan Bojonegoro Dibentuk









Reporter: Hazhu Muthoharoh

sastraBojonegoro. - Bersamaan dengan perayaan Hari Jadi Bojonegoro nanti, Dewan Kebudayaan Bojonegoro(DKB) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro akan menggelar Festival Bengawan Bojonegoro.

Malam ini, Jumat (23/5/2014) anggota DKB menggelar rapat pembentukan panitia yang akan menjadi koordinator acara yang rencananya akan digelar selama 3 hari 3 malam dengan setting Bengawan Bojonegoro.

Menurut Ketua DKB, Kuzaini, Festival ini akan dipusatkan di 3 titik yang berdekatan dengan Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, di antaranya Desa Ringinrejo, Desa Sukoharjo dan Lapangan Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk.

"Selain untuk memperingati Hari Jadi Bojonegoro, Festival Bengawan Bojonegoro ini juga bertujuan untuk mengenalkan kebudayaan Bojonegoro, tidak hanya skala nasional tetapi juga di Asia Pasifik," ungkap penulis buku ]Untu Emas ini.

Festival ini diperkirakan akan berjalan sangat meriah dengan berbagai acara seni juga budaya seperti lomba gethek atau perahu hias, suguhan tari-tari tradisional, langen tayub, wayang kulit, lomba layang-layang, dongeng cerita rakyat, lomba melukis dan masih banyak lagi.

Untuk hari dan tanggal pelaksanaan, sementara masih belum ditentukan. Namun yang pasti masih dalam rangkain HJB usai hari raya Idul Fitri.

"Harapan kami  bisa disiarkan di 7 Jaringan TV internasional karena nantinya juga akan mengundang media nasional untuk meliput festival besar ini," pungkas pria yang akrab disapa Kang Zen ini. [zhu/yud]

Kamis, 15 Mei 2014

Pelatihan Sastra Jawa

sastra-bojonegoro.blogspot.com







sastra bojonegoro - Puluhan guru Bahasa Jawa tingkat SMP se-Bojonegoro mendatangi aula SMP Model Terpadu guna menghadiri acara pelatihan menulis cerito cekak (cerkak) dan membaca geguritan, Rabu (14/5/2014). Sebelum memasuki ruangan, bazar buku karya penulis Bojonegoro menyambut para guru. Misalnya buku Kumpulan Cerkak SMP 1 Baureno, juga penulis PSJB lainnya.

Acara ini terselenggara atas kerja sama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Bojonegoro dan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Selain dihadiri peserta dari Bojonegoro, beberapa peserta ternyata berasal dari luar kota. Ketua PSJB, JFX Hoery, mengatakan ada peserta yang datang dari Ngawi dan Blora.

“Iya cukup puas dengan terselenggaranya acara ini, karena para peserta juga antusias. Semoga ada hasilnya dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Selain Hoery, tampak pegiat sastra lain juga hadir. Seperti Gampang Prawoto dan Hary Nugroho. Sementara tiga peraih rancage: Widodo Basuki, Nono Warnono dan Djayus Pete didapuk sebagai narasumber dalam pelatihan tersebut. Widodo Basuki memeragakan bagaimana membaca geguritan. Sedangkan Djayus dan Nono menyampaikan materi bagaimana mencari ide penulisan dan teknik-teknik penulisan cerkak.

Bagi Djayus, ide cerita bisa datang dari mana saja. Bisa dari orang, buku dan kejadian tertentu. Baginya seorang sastrawan harus pandai-pandai menangkap sinyal dari alam. Karena alam memberikan sejuta ide untuk bisa ditulis dalam karya sastra. Melihat banyaknya penulis sastra jawa di Bojonegoro, Djayus menganggap bahwa Bojonegoro bisa dianggap sebagai barometer sastra jawa di Jawa Timur.

“Oleh sebab itu dengan adanya seperti ini saya berharap akan muncul generasi-generasi penulis sastra dari Bojonegoro yang berkualitas,” pungkas pria yang mengaku tak pernah merasa tua tersebut. [rul/yud]


Sekitar 120 peserta mengikuti pelatihan menulis Bahasa Jawa "cerkak" (cerita cekak) dan "geguritan", yang diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Daerah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Ketua MGMP Bahasa Daerah SMP/Mts Bojonegoro Sri Kuniwati, mengatakan, tujuan diselenggarakannya pelatihan menulis Bahasa Jawa tersebut merupakan usaha meningkatkan kamampuan guru Bahasa Daerah SMP dan Mts baik negeri maupun swasta, juga para siswa.

Selain itu, pelatihan tersebut juga sebagai usaha mengenalkan Bahasa Jawa kepada para siswa yang tertarik untuk menekuni Bahasa Daerah.

Ia menyebutkan sekitar 120 peserta pelatihan menulis Bahasa Jawa tersebut tidak hanya guru lokal, tetapi ada juga sejumlah guru asal Ngawi dan Magetan, bahkan asal Kabupaten Grobokan, Jawa Tengah.

Kehadiran peserta luar daerah mengikuti pelatihan, katanya, karena memperoleh undangan dari Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB), yang mendukung pelatihan.

"Kami datang mengikuti pelatihan Bahasa Jawa, sebab di Ngawi dan Magetan tidak pernah ada pelatihan menulis Bahasa Jawa," kata seorang guru SMPN 3 Ngawi Wening, yang datang bersama tiga guru asal Ngawi dan tiga guru asal Magetan.

Oleh karena itu, katanya, pelatihan yang diikuti tersebut merupakan usaha para guru Bahasa Daerah Ngawi dan Magetan, untuk memperoleh ilmu dalam menulis Bahasa Jawa.

"Di Ngawi dan Magetan jarang ada sastrawan Jawa, tetapi di Bojonegoro cukup banyak," ujarnya.

Pelatihan menulis Bahasa Jawa tersebut menampilkan nara sumber sastrawan Jawa Bojonegoro Djajus Pete dan Nono Warnono, dengan materi cara menulis "cerkak", selain itu juga Redaksi Majalah Joyoboyo di Surabaya Widodo Basuki.

"Pelatihan menulis Bahasa Jawa ini layak mendapatkan apreasisasi, sebab sangat jarang ada pelatihan menulis Bahasa Jawa," jelas Djajus Pete.

Di lokasi pelatihan, sekaligus juga dijual berbagai buku dalam Bahasa Jawa yang diterbitkan PSJB dalam bentuk "cerkak", "geguritan", novel, juga sejarah.

"Ada 15 judul buku Bahasa Jawa yang sudah ditertibkan PSJB. Kalau di pasaran umum harganya berkisar Rp25.000 sampai Rp40.000/buku," kata Ketua PSJB, JFX Hoery. (*)





Sumber:
blokBojonegoro.com -antarajatim.com

Minggu, 11 Mei 2014

Bedah Antologi Puisi 'Epifani Serpihan Duka Bangsa'

sastra-bojonegoro.blogspot.com






Bedah Antologi Puisi  'Epifani Serpihan Duka Bangsa'
sastra-bojonegoro - Atas dasar pengalaman dan intensitas dua hal yakni pro dan kontra bencana sebagai pemicu kelahiran penyair peduli bencana, "Epifani" menerapkan kaidah tahapan seni dan kaidah tahapan jurnalistik. Dengan menerapkan kedua kaidah tersebut adalah sebagai contoh kongkret seni sastra puisi berdasarkan catatan jurnalistik sejarah.

Itulah salah satu cuplikan kata-kata narasumber Yonathan Raharjo dalam bedah buku karya penyair peduli bencana Indonesia "Epifani Serpihan Duka Bangsa". Bedah buku yang digelar di Aula SMKN 2 Bojonegoro, Sabtu (10/5/2014) juga menghadirkan sastrawan, Anas AG sebagai narasumber.

Puisi dan Penulisnya

Perempuan Dan Reruntuhan Karya: Agus Hariyanto Rasjid 
Bocah Kecil Dan Reruntuhan Karya: Agus Hariyanto Rasjid

            Bertanya Bencana Karya: Agus Sukoco 
       Bencana Itu Adalah Kamu Karya: Agus Sukoco

        Jangan Menangis Beee !!! Karya: Aloeth Pathi 
           Pesan Dari Gunung Karya: Aloeth Pathi

                 Perjalanan Karya Anta Sulthoni

             Yang Tersisa Karya: Apollonia Corida

           Negeri Atas Angin Karya: Ary Nurdiana 
         Janjiku Pada Negeriku Karya: Ary Nurdiana 
             Wajah Negeriku Karya: Ary Nurdiana 
               Anak Negeri Karya: Ary Nurdiana

             Nyanyian Ciliwung Karya; Aryo Ayok

        Tangisan Bumi Pertiwi Karya: As Syifa Aulia 
   Kidung Perih Gunung Sinabung Karya: As Syifa Aulia 
            Muhasabah Diri Karya: As Syifa Aulia 
         Sinabung Berguncang Karya: As Syifa Aulia

           Tanah Yang Murka Karya: Asri Aprianti

                Emosi Alam Karya: Asrie Dede 
    Di sini Aku Kirim Doa Untukmu Karya: Asrie Dede 
    Sampai Di Mana Perjalananmu Karya: Asrie Dede  
               Getaran Nada Karya: Asrie Dede

              Pada Mata Itu Karya: Asrie Lestari 
            Catatan Almanak Karya: Asrie Lestari 
            Jika Alam Marah Karya: Asrie Lestari

   Trenyuh Empati Karya; Bambang Kustedjo Soedarjo 
    Bulan Berkabut Karya; Bambang Kustedjo Soedarjo

                   Duka Karya: Budi Wiyono 
                   Resah Karya: Budi Wiyono

      Tiada Pantas Aku Berdiri Karya: Burhanudin Joe 
        Sinabung Menggugat Karya: Burhanudin Joe 
 Gunungku Terlanjur Tua Karya: Burhanudin Joe 
              Indonesiaku Karya: Burhanudin Joe

 Bukan Toba Supervolcano Karya: Didi Pengeja Al Adabi 
Manuskrip Kegelisahan Cinta Karya: Didi Pengeja Al Adabi 
        Genta Sebuana Karya: Didi Pengeja Al Adabi 
     Replika Untung Diri Karya: Didi Pengeja Al Adabi

         Bencana Negeriku Karya: Fitryana Nur Aini 
      Berdoa Dalam Bencana Karya: Fitryana Nur Aini 
         Meratus Menangis Karya: Fitryana Nur Aini

  Tragedi Cinta Nestapa Kelud Karya: Gampang Prawoto
            Wisik Kelud Karya: Gampang Prawoto

   Bocah Kecil Dalam Dekapan Karya: Hastira Soekardi

    Menaguk Ikan Di Air Keruh Karya: Helmi Setyawan 
        Mengapa Harus Kami Karya: Helmi Setyawan 
   Untuk Tuan Pemberi Bantuan Karya: Helmi Setyawan

                 Bencana Karya; Hendi Tragedi

          Menuai Bencana Karya: Herry Abdi Gusti 
          Festifal Gunung Karya: Herry Abdi Gusti

                 Sadarlah Karya: Ining Rusmini 
              Ujian Tuhan Karya: Ining Rusmini 
              Api Sinabung Karya: Ining Rusmini

                  Banjir Karya: JF Widianigsih 
                   Sesal Karya: JF Widianigsih

            Tangisan Malam Karya: JF Widianigsih 
          Semua Salah Kami Karya: JF Widianigsih

        Mungkin Tuhan Marah Karya: Koko Prianto 
                   Lahar Karya: Koko Prianto

       Gerimis Di Mata Negeri Karya: Minto Leksono 
           Gemuruh Bumiku Karya: Minto Leksono 
         Lemahnya Tegunku Karya: Minto Leksono 
             Jangka Rasaku Karya: Minto Leksono

        Pahitnya Merapi Karya: Muhammad Zamzuri

             Teguran-Nya Karya: Mustamir Khafid 
              Berkabug Karya: Mustamir Khafid

           Ratap Tole Karya: Nani S Kartamihardja 
Tidurlah Dengan Damai Karya: Nani S Kartamihardja 
   Hilanglah Mimpi-mimpi Karya: Nani S Kartamihardja

      Bersabarlah Tanah Karo Karya: Neny Makmum 
      Mungkin Teguran Tuhan Karya: Neny Makmum 
      Jangan Pernah Berhenti Karya: Neny Makmum 
          Kekuatan Itu Ada Karya: Neny Makmum

        Suatu Senja Di Tanah Karo Karya: Nieranita 
        Hilangnya Kepingan Jamrud Karya: Nieranita 
                  Satu Menit Karya: Nieranita 
             Bila Tiba Saat-Nya Karya: Nieranita

    Semua Bisu Tertutup Abu Karya: Nur Ria Widiarti 
         Tradisi Kungkum Karya: Nur Ria Widiarti

            Rencana Bencana Karya: Octavianus

           Rindu Senyum Sinabung Karya: Renita 
                 Duka Sinabung Karya: Renita 
              Di Manakah Ayahku Karya: Renita 
                Ratapan Pribumi Karya: Renita

            Bumiku Membiru Karya: Retno Dinar

       Bumi Berselimut Duka Karya: Reza Mahardika

            Tangisan Anak Karya: Ricky Adityanto

    Simpan Amarahmu Sinabung Karya: Rose Marry St 
           Tegur Tuk Tegar Karya: Rose Marry St 
         Debu Berhamburan Karya: Rose Marry St 
             Tragedi Kelud Karya: Rose Marry St

        Mari Bergandeng Tangan Karya: S Indayani 
                Relung Hati Karya: S Indayani 
           Berbagilah Denganku Karya: S Indayani 
             Nyalakan Cahaya Karya: S Indayani

      Tangisan Putra Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
 Pesan Cinta Dari Kelud Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
       Surat Pendek Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
Jangan Marah Pada Kami Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
          Kematian Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar

    Dongeng Dari Negeri Bencana Karya: Sidik Ihwani 
              Sketsa Kelud Karya: Sidik Ihwani

  Maafin Emak Nak Karya: Srikandy Ayoe
            Pusara Cinta Karya: Srikandy Ayoe

              Amarah 1 Karya: St Sri Emyani 
              Amarah 2 Karya: St Sri Emyani

     Kenangan Tentang Kelud Karya: Tino Jooshe 
             Mari Bersujud Karya: Tino Jooshe 
             Cerita Marni Karya: Tino Jooshe

    Indoonesia Tanah Air Mata Karya: Tosa Poetra 
        Tak Ada Kabar Baru Karya: Tosa Poetra 
Sepenggal Cerita Dari Pandansari Karya: Tosa Poetra

          Padang Ilalang Karya: Tulus Setiyadi 
      Kelud Mewakili Tuhan Karya: Tulus Setiyadi

           Ampuni Kami Karya: Utada Tienza

              Semoga Karya: Widuri Dewanti 

sastra-bojonegoro.blogspot.com


.

Senin, 05 Mei 2014

SMA N 3 Terbitkan Antologi Puisi

sastra-bojonegoro.blogspot.com





 Siswa SMAN 3 Bojonegoro Terbitkan Antologi Puisi
Kontributor: Nasruli Chusna

blokBojonegoro.com - Menjelang akhir masa pembelajaran, siswa kelas XII SMAN 3 Bojonegoro menerbitkan antologi puisi bersama. Dari keempat antologi yang diterbitkan, para siswa patungan untuk mengganti biaya cetak dan penerbitannya.

Diprakarsai oleh guru Bahasa Indonesia mereka, Susanto, antologi puisi bersama tersebut dikemas menjadi sebuah tema besar, yaitu pohon, sehingga masing-masing bukunya berjudul ranting pohon, daun, duri, dan akar.

Susanto mengatakan, “Memang pada proses pengerjaannya saya arahkan untuk menulis berdasarkan apa yang mereka lihat. Bisa di lingkungan rumah, maupun di sekolah.” Di antara judul puisi dalam antologi tersebut adalah sepatu, bungkus permen, sampah, dan batu.

Selain karena pelajaran di sekolah, menurut Susanto, tujuan penerbitan antologi itu adalah untuk menumbuhkan semangat berkarya bagi para siswa. Baginya, jika ingin mengajak anak didik untuk berkarya, harus dimulai dari diri sendiri agar siswa terinspirasi dan mendapat contoh bahwa gurunya juga seorang penulis. Hal ini yang menurutnya jarang sekali ditemui di lapangan.

Rencananya, peluncuran antologi tersebut akan dilaksanakan bertepatan dengan hari kebangkitan nasional pada 20 Mei nanti. Namun, karena beberapa sebab jadwal tersebut dimajukan pada 3 Mei, bertempat di SMAN 3 Sendiri.

“Jadi nanti ketika para siswa sudah lulus dan keluar, mereka sudah menelorkan karya sendiri. Semoga ini bisa menjadi motivasi agar lebih maju,” pungkas Susanto. [rul/lis]




Minggu, 04 Mei 2014

Tiga Sastrawan Bojonegoro Bacakan Karyanya di DKS

sastra-bojonegoro.blogspot.com





Kontributor: Nasruli Chusna

blokBojonegoro.com - Selasa (22/4/2014) malam ini, tiga pegiat sastra Bojonegoro bakal menampilkan karya mereka di depan sastrawan se-Jatim. Acara yang bertajuk Malam Sastra Jawa tersebut diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Surabaya (DKS).

Pada kesempatan tersebut, sastrawan Bojonegoro yang diundang di antaranya JFX. Hoery, Nono Warnono, Gampang Prawoto dan Sri Setyo Rahayu. Hanya saja karena ada keperluan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), JFX. Hoery tak dapat hadir.

“Selain upaya pelestarian dan pengembangan budaya Jawa, acara ini juga biasa digunakan sebagai ajang silaturahmi para pegiat sastra di Jawa Timur,” tutur peraih dua penghargaan rancage tersebut.

Pria kelahiran Pacitan tersebut menambahkan bahwa acara Malam Sastra Jawa tersebut nantinya akan lebih menampilkan geguritan. Meski tak dapat hadir, ia berharap anggota PSJB yang hadir dapat menampilkan yang terbaik.

“Teman Bojonegoro yang berangkat tiga orang. Sayang kulo tidak bisa turut serta. Saya yakin teman-teman akan menampilkan yang terbaik,” pungkas mantan wartawan Kedaulatan Rakyat (KR) Yogjakarta tersebut. [rul/yud]
 





Santoso Sejak Kecik Jadi Dalang Juga Pengrajin Wayang

sastra-bojonegoro.blogspot.com






  Sejak Kecil Jadi Dalang, Kini Juga Membuat Wayang
Kontributor: Nasruli Chusna
blokBojonegoro.com - Tak jarang orang yang menjadi dalang sekaligus mampu memproduksi wayang. Namun, Santoso, dalang asal Dusun Pinggiran, Desa/Kecamatan Padangan, Bojonegoro, melakukan semuanya. Selain sebagai dalang, ia memproduksi sendiri aneka wayang yang kemudia dijualnya. Hasil produksinya ada yang terjual sampai Thailand.

Ia lahir pada tahun 1945, dan mulai menjadi dalang pada saat kelas lima SD. “Nggak tahu kenapa, sejak kecil kalau ada pergelaran wayang pasti lihat. Dari cerita-ceritanya itu lha kok langsung kesemsem,” kenangnya.

Santoso mencatat seluruh cerita dan tokoh pada tiap pergelaran wayang yang dilihatnya. Karena ketekuknannya ia berhasil menghafal beberapa lakon kemudian menampilkannya di muka umum.

Mengingat usianya yang masih belia, ketika pertama kali tampil menjadi dalang, ia langsung kondang dan mendapat banyak job. Hanya saja penampilannya belum bisa semalam suntuk. “Paling malam jam satu, soale sudah ngantuk dan besoknya sekolah,” katanya.

Saat belajar, kakek dua cucu tersebut sama sekali tak kesulitan memahami bahasa penyampainya, yakni bahasa ringgit. “Bahasa ringgit. Artinya yaitu sari-sarine nganggit, jadi sesuatu yang bernilai saja yang dibawakan. Semua unsur dalam pewayangan mengandung filosofi yang tinggi dan nggak banyak orang yang ngerti,” ujar Santoso.

Menurut Santoso pesan-pesan dalam cerita wayang tak jauh dari ajaran agama. Ketika mementaskan wayang kulit, ia menjelaskan, layar lebar yang menangkap seluruh bayangan tokoh wayang mempunyai makna tersendiri. Adanya bayangan menunjukkan bahwa kita tidak hanya hidup di dunia.

“Ada wayang dalam bentuk nyaya, tapi juga ada bayangannya. Artinya manusia berada pada dunia dan akhirat,” tuturnya. Oleh karena itu ia berharap seni wayang tak akan pernah mati dan harus ada penerusnya," katanya.

Dari profesi dalang itulah ia dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Karena putra-putranya tak ada yang berminat dalam bidang seni, ia mengajarkan ketrampilannya pada siapa saja yang mau. Termasuk dua siswa SMP 1 Cepu yang pernah ia ajak pentas di Bojonegoro.

Dalam pergelaran, Santoso bisa membawakan berbagai jenis wayang. Seperti wayang kulit, tengul/golek dan wayang krucil. Perbedaan mendasar dari tiga jenis wayang tersebut, menurutnya, terletak pada cerita atau lakon yang dibawakan.

Wayang kulit membawakan cerita legenda seperti Ramayana, Mahabarata dan Dewaruchi. Sementara wayang tengul bisa mengadaptasi dari sejarah nyata. “Contohnya kerajaan Majapahit bisa kita angkat ke wayang thengul, kalo lakon wayang krucil itu sama dengan wayang kulit,” jelas pria berkacamata tersebut.

Menjelang usianya yang ke-70 berbagai daerah sudah pernah ia sambangi. Mulai dari Blora, Tuban, Lamongan dan Bojonegoro sendiri. Selain menjadi dalang, ia juga membuat sendiri wayang-wayangnya. Bapak lima anak tersebut bisa membuat wayang kulit, wayang tengul/golek dan wayang krucil.

Bagi lulusan Sekolah Perpaduan (stingkat SMP) tersebut proses pembuatan wayang krucil relatif lebih rumit. Karena selain harus telaten, harus menguasai ketrampilan seni pahat dan ukir. Bahan bakunya terbuat dari kayu jati, yang dibentuk dan dipahat sebagaimana tokoh pewayangan seperti Janoko dan Punokawan. Bagi yang hendak memesan, ia biasa mematok harga Rp200.000 sampai Rp350.000. tergantung motif dan tingkat kesulitannya.

“Satu paketnya bisa terdiri dari 80 tokoh, saya biasanya menjual sampai Rp15 juta. Dulu disbudpar Bojonegoro juga pernah saya buatkan satu kotak. Ada juga yang dibawa sampai ke Thailand,” terang Santoso.[rul/ang]




Minggu, 27 April 2014

Siswa SMPN 1 Baureno Terbitkan Antologi Cerkak

sastra-bojonegoro.blogspot.com






Siswa kelas IX SMP 1 Baureno menerbitkan buku antologi cerkak dalam Bahasa Jawa berjudul Lung. Antologi ini terdiri dari 22 judul yang masing-masing disusun oleh 1 sampai 5 siswa.

Adapun proses penyusunannya dibantu oleh guru mata pelajaran Bahasa Jawa, Emi Sudarwati dan pegiat sastra di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Sebagai editor sekaligus penyelaras bahasa adalah Ketua PSJB, JFX Hoery dan Hary Nugroho.

Hoery berharap dengan terbitnya antologi ini menjadi wadah bagi penulis muda untuk berkarya. Sehingga kaderisasi penulis Sastra Jawa di Bojonegoro dapat berjalan. Ia juga mengatakan bahwa dengan terbitnya antologi tersebut menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi dunia sastra di Bojonegoro, khususnya Sastra Jawa.

“Mudah-mudahan bisa lanjut dengan proyek-proyek selanjutnya dan mendapat tempat di hati para pembacanya,” tutur peraih dua  penghargaan rancage tersebut.

Bagi kakek lima cucu ini, menjaga kelestarian Sastra Jawa adalah tugas bersama. Menurutnya jangan sampai anak cucu kita tidak mengenal budayanya sendiri.

“Kalo punya anak nanti jangan sampai menjadi anak yang tidak 'njowo',” terang Hoery ketika dijumpai di kediamannya.  Di samping itu, ia bersama anak-anak SMP 1 Baureno juga sedang proses menggarap proyek selanjutnya, yaitu antologi drama. [rul/yud]
 




Kamis, 24 April 2014

Launching Kumpulan Geguritan "Mlesat Bareng Ukara"

sastra-bojonegoro.blogspot.com






SURABAYA - Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Selasa (22/4/2014) malam menggelar Malam Sastra Jawa di galeri Surabaya, komplek Balai Pemuda. Penampilan para seniman sastra Jawa itu tidak hanya geguritan (baca puisi), tapi juga diisi dengan panem bromo (kor tembang), tari-tarian, dan launching buku kumpulan geguritan "Mlesat Bareng Ukara".

Suasana sederhana terlihat di galeri Surabaya saat Malam Sastra Jawa itu digelar. Tidak ada meja bundar yang dikeliling kursi berbalut kain. Tapi cukup tikar plastik yang menghadap panggung kecil. Pencahayaan minimalis tampak dari nyala beberapa lampu bohlam kuning. Para penonton pun duduk lesehan beralaskan tikar.

Makanannya pun hanya camilan tradisional, seperti, kacang tanah rebus, serta makanan umbi-umbian rebus, semacam ketela rambat, ketela pohon, serta pisang rebus.

Beberapa tokoh hadir, seperti, penulis Suparto Brata, dr Ananto Sidohutomo MARS, Widodo Basuki, Aming Aminoedhin, dan para pelaku sastra Jawa dari STKW, Unesa, dan komunitas sastra Jawa dari berbagai daerah. Acara dimulai dengan penampilan anak-anak dengan iringan gending Jawa.

Saat pembukaan, Suparto Brata, memberikan taliasih buku-buku berbahasa Jawa kepada pengurus PPSJS. Usai membuka acara, para undangan, satu per satu membacakan puisi atau geguritan yang ada dalam buku "Mlesat Barng Ukara". Dalam buku itu, berisi puisi Jawa atau geguritan karya dari 23 seniman Jawa.

Aming Aminoedhin
Tengsoe Tjahjono
R. Giryadi
R. Djoko Prakoso
JFX. Hoery
Widodo Basuki
Nanik Handayani
Sri Setya Rahayu
Nono Warnono
Gampang Prawoto
Puspo Endah
Teguh Harjono
Jarot Setyono
Agung Pranoto
Trinil
Indri S. Diarwanti
Suharmono K.
Yayuk YY. Iswatin
Ardi Susanti
Herry Lamongan
Deny Tri Aryanti
Pringgo HR.
Tjahjono Widarmanto


Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Lamongan, Kediri, Magetan, Trenggalek, Sidoarjo, Mojokerto, Bojonegoro, dan ada yang dari Korea, yaitu Tengsoe Tjahjono, yang sedang menjadi pengajar di Seoul, Korea Selatan.

Di sela geguritan, Suparto mengungkapkan saat ini sastra Jawa masih ada empat kelompok yang menampilkannya dalam even sejenis malam sastra Jawa.

"Karena UNESCO sendiri sudah memberikan perhatian untuk pelestarian dan pengembangan yang terkodrat di dunia. Termasuk bahasa Tradisional. Bahasa Jawa termasuk dalam bahasa tradisional ini," jelasnya.

Sesepuh PPSJS ini juga menambahkan bila UNESCO juga membentuk tanggal 21 Februari sebagai hari bahasa Ibu. Internasional. Dimana semua warga dunia di hari itu, menggunakan bahasa ibu atau bahasa tradisional mereka dalam berdialog.

"Nah dengan pagelaran malam sastra Jawa seperti ini, paling tidak usaha untuk pelestarian dan pengembangan budaya Jawa bisa dilakukan," lanjutnya.

Para undangan ikut membaca geguritan tampak puas dan bangga. "Saya sebenarnya tidak begitu mendalami bahasa Jawa, meski itu adalah bahasa ibu yang saya pakai sehari-hari. Begitu tahu ada malam sastra seperti ini, seperti membuka kembali arti bahasa jawa yang saya gunakan," komentar Lintang Wijayanti, mahasiswa Unair yang hadir dalam acara itu.

Malam itu, Lintang juga ikut geguritan. Usai membaca puisi, mengaku ketagihan dan penasaran dengan membaca buku berbahasa Jawa.


 sastra-bojonegoro.blogspot.com

















sastra-bojonegoro.blogspot.com



Selasa, 15 April 2014

Situs Manusia Purba Ditemukan di Margomulyo

sastra-bojonegoro.blogspot.com





Situs Manusia Purba Ditemukan di Margomulyo
Situs Manusia Purba Ditemukan di Margomulyo 















Selasa, 15 April 2014 
Kontributor: Nasruli Chusna

blokBojonegoro.com - Di ujung barat Bojonegoro, kemudian mengarah sedikit ke selatan, telah ditemukan situs manusia purba luar biasa. Situs tersebut terdapat di Dusun Matar, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo.

Sejak tahun 2012 pakar arkeolog dari Badan Penelitian Nasional, Prof Truman Simanjutak, sudah melakukan penggalian dibantu oleh tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) yang beralamat di Sragen Jawa Tengah. Untuk selanjutnya para peneliti menyebutnya dengan Situs Matar.

Menurut Truman, situs yang masih ‘perawan’ tersebut sudah dicium oleh peneliti asal Belanda, Von Koenigswald, sejak tahun 1995. Dimana sebelumnya Koenigswald sedang melakukan penggalian di situs Ngandong. Koenigswald sengaja memanggil Turman ke Belanda dengan tujuan memintanya sesegera mungkin melaksanakan penelitian di Matar.

“Kondisi geografis Bojonegoro yang dilewati Bengawan Solo, menjadikannya sangat berpotensi munculnya penemuan-penemuan penting. Terutama di bidang arkeolog,” jelas Turman.

Keberadaan Situs Ngandong dan Matar sendiri terbelah oleh Sungai Bengawan Solo, sehingga letak keduanya saling berseberangan. Bagi Truman, untuk sampai ke sana tidaklah mudah. Harus melewati jalur memutar, kemudian menyebrangi Bengawan Solo dari Kabupaten Blora. Selanjutnya medan yang harus ditempuh masih berupa batu dan lumpur.

“Ini aset sangat berharga dari Bojonegoro. Harus dijaga dan dilestarikan, tentu saja sarana untuk sampai ke sana juga harus diperbaiki,” sapa dosen arkeolog Universitas Indonesia tersebut kepada Kabid Pelestarian dan Pengembangan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Suyanto.

Pada kesempatan sosialisasi Situs Matar di Disbudpar Bojonegoro, Selasa (15/4/2014), turut hadir ketua BPSMPS, Sukron Hadi. Sukron menyampaikan presentasi sekilas tentang Situs Sangiran, yang kini telah dilengkapi dengan beberapa fasilitas. Diantaranya museum, mess peneliti dan ruang seminar dengan berbagai kapasitas. Ia mengaku sangat berhasrat menjadikan situs matar seperti sangiran.

“Buat adik-adik dan ibu guru yang mau belajar lebih jauh nanti bisa datang ke Sangiran,” ujarnya.

Acara yang digelar di Balai Disbudpar tersebut dihadiri oleh ratusan peserta. Hal ini di luar target panitia penyelenggara, yang hanya menargetkan 50 orang. Peserta merupakan utusan dari pelajar SMP, dan sedikit siswa SMA. Selain itu para pemerhati budaya seperti pengumpul fosil dari Kalitidu, Hary Nugroho, sangat antusias menyimak materi dari narasumber.

Sementara itu seorang penanya bernama Satria dari SMA 1 Dander menyayangkan waktu penyelenggaraan yang bersamaan dengan Ujian Nasional. “Acara seperti ini sangat penting, kalo diselenggarakan di pendopo pasti lebih ramai. Kan sayang sekali,” timpalnya. [rul/yud]


sastra-bojonegoro.blogspot.com

Sabtu, 12 April 2014

Kekecewaan , Penyesalan dan Keyakinan Penyair Jiwa Kebhinnekaan

sastra-bojonegoro.blogspot.om





Pengantar Antologi Lumbung Sastrawan Indonesia 2014

Ali Syamsudin Arsi seorang penyair asal Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalimantan Selatan seakan mebuka antologi ini dengan kekhawatiran terhadap negeri dengan terlulis lewat “Daun-daun di jendela Perpustakaan geriis” //… -ada libasan bayang-bayang ketika orang-orang berduyun di belakang berebut saling mencengkeram denga jari-jari tajam – kami hilang catatan – negeri ini semakin menuju arah ke curam-curam ketika tebing dengan setia menelentangkan tubuhnya atas keluh dan semua macam resahnya retak-retak embun sampai pecah-pecah cuaca,..// (Daun-daun di jendela Perpustakaan geriis) bahwa perlunya dokumentasi sejarah di masa sekarang (dibuat januari 2014) dan perlunya pengokohan fundamental anak bangsa yang tidak saja menipis tetapi juga mengkhawatirkan dan bahkan mebahayakan keselamatan bangsa.
.
Lalu Aloeth Pathi dari Sekarjalak-Pati meberikan pembuka jalan agar sedikit optimisme melalui rasa (Tanah Tumpah Darahku II: Daun Kami)
//…bangga apa yang telah diperbuat,
Biarkan yang rontok bercerita
Bahwa kami pernah bersatu menciptakan hijau
Meski kini kering tak memberi sejuk
Tapi pernah menggores catatan
pada batangmu yang mulai rapuh
benih-benih yang aku sebarkan
mulai tumbuh menjadi tunas-tunas
siap menerjang pilar-pilar yang menghadang
biarkan akar itu menjalar
di sisi ruas-ruas jalan….// Aloet Pathi meyakinkan Ada suatu optimisme walau dalam keadaan dan bahkan rintangan, seakan kelak berjalan dengan sendirinya, seakan ia berkata nanti juga aka nada penyelesaian.
apapun itu nama dan jenisnya selalu berserakan.
.
CecepNurbani penyair muda berbakat dar Garut memotret negreri dalam pandangan mudanya yang seakan kecewa, demikian syairnya:
//…ditrotoar..,
kaki lima mengadu nasib dengan
memasang badan takut takut petugas datang
seperti maling mengintip tuan rumah
gadis cilik bersaudara bernyanyi sambil menghirup udara segar dari kaleng Lem
pengamen jalanan bernyanyi bermuram durjana sambil melihatkan taringnya berharap uang kertas yang diterima
suungguh konyol dan menyedihkan negeri ini….//
(Apapun itu Nama dan Jenisnya Selalu Berserakan).
.
Ada suatu yang menarik untuk disimak sebagai renungan dalam mengapresiasi buku ini seperti
Melihat Tanah Air sendiri dari pandangan setiap orang Indonesia adalah warna-warni. Suka dan tak suka, puja dan cerca, senang dan bosan, sanjung dan kritik. Penyair Dwi Klik Santosa memotret Indonesia dala kepahitannya, seperti tertuang dalam “Berita Para Pemabuk”
“Akukah tak layak hidup.
//…Di bumiku yang kaya
janji-janji seperti nyanyian iblis.
Tak benar aku hendak dibawa ke sana.
Tapi lihat aku kini.
Melulu mengais-ngais sampah
di negeri sendiri.”//
Dwi Klik Santosa ingin mengajak untuk enengok kepahitan itu. Kepahitan hidup adalah pengalaman kegetiran seseorang agar ditempa menjadi kuat dan tak terulang.
.
Lalu penyair eL Trip Umiuki menuliskannya dala sebuah syair yang sangat mendalam bahwa keadaan – keadaan Indonesia dengan berbagai problema seperti
“Sumur Tanpa Dasar”, demikian syairnya penutupnya:
//…sarjono namanya
sarjana sains, ekonomi, sekaligus psikologi
sayang pengalaman kerja takpunya
bersimpan bara di kepala minta kerja ia kepada tetangganya
mandor bangunan di kota
mengaduk pasir dan semen ternyata bukan kerja sederhana
dengan dendam membara
mencangkul dia mencangkul
menggali lubang di kebunnya
takpeduli darah berlumur terus mencangkul
menggali sumur
senin selasa rabu kamis jumat sabtu
tak ada minggu dan hari libur ia
terus mencangkul terus//.
Demikian kebhinnekaan menjadi warna-wani dari sudut pandang sastrawan kita. Seperti Fahmi Wahid mencoba mengingatkan akan Indonesia sesungguhnya sebagai negeri maritime negeri bahari yang pernah Berjaya. Lewat “Tangis Keberagaman”, ia menuturkan :
//…di hunjur kuningnya ladang
pada tebaran kicau kepodang
semasa hembus sejuk angin gunung
melipur musim yang kian gamang
petuah dan petitih enggan dimengerti
dan kebersamaan kini tak punya arti
sebab semua manusia tak lagi punya nurani
menyelamatkan kearifan budaya bahari
yang hampir tak terjamah lagi….//
.
Penyair Gampang Prawoto juga menulis bahwa merasakan semua itu adalah rasa dan aroma setiap manusia yang kadang tak mengerti hitam dan putihnya apa yang terjadsi. Seua adalah rasa katanya seperti dituturkan dalam syair :
“Secangkir Rasa”
//…jangan hanya manis di pantai bibir
pahit di pusara hati
lidahku belum kelu
pemanis tak biasa tersuguh di meja rasa
walau tanpa gula
aroma kopimu aku baca tanpa mengeja
panas – hangatnya warna.//.
.
Di puisi Moh. Ghufron Cholid memberi kekuatan utuk meyakinkan pandangan-pandangan itu bahwa Indonesia itu meiliki kekuatan yang tak akan goyah walau dalam kegetiran papa pun. Seperti tertuang dalam :
‘Sebab Indonesia Adalah Kita”
//…tumbuh di tiap mata
mata hari
mata jiwa
mata doa
yang tak kenal purba
Indonesia takkan musnah dalam peta
jika kita tak mengamini ramalan-ramalan asing
yang menanam benih-benih asing
dalam jiwa kerontang….//.
.
Senada dengan Moh. Ghufron Cholid, penyair Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara mengajak utuk saling menjaga keistimewaan Indonesia itu.
“Bhinneka Tunggal Ika adalah Aku”
//…di mana lagi kami tanam bulir harapan
bila seluruh kehijauan hutan bunda
telah habis digeser bangunan-bangunan
berbaju kawat, baja, semen dan beton
ke mana jua kami layarkan perahu kebersamaan
sebab semua kolam susu pertiwi
keruh sampah payau berbisa
bagaimana kami menegakkan tugu pertahanan
karena kini tiap jengkal tanah terbongkar
di keteragisan reruntuhan negeri inilah
mari, kita bergenggam dan saling gandeng bersama
mempertahankan hakikat dan keutuhan bangsa…//.
.
Roni Nugraha Syafroni dalam “Semboyan” di bait terakhir syairnya seakan mengambil keputusan tentang slogan kebangsaan kita agar menjadi semboyan yang tidak saja sebagai slogan tetapi dihayati, seperti dalam syair ini:
//…Semboyan ini tampak tak berguna dan usang,
tapi ada secercah keyakinan tak akan dibuang.
Terus dihayati diamalkan hingga usia petang,
agar berguna teruntuk generasi mendatang.//.
.
Ada sebab-sebab pemberian keputusan itu tentu dari pengalaman dan sejarah bangsa. Seakan tak terima juga jika bangsa ini mengalami keretakan dari rantai kebhinnekaan itu. Soekoso DM menulisnya dalam syair “Sajak Trenyuh Kala Sayap Garuda Nyaris Runtuh”, demikianj bunyi cuplikannya:
//…biarkan beda adat jadi rahmat beda budaya jadi taman bunga sebab Tuhanlah yang telah menanam benihbenihnya
Orangorang bertegursapa saling menjabat saling cinta
(Di ruangruang kelas dan di tanah lapang anakanak bernyanyi lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Bagimu Negeri).//
.
Pujian pun diberikan penyair Syarif hidayatullah lewat
“Rangkaian ikatan huruf, Indonesiaku” seperti dalam cuplikan ini://…Alif yang tegak mampu jadi hutan esok hariNun tanpa titik menjadi danau yang melegenda. Baa nan mungil tempat transportasi membelah sungai negeriku. Gunung-gunung memperindah goresan Tuhan dalam ikatan satu Ika….//.
.
Bahkan Wadie Maharief meyakinkan akan kecintaan terhadap bangsa ini, Ia tuliskan lewat syair “Lima Ekor Merpati Menembus Mendung” demikian bunyi cuplikannya dalam bait terakhir :
//…Lima ekor merpati melesat
Lubang ozon mencairkan es di kutub
Tujuh lapis langit terluka
Lima ekor merpati kehilangan sayap
Jatuh di pulau-pulau terbakar
Api cintamu yang berkobar.//
.
Masih banyak puisi lain yang menarik dan enak dibaca dalam buku ini seperti karya-karya dari : Ridwan Ch. Madris, Sokanindya Pratiwi Wening, Sus S. Hardjono, Abdul Wahid, Andrian Eka Saputra, Dimas Indiana Senja, Eddie MNS Soemanto , Fasha Imani Febrianty, Iwan Kuswandi, Julia Hartini, Mohamad Amrin, Muhammad Hafeedz Amar Riskha, Nieranita, Novy Noorhayati Syahfida, Puji Astuti.
.
Akhirnya Wardjito Soeharso mengajak kita seua untuk merenungkan seperti judul puisinya “Ngudarasa” //Sadalan dalan
Anane mung gronjalan
Mergo akeh kedokan
Salurung lurung
Anane mung bingung
Mergo adoh gurung
Yen dalan wis kebak kedokan
Lurung wis akeh sing suwung
Gurung wis pedot sakdurunge diulur…// bahwa banyak tanda-tanda zaman ini untuk dapat tidak saja untuk direnungkan tetapi juga untuk disikapi generasi uda sekarang.
//…Tan ana asile kang mapan
Mula ta tansah elinga
Bebrayan iku tansah sangga sinangga
Abot enteng nora rinasa
Arepa awan panase sumelet
Bengine peteng ndedet lelimengan
Kabeh lumaku kanti rahayu.//.
.
Demikian jika sastrawan mengungkapkan apa yang dirasakan pancainderanya memberikan suguhan rasa tersendiri, semoga dapat memberikan penyejuk dan apresiasi mendalam terhadap buku ini.
.
Rg Bagus Warsono
Kurator sastra di HMGM


http://ayokesekolah.wordpress.com/2014/04/11/kekecewaan-penyesalan-dan-keyakinan-penyair-jiwa-kebhinnekaan/
.
 

Jumat, 28 Maret 2014

Seni Tayub dari Bojonegoro

sastra-bojonegoro.blogspot.com





Menikmati Gemulai Tayub Bojonegoro

 

KOMPAS/EDDY HASBY Tayub di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Bojonegara, Jawa Timur, Kamis (13/3/2014) malam.

 JANGAN lewatkan malam tanpa tayub di Bojonegoro, Jawa Timur. Mampirlah ke Desa Jono dan nikmatilah penari-penari cantik, gemulai bertayub ria, dengan suara merdu pula. Anda tentu saja boleh ikut menyandang sampur dan menari bersama mereka.

Malam terang bulan di Bojonegoro. Menembus gelap malam, melewati sawah dan hutan jati, akhirnya tiba juga di Desa Jono, Kecamatan Temayang, sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro. Di pendopo balai desa yang terang benderang, gamelan bertalu-talu. Tujuh perempuan penari tayub, atau sindir, menyinden merdu sambil menari gemulai. Tubuh mereka dibalut kain kebaya warna merah jambu. Warna-warna yang menyegarkan malam. Ya, malam itu, Kamis Legi (13/3), Bojonegoro memperlihatkan salah satu sisi keindahannya dalam tayub.

Mbak Yun, salah seorang penari, dengan merdu ikut melantunkan tembang ”Caping Gunung”. Tak kurang dari Bupati Bojonegoro Suyoto atau Kang Yoto ikut tayuban. Bahkan Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, juga menjajal menari bersama lengkap dengan sampur tersampir di pundaknya. Tamu yang dipandang terhormat biasanya memang didaulat untuk ikut menari dengan ditandai dikalungkannya selendang.

Tetamu cukup duduk lesehan berteman camilan ndeso berupa jagung rebus, pisang rebus, ubi rebus, dan kacang rebus. Plus kopi panas dalam cangkir kecubung. Sementara itu, laron-laron beterbangan di pendopo mengitari terangnya sinar lampu.

Budaya agraris
Desa Jono terletak di tepian hutan jati di jalur Bojonegoro-Nganjuk. Desa Jono, atau n-Jono dalam lafal orang Jonegoro, adalah Desa Wisata Budaya. Di sini tumbuh seni tradisional, seperti jaranan, kethoprak, dan yang paling terkenal adalah tayub yang oleh warga sekitar disebut sindir. Disebut sindir atau sindiran karena lantunan syairnya bermuatan pesan atau sindiran.

Kepala Desa Jono, Dasuki, menuturkan, saat ini ada sedikitnya 22 sindir atau penari tayub. Menjadi sindir atau penari tayub merupakan profesi yang cukup menjanjikan di n-Jono. Dalam paket pergelaran lengkap, termasuk gamelan, penabuh, dan perangkat tata suara, kelompok tayub bisa mendapat bayaran Rp 10 juta-Rp 12 juta. Di luar tanggapan kelompok, para sindir tayub pun bisa ditanggap secara personal. Tarif untuk yunior atau petayub pemula sekitar Rp 500.000. Adapun petayub terkenal bisa mencapai Rp 8 juta per sindir. ”Setiap sindir bisa tanggapan 5-10 kali sebulan, apalagi pas musim wong duwe gawe,” kata Dasuki.
 

KOMPAS/EDDY HASBY Tayub di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Bojonegara, Jawa Timur, Kamis (13/3/2014) malam
Sejumlah waranggana (sinden) tayub populer di antaranya Tegowati, Rasmi, Wariyati, Mujiati, Yuyun, Prihatini, Natipi, dan Hartini. Sekali pentas sedikitnya tarif mereka manggung Rp 2,5 juta. Dalam bertayub, penari tayub atau sindir bisa tampil berdua atau bisa juga sampai belasan penari. Penonton boleh menari bersama penari tayub. Acara akan semakin ramai dan hangat ketika sindir menyanyikan gending-gending populer. Malam itu, misalnya, tampil tujuh sindir membawakan tembang ”Gambir Sawit” serta ”Praon” atau ”Prau Layar”.

Hapus citra negatif
Tayub lahir dari kehidupan masyarakat agraris. Biasanya tayub digelar sebagai tanda syukur seusai panen atau menjadi hiburan pada acara hajatan seperti khitanan. Kelompok tayub kadang juga mbarang atau mengamen dengan mangkal di emperan toko sekitar Pasar Besar Kota Bojonegoro atau Pasar Kebo. Keberadaan Tayub Janggrung memang sudah lama menjadi ikon Bojonegoro sejak tahun 1980-an dan dinikmati masyarakat kalangan bawah. Hanya dengan Rp 5.000 sudah bisa menikmati lagu yang diminta.

Para seniman tayub di Bojonegoro berupaya menghapus sementara anggapan yang mengatakan bahwa tayub identik dengan foya-foya. Ada pula yang mengatakan tayub menjadi ajang main mata dengan perempuan (penari tayub). Pimpinan Sanggar Anugerah di Desa Jono, Kapri Prasetyo, menilai tayub banyak memiliki nilai positif meskipun ada segelintir orang yang menyalahgunakan seni tayub.

Bupati Bojonegoro Suyoto memaknakan tayub dalam konteks tata kehidupan sosial masyarakat. Ia menggunakan kerata basa atau semacam otak-atik kata tayub berasal dari kata ditata agar guyub. Artinya ’menari bersama-sama yang diatur sedemikian rupa agar lebih akrab’. Jika penari tidak mengikuti irama gending dan irama gerak, ia akan mengganggu kebersamaan. ”Kalau sudah bunyi dung, kaki sudah harus melangkah. Nanti yang tidak ikuti irama akan minggir dengan sendirinya karena dianggap tidak bisa,” tutur Kang Yoto.

Tayub Desa Jono adalah jenis tayub yang sudah disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini. Norma kesopanan menjadi kunci utamanya, dengan setiap penampilan antara waranggono dan pengibing selalu ada jarak. Penari menggunakan kebaya yang rapi tertutup. ”Dulu, zaman saya masih kecil, penari menggunakan kemben, bagian atas terbuka. Dulu norak. Orang pegang-pegang penari. Sekarang nyenggol saja tidak boleh,” kata Kang Yoto.
 

KOMPAS/ADI SUCIPTO Seni tayub di Kabupaten Bojonegoro di Sanggar Anugerah Desa Jono, Kecamatan Temayang.
Penari tayub di Bojonegoro biasanya mengawali pementasan dengan membawakan tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lembut baru disusul irama-irama yang sedikit rancak dengan lagu-lagu campursari atau langgam jawa.

Sebelum dimainkan, tayub biasanya diawali dengan nguyu-uyu atau manghayu-hayu yang artinya penghormatan kepada semua tamu sebelum acara dimulai. Setelah itu, ada ritual bedhayan, berupa tarian pembuka sebelum pertunjukan tayub dimulai. Lantas disusul Talu Gending sebagai pengantar tayub akan segera dimulai.

Selanjutnya, ketika kendang memberi isyarat dengan bunyi dung, dan kaki melangkah untuk pertama kalinya, saat itulah penari dan tetamu yang ikut menari masuk dalam kehidupan yang gemulai.... (Adi Sucipto Kissawara)

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK
             sastra-bojonegoro.blogspot.com                                                                                                       

Senin, 24 Maret 2014

Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo : Itu Bojonegoro

sastra-bojonegoro.blogspot.com




REKTOR UNAIR PERTAMA

 

 

 

 

 

 

Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo, Presiden Universitas (UNAIR: 1954 -1961)



24 Agustus 1904. lahir  A.G. Pringgodigdo di Desa Kasiman, Kab. Bojonegoro, Jawa Tumur, Indonesia. Putera Bupati Tuban RMAA Koesoemohadiningrat (alm) dengan Ny. R.A. Windrati Notomidjojo (alm, puteri Patih Rembang) ini. kakak kandung dari duta besar Abdoel Kareem Pringgodigdo.

Tahun 1911-1918,  A.G. Pringgodigdo merajut pendidikannya lulus Europeesche Lagere School di Tuban;

Tahun 1923, A.G. Pringgodigdo lulus Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya;

Tahun 1925, A.G. Pringgodigdo lulus Meraih pendidikan tambahan Candidaat Indisch Recht;

Tahun 1926, A.G. Pringgodigdo lulus cumlaude Candidaat Indologie.

Tahun 1927, A.G. Pringgodigdo lulus Sarjana Hukum di Rijks Universiteit di Leiden, Belanda. juga
mendapatkan sertifikat cum laude dalam ilmu Indologi.

Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo Kemudian, mengawini  Nawang Hindarti Djojo Adhiningrat.

Tahun 1934, A.G. Pringgodigdo sebagai Revrendaris (juru tulis) di Kantor Gubernur Jatim.

1 Oktober 1940 A.G. Pringgodigdo Referendaris t.b. Voorzitter Commissie tot bestudering v.Staatsrechtelijke hervormingen (Commissie visman) di Jakarta.

1 Mei 1942 sampai 28 Februari 1943, A.G. Pringgodigdo menjadi Wedana di Batur (Dataran Tinggi Dieng) -Gunseikan Banjarnegara (SK Bupati Banjarnegara);

1 Maret 1943 sampai 31 Mei 1944,  A.G. Pringgodigdo menjadi Wedana Purworejo-Klampok (Banjarnegara);

1 Juni 1944 sampai Mei 1945,  A.G. Pringgodigdo menjabat Wedana di Purwokerto (SK Gunseikan Banjarnegara);

1 Juni 1945,  A.G. Pringgodigdo menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia sebagai sekretarisnya Radjiman Widyoningrat, pemimpin BPUPKI.

1 Agustus 1945, A.G. Pringgodigdo diangkat menjadi Wakil Kepala Kantor Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai Zityoo) di Jakarta (dimana Bung Hatta sebagai Kepala Kantornya). Juga menjadi anggota Panitian Lima, yang bertanggung jawab atas perumusan Pancasila.

17 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949 diangkat menjadi Sekretaris Negara RI yang pertama di Jakarta dan di Jogjakarta, di bawa Presiden Soekarno

1 Juni 1948, A.G. Pringgodigdo diangkat untuk merangkap menjadi Komisaris Negara Urusan Dalam Negeri di Sumatera.

1 Oktober 1948. merangkap anggota Komisaris Pemerintah Pusat di Bukittinggi (Sumatera).

Desember 1948, ketika Agresi Militer Belanda II, Pringgodigdo ditangkap dan diusir ke Bangka dengan pemimpin Indonesia lain; dia juga melaporkan bahwa arsipnya dibakar Belanda.

Tahun1949-1954, A.G. Pringgodigdo diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Hukum Administrasi Negara pada Fak. Hukum Universitas Gadjah Mada.

27 Desember 1949 -7 Desember 1950, A.G. Pringgodigdo diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Menkeh RI di Jogya, mewakili Masyumi.

Setelah pensiun dari politik, Prof. Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo  menjadi pengajar. Dia mulai sebagai dosen besar luar biasa di Universitas Gadjah Mada, mengajar ilmu hukum.











Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo,  Presiden Universitas (UNAIR) Masa Bhakti 1954 -1961, dibantu oleh  sekretaris Univiversitas Drs. Soemartono

10 Nopember 1954, Universitas Airlangga resmi berdiri berdasarkan PP No. 5 / 1954 yang diresmikan Presiden Soekarno;

23 Desember 1954, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo Dilantik oleh Presiden Soekarno, untuk menduduki jabatan sebagai Presiden Universitas Airlangga I di Gubernuran Surabaya, dengan SK Presiden RI-1/11/1954. Masa Jabatan beliau sampai tahun 1961.

Tahun 1954, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo merangkap Jabatan menjadi Guru Besar dan Ketua Fakultas Hukum Unair;

Tahun 1956-1957, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo Juga merangkap Jabatan sebagai Acting Presiden.

Tahun1959-1961, merangkap pula sebagai Acting Ketua Fak. Kedokteran Gigi Unair  ikut merintis
berdirinya Universitas Hasanuddin Makassar . Selanjutnya bertugas sebagai presiden Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang, lalu kembali ke Surabaya dan mengajar di IKIP Surabaya. Di kemudian hari Pringgodigdo mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum bersama Kho Siok Hie dan Oey Pek Hong.

Tahun 1961-196, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo menjadi pegawai tinggi Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia Jakarta;

Tahun 1967, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo diangkat menjadi Guru Besar Penelitian Sejarah/Ketatanegaraan RI.

Tahun 1967, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo menjabat Ketua Balai Penelitian Pendidikan IKIP Negeri Surabaya;

Tahun 1971,  Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat DPR RI. Setelah itu menjadi Guru Besar luar biasa pada beberapa PTS di Surabaya.

Prof. Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo  menikah dengan Nawang Hindrati Joyo Adiningrat.