Selasa, 21 Februari 2012

JFX Hoery Pelestari Sastra Jawa

JFX Hoery
Pelestari Sastra Jawa

















Di tengah maraknya budaya pop dan minimnya perhatian masyarakat terhadap eksistensi budaya Jawa, masih ada orang yang tetap setia melestarikan budaya Jawa.

Hoery salah satunya. Warga Dusun Kalangan, Desa/Kecamatan Padangan. Bojonegoro tidak surut langkah dan semangatnya untuk melestarikan budaya dan tradisi Jawa. Memang tidak mulus jalan yang ditempuh Hoery. Dia telah menguras energi, biaya, dan waktu untuk meraih tujuannya.

Hoery tidak patah semangat. Berbagai upaya dilakukan pria kelahiran Pacitan, 7 Agustus 1945 ini.

Kesetiaannya terhadap sastra dan budaya Jawa diwujudkan dengan menulis berbagai karya sastra Jawa. Sudah belasan buku sastra Jawa ditulisnya sampai sekarang. Hingga saat ini telah terkumpul 107 kumpulan cerita cekak (cerita pendek) berbahasa Jawa dan 400 geguritan (puisi bahasa Jawa).

Dari jumlah itu, 90% karyanya telah diterbitkan di sejumlah media massa. Kesetiaannya terhadap bahasa dan sastra Jawa juga dibuktikan dengan menulis di sejumlah majalah berbahasa Jawa sejak 1970.

Dia juga mendokumentasikan karya sastra Jawa, baik karyanya maupun tulisan orang lain.

Karya Hoery sudah dikenal secara luas. Sejumlah majalah yang pernah memuat tulisan sastra Hoery di antaranya majalah Joyoboyo, Penjebar Semangat, Mekarsari, Joko Lodang, Parikesit, Kumandang, dan Damarjati.

Kecintaan Hoery terhadap sastra dibuktikan dengan kiprahnya menulis buku berbahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Atas dedikasinya itu, pada 2004 mantan wartawan Harian Bernas dan Kedaulatan Rakyat ini memperoleh piagam penghargaan Rancage, yakni penghargaan atas penulisan karya sastra Jawa dari Yayasan Rancage yang berbasis di Jakarta.

"Motivasi saya ingin melestarikan dan mengembangkan sastra, bahasa, dan budaya Jawa," jelas Hoery, saat ditemui di beranda rumahnya.

Hoery sudah lama gelisah dan khawatir bila suatu saat nanti budaya dan tradisi Jawa akan mati. Dia bersama beberapa pemerhati budaya, yakni Yusuf Susilo Hartono, Jayus Pete, Yes Ismi Soeryaatmadja, Moh Maklum, dan Sri Setyo Rahayu, mendirikan sanggar sastra Jawa Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) pada 6 Juni 1982.

Melalui organisasi itu, mereka mengadakan sarasehan, seminar, hingga lokakarya tentang sastra daerah. Dua tahun setelah PSJB berdiri, mereka sudah mengadakan sarasehan sastra daerah yang dihadiri sastrawan dari Sunda, Batak, Minang, Jawa, Banjar, Madura, dan Bali.

PSJB terus bergerak dan menggelar Kongres Sastra Jawa I di Solo pada 2001. Lima tahun kemudian Kongres Sastra Jawa II diadakan di Semarang.

Pada dua kongres tersebut, pemerintah tidak menaruh perhatian. Barulah pada Kongres Sastra Jawa III yang digelar di Desa Seni dan Budaya Njono, Kecamatan Temayang, Bojonegoro, perhatian Pemkab Bojonegoro dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai tercurah.

Minim peminat

Gebrakan Hoery itu sayangnya tidak mendapat dukungan generasi muda. Penerus pegiat sastra Jawa di Bojonegoro bahkan sangat minim. Hanya ada segelintir pemuda yang mau memperhatikan dan belajar sastra Jawa.

Hoery dan teman-temannya melakukan kederisasi untuk penerus PSJB.

Sudah ada 14 mahasiswa asal Bojonegoro yang dengan sukarela menjadi kader dan bergabung di PSJB.

Para mahasiswa yang kuliah di Universitas Negeri Surabaya itu bersama Hoery saat ini menyusun antologi cerkak dan gurit. Mereka menargetkan kumpulan tulisan itu akan diterbitkan dalam bentuk tulisan pada April mendatang.

Atas usaha yang tidak kenal lelah dalam merawat sastra Jawa ini, Hoery kerap menjadi narasumber penelitian dari mahasiswa dan dosen di sejumlah perguruan tinggi.

Tidak hanya perguruan dalam negeri saja yang tertarik mengupas sastra Jawa dengan narasumber Hoery. George Quinn, peneliti dari Australia, bahkan juga pernah meneliti karya-karya Hoery.

Padahal, karya sastra Jawa dahulu sangat terkenal. Nama-nama besar lahir di lingkungan dalam dan luar keraton. Mereka menghasilkan karya sastra Jawa yang nilainya sangat tinggi dan penuh dengan petuah-petuah bijak.

Profesor Poerbatjaraka pun telah membagi karya sastra Jawa sesuai dengan terminologi waktu. Karya sastra Jawa Kuno Ramayana dan Kakawin Bharata Yudha telah ada sejak masa kebangkitan sastra Jawa Kuno. Dalam masa Jawa Pertengahan pada 1400-1700 yang kemudian dilanjutkan dengan Jawa sekarang ini telah lahir pujangga-pujangga besar seperti Pangeran Karang Gayam yang menulis Nitisutri pada masa kekuasaan Amangkurat II di Kartasura. Ada juga Raden Ranggawarsita, pujangga sastra Jawa yang masih saudara dengan Pangeran Karang Gayam.

Kemudian muncul pujangga lainnya, Yasadipura I dan Yasadipura II, yang merupakan pujangga Kasunanan Surakarta. Sastra Jawa pernah memasuki masa keemasan pada abad XVII-XIX, yang ditulis pujangga-pujangga besar Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Karya sastra Jawa pada masa itu hingga kini menjadi perhatian para peneliti sejarah sastra.

Sayangnya, lanjut Hoery, masa keemasan sastra Jawa sampai sekarang belum berulang. Hoery mengharapkan masyarakat Jawa peduli dengan karya sastra daerah mereka. Hanya dengan cara itu, sastra Jawa akan tetap eksis sampai kapan pun. (N-3)


Ac Rama Hoery saat menjadi pemakalah di KBJ 5 Surabaya (29 Nopember 2011)on
 http://sastra-bojonegoro.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar