Kamis, 19 Desember 2013

Kemenag Bojonegoro Gelar Lomba Baca Puisi





Bojonegoro (Media Center) – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), Rabu (18/12/2023) menggelar lomba baca puisi yang diikuti siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI), Mts dan Madrasah Aliyah (MA) baik negeri maupun swasta dalam hari amal bakti Kemenag Ke-68.

“Lomba baca puisi ini merupakan yang pertama memperebutkan piala Kemenag Bojonegoro, selain juaranya memperoleh uang pembinaan,” kata Ketua Panitia Baca Puisi Piala Kemenag Bojonegoro Edy Kuncoro.
Ia menjelaskan peserta lomba baca puisi dibagi menjadi tiga kategori yaitu Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan jumlah 43 peserta, Mts 109 peserta dan MA 79 peserta.

“Masing-masing kategori akan ada juaranya masing-masing, sebagai usaha membedakan antara peserta MI, Mts dan MA,” jelasnya.
Panitia, katanya, menentukan setiap peserta lomba baca puisi baik tingkat MI, Mts dan MA diwajibkan membaca satu puisi dari karya sastrawan ternama di Tanah Air yang sudah disediakan panitia, antara lain, karya WS Rendra, Emha Ainun Nadjib dan Mustofa Bisri.

“Rata-rata peserta lomba baca puisi sangat antusias, sebab baru pertama kalinya ada lomba baca puisi di lembaga pendidikan di jajaran kemenag. Sesuai agenda lomba baca puisi ini akan digelar setiap tahun,” katanya, menegaskan.

Menurut dia, penjurian lomba baca puisi dilakukan sastrawan di daerahnya, di antaranya, Sapari, Bambang Soen, Agus Sighro Budiono, dan Gampang Prawoto.

Ia juga menambahkan Kemenag selain menggelar lomba baca puisi juga menggelar berbagai lomba lainnya, dalam rangka hari amal bakti Kemenag ke-68. (samcb)





Selasa, 10 Desember 2013

Bojonegoro Tak Punya Gedung Kesenian

sastra-bojonegoro.blogspot.com




Reporter: Hazhu Mutoharoh
blokBojonegoro.com - Deretan sketsa yang menggambarkan perjalanan keratifnya mulai dari tahun 1981 hingga 2013 dipajang apik dan elegan dalam pameran sketsa tunggal di Gedung Bakorwil Bojonegoro. Karya tersebut adalah milik putera daerah Bojonegoro, 
Yusuf Susilo Hartono.
Yusuf yang juga seorang penulis itu adalah kelahiran Bojonegoro, 18 Maret 1958. Perjalanan hidupnya terbilang lengkap (meski tak pernah ada kata lengkap pada dirinya) karena ia juga seorang jurnalis. Ia mengawali karirnya sebagai jurnalis di Surabaya Post hingga akhirnya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Visual Art.

Sejak kecil Yus (panggilan akrabnya) memang senang melukis. Hobinya ini mendapat tentangan keras dari ayahnya, Ahmad Taslim. Yus dilarang melukis karena dianggap haram dalam agama Islam. Ayahnya dulu menginginkan untuk menjadi seorang Guru.

"Kata Bapak, melukis benda hidup itu haram karena bisa menyamai Tuhan, tapi saya tetep melukis walaupun impian masuk ASRI gagal dan masuk di IKIP," kata pria asal Kecamatan Kalitidu ini.

Meski akhirnya ia menjadi guru PNS, namun keinginannya untuk kembali menjadi seniman sangatlah besar hingga ia memberontak dan memutuskan keluar dari PNS di Bojonegoro dan menjadi jurnalis.

Dalam perjalanan hidupnya di dunia seni rupa, banyak orang yang menyukai hasil lukisan pria dua putri ini. Hingga pada tahun 2008, lukisannya muncul di Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2008 Manifesto di Galeri Nasional Indonesia dan pameran warna-warni Indonesia di  Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki. Tahun 2012 ia mendapatkan penganugrahan Sastra Rancage di UNNES Semarang.

"Saya tidak akan bisa seperti ini jika tidak mau keluar dari zona aman saya, bakat itu hanya 1%, 99% adalah kemauan dan kerja keras," jelasnya.

Hanya satu yang ia sayangkan di Bojonegoro. Menurutnya sejak dulu Bojonegoro tidak ada gedung kesenian. Bahkan ada beberapa infrastruktur budaya yang hilang seperti panggung Terbuka Sasono Budoyo Sanestoro, yang dulunya menjadi panggung seni seluruh kecamatan di Bojonegoro.

Ia berharap wakil-wakil rakyat juga memperhatikan kebudayaan tidak hanya sekedar politik karena sebuah kota tidak lengkap tanpa kesenian.
"Okelah mereka orasi dan ngomong banyak tentang politik, tapi cobalah ngomong tentang budaya mau dibawa kemana budaya kita ada masyarakat samin, ada api abadi dan sebagainya, mau dibawa kemana," pungkas Yusuf.[zhu/ang]


Senin, 09 Desember 2013

TEMU KARYA SASTRAWAN NUSANTARA

sastra-bojonegoro.blogspot.com




sastra-bojonegoro.blogspot.com
Temu Karya Sastrawan Nusantara
 
Pendidikan atas anak bangsa tentu kita sepakati berupa pendidikan yang berkeseimbangan antara pendidikan sains dan humanioranya. Dalam hal ini Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa proses belajar mengajar di sekolah hendaknya tidak hanya meliputi olah nalar saja, tetapi juga olah rasa dan cipta. Sudah tentu aspek olah rasa dan ciptanya dapat diseriusi via pembelajaran sastra. Bahwa sastra dapat membentuk karakter dan perilaku yang baik atas seseorang, pendidikan sastra menjadi aspek yang sangat penting dalam pengembangan humanitas atas para pelajar. Sementara itu, minat baca serta kemampuannya menulis dan bercerita para pelajar justru sangat memprihatinkan.
 

Berkenaan dengan hal tersebut, Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang (DKKT) dan Dinas Pemuda Olahraga Budaya, Pariwisata (DisporaBudpar) Kabupaten Tangerang KSI (Komunitas Sastra Indonesia) menyelenggarakan “Temu Karya Sastrawan Nusantara” dalam rangkaian acara “Festival Tangerang 2013”, Pesta dan Lesehan Sastra
 
Pertemuan para sastrawan ini diawali dengan penerbitan buku Bunga Rampai Puisi Nusantara dan Kreasi Cerita Rakyat Nusantara. "Tifa Nusantara" karya para Sastrawan ini dibacakan dan diapresiasi bersama dalam acara “Pesta Sastra”. Kebersamaannya diharapkan dapat menjadi ruh “Lesehan Sastra”, diskusi yang diharapkan dapat membutirkan alternatif sumbangsih para sastrawan—setidaknya di daerahnya masing-masing— atas pembelajaran sastra di sekolah. Menyemangati ide “Sastra dan Sastrawan Masuk Sekolah.” Hasil diskusinya akan disampaikan kepada pemangku pendidikan.
Rangakaian Kegiatan
Temu Karya Sastrawan Nusantara sedianya diselenggarakan 27 s.d. 29 Desember 2013. Namun, atas masukan dari para sahabat dari luar Jawa, acaranya beringsut maju menjadi 21 s.d. 23 Desember 2013.

Kegiatannya sebagai berikut: 
Setelah mencermati 515 karya sahabat-sahabat tercinta, tim penyunting menyampaikan 115 nama sebagaimana terlampir di bawah ini sebagai sastrawan/partisipan yang diundang menghadiri pesta sastra dan lesehan sastra yang akan membincang (kembali) sastra dan sastrawan masuk sekolah
Alhamdulillah. Terima kasih atas sumbangsih para sahabat dari berbagai provinsi di Nusantara tercinta

Tim penyunting,

Wowok H. Prabowo
eL Trip Umiuki
Rini Intama
Ayu Cipta

115 Sastrawan Temu Karya Sastrawan Nusantara

Aant S. Kawisar, Yogyakarta
Abah Yoyok, Tangerang
Adriana Tjandra Dewi, Jakarta
Agus Warsono, Indramayu
Agustav Triono, Purbalingga
Ahmadun Yosi Herfanda, Tangerang
Ali Syamsudin Arsi Banjarbaru, Kalsel
Andre Theriqa, Tangerang
Arafat AHC, Demak
Arif Hidayat, Purbalingga
Arinda Risa Kamal, Tasikmalaya
Arsyad Indradi Banjarbaru, Kalsel
Ary Nurdiana, Ponorogo
Astri Primanita, Tangerang
Atin Lelya Sukowati Yogyakarta
Aulia Nur Inayah, Tegal
A’yat Khalili Sumenep, Madura
Ayid Suyitno PS, Bekasi
Ayu Cipta, Tangerang
Azizah Nur Fitriana, Medan

Badrul Munir Chair Sumenep, Madura
Bambang Widiatmoko, Jakarta
Betta Anugrah Setiani, Bogor
Bode Riswandi, Tasikmalaya
Budhi Setyawan, Bekasi

Cipta Arief Wibawa, Medan

Darajatul Ula, Tangerang
Dasuki D Rumi, Tangerang
Devi Hermasari, Yogyakarta
Dharmadi, Purwokerto
Didi Kaha, Tangerang
Dimas Arika Mihardja, Jambi
Dimas Indiana Senja, Purwokerto
Dwi Klik Santosa, Jakarta

Eko Tunas, Semarang
eL Trip Umiuki, Tangerang
En kurliadi nf, Bekasi
Enes Suryadi, Tangerang
Erry Amanda, Tangerang
Evan YS, Bekasi

F. Pratama, Medan
Faizy Mahmoed Haly, Semarang
Fatih El Mumtaz Pekanbaru, Riau

Gampang Prawoto, Bojonegoro
Gito Waluyo, Serang
Gunoto Saparie, Semarang

Hardia Rayya, Tangerang
Hasan Bisri BFC, Jakarta
Hermansyah Adnan, Aceh
Husnul Khuluqi, Tangerang

Imam Safwan Tanjung, NTB
Irma Agryanti Mataram, NTB
Isbedy Stiawan ZS, Tanjungkarang
Ishack Sonlay, Kupang

J. Betara Kawhie, Cilacap
Julia Hartini, Bandung

Kiki Sulistyo Mataram, NTB
Kusnadi Arraihan, Yogyakarta
Kyai Matdon, Bandung

L.K. Ara, Aceh
Lailatul Kiptiyah, Jakarta
Lanang Setiawan, Tegal

Majenis Panggar Besi, Bengkulu
Mariyana Marabahan, Kalsel
Moh Mahfud Banjarmasin, Kalsel
Muhammad Asqalani eNeSTe Pekanbaru, Riau
Muhammad Rois Rinaldi, Cilegon
Mustaqiem Eska, Palembang

Nana Sastrawan, Tangerang
Nani Karyono, Bandung
Nani Tandjung, Jakarta
Nastain Achmad Attabani, Tuban
Niken Kinanti, Solo
Noi Bonita (Ade Julia Dewi), Serang
Novy Noorhayati Syahfida, Tangerang
Nur Hadi Kaliwungu, Kaltim 

Pudwianto Arisanto, Jakarta

Qeis Surya Sangkala, Tasikmalaya

Raka Mahendra, Jakarta
Ratna Ayu Budhiarti, Garut
Ria Oktavia Indrawati, Depok
Rini Intama, Tangerang
Riyanto, Purwokerto
Rezqie Muhammad AlFajar, Atmanegara Banjarmasin, Kalsel

Sartika Sari, Medan
Satmoko Budi Santoso, Yogyakarta
Seruni, Solo
Shah Kalana Alhaji Samanrinda, Kaltim
Sholichudin al-Gholany, Kudus
Shourisha Arashi, Cilacap
Sobih Adnan, Cirebon
Soekoso DM, Purworejo
Sofyan RH. Zaid, Bekasi
Sri Runia Komalayani, Sukabumi
Sri Wintala Achmad , Cilacap
Suryati Syam, Bekasi
Sus. S. Hardjono, Sragen
Suyitno Ethex, Mojokerto
Syarif hidayatullah, Barito kuala Kalsel

Tatang Rudiana Alghifari, Tasikmalaya
Tawakal M. Iqbal, Bogor
Thomas Haryanto Soekiran, Purworejo
Tina K., Jakarta
Tjak S. Parlan Mataram, NTB

Uki Bayu Sedjati, Tangerang

Vanera el Arj, Wonosobo
Villy J. Roesta, Tangerang

Wahyudi, Cirebon
Windu Mandela, Sumedang
Wyaz Ibn Sinentang Pontianak, Kalbar

Y.S. Agus Suseno Banjarmasin, Kalsel
Yandri Yadi Yansah, Lampung
Yudhie Yarcho Jepara
Yuditeha, Karanganyar
Yusran Arifin, Tasikmalaya















Acara “Temu Karya Sastrawan Nusantara 2013”
21 s.d. 23 Desember 2013
Sabtu, 21 Desember 2013

13.00 s.d. 18.00
Registrasi

18.30 s.d. 19.30
makan malam

19.30 s.d. 20.15
Pembukaan:
Kalam Ilahi
Laporan Ketua Panitia
Puisi Selamat Datang
Sambutan Kepala DisporaBudpar Kab. Tangerang dan
peluncuran bunga rampai puisi dan kreasi cerita rakyat Tifa Nusantara

20.15 s.d. 22.15
Pesta Sastra

Ahad, 22 Desember 2013

7.00 s.d. 8.00
sarapan pagi

8.00 s.d. 10.00
Tari Selamat Datang
Indonesia Raya
Laporan KadisporaBudpar
Peresmian acara oleh bupati Tangerang
Kopi pagi bersama bupati

10.00 s.d. 12.00
Pesta Sastra

12.00 s.d. 13.00
Isoma

13.00 s.d. 15.00
Lesehan Sastra (sesi 1); diskusi ihwal sastra masuk sekolah

15.00 s.d. 16.00
Istirahat, solat
16.00 s.d. 17.30

Lesehan Sastra (sesi 2); diskusi ihwal sastrawan masuk sekolah

17.30 s.d. 20.00
Isoma

20.00 s.d. 22.00
Pesta sastra

Senin, 23/12/2013

7.00 s.d. 8.00
sarapan pagi

8.00 s.d. 10.00

Lesehan Sastra; mendiskusikan simpulan hasil diskusi sesi 1 dan 2; hasilnya ditandatangani oleh semua yang hadir, selanjutnya dikirimkan kepada mendiknas

Penutupan dan doa penutup




Kepanitiaan

Penyelenggara

Kepala DisporaBudpar Kabupaten Tangerang
1. H. Soma Atmaja
Ketua Umum DKKT
2. eL Trip Umiuki

Pelaksana

3. Ketua : Andre Theriqa
4. Wk. Ketua : Ayu Cipta
5. Sekretaris : H. Wahyu Suryana
6. Wk. Sekretaris : Rini Intama
7. Bendahara : Rr. Endah eNKa Wulan
8. Seksi acara : H. Teteng Jumara; 9. Reza Abdul Malik
10. Publikasi : Budi Ribowo; 11. Widhi Hatmoko
12. Akomodasi : Sysman Erwin
13. Transportasi : Rohman
14. Dokumentasi : Cipta Adi
15. Konsumsi : Heny Indarty
16. Perlengkapan : Agus Chaerudin
17. Keamanan : Banjir Supriyanto


Naning Pranoto "Ayo" Menulis Sastra Hijau



Naning Pranoto Ajak Generasi Muda Menulis Sastra Hija
Naning Pranoto Ajak Generasi Muda Menulis Sastra Hijau
sastra bojonegoro Reporter: Hazhu Muthoharoh

blokBojonegoro.com - 

Sastrawan nasional, Naning Pranoto mengajak generasi muda Bojonegoro untuk menulis cerita pendek genre sastra hijau. Hal ini ia sampaikan dalam sosialisasi dan workshop yang digelar Perhutani bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Sastra Rayakultura dengan tema "Menulis Sastra Hijau Bersama Perhutani", Sabtu (30/11/2013). Workshop ini sekaligus pembukaan lomba menulis cerpen Hutan Lingkungan dalam rangka Perhutani Green Pen Award. Menurut Naning, saat ini kondisi bumi sudah memprihatinkan akibat ulah dari tangan-tangan manusia yang cenderung modern dan ingin praktis. "Kita harus meniru Suku Aborigin yang hidup menyatu dengan alam, tidak mau merusak alam karena mereka tahu hidup mereka bergantung pada alam," terang alumnus Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional Jakarta ini. 

Wanita yang telah menerbitkan puluhan buku ini juga memberikan kiat menulis cerpen sastra hijau kepada peserta workshop yang diikuti siswa perwakilan dari 30 sekolah dan guru Bahasa Indonesia di Bojonegoro. Selain itu juga turut hadir ADM 5 KPH, seperti ADM KPH Parengan, ADM KPH Padangan, ADM KPH Tuban dan ADM KPH Jatirogo. 

Sementara itu Kepala Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bojonegoro, Aggar Widyatmoko mengatakan bahwa sosialisasi ini bertujuan untuk menyukseskan Hari Menanam Nasional serta mendorong kesadaran masyarakat terutama generasi muda sejak dini. "Melalui pendekatan budaya ini diharapkan mampu menumbuhkan kreativitas dan kesadaran akan pentingnya hutan sekaligus membangun karakter di era digital yang serba instan," terang Anggar. 

Selain Naning Pranoto, acara ini juga menghadirkan sastrawan putra daerah Bojonegoro, yakni Soesi Sastro yang saat ini menjabat sebagai Kepala Biro Humas, Protokoler dan Sekretariat Kantor Pusat Perhutani. [zhu/yud]  
foto sastra bojonegoro

Gampang Prawoto : Baca Puisi Di Hutan Lingkungan Sekitar Sekolah

Minggu, 08 Desember 2013

Puisi Anti Korupsi di Bojonegoro








Puisi Anti Korupsi di Bojonegoro
Sabtu, 23 November 2013 23:00:38 Penyair Nasional Gelorakan Anti Korupsi di Bojonegoro
Reporter: M. Yazid

blokBojonegoro.com - Korupsi saat ini kian marak di seluruh Indonesia. Untuk memberantasnya, banyak cara dilakukan termasuk melalui puisi. Beberapa penyair nasional yang tergabung di Puisi Menolak Korupsi (PMK), menggelorakan anti korupsi di Kabupaten Bojonegoro dengan puisi.

Menurut panitia road show PMK, Agus Sighro Budiono beberapa penyair nasional yang hadir di Bojonegoro diantaranya Sosiawan Leak dari Surakarta, Bagus Putu Parto dan istrinya yang sama-sama penyair, Endang Kalimasa dari Blitar. Serta Beni Setia dari Bandung, Autar Abdillah dari Surabaya, Melur Seruni dari Magelang dan sastrawan lainya yang tergabung di PMK.

Para penyair itu miris melihat maraknya korupsi di tanah air ini, hampir semua penyelenggara negara dan penegak hukum juga ikut-ikut korupsi. "Penyair juga bagian dari rakyat yang mencintai Indonesia, tidak ingin melihat negaranya terbenam dalam kubangan lumpur korupsi," terangnya.

Melalui dunianya lanjut Sighro sapaan akrabnya, para penyair Indonesia juga menyuarakan penolakan terhadap korupsi. Mereka mengapresikan ide dan gagasannya menolak korupsi, dengan menulis puisi bertema anti korupsi.

"Kumpulan puisi-puisi itu dibukukan menjadi sebuah buku antopologi berjudul puisi menolak korupsi. Sebagai bagian dari usaha melawan korupsi itu," sambungnya.[zid/ang]