Rabu, 15 Februari 2012

Jalan Politik Para Sastrawan


Ngopi bareng wong kreatif seni cirebon yang rutin diadakan tiap malam minggu memang sudah beberapa kali dijadikan tempat bagi para penggiat sastra untuk mengadakan aksi panggung. Bulan februari 2011 lalu acara ini juga menghadirkan penyair dari berbagai kota dalam mata rantai promosi buku antologi puisi "MERAPI GUGAT". Antologi puisi 13 penyair ini merekam tragedi letusan merapi pada 25 oktober 2010. Sejarah kemanusiaan, sejarah zaman, sejarah peradaban, dan sejarah alam inilah yang dijadikan momentum bagi para penulis untuk berkumpul dan menetaskan sebuah karya.


 Antologi puisi "MERAPI GUGAT" terdiri dari Anisa Afzal (Sukabumi), Arieyoko (bojonegoro), Boedi Ismanto SA (Tegal), Gampang Prawoto (Bojonegoro), Hadi lempe (Pekalongan), Kurniawan Junaedhie (Magelang), Nia Samsihono (Pontianak), Nunung Susanti (Cirebon), Ratu Ayu (Cirebon), Rini intama (Tanggerang), Soekamto (semarang), Susy Ayu (jakarta), dan Sutirman Eka Ardhana (Bengkalis-Riau).
Sebagai gerakan sastra etnik, "MERAPI GUGAT" hadir memberi nuansa lain dari Antologi pada umumnya. Antologi ini tidak semata memuat puisi berbahasa Indonesia, melainkan Sunda juga Jawa dengan ragam lamannya yang khas.


Seperti juga "MERAPI GUGAT", minggu 19 juni 2011 kemarin. Seorang Sastrawan dari lampung; Isbedy Stiawan ZS, mengenalkan antologi puisi pribadinya yang berjudul "TAMAN DI BIBIRMU". Acara yang dipandu oleh Ahmad Syubbanudin Alwi (Ketua Yayasan Dewan Kesenian Cirebon) tersebut berlangsung sangat meriah. Komunitas serumpun tanggerang yang siang harinya juga mengadakan launching buku Antologi puisi "KADO SANG TERDAKWA" di Radio Rangga Jati, masih sempat tampil beberapa kali untuk mengenalkan buku mereka, sebelum pulang di tengah-tengah acara karena beberapa personilnya harus kerja keosokan harinya.


Acara minggu malam itu sangat hangat. Sesekali saling menggoda di tengah diskusi dan pementasan, namun tetap terarah dalam membangun nilai-nilai berkesusastraan. Ahmad Syubbanudin Alwi selaku Pemandu acara mengingatkan pada audiens, bahwa tanggung jawab moral para penyair perlu diarahkan pada pembangunan bangsa. Dalam carut-marut kekisruhan politik yang sudah sangat kronik, penyair perlu mengambil sebuah jalan agar para mandataris Rakyat tersebut tidak apriori terhadap kegelisahan yang terjadi akibat semua bentuk ketidak jujuran dan penyalah gunaan kekuasaan yang sudah semakin menggurita.


Kelakar demi kelakar sesekali meruncingkan tawa para audiens. Acara yang dimulai pada jam 19.15 tersebut akhirnya diakhiri dengan beberapa persembahan lagu dari anak-anak OI Cirebon beberapa menit sebelum jam 24.00. Senyum puas mengembang dari para audiens dan panitia penyelenggara. Beberapa orang bertukar akun facebook. Dan cirebon menjadi saksi atas ketulusan mereka dalam menghidupi malam dengan puisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar