Rabu, 28 Maret 2012

Buku-buku Jawa Terhimpit di Gang Sempit

 
Add
     

     24 April 2005
     Buku-buku Jawa  Terhimpit di Gang Sempit


     LELAKI tua itu tinggal di sebuah rumah sederhana
    bersama istri dan seorang anaknya. Rumah itu
    terletak di sebuah gang sempit di kawasan padat
    penduduk di Peterongan Tengah, Semarang. Beberapa
    pot bunga menghiasi teras rumahnya. Sebuah mobil
    Suzuki keluaran 1983 tertutup rapat di halaman
    rumahnya yang sempit. Mobil tua itu sudah jarang
    dikendarai.

   Pemiliknya Agus Mulyono, 67 tahun. Di dunia sastra
Jawa ia lebih populer dengan nama samaran Ariesta
Widya. Dari tangannya sejak 1959 telah lahir 100
prosa, lima cerita bersambung, 39 geguritan
(puisi), dan sejumlah cerita pendek (cerita cekak).
Terakhir dia baru saja meluncurkan kumpulan
cerita pendek Manjing Daging yang diterbitkan Mascom
Media Semarang.

Lewat kegiatan mengarang dalam bahasa Jawa itu ia
beberapa kali menerima penghargaan sebagai
sastrawan Jawa terbaik versi Dewan Kesenian Surabaya,
majalah Djaka Lodang, Javanologi Yogyakarta,
dan Taman Budaya Yogyakarta.

Namun, kehidupan sastra Jawa tampaknya tak jauh
berbeda dengan kehidupan Agus: terhimpit di gang
sempit. Sastra Jawa nyaris punah bila orang-orang
seperti Agus tidak bertahan mati-matian
menghasilkan sejumlah karya yang layak baca.

Tapi itu saja tak cukup. Karya itu butuh pembaca, dan
kini pembaca sastra Jawa makin berkurang.
"Kalaupun kesejahteraan para sastrawan Jawa dijamin
oleh negara, tidak ada jaminan sastra Jawa akan
tetap maju jika apresiasi dari masyarakatnya sendiri
rendah," kata Agus pada Maret lalu.

Kehidupan pengarang sastra Jawa masa kini tidak bisa
dilepaskan dari media massa berbahasa Jawa.
Selain berisi berita dan artikel, majalah bahasa Jawa
juga dipenuhi karya-karya sastra seperti
cerita bersambung (crita sambung), cerita pendek
(crita cekak), cerita anak-anak (wacan bocah),
cerita wayang (pedhalangan), crita rakyat, dan cerita
misteri (alaming lelembut).

Di antara materi fiksi tersebut, hanya crita sambung
dan crita cekak yang dianggap karya sastra. Di
kedua rubrik ini hanya karya yang memiliki mutu sastra
tinggi saja yang lolos ke pemuatan.

Tak banyak sastrawan yang konsisten mengirim karyanya.
Biasanya mereka selalu datang dan pergi.
Kalaupun ada yang konsisten, jumlahnya cuma dapat
dihitung dengan jari. Pengarang angkatan tua yang
boleh digolongkan tetap produktif hingga kini ialah
Suparto Brata, Ismoe Rianto, Suharmono Kasiyun,
Yunani (Surabaya), Suryadi WS (Solo), Wisnu Sri Widodo
(Sragen), Tiwiek SA (Tulungagung) dan Djajus
Pete (Bojonegoro). Karya-karya mereka telah menghiasi
majalah bahasa Jawa sejak akhir 1950-an.

Generasi berikutnya yang produktif ialah Harwimuka
(Blitar), Widodo Basuki (Trenggalek), AY
Suharyono, Ardini Pangastuti (Semarang), Keliek SW
(Wonogiri) dan Turio Ragilputra (Kebumen).
Generasi termuda dari pengarang sastra Jawa yang tetap
produktif berkarya ialah Sumono Sandy Asmoro
(Ponorogo), Siti Aminah (Yogyakarta), Bambang P
(Wonogiri) dan Sudadi (Wonosobo).

Kecuali Suparto Barata, Tiwiek SA dan Harwimuka,
mereka adalah sastrawan majalah. Karya-karya cerita
pendek dan cerita bersambung mereka banyak menghiasi
Panjebar Semangat, Jaya Baya dan Djaka Lodang.
Sedangkan Suparto, Tiwiek dan Harwimuka selain
produktif di majalah juga telah banyak menghasilkan
buku sastra.

Namun, dunia sastra Jawa tidak bisa dilepaskan oleh
nama-nama seperti Tamsir AS, Any Asmara dan
Esmiet (semuanya telah almarhum). Nama-nama mereka
seperti melegenda di belantika sastra Jawa.
Selain sebagai pengarang Jawa yang sangat produktif,
karya-karya mereka banyak digemari pembaca.

Bahkan, misalnya, pada masa jayanya, di Palembang pada
1960-an pernah berdiri organisasi persatuan
penggemar Any Asmara.

Menurut Pemimpin Redaksi Panjebar Semangat, Moechtar,
78 tahun, oplah Panjebar Semangat langsung
naik bila memuat cerita bersambung karya ketiganya.

Bagi para pengarang sendiri, mereka juga sebuah
legenda. "Mereka tak tergantikan oleh siapapun,"
kata Tiwiek SA.

Di era 2000-an satu dua pengarang bermunculan.
Biasanya mereka mengirimkan karya cerita anak yang
"mutu sastranya" tidak berat. Kemunculan mereka makin
memperkaya jumlah pengarang. Ketika Jaya Baya
menggelar lomba mengarang remaja, peminatnya mencapai
127 orang. Namun, setelah lomba berakhir,
mereka tak pernah lagi mengirim karangan. "Mereka
hanya ingin hadiahnya saja," kata Widodo Basuki,
staf redaksi Jaya Baya.

Pengarang sastra Jawa umumnya tidak berangkat dari
tujuan komersial, karena honorarium mereka
tergolong kecil. Di Panjebar Semangat, misalkan, honor
sekali pemuatan cerita pendek hanya Rp 40
ribu. Tak heran bila produktivitas mereka lebih
bertumpu pada idealisme. "Honor menulis sastra Jawa
ibaratnya hanya cukup untuk beli pita mesin ketik
saja," kata Suparto Brata.

Buku-buku
Produktivitas adalah salah satu faktor yang membuat
buku karya sastra Jawa juga menurun 5 tahun
terakhir ini. Kalaupun ada, jumlahnya dapat dihitung
dengan jari, yaitu kumpulan geguritanLayang
Saka Paran (Widodo Basuki, 2000), Trem (Suparto Brata,
2001), Kreteg Emas Jurang Gupit (Djajus Pete,
2002), Candhikala Kapuranta (Sugiarto Sriwibawa,
2003), Pagelaran (JFX Hoeri, 2004), Serenada
Schubert (Moechtar, 2004), Donyane Wong Culika
(Suparto Brata, 2005), Donga Kembang Waru (Trinil,
2005) dan Medhitasi Alang-Alang (Widodo Basuki, 2005).

Dari keseluruhan buku-buku tersebut yang mendapatkan
hadiah sastra Rancage ialah Layang Saka Paran
(Rancage 2000), Trem (2001), Kreteg Emas Jurang Gupit
(2002), Candhikala Kapuranta (2002), Pagelaran
(2004) dan Donyane Wong Culika (2005).

Penerbitan semua buku-buku itu dimodali sendiri oleh
penulisnya. Suparto Brata, misalnya, rela
merogoh koceknya sendiri hingga Rp 8 juta untuk
menerbitkan Donyane Wong Culika kepada penerbit
Narasi Yogyakarta.

Hal yang sama juga dialami oleh Trinil dan Widodo
Basuki. Karya keduanya diterbitkan oleh penerbit
kecil, yakni Komunitas Cantrik, Malang. Sedangkan
Kreteg Emas Jurang Gupit karya Djajus Pete dicetak
oleh sebuah percetakan kecil tanpa nama di Jalan
Pagesangan, Surabaya. Dananya digotong rame-rame
oleh Aliansi Jurnalis Independen Surabaya dan Dinas
Informasi dan Komunikasi Jawa Timur. "Sastrawan
Jawa itu miskin, tapi idealis. Buktinya mereka bisa
menerbitkan sendiri karyanya," kata Widodo
Basuki.

Bahasa Jawa merupakan kesulitan tersendiri untuk
menawarkan ke penerbit. Rata-rata para penerbit
enggan menerbitkan dengan alasan sulit untuk dijual.
Penerbit tidak mau menanggung risiko merugi.
Akhirnya para pengarang itu membiayai sendiri
percetakan tanpa membebani percetakan untuk
menjualkan.

Namun, kesulitan lain tetap muncul. Setelah menjadi
buku, toko-toko buku besar emoh pula dititipi
untuk memasarkannya. Alasannya, buku berbahasa Jawa
sulit laku. "Saya menawarkan buku saya ke Toko
Buku Manyar Jaya, tapi langsung ditolak dengan alasan
bahasanya sulit dimengerti," kata Widodo
Basuki.

Penghargaan terhadap buku sastra Jawa cuma Rancage
saja. Penghargaan berupa uang senilai Rp 5 juta.
Di luar itu tidak ada lagi penghargaan terhadap buku
bahasa Jawa.

Pemerintah, khususnya pemerintah daerah Jawa Tengah,
Yogyakarya dan Jawa Timur, juga minim sekali
perhatiannya terhadap buku-buku bahasa Jawa ataupun
pengarangnya. Dewan Kesenian sebagai lembaga
kesenian yang mencakup karya sastra juga tidak
menunjukkan perhatian yang memadai. "Dewan Kesenian
hanya memfasilitasi pertemuan pengarang saja," kata
Widodo Basuki lagi.

Penerbitan buku
Dalam sejarah penerbit buku di Surabaya, hanya
Panjebar Semangat dan Jaya Baya saja yang mau
menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa. Di luar itu,
dengan alasan komersial, tidak ada penerbit yang
mau menyentuh sastra Jawa. Kalaupun ada, ya itu tadi,
mereka minta dibayar penuh dan tidak dibebani
ikut menjualkan.

Lain halnya dengan Panjebar Semangat dan Jaya Baya.
Sejak 1950-an Panjebar Semangat telah
menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa. Produk
terbitannya yang hingga kini tetap terkenal ialah
novel
Ngupaya Serat Pangruwating Papa dan Kitab Betal Jemur
Adam Makna.

Penerbitan ini berhenti setelah Pemimpin Umum Panjebar
Semangat, Imam Supardi, meninggal dunia.
Penerbitan selanjutnya diteruskan oleh Yayasan Jaya
Baya. Di tangan Jaya Baya, puluhan buku telah
diterbitkan dalam tiga dekade. Selain novel-novel
bahasa Jawa, ia juga menerbitkan buku kejawen,
kamus basa Jawa, kawruh basa Jawa dan, kawruh keris
dan tata cara pamedhar sabda.

Proyek idealis ini digarap oleh bekas Pemimpin Umum
Jaya Baya yang kini telah almarhum, Tadjib
Ermadi dan Satim Kadaryono. Mereka rela menyisihkan
laba Jaya Baya untuk membiayai proyek idealis
tersebut.

Menurut Pemimpin Redaksi Jaya Baya, Kicuk Parta,
sampai saat ini masih ada penggemar fanatik
buku-buku kejawen tersebut. Namun, karena jumlahnya
terbatas, setiap pembeli hanya diberi edisi foto
copy saja. Buku yang asli tidak boleh dibeli karena
tinggal satu-satunya. "Tapi, sejak dua tahun
terakhir percetakan kami tidak aktif," kata Kicuk.

Di kantor Jaya Baya yang terletak di Jalan Karah
Agung, Surabaya, masih banyak buku-buku berbahasa
Jawa, baik novel, cerita sejarah dan bacaan anak-anak.
Kicuk menjelaskan, selain dijual di kantor,
buku-buku terbitan Jaya Baya juga dititipkan ke Toko
Buku Sari Agung, Surabaya. Mereka sadar, sangat
sulit mengambil laba dari penjualan buku-buku itu.
"Karena ini proyek idealis, bagi saya impas saja
sudah bagus," kata dia.

Dari puluhan buku terbitan Jaya Baya, novel Dokter
Wulandari karya Yunani merupakan buku terlaris.
Novel yang dicetak tahun 1997 itu laku hingga 2 ribu
eksemplar. "Itu rekor tertinggi penjualan buku
bahasa Jawa," kata Kicuk.

Sayangnya, di Surabaya maupun di kota-kota lain di
Jawa Timur jarang dijumpai toko-toko buku yang
menjual buku berbahasa Jawa. Kalaupun ada, berupa buku
pengetahuan yang berhubungan dengan kejawen
yang ditulis dengan bahasa Indonesia.

Di Toko Buku Gramedia kini memang terdapat buku
Donyane Wong Culika karya Suparto Brata. Namun,
umumnya buku-buku sastra Jawa tidak mendapat tempat di
etalase toko besar. Jika masih ada, umumnya
dijumpai di pedagang-pedagang buku bekas di Jalan
Semarang maupun di Pasar Blauran, Surabaya.

Nasib buku-buku Jawa mutakhir tampak makin terhimpit
di gang-gang sempit pasar buku loak itu. Di
gang itu masih mungkin menjajakannya, tapi dia
tetaplah sebuah gang. Yang meliriknya terbatas pada
sebagaian kecil orang yang mungkin mau berpayah-payah
mencarinya. kukuh s wibowo/sohirin/kurniawan

Sumber: Laporan Yayasan Sastra Rancage




                                                                                                                                          caption

Tidak ada komentar:

Posting Komentar