Sabtu, 03 Maret 2012

SUKET : Samudra Banyu Bening (4)

SUKET : Samudra Banyu Bening (4)










 

Mengolah Sastra


Apakah yang mereka saksikan sebenarnya di Sarajevo:
Sebentang samun, tanah yang redam?
Apakah yang mereka saksikan sebenarnya?
Keyakinan dipasak
Diatas mihrab dan lumbung gandum
Dan tak ada lagi orang membaca(Misalkan Kita Di Sarajevo, 1994, Goenawan Mohamad)

Membaca puisi di atas, ingatan kita mengembara ke Eropa. Saat Serbia membasmi orang-orang muslim Bosnia. Hanya soal keserakahan kekuasaan, Serbia membumihanguskan Bosnia. Sarajevo adalah ibu kota Bosnia Herzegovina. Puisi itu ditulis Goenawan Mohamad atau akrab dipanggil GM untuk mengenang kekerasan di Bosnia oleh Serbia. GM bukan hanya sastrawan tapi juga salah satu patron wartawan di Indonesia.
Tiap kali membaca puisi-puisi GM, saya seperti diajak berselancar dari satu negara ke negara lain. Ada kisah menarik yang selalu bisa menjadi puisi. Seperti Untuk Frida Kahlo, Berlin 1993, Zagreb, Di Yerussalem, Aung Sang Suu Kyi dan sejumlah puisi lainnya.
GM dalam pengembaraannya ke sejumah negara selalu mencatat dalam bait-bait yang magis. Semagis novel Seribu Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marques. Kata magis saya kutip dari pengamat seni dan budaya Bambang Sugiharto dalam kata pengantar buku Catatan Pinggir 7, Disana ada kata-kata yang berdaya, nyaris magis. Seperti bait dalam puisi Untuk Frida Kahlo.
Frida Kahlo menulis dalam catatan hariannya. ‘’Hidup yang diam, pemberi dunia, apa yang paling penting ialah tiada harap.’’ Di sana disebutnya juga fajar, pagi, rekan-rekan merah, ruang besar biru, daun-daun di tangan, burung yang gaduh….
Anda yang biasa membaca Catatan Pinggir di Majalah Tempo maka tak akan asing dengan penulisan kalimat dalam puisi itu. Kalimat pendek dan mengena.
Frida adalah seorang perempuan pelukis dari Meksiko. Saya pernah melihat film tentang Frida Kahlo. Dimainkan cukup bagus oleh aktris cantik Salma Hayek.
***
GM lebih dulu dikenal sebagai seorang sastrawan ketimbang wartawan. Sebelum aktif menjadi wartawan, dia sastrawan yang aktif menolak Orde Lama. Salah satu bentuk penolakannya adalah tergabung dalam Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang diusung oleh Wiratmo Soekito dkk.
Esai-esainya di Majalah Tempo selalu menarik dibaca. Saya baru saja membeli kumpulan esai Catatan Pinggir ke-7. Lima buku lainnya telah saya miliki. Namun, Caping yang ke-6 saya belum menemukannya. Capingnya lebih nyastra ketimbang esai yang ditulis wartawan lainnya.
Seperti juga caping, saya pun menikmati puisi-puisi GM. Ada dua buku kumpulan puisi GM yang saya miliki, Asmaradana (1992) dan Misalkan Kita Di Sarajevo (1998). Saya tak mempunyai buku kumpulan puisi GM selain dua buku tersebut. Satu buku lagi karya GM adalah naskah drama, Tan Malaka dan Dua Lakon Lainnya (2009). Buku teranyar GM itu tafsir tentang Tan Malaka, soal Sawunggaling, dan visa. Lakon yang ditulis oleh GM itu telah dipentaskan di sejumlah kota di Indonesia.
Menulis lakon adalah bentuk produktifas GM mengolah sastra. Soal produktifitas menulis puisi. GM mungkin tergolong kurang produktif. Namun, puisi-puisinya selalu enak dibaca. Jika dilihat dari rentang waktu buku puisi dan dramanya yang terbit maka jaraknya cukup jauh. Dari tahun 1992, 1998 hingga 2009, GM baru berkarya. Namun, untuk menulis Catatan Pinggir di Tempo, produktifitas GM cukup terjaga karena tiap pekan di Majalah Tempo, GM menulis Catatan Pinggir.
Membaca dan menulis sastra sesungguhnya adalah proses mengendapkan pikiran dan hati. Ujungnya adalah mengolah kemanusian kita. Seperti GM yang tak berhenti mengolah sastra.

                          http://sastra-bojonegoro.blogspot.com


 










 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar