Minggu, 10 Oktober 2010

SUKET: Samudra Banyu Bening (1)

A
  @ Jika Tak Ingin Kekuasaan Tumpul Menulislah Puisi
 @ Seno Masih dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi



Samudra Banyu Benin

















Jika Tak Ingin Kekuasaan Tumpul, Menulislah Puisi

Minggu, 18 Juli 2010



Inilah kelirunya.
Zaman dulu pegawai itu mesti tahu sastra. Bukan sekadar baca tulis…
(Pasar,2002, Kuntowijoyo)

Berapa banyak pejabat, politisi dan kepala daerah yang membaca atau menulis sastra? Saya belum menemukan jawabannya. Jika kita ke toko buku, masih sulit kiranya menemukan buku kumpulan puisi yang ditulis baik oleh bupati maupun gubernur. Puisi dominan ditulis oleh bukan penguasa.

Namun, jika ada penelitian, siapa saja kepala daerah yang telah menulis puisi? Maka sepantasnya Suyoto masuk dalam deretan nama-nama pemimpin yang telah menulis puisi.

Suyoto seolah ingin menegaskan kalimat yang disampaikan Presiden Amerika Serikat John F Kennedy, jika politik itu kotor maka puisi yang akan membersihkannya. Di tengah kesibukannya yang bejibun ngurusi rakyat dan pertarungan panggung politik, Suyoto masih mengendapkan pikiran dan hati menulis puisi.

Suyoto pun cukup baik membacakan puisi-puisinya. Saya pernah sekali mendengarkan Suyoto membaca puisi. Seingat saya, Zaman Wis Ora Edan. Puisi bernada optimisme bagi siapa saja yang mau bekerja keras dan tidak mengeluh. Intonasi nada dan ekspresi membaca puisi cukup baik. Jamaah pengajian di dekat rumah saya yang mendengarkan Suyoto membaca puisi pun ikut menikmati. Ini cara yang efektif sekaligus menghibur bagi jamaah pengajian yang jenuh mendengarkan ceramah.

Bagi saya, ekspresi Suyoto menulis puisi menjadi antitesis dari perilaku kekuasan Orde Baru yang antisastra. Biasanya penguasa justru alergi terhadap sastra. Sastra bahkan menjadi musuh. Orde Baru memberangus novel-novel Pramoedya Ananta Toer, mencekal Rendra baca puisi dan pentas teater. Sastra seolah menjadi kekuatan yang akan menumbangkan kekuasaan Orde Baru. Sastra yang seharusnya membebaskan menjadi sastra keindahan alam. Tengoklah di sekolah, pelajaran Bahasa Indonesia hanya mengajarkan sastra karya pujangga lama dan pujangga baru. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Rendra dan Umar Kayam yang mengangkat tema persoalan riil masyarakat jarang menjadi perbincangan di kelas. Tanyalah siswa SMA di Bojonegoro, apakah pernah membaca novel karya Pram seperti Arus Balik, Keluarga Gerilya dan Nyanyi Seorang Bisu. Atau membaca karya Umar Kayam seperti Para Priyayi, Jalan Menikung dan Bawuk. Atau membaca naskah drama karya WS Rendra, Panembahan Reso. Saya yakin, masih jarang siswa di Bojonegoro yang membacanya. Sastra masih menjadi anak tiri dari program pemerintah. Sastra masih dianggap sebagai bahasa yang indah dan mendayu-dayu. Sastra tidak dimaknai sebagai sosiologi, sejarah, ekonomi, politik dan roh membangun karakter bangsa ini. Membaca sastra masih dianggap sebuah kesia-siaan belaka. Inilah salah satu bentuk keberhasilan Orde Baru menumpulkan sikap kritis rakyatnya. Caranya menyingkirkan karya sastra bermutu dan menggantikan dengan sastra keindahan alam.

Bagi saya, inilah salah satu pekerjaan rumah Suyoto. Ironis jika bupatinya menulis puisi tapi karya-karya sastra bermutu belum menjadi bacaan utama siswa Bojonegoro. Mentradisikan membaca karya-karya sastra berkualitas harus menjadi bagian dari program character building.
Apalagi saat ini tak perlu ada ketakutan membaca karya-karya sastra yang pernah dilarang di masa Orde Baru. Sastra pasca-Orde Baru tumbang tak lagi sebagai lawan. Tapi, menjadi kawan yang akrab. Saking akrabnya, tema sastra pun berubah menjadi keintiman. Tubuh menjadi tema yang menarik. Sastra pun menyandang predikat sastra wangi hingga sastra etnik.

Puisi-puisi yang ditulis Suyoto tidak berada pada kutub sastra sebelum reformasi dan sastra wangi. Karya-karya Suyoto berdiri sendiri. Karyanya sangat dipengaruhi latar belakangnya sebagai bupati, politisi, intelektual dan mubaligh. Karena itu, kadang puisinya bertema tentang kegelisahan seorang politisi memahami keresahan rakyat. Kadang puisinya juga berisi pikiran-pikiranya sebagai intelektual. Dan kerap kali puisi-puisinya juga berisi pesan-pesan substantif dari agama.
Jangan berharap, Anda akan menemukan puisi-puisi yang kritis dalam puisi Suyoto. Justru yang kita temukan adalah curahan khas penguasa. Kegelisahan melihat rakyatnya yang belum sejahtera, ajakan membangun optimisme hingga ajakan untuk bermanfaat untuk kebaikan Bojonegoro.

Namun, tidak semua puisi Suyoto juga berisi ajakan dan kegelisahan. Saya sendiri pernah dikirimi puisi yang begitu romantis dan mengena di hati. Puisi itu sebenarnya salah kirim. Seharusnya dikirim ke Bu Mahfudhoh Suyoto tapi nyasar ke ponsel saya. Saya pun langsung meneruskan puisi itu ke istri saya. Tak disangka, puisi itu mendapatkan respon positif. Ah, betapa bahagianya saya saat itu.
***

Suyoto bukan penyair dadakan. Sebelum menjabat sebagai bupati, Suyoto kerap kali mengirim puisi kepada sejumlah sahabat-sahabatnya. Puisi-puisi itu menjadi semangat agar tak menyerah. Karena jika kita berani hidup maka pilihannya adalah menjadi pendaki. Seorang pendaki tak kenal lelah. Dia harus berjuang untuk meraih sukses. Semangat itu yang terus digelorakan kepada siapa saja. Suyoto membuktikan hal itu.
Saat mencalonkan sebagai bupati Bojonegoro, sejumlah karib dan pengamat survei tak percaya dia akan berhasil menduduki kursi nomor satu di Bojonegoro. Sebab, pesaing Suyoto juga bukan ringan. Mereka disokong dana dan didukung tokoh nasional. Namun, Suyoto tak kecil hati. Dari pagi hingga pagi dini hari dia menyapa dan menginap di rumah penduduk. Itulah sesungguhnya yang dirindukan rakyat, yakni sapaan dari pemimpinnya. Ketika disapa tangan dan hatinya maka ini menjadi gelombang cinta yang tak tertahankan dari rakyat kepada calon pemimpinnya.
Dari puluhan puisi karya Suyoto, saya menyukai puisi berjudul Sudarmo (2010).
Lahir dari anak kosmopolitan
Bermimpi besar
Dan terus mendaki
Kakinya kuat, tangannya terampil
Langit horizon di kepalanya luas
Ia tahu samudra dan putaran bumi
Di Bojonegoro ia jatuh hati
Disana ia ingin sauhkan jangkar
Meski ia bebas di angkasa tapi tak ingin terus terbang di sana
Ia lebih suka melihat keringatnya mengalir di tanah becek
Airmatanya dia biarkan mengalir dalam lautan kemanusiaan
Energinya ia leburkan dalam deru derap pelik masalah
Tapi seperti namamu,
Supaya hatimu memberi (Sudarmo)
Engkau hanya akan tenang bila gelombang frekwensimu menemukan media Bojonegoro hanyalah tempat engkau akan menjadi dan menjadikan
Sudarmo seolah merupakan simbol dan harapan Suyoto sebagai mengelola kekuasaan. Yakni, menjadikan Bojonegoro ladang yang luas bagi kita menjadi manusia yang bermanfaat dan menjadikan Bojonegoro makin matoh. Kita masih menanti ada Sudarmo Sudarmo lain yang menyemai di Bojonegoro.
Saya berharap Suyoto tak seperti yang dikatakan Milan Kundera, ''Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.''. Saat memegang kekuasaan, kadang lupa menjadi penyakit utama. Lupa dengan cinta rakyat dan janji-janji sebelum menjadi penguasa.

Namun kekhawatiran saya agak sedikit tertepis. Dalam sebuah perbincangan dengan saya menjelang Subuh. Suyoto mengatakan, “Politik kesejahteraan rakyat kecil adalah prioritas saya,''katanya. Ya, kesejahteraan seakan menjadi kata yang manjur jika menjadi penguasa. Mudah diucapkan tapi tak mudah dilaksanakan. Karena ada riak. Bukan hanya riak birokrat yang malas. Tapi juga bidak catur politik yang sesak.
Maka gagasan, perasaan, pikiran dan kesumpekan menjadi pemimpin harus diekspresikan. Agar hati ini lebih bening. Karena itu, puisi menjadi medan yang sangat bebas mengungkapkan pikiran dan perasaan itu. Menjadi bupati, Suyoto justru makin produktif menulis puisi. Saya menyakini, energi cintalah yang menjadi sumber utama Suyoto makin produktif menulis puisi. Saya menemukan jawabannya dalam puisi Cinta Itu (2009)

Mencintai itu memberi
Mencintai itu selalu berusaha menarik
Mencintai itu lautan, matahari dan angin sepoi
Mencintai itu kesanggupan menerima
Kesanggupan untuk menyukai
Kesanggupan untuk meminta dan sekaligus memberi maaf
Seperti kata orang pencari amor. Cinta harus seperti lautan yang luas. Dicaci maki dan dikritik rakyat itu adalah hal yang biasa bagi pemimpin. Kritikan harus diterima. Pemimpin yang tak tahan dikritik maka cenderung menjadi pemimpin yang otoriter dan korup. Agar tidak menjadi pemimpin yang otoriter maka pemimpin harus bersikap terbuka dan jujur. Menulis puisi adalah bentuk ekspresi cinta dan kejujuran Suyoto. Karena siapapun yang menulis puisi maka sesungguhnya dia sedang menulis kejujuran suara nurani. Kejujuran puisi itu juga yang menuntun Suyoto makin produktif menulis puisi. Saya berharap Suyoto terus menulis puisi. Karena itulah cara efektif agar kekuasaan menjadi tidak tumpul. Karena kekuasaan harus dijalankan dengan cinta dan kejujuran
Jujur mengalirkan cinta
Bahkan saat pikiranku buntu
Jujur menginspirasiku ide cemerlang
Bahkan saat aku galau
Jujur memberiku ketegaran dan keberanian

(Nyanyian Kejujuran,2008)



 

Seno Masih Dilarang Bernyanyi Di Kamar Mandi

Kamis, 15 Juli 2010


Cerita-cerita Seno Gumira Ajidarma selalu membuat saya selalu menghela napas panjang di akhinya. Ada satu buku cerpen Seno yang membuat saya harus berterimakasih banyak. Yakni, buku cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku. Saya pernah menghadiahkan buku itu kepada belahan hati. Membaca cerita Sepotong Senja untuk Pacarku, saya seperti membaca puisi Chairil Anwar berjudul Pelabuhan. Filmis dan romantis.
Seno adalah tukang cerita yang piawai. Dia tahu kapan pembaca harus terus mengikuti ceritanya, kapan harus berhenti sejenak dan kapan harus ditendang habis-habisan otak pembaca.

Saya menyarankan kepada penulis-penulis cerpen di Radar Bojonegoro agar membaca cerita-cerita Seno. Tema yang menarik, alur sederhana dan percakapan yang cerdas. Kadang saya tertawa geli diakhir cerpennya yang renyah.
Seperti dalam cerita Bibir yang Merah, Basah, dan Setengah Terbuka… dalam buku Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi. Sebuah cerita tentang keluarga yang tinggal di gang kecil dan kumuh di Jakarta. Dihimpit ekonomi yang selalu kekurangan. Seorang istri bernama Asih curiga di bajunya ada goresan bibir berlipstik merah. Dia marah lalu, lalu melabrak kesana kemari mencari suaminya bernama Sukab. Hingga akhirnya Asih mencari Sukab di perusahaan lipstik. Karena Sukab bekerja sebagai sales keliling lipstik. Ash malah dimarahi Satpam perusahaan lipstik karena datang ke pabrik dengan tampang marah-marah.
Seno lalu mengalihkan cerita Sukab yang menuntun motor dengan loyo. Loyo karena bonus bulanan yang diterima kecil. Tiba di rumah usai memarkir motornya, Sukab terkejut karena asih ternyata sudah berdandan menor. Bibirnya setengah terbuka dengan asap rokok berhembus dari bibirnya.

Bagi saya, cerita tentang potret keluarga menengah ke bawah dengan renik-reniknya cukup menggelitik. Karena masyarakat bawah adalah potret masyarakat yang satir di tengah belantara Jakarta.

Kalau Anda penggemar cerita-cerita Seno, maka Anda tak akan kesulitan menjumpai nama Sukab. Di hampir semua cerpen-cerpen Seno, tokoh bernama Sukab selalu ada.
Seno termasuk tukang cerita yang tak lelah mencari terobosan dalam bentuk penulisan cerpen dan novel.

Dalam kumpulan cerpen Kematian Donny Osmon, Seno bereksplorasi menggabungkan komik dengan cerpen. Bahkan dalam cerpen Keroncong Asmara, dialog antar tokoh dalam cerpen itu ditulis seperti Sutardji Calzoum Bachri menulis puisi.
Seno juga lihai menulis cerita dari fakta menjadi fiksi. Kumpulan cerpen dalam buku Saksi Mata merupakan kesaksian Seni terhadap kekejaman negara terhadap rakyat Timor Timur saat itu. Cerita-cerita dalam Saksi Mata adalah cerita nyata tapi Seno mengemasnya menjadi fiksi yang menarik. Setelah Saksi Mata terbit, muncul perdebatan tentang sastra an jurnalistik. Sastra dinilai sebagai sarana yang efektif menyuarakan kebenaran saat jurnalistik dibungkam penguasa. Fakta bisa dibungkam, tapi imajinasi, siapa yang bisa membungkamnya?

Cerpen Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi membuktikan tentang fakta dan fiksi (imajinasi). Cerita ini ditulis Seno pada 1990. Tentang perempuan yang mandi di kamar mandi umum sebuah kampung. Dari suara resleting baju dibuka hingga suara saat mengguyur tubuhnya dengan air. Apalagi disertai dengan nyanyian. Warga dan Pak RT cemas karena suara perempuan mandi menimbulkan imajinasi porno bagi warganya. Porno? Tentu saja ini soal persepsi. Warga terutama ibu-ibu dan Pak RT akhirnya mengusir perempuan itu. Dan di depan kamar mandi umum ada papan tertulis, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.

Cerita itu adalah sebuah sindiran yang cukup halus terhadap pengekangan kebebasan berekspresi dan berpendapat saat kekuasan Orde Baru. Hanya karena menyanyi saja sudah menimbulkan banyak imajinasi bagi warga. Ketakutan warga dan Pak RT merupakan bentuk dari ketakutan Orde Baru terhadap kebebasan berpendapat. Ketakutan terhadap kebebasan berekspresi dan berpendapat merupakan imajinasi Orde Baru.
Orde Baru telah lewat. Kebebasan berekspresi dan berpendapat mulai terbuka pasca-Orde Baru. Cerita Seno pun beralih, bukan lagi soal Sukab dan perempuan menyanyi di kamar mandi. Tapi tentang cerita silat dalam kitab Nagabumi. (*)
              
               ____________________________________________________________________________






Sumber:
http://samudrabanyubening.blogspot.com/on



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar