Kamis, 05 April 2012

Proses Kreatif Sastrawan Jawa


      @ Djajus Pete   
           http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/
              










Sosok Djajus Pete, penulis "cerkak" saat berbincang di Taman Budaya Yogyakarta, Minggu lalu. (foto: r. toto sugiharto)

“SUREALIS ki. Larang iki. Kon realis ae. Gak kuat kon nggarap surealis....”


Kutipan tersebut adalah bagian atau penggalan dari dialog antara Djajus Pete dengan kawan-kawannya di Dusun Cangkrungan, Bojonegoro, Jawa Timur. Konteksnya adalah semacam transaksi ide. Ada semacam “jual-beli” ide dalam penulisan karya sastra, khususnya cerkak (cerita cekak), cerita pendek yang ditulis dalam bahasa Jawa.

Maksudnya, Djajus memberitahu bahwa ide yang diceritakan adalah untuk cerita surealis. Karena itu, nilainya relatif lebih mahal ketimbang ide yang realis. Selain itu, menurut Djajus, ada kawannya yang kurang cocok kalau menulis cerkak surealis karena tidak akan mampu.

Djajus Pete mengungkapkan kisah dalam keseharian hidupnya di Bojonegoro, di antara anak, isteri, dan kawan-kawannya. Pengarang sastra Jawa yang juga berprofesi sebagai guru itu membuka rahasia kesenimanannya di depan publik sastra Jogja, Minggu 24 Oktober 2010 malam di Ruang Seminar TBY (Taman Budaya Yogyakarta). Forum tersebut dikemas dalam Bincang-Bincang Sastra yang dipandu Triman Laksana dan secara reguler digelar di TBY dan memasuki forum ke-61.

Setiap seniman tentu memiliki proses kreatif yang khas dan unik. Seniman jadul (jaman dulu) apa lagi. Djajus Pete adalah seorang seniman yang memiliki keunikan dalam proses kreatifnya. Di samping profesinya sebagai guru, Djajus Pete juga dikenal sebagai penulis cerkak. Ia sudah menekuni proses kreatif sebagai penulis cerkak dalam kurun 40 tahun ini.

Salah satu keunikan Djajus Pete, proses kreatifnya lebih banyak berkecamuk di dalam batok kepalanya. Tokoh-tokoh cerita sudah berbicara dan bermunculan di dalam kepalanya sementara ia belum sempat menuliskannya. Acap terjadi pula, antartokoh dari latar dan tema cerita yang berbeda bertemu di dalam benaknya hingga seperti terjadi dialog intensif. Bahkan, tak jarang, proses itu mencapai waktu hingga berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun.

“Saya membayangkan ide itu seperti kurva. Bulat. Nah, kadang-kadang tokoh-tokoh dari ide cerita yang berbeda-beda bisa bertemu. Mereka bisa bikin dialog lagi. Kadang tak bisa dikendalikan. Ini yang bikin pusing,” papar Djajus.

Diilustrasikan Djajus, selama ide belum ditulis, tidak jarang ia berdiskusi dengan anak, istrinya, dan kawan-kawan penulis di kampungnya. Pada saat berdiskusi itu, tidak jarang bila kawan-kawannya justru berminat membeli ide yang masih ada di dalam kepala Djajus dan belum sempat ditulis. Lumayan. Kadang-kadang kawan-kawannya menghargai ide Djajus senilai Rp 15.000. Sampai-sampai, bila benar-benar baru butuh uang, istri Djajus mendesaknya agar lebih praktis menjual ide saja.

“Kata istri saya, lumayan bisa laku lima ribu rupiah. Daripada diceritakan saja,” ujarnya blak-blakan.

Djajus Pete memang lebih banyak menyimpan ide. Ia pun lebih sering “ditanggap” untuk mengisahkan cerpennya yang masih di dalam ide. Karena itu, tatkala idenya ditulis dan diterbitkan di media cetak, tak jarang justru dianggap lebih buruk. Artinya, kekuatan lisan Djajus dalam mengisahkan tokoh-tokoh cerita bisa lebih baik dibandingkan kekuatannya dalam menulis cerkak.

Tapi, Djajus tidak materialis saat istrinya mendesak agar ide-idenya dijual saja. Djajus biasa menceritakan lebih dulu secara lisan kepada anaknya. Dan, kalau sudah cerewet, istrinya akan menegur anaknya, agar ia jangan mempercayai kata-kata ayahnya. Karena, ide-ide yang hanya dilontarkan secara oral atau lisan, mustahil bisa menjadi uang.

Lalu, bagaimana pandangan Djajus Pete tentang karya yang baik? Menurut Djajus Pete, sebuah karya sastra harus memuat unsur moral, filsafat, ataupun agama. Salah satu atau ketiganya harus ada dalam karya. Kalau tak ada ketiganya berarti sampah. Hanya saja, lanjut Djajus, pengarang jangan menggurui. Menulis tentang tokoh malaikat ataupun nabi, boleh saja. Yang penting adalah substansi dari apa yang dibicarakan dalam karya itu.

Djajus Pete yang telah meraih penghargaan Rancage Award itu mengaku sudah mulai menulis pada usia 5 tahun. Pada saat itu sastrawan dan kritikus sastra Jawa, mendiang Suripan Sadi Hutomo menulis surat untuknya, bahwa suatu saat Djajus Pete menjadi pengarang besar.

Diakui oleh Djajus, memang ada sesuatu yang memotivasi atau mendorong agar dirinya tetap menulis sastra Jawa. Yaitu, agar sastra (kebudayaan) Jawa tidak kalah dengan sastra dunia. Memang, hingga saat ini sastra Jawa tidak pernah mati. Selama bahasa dan kosa kata Jawa dipelihara dan sesungguhnya kosa kata bahasa Jawa lebih lengkap dari kosa kata sastra Indonesia.

Ia biasa mengambil simbol wayang dalam cerkak-cerkak-nya. Wayang sebagai sumber inspirasi yang sangat luar biasa. Dengan mengambil wayang dan dunia simbol, menurut Djajus,  karya lebih panjang aktualitasnya.

Selama berproses kreatif dalam kurun waktu 40 tahun bukan berarti banyak pula karya yang terbit. Karena, Djajus lebih mengutamakan mematangkan proses sebelum ditulis. Setelah ditulis pun oleh Djajus masih dikoreksi, diendapkan sehingga satu karya kadang membutuhkan penyelesaian hingga tiga-empat tahun.

“Awalnya saya menulis realis. Sekarang saya lebih suka yang simbolik. Karena itu bisa lebih panjang (aktualitasnya –red),” pungkasnya. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar