Selasa, 27 Mei 2014

Panitia Festival Bengawan Bojonegoro Dibentuk









Reporter: Hazhu Muthoharoh

sastraBojonegoro. - Bersamaan dengan perayaan Hari Jadi Bojonegoro nanti, Dewan Kebudayaan Bojonegoro(DKB) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro akan menggelar Festival Bengawan Bojonegoro.

Malam ini, Jumat (23/5/2014) anggota DKB menggelar rapat pembentukan panitia yang akan menjadi koordinator acara yang rencananya akan digelar selama 3 hari 3 malam dengan setting Bengawan Bojonegoro.

Menurut Ketua DKB, Kuzaini, Festival ini akan dipusatkan di 3 titik yang berdekatan dengan Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, di antaranya Desa Ringinrejo, Desa Sukoharjo dan Lapangan Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk.

"Selain untuk memperingati Hari Jadi Bojonegoro, Festival Bengawan Bojonegoro ini juga bertujuan untuk mengenalkan kebudayaan Bojonegoro, tidak hanya skala nasional tetapi juga di Asia Pasifik," ungkap penulis buku ]Untu Emas ini.

Festival ini diperkirakan akan berjalan sangat meriah dengan berbagai acara seni juga budaya seperti lomba gethek atau perahu hias, suguhan tari-tari tradisional, langen tayub, wayang kulit, lomba layang-layang, dongeng cerita rakyat, lomba melukis dan masih banyak lagi.

Untuk hari dan tanggal pelaksanaan, sementara masih belum ditentukan. Namun yang pasti masih dalam rangkain HJB usai hari raya Idul Fitri.

"Harapan kami  bisa disiarkan di 7 Jaringan TV internasional karena nantinya juga akan mengundang media nasional untuk meliput festival besar ini," pungkas pria yang akrab disapa Kang Zen ini. [zhu/yud]

Kamis, 15 Mei 2014

Pelatihan Sastra Jawa

sastra-bojonegoro.blogspot.com







sastra bojonegoro - Puluhan guru Bahasa Jawa tingkat SMP se-Bojonegoro mendatangi aula SMP Model Terpadu guna menghadiri acara pelatihan menulis cerito cekak (cerkak) dan membaca geguritan, Rabu (14/5/2014). Sebelum memasuki ruangan, bazar buku karya penulis Bojonegoro menyambut para guru. Misalnya buku Kumpulan Cerkak SMP 1 Baureno, juga penulis PSJB lainnya.

Acara ini terselenggara atas kerja sama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Bojonegoro dan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Selain dihadiri peserta dari Bojonegoro, beberapa peserta ternyata berasal dari luar kota. Ketua PSJB, JFX Hoery, mengatakan ada peserta yang datang dari Ngawi dan Blora.

“Iya cukup puas dengan terselenggaranya acara ini, karena para peserta juga antusias. Semoga ada hasilnya dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Selain Hoery, tampak pegiat sastra lain juga hadir. Seperti Gampang Prawoto dan Hary Nugroho. Sementara tiga peraih rancage: Widodo Basuki, Nono Warnono dan Djayus Pete didapuk sebagai narasumber dalam pelatihan tersebut. Widodo Basuki memeragakan bagaimana membaca geguritan. Sedangkan Djayus dan Nono menyampaikan materi bagaimana mencari ide penulisan dan teknik-teknik penulisan cerkak.

Bagi Djayus, ide cerita bisa datang dari mana saja. Bisa dari orang, buku dan kejadian tertentu. Baginya seorang sastrawan harus pandai-pandai menangkap sinyal dari alam. Karena alam memberikan sejuta ide untuk bisa ditulis dalam karya sastra. Melihat banyaknya penulis sastra jawa di Bojonegoro, Djayus menganggap bahwa Bojonegoro bisa dianggap sebagai barometer sastra jawa di Jawa Timur.

“Oleh sebab itu dengan adanya seperti ini saya berharap akan muncul generasi-generasi penulis sastra dari Bojonegoro yang berkualitas,” pungkas pria yang mengaku tak pernah merasa tua tersebut. [rul/yud]


Sekitar 120 peserta mengikuti pelatihan menulis Bahasa Jawa "cerkak" (cerita cekak) dan "geguritan", yang diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Daerah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Ketua MGMP Bahasa Daerah SMP/Mts Bojonegoro Sri Kuniwati, mengatakan, tujuan diselenggarakannya pelatihan menulis Bahasa Jawa tersebut merupakan usaha meningkatkan kamampuan guru Bahasa Daerah SMP dan Mts baik negeri maupun swasta, juga para siswa.

Selain itu, pelatihan tersebut juga sebagai usaha mengenalkan Bahasa Jawa kepada para siswa yang tertarik untuk menekuni Bahasa Daerah.

Ia menyebutkan sekitar 120 peserta pelatihan menulis Bahasa Jawa tersebut tidak hanya guru lokal, tetapi ada juga sejumlah guru asal Ngawi dan Magetan, bahkan asal Kabupaten Grobokan, Jawa Tengah.

Kehadiran peserta luar daerah mengikuti pelatihan, katanya, karena memperoleh undangan dari Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB), yang mendukung pelatihan.

"Kami datang mengikuti pelatihan Bahasa Jawa, sebab di Ngawi dan Magetan tidak pernah ada pelatihan menulis Bahasa Jawa," kata seorang guru SMPN 3 Ngawi Wening, yang datang bersama tiga guru asal Ngawi dan tiga guru asal Magetan.

Oleh karena itu, katanya, pelatihan yang diikuti tersebut merupakan usaha para guru Bahasa Daerah Ngawi dan Magetan, untuk memperoleh ilmu dalam menulis Bahasa Jawa.

"Di Ngawi dan Magetan jarang ada sastrawan Jawa, tetapi di Bojonegoro cukup banyak," ujarnya.

Pelatihan menulis Bahasa Jawa tersebut menampilkan nara sumber sastrawan Jawa Bojonegoro Djajus Pete dan Nono Warnono, dengan materi cara menulis "cerkak", selain itu juga Redaksi Majalah Joyoboyo di Surabaya Widodo Basuki.

"Pelatihan menulis Bahasa Jawa ini layak mendapatkan apreasisasi, sebab sangat jarang ada pelatihan menulis Bahasa Jawa," jelas Djajus Pete.

Di lokasi pelatihan, sekaligus juga dijual berbagai buku dalam Bahasa Jawa yang diterbitkan PSJB dalam bentuk "cerkak", "geguritan", novel, juga sejarah.

"Ada 15 judul buku Bahasa Jawa yang sudah ditertibkan PSJB. Kalau di pasaran umum harganya berkisar Rp25.000 sampai Rp40.000/buku," kata Ketua PSJB, JFX Hoery. (*)





Sumber:
blokBojonegoro.com -antarajatim.com

Minggu, 11 Mei 2014

Bedah Antologi Puisi 'Epifani Serpihan Duka Bangsa'

sastra-bojonegoro.blogspot.com






Bedah Antologi Puisi  'Epifani Serpihan Duka Bangsa'
sastra-bojonegoro - Atas dasar pengalaman dan intensitas dua hal yakni pro dan kontra bencana sebagai pemicu kelahiran penyair peduli bencana, "Epifani" menerapkan kaidah tahapan seni dan kaidah tahapan jurnalistik. Dengan menerapkan kedua kaidah tersebut adalah sebagai contoh kongkret seni sastra puisi berdasarkan catatan jurnalistik sejarah.

Itulah salah satu cuplikan kata-kata narasumber Yonathan Raharjo dalam bedah buku karya penyair peduli bencana Indonesia "Epifani Serpihan Duka Bangsa". Bedah buku yang digelar di Aula SMKN 2 Bojonegoro, Sabtu (10/5/2014) juga menghadirkan sastrawan, Anas AG sebagai narasumber.

Puisi dan Penulisnya

Perempuan Dan Reruntuhan Karya: Agus Hariyanto Rasjid 
Bocah Kecil Dan Reruntuhan Karya: Agus Hariyanto Rasjid

            Bertanya Bencana Karya: Agus Sukoco 
       Bencana Itu Adalah Kamu Karya: Agus Sukoco

        Jangan Menangis Beee !!! Karya: Aloeth Pathi 
           Pesan Dari Gunung Karya: Aloeth Pathi

                 Perjalanan Karya Anta Sulthoni

             Yang Tersisa Karya: Apollonia Corida

           Negeri Atas Angin Karya: Ary Nurdiana 
         Janjiku Pada Negeriku Karya: Ary Nurdiana 
             Wajah Negeriku Karya: Ary Nurdiana 
               Anak Negeri Karya: Ary Nurdiana

             Nyanyian Ciliwung Karya; Aryo Ayok

        Tangisan Bumi Pertiwi Karya: As Syifa Aulia 
   Kidung Perih Gunung Sinabung Karya: As Syifa Aulia 
            Muhasabah Diri Karya: As Syifa Aulia 
         Sinabung Berguncang Karya: As Syifa Aulia

           Tanah Yang Murka Karya: Asri Aprianti

                Emosi Alam Karya: Asrie Dede 
    Di sini Aku Kirim Doa Untukmu Karya: Asrie Dede 
    Sampai Di Mana Perjalananmu Karya: Asrie Dede  
               Getaran Nada Karya: Asrie Dede

              Pada Mata Itu Karya: Asrie Lestari 
            Catatan Almanak Karya: Asrie Lestari 
            Jika Alam Marah Karya: Asrie Lestari

   Trenyuh Empati Karya; Bambang Kustedjo Soedarjo 
    Bulan Berkabut Karya; Bambang Kustedjo Soedarjo

                   Duka Karya: Budi Wiyono 
                   Resah Karya: Budi Wiyono

      Tiada Pantas Aku Berdiri Karya: Burhanudin Joe 
        Sinabung Menggugat Karya: Burhanudin Joe 
 Gunungku Terlanjur Tua Karya: Burhanudin Joe 
              Indonesiaku Karya: Burhanudin Joe

 Bukan Toba Supervolcano Karya: Didi Pengeja Al Adabi 
Manuskrip Kegelisahan Cinta Karya: Didi Pengeja Al Adabi 
        Genta Sebuana Karya: Didi Pengeja Al Adabi 
     Replika Untung Diri Karya: Didi Pengeja Al Adabi

         Bencana Negeriku Karya: Fitryana Nur Aini 
      Berdoa Dalam Bencana Karya: Fitryana Nur Aini 
         Meratus Menangis Karya: Fitryana Nur Aini

  Tragedi Cinta Nestapa Kelud Karya: Gampang Prawoto
            Wisik Kelud Karya: Gampang Prawoto

   Bocah Kecil Dalam Dekapan Karya: Hastira Soekardi

    Menaguk Ikan Di Air Keruh Karya: Helmi Setyawan 
        Mengapa Harus Kami Karya: Helmi Setyawan 
   Untuk Tuan Pemberi Bantuan Karya: Helmi Setyawan

                 Bencana Karya; Hendi Tragedi

          Menuai Bencana Karya: Herry Abdi Gusti 
          Festifal Gunung Karya: Herry Abdi Gusti

                 Sadarlah Karya: Ining Rusmini 
              Ujian Tuhan Karya: Ining Rusmini 
              Api Sinabung Karya: Ining Rusmini

                  Banjir Karya: JF Widianigsih 
                   Sesal Karya: JF Widianigsih

            Tangisan Malam Karya: JF Widianigsih 
          Semua Salah Kami Karya: JF Widianigsih

        Mungkin Tuhan Marah Karya: Koko Prianto 
                   Lahar Karya: Koko Prianto

       Gerimis Di Mata Negeri Karya: Minto Leksono 
           Gemuruh Bumiku Karya: Minto Leksono 
         Lemahnya Tegunku Karya: Minto Leksono 
             Jangka Rasaku Karya: Minto Leksono

        Pahitnya Merapi Karya: Muhammad Zamzuri

             Teguran-Nya Karya: Mustamir Khafid 
              Berkabug Karya: Mustamir Khafid

           Ratap Tole Karya: Nani S Kartamihardja 
Tidurlah Dengan Damai Karya: Nani S Kartamihardja 
   Hilanglah Mimpi-mimpi Karya: Nani S Kartamihardja

      Bersabarlah Tanah Karo Karya: Neny Makmum 
      Mungkin Teguran Tuhan Karya: Neny Makmum 
      Jangan Pernah Berhenti Karya: Neny Makmum 
          Kekuatan Itu Ada Karya: Neny Makmum

        Suatu Senja Di Tanah Karo Karya: Nieranita 
        Hilangnya Kepingan Jamrud Karya: Nieranita 
                  Satu Menit Karya: Nieranita 
             Bila Tiba Saat-Nya Karya: Nieranita

    Semua Bisu Tertutup Abu Karya: Nur Ria Widiarti 
         Tradisi Kungkum Karya: Nur Ria Widiarti

            Rencana Bencana Karya: Octavianus

           Rindu Senyum Sinabung Karya: Renita 
                 Duka Sinabung Karya: Renita 
              Di Manakah Ayahku Karya: Renita 
                Ratapan Pribumi Karya: Renita

            Bumiku Membiru Karya: Retno Dinar

       Bumi Berselimut Duka Karya: Reza Mahardika

            Tangisan Anak Karya: Ricky Adityanto

    Simpan Amarahmu Sinabung Karya: Rose Marry St 
           Tegur Tuk Tegar Karya: Rose Marry St 
         Debu Berhamburan Karya: Rose Marry St 
             Tragedi Kelud Karya: Rose Marry St

        Mari Bergandeng Tangan Karya: S Indayani 
                Relung Hati Karya: S Indayani 
           Berbagilah Denganku Karya: S Indayani 
             Nyalakan Cahaya Karya: S Indayani

      Tangisan Putra Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
 Pesan Cinta Dari Kelud Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
       Surat Pendek Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
Jangan Marah Pada Kami Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
          Kematian Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar

    Dongeng Dari Negeri Bencana Karya: Sidik Ihwani 
              Sketsa Kelud Karya: Sidik Ihwani

  Maafin Emak Nak Karya: Srikandy Ayoe
            Pusara Cinta Karya: Srikandy Ayoe

              Amarah 1 Karya: St Sri Emyani 
              Amarah 2 Karya: St Sri Emyani

     Kenangan Tentang Kelud Karya: Tino Jooshe 
             Mari Bersujud Karya: Tino Jooshe 
             Cerita Marni Karya: Tino Jooshe

    Indoonesia Tanah Air Mata Karya: Tosa Poetra 
        Tak Ada Kabar Baru Karya: Tosa Poetra 
Sepenggal Cerita Dari Pandansari Karya: Tosa Poetra

          Padang Ilalang Karya: Tulus Setiyadi 
      Kelud Mewakili Tuhan Karya: Tulus Setiyadi

           Ampuni Kami Karya: Utada Tienza

              Semoga Karya: Widuri Dewanti 

sastra-bojonegoro.blogspot.com


.

Senin, 05 Mei 2014

SMA N 3 Terbitkan Antologi Puisi

sastra-bojonegoro.blogspot.com





 Siswa SMAN 3 Bojonegoro Terbitkan Antologi Puisi
Kontributor: Nasruli Chusna

blokBojonegoro.com - Menjelang akhir masa pembelajaran, siswa kelas XII SMAN 3 Bojonegoro menerbitkan antologi puisi bersama. Dari keempat antologi yang diterbitkan, para siswa patungan untuk mengganti biaya cetak dan penerbitannya.

Diprakarsai oleh guru Bahasa Indonesia mereka, Susanto, antologi puisi bersama tersebut dikemas menjadi sebuah tema besar, yaitu pohon, sehingga masing-masing bukunya berjudul ranting pohon, daun, duri, dan akar.

Susanto mengatakan, “Memang pada proses pengerjaannya saya arahkan untuk menulis berdasarkan apa yang mereka lihat. Bisa di lingkungan rumah, maupun di sekolah.” Di antara judul puisi dalam antologi tersebut adalah sepatu, bungkus permen, sampah, dan batu.

Selain karena pelajaran di sekolah, menurut Susanto, tujuan penerbitan antologi itu adalah untuk menumbuhkan semangat berkarya bagi para siswa. Baginya, jika ingin mengajak anak didik untuk berkarya, harus dimulai dari diri sendiri agar siswa terinspirasi dan mendapat contoh bahwa gurunya juga seorang penulis. Hal ini yang menurutnya jarang sekali ditemui di lapangan.

Rencananya, peluncuran antologi tersebut akan dilaksanakan bertepatan dengan hari kebangkitan nasional pada 20 Mei nanti. Namun, karena beberapa sebab jadwal tersebut dimajukan pada 3 Mei, bertempat di SMAN 3 Sendiri.

“Jadi nanti ketika para siswa sudah lulus dan keluar, mereka sudah menelorkan karya sendiri. Semoga ini bisa menjadi motivasi agar lebih maju,” pungkas Susanto. [rul/lis]




Minggu, 04 Mei 2014

Tiga Sastrawan Bojonegoro Bacakan Karyanya di DKS

sastra-bojonegoro.blogspot.com





Kontributor: Nasruli Chusna

blokBojonegoro.com - Selasa (22/4/2014) malam ini, tiga pegiat sastra Bojonegoro bakal menampilkan karya mereka di depan sastrawan se-Jatim. Acara yang bertajuk Malam Sastra Jawa tersebut diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Surabaya (DKS).

Pada kesempatan tersebut, sastrawan Bojonegoro yang diundang di antaranya JFX. Hoery, Nono Warnono, Gampang Prawoto dan Sri Setyo Rahayu. Hanya saja karena ada keperluan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), JFX. Hoery tak dapat hadir.

“Selain upaya pelestarian dan pengembangan budaya Jawa, acara ini juga biasa digunakan sebagai ajang silaturahmi para pegiat sastra di Jawa Timur,” tutur peraih dua penghargaan rancage tersebut.

Pria kelahiran Pacitan tersebut menambahkan bahwa acara Malam Sastra Jawa tersebut nantinya akan lebih menampilkan geguritan. Meski tak dapat hadir, ia berharap anggota PSJB yang hadir dapat menampilkan yang terbaik.

“Teman Bojonegoro yang berangkat tiga orang. Sayang kulo tidak bisa turut serta. Saya yakin teman-teman akan menampilkan yang terbaik,” pungkas mantan wartawan Kedaulatan Rakyat (KR) Yogjakarta tersebut. [rul/yud]
 





Santoso Sejak Kecik Jadi Dalang Juga Pengrajin Wayang

sastra-bojonegoro.blogspot.com






  Sejak Kecil Jadi Dalang, Kini Juga Membuat Wayang
Kontributor: Nasruli Chusna
blokBojonegoro.com - Tak jarang orang yang menjadi dalang sekaligus mampu memproduksi wayang. Namun, Santoso, dalang asal Dusun Pinggiran, Desa/Kecamatan Padangan, Bojonegoro, melakukan semuanya. Selain sebagai dalang, ia memproduksi sendiri aneka wayang yang kemudia dijualnya. Hasil produksinya ada yang terjual sampai Thailand.

Ia lahir pada tahun 1945, dan mulai menjadi dalang pada saat kelas lima SD. “Nggak tahu kenapa, sejak kecil kalau ada pergelaran wayang pasti lihat. Dari cerita-ceritanya itu lha kok langsung kesemsem,” kenangnya.

Santoso mencatat seluruh cerita dan tokoh pada tiap pergelaran wayang yang dilihatnya. Karena ketekuknannya ia berhasil menghafal beberapa lakon kemudian menampilkannya di muka umum.

Mengingat usianya yang masih belia, ketika pertama kali tampil menjadi dalang, ia langsung kondang dan mendapat banyak job. Hanya saja penampilannya belum bisa semalam suntuk. “Paling malam jam satu, soale sudah ngantuk dan besoknya sekolah,” katanya.

Saat belajar, kakek dua cucu tersebut sama sekali tak kesulitan memahami bahasa penyampainya, yakni bahasa ringgit. “Bahasa ringgit. Artinya yaitu sari-sarine nganggit, jadi sesuatu yang bernilai saja yang dibawakan. Semua unsur dalam pewayangan mengandung filosofi yang tinggi dan nggak banyak orang yang ngerti,” ujar Santoso.

Menurut Santoso pesan-pesan dalam cerita wayang tak jauh dari ajaran agama. Ketika mementaskan wayang kulit, ia menjelaskan, layar lebar yang menangkap seluruh bayangan tokoh wayang mempunyai makna tersendiri. Adanya bayangan menunjukkan bahwa kita tidak hanya hidup di dunia.

“Ada wayang dalam bentuk nyaya, tapi juga ada bayangannya. Artinya manusia berada pada dunia dan akhirat,” tuturnya. Oleh karena itu ia berharap seni wayang tak akan pernah mati dan harus ada penerusnya," katanya.

Dari profesi dalang itulah ia dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Karena putra-putranya tak ada yang berminat dalam bidang seni, ia mengajarkan ketrampilannya pada siapa saja yang mau. Termasuk dua siswa SMP 1 Cepu yang pernah ia ajak pentas di Bojonegoro.

Dalam pergelaran, Santoso bisa membawakan berbagai jenis wayang. Seperti wayang kulit, tengul/golek dan wayang krucil. Perbedaan mendasar dari tiga jenis wayang tersebut, menurutnya, terletak pada cerita atau lakon yang dibawakan.

Wayang kulit membawakan cerita legenda seperti Ramayana, Mahabarata dan Dewaruchi. Sementara wayang tengul bisa mengadaptasi dari sejarah nyata. “Contohnya kerajaan Majapahit bisa kita angkat ke wayang thengul, kalo lakon wayang krucil itu sama dengan wayang kulit,” jelas pria berkacamata tersebut.

Menjelang usianya yang ke-70 berbagai daerah sudah pernah ia sambangi. Mulai dari Blora, Tuban, Lamongan dan Bojonegoro sendiri. Selain menjadi dalang, ia juga membuat sendiri wayang-wayangnya. Bapak lima anak tersebut bisa membuat wayang kulit, wayang tengul/golek dan wayang krucil.

Bagi lulusan Sekolah Perpaduan (stingkat SMP) tersebut proses pembuatan wayang krucil relatif lebih rumit. Karena selain harus telaten, harus menguasai ketrampilan seni pahat dan ukir. Bahan bakunya terbuat dari kayu jati, yang dibentuk dan dipahat sebagaimana tokoh pewayangan seperti Janoko dan Punokawan. Bagi yang hendak memesan, ia biasa mematok harga Rp200.000 sampai Rp350.000. tergantung motif dan tingkat kesulitannya.

“Satu paketnya bisa terdiri dari 80 tokoh, saya biasanya menjual sampai Rp15 juta. Dulu disbudpar Bojonegoro juga pernah saya buatkan satu kotak. Ada juga yang dibawa sampai ke Thailand,” terang Santoso.[rul/ang]