Minggu, 29 Agustus 2010

TEMU TEMAN DAN SILATURAHMI INDONESIA

-sebuah catatan penyunting dan pengantar buku-
R. Timur Budi Raja

I.

Ketika Puji Lestaluhu -kawan saya-, seorang aktivis teater kampus yang kebetulan menjadi salah satu dari kepanitiaan Temu Teater Mahasiswa Nusantara 2008 ini meminta saya untuk menjadi kurator sajak-sajak peserta yang rencananya hendak dibukukan, saya terkejut. “Ya ampun, rasanya saya belum cukup memiliki keberanian!” seru saya, sontak dan ringan. Tapi, Puji, kawan saya itu segera memberi isyarat agar saya diam, sembari menyerahkan setumpuk teks. “Kami tunggu kabar, dan pastikan tiap komunitas dapat ruang satu,” ucapnya. Wah, saya memilih mengiyakan dan tersenyum akhirnya.

Terus terang, awalnya saya sangat kelimpungan. Saya tiba-tiba menjadi seorang penakut yang berhati-hati. Dan sekali lagi, ya ampun, hingga menjelang waktu yang ditentukan itu tiba, saya masih juga rajin-rajin bertengkar dengan pikiran sendiri lantaran perkara ini.

Sebenarnya apa yang saya takutkan? Kerja kurasi yang sedang saya pikirkan ini-kah, atau keinginan pihak panitia yang memberi catatan kaki agar tiap komunitas peserta dapat dipilih –atau lebih tepatnya diambil satu- dari sekian sajaknya?

Kedua pertanyaan yang saya rumuskan itu, tragisnya benar. Setidaknya, sebab catatan kaki pihak panitia itulah, kemudian alasan-alasan ketakutan saya menjadi lebih jelas. Bagaimana mungkin kerja seorang kurator dimasuki wilayah keinginan panitia. Sebenarnya bagaimana konsepsi awal rencana penerbitan buku kumpulan Temu Teman ini? Demi distribusi keadilan –meminjam istilah panitia-, kenapa perlu seorang kurator? Lalu, apakah seorang yang ditunjuk sebagai kurator digiring menjadi tidak profesional dan timpang dalam kerja kurasinya, bahkan diberi ruang bunuh diri?

Bagaimana tidak. Pertama; ketika memandang kenyataan teks yang ada, meski tidak seluruhnya, tapi yang lebih dominan sederhana seperti ini, saya khawatir terlalu tergesa-gesa bila harus menentukan standarisasi ideal untuk memberi nama tumpukan di tangan saya ini sebagai teks yang ditulis dengan bobot sastra dan atau menyebutnya sajak. Kedua; persoalan yang berkembang kemudian karena sebayang hantu pertanyaan rentetan, adalah ukuran apa yang harus saya gunakan untuk membaca, membaca ulang dan seterusnya memilih teks-teks itu sebagai isi buku, yang nanti akan dinyatakan panitia sebagai sebuah kumpulan atau antologi sajak?

Saya bergidik. Buku yang sedang dibayangkan bersama itu, terlepas dari bagaimana pun kemasannya, atau pun mau dipandang sebagai apa saja, tentu akan dibawa oleh para peserta Temu Teman se-Nusantara yang pulang ke daerahnya masing-masing.

Mungkin sebagai benda kenangan; memorabilia dengan ikatan sejarah, peristiwa dan momentumnya. Mungkin untuk pendokumentasian, mungkin untuk pembacaan, mungkin demi motivasi kreatif, mungkin untuk semacam album silaturahmi, mungkin catatan perjalanan atau kekenesan di usia muda, atau cuma untuk dibawa pulang.

Akhirnya, saya bergegas menghubungi dan mengajak pihak panitia untuk mendiskusikannya ulang. Singkat cerita, lewat percakapan yang cukup panjang, akhirnya kami menemukan jalan keluar, yang mungkin lebih arif. Kedudukan saya bergeser sebagai penyunting. Saya bahagia, karena saya tak lagi duduk semirip paus dan hakim, atau pun sang penuding.

II.

Seorang penyair, yang sumpah mati saya lupa namanya, pernah mengatakan bahwa perkembangan penulisan sajak saat ini sudah sampai pada tataran niat. Artinya, sesuatu yang ditulis oleh seseorang –baik dia penyair atau bukan- dan diniatkan sebagai sajak, maka, ya itulah sajak.

Ini subyektif memang, bahkan, debatebel. Bagi seorang penyair yang sudah tiba atau memiliki teknik menulis, tentu pemahaman itu dapat diterima atau lewat begitu saja. Persoalannya, bila pemahaman tersebut ditangkap oleh seseorang, atau siapa pun yang baru memulai masuk ke dalam dunia penulisan kreatif, dalam hal ini sajak, barang tentu kemudian, aktivitas menulis dipandang semacam kegiatan yang mudah dan tak perlu serius belajar.

Wah, gampang benar menulis sajak. Seseorang yang tanpa dasar pengetahuan bahasa, tanpa memiliki literatur tentang sastra dan karya, apakah mungkin bisa menulis sajak? Apakah aktivitas menulis bisa dipisahkan dari aktivitas membaca? Apa yang akan ditulis, kalau tak pandai membaca? Aih, rasanya ini tak perlu diperpanjang!

Sekarang, bagaimana dengan setumpuk teks yang ada ini? Apa yang perlu kita telisik dari sebuah kehadiran? Apakah teks-teks ini telah merepresentasikan temu teman, dalam pengertian yang sesungguhnya? Silaturahmi nusantara; semacam kegelisahan pertemuan, kerinduan untuk membikin api, perhelatan akbar, sidang besar dan orang-orang muda yang dengan tangan kiri terkepal tengah mereka-reka Indonesia kembali, karena dibaca tak lagi menjanjikan apa-apa.

Sajak-sajak yang telah saya pilih dalam buku ini, dengan seluruh keterbatasannya, yang pasti telah berbicara dengan bahasa mereka. Jujur, lugas sebagai bahasa anak-anak muda yang tengah mencari arti kehadirannya sendiri. Sederhana dan dipenuhi oleh spirit silaturahmi Indonesia. Lebih tepatnya, Nusantara!

Dalam gelora kreatif, ternyata mereka benar-benar bertemu dan belajar. Maka, selamat membaca dan menelisik kehadiran ini.

. Surabaya, 28 Juli 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar