Minggu, 29 Agustus 2010

200 Peserta Ikuti Kemah Budaya Jawa




 kbj
Kemah Budaya Jawa 2009
Bedander,27 s.d 29 Oktober 2009











BUPATI BOJONEGORO BUKA KEMAH BUDAYA JAWA 2009

Bojonegoro, 27/10 (ANTARA) - Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto, Selasa, membuka kemah budaya Jawa 2009, di pemandian wana wisata Dander, Desa Dander, Kecamatan Dander, yang diikuti 300 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Bupati Bojonegoro, Suyoto, dalam acara pembukaan menegaskan, sudah menjadi kewajiban bersama untuk melestarikan kebudayaan Jawa, yang dikenal adiluhung.
Dengan demikian, adanya kemah budaya Jawa di Bojonegoro ini, merupakan salah satu usaha untuk melestarikan Budaya Jawa, yang dalam perkembangannya harus menghadapi tantangan jaman.
Selain itu, dalam khasanah khusus Bojonegoro, yang juga memiliki dialek bahasa daerah Jonegoro, sudah sepatutnya harus ikut dipertahankan.
Salah satu contoh, dalam mempertahankan dialek Bahasa Jonegoro itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) memanfaatkan slogan dialek bahasa asli Jonegoro, yaitu Bojonegoro "Matoh".
"Ini lebih mengena di masyarakat, untuk mendorong berbagai bidang pembangunan," katanya menjelaskan.
Dalam acara pembukaan itu, seniman siter, Rukini (64), asal Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, mendapatkan penghargaan, sebagai pelestari budaya Jawa di Bojonegoro.
Penghargaan yang diberikan tersebut, karena Rukini, sejak usia 11 tahun, hingga sekarang ini, bertahan mengamen dengan alat musik "kecapi", dengan lagu-lagu tembang Jawa.
Di samping itu, penghargaan juga diberikan kepada Sukadi (71), penduduk Desa Ledokkulon, Kecamatan Kota, sebagai pelestari budaya Jawa, karena telah melestarikan budaya seni Sandur. Dalam acara pembukaan juga disuguhkan kesenian musik "Oklik", yang dikenal sebagai kesenian khas asli Bojonegoro.
Menyusul setelah itu, acara dilanjutkan dengan sarasehan dengan nara sumber, Yunani Prawiranegara, sastrawan Jawa asal Surabaya, dengan tema pendidikan sastra Jawa dalam era globalisasi.
Menurut sekretaris panitia Kemah Budaya Jawa 2009, M. Chuzaini, jumlah peserta sebanyak 300 orang dari berbagai kalangan mulai pemerhati Bahasa Jawa, pelaku kesenian Jawa, juga kalangan lainnya.
Mereka, datang dari berbagai kota di Indonesia, mulai Bogor, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Lamongan, Rembang, Kudus dan kota lainnya di Indonesia.
Dijadwalkan, pelaksanaan Kemah Budaya Jawa yang akan diisi dengan berbagai kegiatan pelestarian Budaya Jawa itu, berakhir 29 Oktober ini.
"Kemah Budaya Jawa 2009 ini, sekaligus untuk menyongsong Kongres Bahasa Jawa di Surabaya pada 2011," katanya. 


(T.PK-SAS/B/F002/F002) 27-10-2009 12:40:06


 (Sastra Bojonegoro) http://www.bojonegoro.com/


Sebanyak 200 peserta dipastikan mengikuti Kemah Budaya Jawa 2009 di Wana wisata Dander, Desa Dander, Kecamatan Dander, Bojonegoro, Jawa Timur, 27 -29 Oktober 2009.

“Dari 322 undangan yang kami sebarkan, ada 200 peserta yang malaporkan bisa hadir dalam acara kemah budaya Jawa di Bojonegoro,” kata Sekretaris Panitia Kemah Budaya Jawa, M. Chuzaini.

Peserta yang bisa hadir antara lain mahasiswa Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, sedang peserta lain dari Yogyakarta, Jember, Surabaya, Malang, Lamongan, dan Bojonegoro.

Menurut dia, pendataan dari berbagai kalangan yang diundang dalam kemah budaya di Bojonegoro hingga saat ini terus dilakukan, termasuk pembicara yang tampil dalam acara itu.

Dalam sarasehan membedah aksara Jawa, dosen Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM), Prof Damardjati Supadjar dan KRT Sutrimo, hampir bisa dipastikan hadir sebagai nara sumber.

“Pembicara lainnya yang dipastikan adalah sastrawan Jawa, Jayus Pete, asal Bojonegoro, yang akan berbicara dalam sarasehan dialek bahasa daerah Bojonegoro atau Bojonegaran dalam himpitan industrialisasi,” katanya.

Sementara itu, sarasehan dengan tema, globalisasi sastra Jawa, dengan nara sumber, Arswendo Atmowiloto, masih dalam konfirmasi dengan yang bersangkutan.

“Kami masih belum mendapat konfirmasi resmi dari Arswendo Atmowiloto tentang kehadirannya,” katanya.

Dalam acara kemah budaya Jawa 2009 itu, akan diisi juga dengan berbagai kesenian khas Jawa, mulai wayang thengul, wayang tobos, cokekan dan sandhur kasepuhan dan kentrung.

Dia menjelaskan, pelaksanaan kemah budaya Jawa ini, merupakan langkah yang strategis bagi Indonesia, sebab keberadaan bahasa Jawa dan berbagai kesenian yang menyertainya merupakan produk asli bangsa Indonesia.

“Apalagi, dengan mencuatnya berbagai kasus kesenian mulai Reog Ponorogo, batik dan terakhir tari Pendet yang diklaim Malaysia. Kemah budaya Jawa juga, sekaligus untuk menyongsong diselenggarakannya kongres Bahasa Jawa ke-5 tahun 2011,” katanya.(*)

http://www.antara.co.id/berita/1255779421/200-peserta-ikuti-kemah-budaya-jawa




Tetua PSJB Jfx Hoery dampingi Kang Yoto 
Kang Yoto dan undangan KBJ 2008
Ibu Rukmini dengan siternya
"OKLEK" SMP PGRI 1 Bojonegoro Asuhan Jagat Pramudjito, meriahkan KBJ 2009


 
 Bupati Jonegoro Kang Yoto Serahkan "Taliasih" Pada Seniman
gampang prawoto bacakan guritnya "Omah Tawon
Mbak Diah Hadaning Jakata bacakan gurit "Hong"
Duet "Macapat" Mbah Brintik (Batu Malang) & Ibu Sri Mulyani Jonegoro


Bojonegoro, Jawa Timur - Kemah Budaya Jawa (KBJ) 2009, dijadwalkan digelar di Wana Wisata Dander, di Desa Dander, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, 27 hingga 29 Oktober 2009 mendatang. "Kegiatan ini diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk peserta dari luar negeri, Australia," kata Ketua Panitia Penyelenggara Kemah Budaya Jawa, JFX Hoery, didampingi panitia lainnya, M Chuzaeni, Kamis. Dia menjelaskan, pelaksanaan KBJ 2009 ini, merupakan langkah yang strategis bagi Indonesia. Alasannya, belakangan ini mencuat berbagai kasus kesenian mulai Reog Ponorogo, Batik, dan terakhir Tari Pendet yang diklaim milik Malaysia.

Di samping itu, KBJ sekaligus untuk menyongsong diselenggarakannya Kongres Bahasa Jawa ke-5 tahun 2011 di Jawa Timur. "Dengan adanya Kemah Budaya Jawa ini, menunjukan kepedulian masyarakat Jawa atas kesenian hasil karya nenek moyangnya masih tinggi," katanya menjelaskan. Dalam KBJ selama tiga hari tersebut akan diisi dengan berbagai kegiatan mulai sarasehan membedah huruf Jawa dengan narasumber guru besar filsafat Universitas Gajah Mada, Prof Damardjati Supadjar dan KRT Sutrimo.

Selain itu, juga digelar Sarasehan Bahasa Jawa Pesisiran dengan narasumber dosen UNESA Surabaya, Sugeng Adipotoyo, dan sastrawan Jawa asal Bojonegoro, Djajus Pete. Sarasehan lainnya yakni Masa Depan Budaya dan Bahasa Jawa, hingga penampilan berbagai kesenian lokal Bojonegoro dan pameran budaya Jawa. Dengan adanya KBJ ini diharapkan akan mampu menumbuhkan semangat kebersamaan untuk tetap mempertahankan kesatuan dan persatuan dengan keanekaragaman suku yang ada di Indonesia. (antara)
nnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

 
Dalam Tenda Andik Bagong, sibuk...Oo Oo printernya rusak ya! wkwkwk......




Ketua & Sekretaris PSJB Serta Sponsor lagi......








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar