Sabtu, 04 September 2010

SASTRAWAN GADUNGAN? 1

oleh: Nurel Javissyarqi
____________________________________________________________________________________

SASTRAWAN GADUNGAN?

Namaku penyair gadungan
nama baptisku penghinaan
moyangku pemberontakan,

darah di tubuhku keberanian
usiaku setua semangat jaman
ruhku senafas ular hitam berbisa
rasku manusia dalam keabadian,

nuraniku semurni embun surga
ajaranku perjuangan hidup
pekerjaanku sehitam awan
statusku sebagai pengelana
cita-citaku pengujian nasib,

istriku bernama Main Mata
anakku suka bermain batu
temanku bernama Tidak Tidur
tetanggaku perubahan generasi
dan negeriku di pulau kekacauan.

Judul di atas terinspirasi Halim HD, yang menyebut dirinya sebagai "guru gadungan" saat mengajar Bahasa Indonesia di Department of Asian Language and Culture di University of Michigan (1989-1992). Juga Oktavio Paz yang pernah mengakui kalau dirinya antropolog amatir yang memiliki iktikad baik, dalam bukunya bertitel Claude Lévi-Strauss An Introduction.

Titel di atas betapa menggoda, tepatnya menggiurkan di mata kesaksianku yang terus berpindah-pindah mendewasa, menaiki jenjang tingkatan waktu menggila, sampai memendarkan cahaya formula bermacam ragamnya, jika semua aku perturutkan pada bentukan kalimah utuh sebagai sebuah karya:

Ada menginginkan sewujud balada, serupa puisi panjang mendebarkan, sebuah bangunan konsep pemberontakan, naskah teater penuh intrik kekacauan, esai bersimpan daya segar dibaca disegala waktu diinginkan pembaca. Tentunya tak mungkin beberapa kulayarkan dalam satu tarikan nafas berlainan warna dalam sebuah bingkai, seperti sungai mendenyutkan arusnya berbeda baunya. Maka kupilih catatan bebas dengan harapan bisa dipetik lewat berbagai cara di tempat duduk dipenuhi keriangan membaca.

Jika melihat atas sorot mata kejam, sungguhlah membludak para penyair gadungan. Disebut gadungan dapat dikata belum diakui letak keniscayaan mewah oleh lembaga sastra bergengsi yang diakui di dunia internasional, bukan sekadar dipatenkan lembaga-lembara sastra gadungan pula. Di sini seyogyanya, tempat pengujian karya dari berbagai para pakar profesional.

Diturunkan sedikit, aku pernah baca esai seorang kawan yang menyebut bahwa para sastrawan yang tak dicatat dalam sejarah sastra di negerinya, ialah sastarawan yang a-history. Jika mengerucut padanan watak, penyair (sastrawan) gadungan merupakan para pelaku yang kurang serius menggali bencah tanah hidupnya demi disajikan dalam bentukan karya, hanya main-main mencari muka guna isi perut serta bentuk topinya semata.

Pada penuturan ini banyak yang berbicara kepentingan, saling dongkrak pamor juga politik sastra yang berlaku di sebuah wilayah. Di tempat lain, sastrawan gadungan bisa bermakna para penggiat sastra yang karya-karyanya serupa hasil penjiplakan, lebih rendah tak mau ambil pusing mencari formula tersendiri atas usahanya menggali pengertian hayati, sebab dalam berkarya hanya menyedot nilai-nilai yang sudah ada.

Di tempat berbeda, kita mengetahui ada beberapa penyair yang ragu-ragu hasil ciptanya, sebelum mendepati menghargaan, seperti penyair Polandia, Wisława Szymborska. Pun untuk kasus Halim HD di lembaran kompas 15 September 1999 di atas, kukira sekadar merendah diri semata, tersebab dirinya pun berangkat dari puisi pada mulanya, demikian juga pengakuan Octavio Paz Lozano di awal bukunya. Pula jika menyelidik jauh, dapatlah Rabindranath Tagore disebut gadungan, kalau nasibnya tidak terseret ke Negeri Paman Sam seperti yang dialami sang nabi Lebanon Khalil Gibran.

Bagaimana pula bisa disangka, seorang gelandangan di negeri timur jauh, Indonesia, Hermann Hesse, Arthur Rimbaud, di masa-masa akhirnya dapati pengakuan dunia. Ini seolah bicara bobot pengakuan di samping geliatnya total mengeruk nilai-nilai yang bertebaran di atas bumi kehidupan.

Di sisi mata uang lain dengan sorot mata sama, kejam; gadungan tidaknya terlihat jelas atas proses kreatif mereka yang kian membuncah, atau malah ambruk di tengah jalan, tak berasa seampas tebu ampang, sebab tak miliki daya kukuh mengeruk pesona hayati sesama dalam gemuruh ruh jamannya.

Di kelas-kelas berbeda, Yukio Mishima, Pramoedya Ananta Toer, Hamka ialah orang-orang tergusur dalam sejarahnya, dan kalau memakai kaca mata kebengisan, merupakan menjelmaan gadungan. Kini tinggal siapa menilai, serta standar apa penimbangnya, dengan kriteria apa disebut gadungan dan tidaknya.

Untuk tiadanya resiko lalu melodi ini diturunkan, mungkin hanya yang tak tercatat dalam sejarah bangsanya, tak mampu mewarnai geliat jamannya dapat dikata gadungan. Atau orang-orang yang sekali dua kali tampil lantas habis ditelan perubahan, sedangkan yang karya serta biografinya tetap berkibar, dapat dikelompoknya sastrawan asli atau tulen.

Lalu apakah kita rela, W.S. Rendra, Putu Wijaya, Ahmad Tohari, Sutardji Calsum Bahri, Afrizal Malna, dikatakan sebagai bentuk sastrawan gadungan, lantaran gemanya kurang lantang ke negeri-negeri jauh, kalah pamor media atas bangsa-bangsa yang negerinya menghargai sungguh karya sastra? Kukira tak sepicik itu lantunanku.

Yang tahan banting memegang prinsip, menggenggam kuat capaiannya ke mimbar peradilan karya, itulah pantas disebut tulen atau tidaknya, hal ini tertandakan sejauh mana kupasan orang-orang sejaman, dalam negerinya pun di luar negeri, apakah benar layak, bukan sekadar diagung-agungkan demi awal terciptanya pembentukan tradisi kesusastraan di lingkungannya.

Turun lagi atau naik, betapa mudah menyebutkan diri pada seorang kawan pun diri sendiri sebagai sastrawan, penyair atau sebangsanya, padahal baru beberapa saja nongol di surat kabar, tragis lagi baru dua, tiga kali masuk koran, oleh adanya pertimbangan politik golongan sastra tertentu, sudah disebut penyair, sementara jika ditengok jauh belumlah mendarah daging menyetubuhi kata dalam hidupnya secara ngetih, totalitas penggaliannya.

Sedangkan di lempengan lain ada beberapa orang terus mengolah raga bathinnya, menempa kata sampai mendapati format tersendiri dengan berbagai keasyikannya dalam bentukan karya, tapi karena tak dikenalnya, begitu ringan menyebutnya a-history.

Sekali lagi dimungkinkan pengujian karya secara terbuka, dan pembelejetan kekaryaan menjadi sangat penting pun dituntut demi menjawab klaim-klaim kurang bertanggung jawab, sebab pembacaan pada seorang serta karyanya hanya sekilas, lalu didengungkan sampai tidak masuk dinalar meyakinkan.

Di sini aku teringat penyair dan kritikus Saut Situmorang, yang karena pandangannya kepada politik sastra yang kejam di Indonesia, dengan lantang membelejeti pola tipuan yang mengisari dirinya, imbasnya kurang dianggap, sebelum pengujian pada karyanya lebih obyektif waras di tanah air. Pun Hudan Hidayat mungkin latarnya kurang tepat, dianggap sebelah mata sebelum berhadap muka dalam kajian mendalam serta seterusnya.

Pada gumpalan lain esai kritik, kadang perupa esai pekabaran, adanya kumandang H.B. Jassin, Iwan Simatupang, Katrin Bandel, Seno Gumira Ajidarma, Maman S Mahayana, Binhad Nurrohmat, Raudal Tanjung Banua, Sihar Ramses Simatupang, di belahan berbeda adanya sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana, Sitor Situmorang, Abdul Hadi W.M., Goenawan Mohamad, Ribut Wijoto, Nirwan Ahmad Arsuka, Fahmi Faqih, Bre Redana, Marhalim Zaini, Nirwan Dewanto, Ahmadun Yosi Herfanda, pun di sebalik itu adanya sastrawan yang terus merangsek, Suparto Brata, Bonari Nabonenar, Mardi Luhung, A.S. Laksana, Sunaryono Basuki Ks, juga yang berkisaran di antara mereka sebelum dan sesudahnya.

Jikalau disebut semua secara runtut tak acak sebagaimana di atas, mungkin setebal kamus sastrawan tersendiri, apakah ini gadungan? Karena kalimah-kalimahnya belum menggoyang kursi-kursi kekuasaan pemerintahan yang kian bobrok benyok hingga tumbang.

Dalam paparan ini aku teringat sosok Muhammad Iqbal, pada kapasitas tertentu budayawan Emha Ainun Nadjib mungkin, apakah gadungan? Aku jawab tidak dengan ucapan tegas. Hanya penulis catatan ini saja menyebut dirinya gadungan dan bersyukur sebelum pengujian apalagi berupa el-maut.

Gugusan di sisinya kusebut secara acak dan tak lengkap juga; Bokor Hutasuhut, Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Teguh Ranusastro Asmara, Landung Simatupang, A Musthafa Bisri, Musthofa W. Hasyim, Gola Gong, Otto Sukatno CR, Mathori A. Elwa, Abidah El-Khaliqi, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Hamdy Salad, Teguh Winarsho AS, Fahrudin Nasrullah, Wahyu Prasetya, Arif B. Prasetya, Habuburrahman el Shirazy, Damhuri Muhammad, serta timbunan nama juga karya berupa esai pun sastra murni, apakah gadungan? Aku jawab tidak dengan ucapan tegas.

Lantas aku teringat nama Remy Sylado, Arswendo Atmowiloto, Hamzah Fansuri, Kuntowijoyo, Martin Aleida, Sindhunata, Max Arifin, Anton Kurnia, Tia Setiadi, dan nama-nama pengarang yang membludak di kepala ini untuk dituliskan. Seolah mereka menyuruhku menghapus semuanya nama di atas, jika belum memiliki karya pamungkas yang layak disebutkan di masa kejayaan sastra indonesia nantinya sehingga membelah cakrawala kesusastraan dunia.

Mereka menyuruku abai atas carut marut perpolitikan susastra yang makin hari tak jelas atas dasar kepentingan kurang mengedepankan sikap dewasa demi kejayaan sastra di nusantara. Sebab belum adanya lembaga berwatak seimbang untuk menyaring mereka secara kritis, apakah sudah patut masuk leksikon besar sastrawan indonesia misalnya. Atau dibiarkan mengunduh jatah kemakmuran bathiniah usahanya masing-masing, yang terpetik dari pembacaan kandungan masa keparipurnaan karyanya di waktu selepasnya.

Tengok pula kumpulan antologi puisi, semisal yang digawangi Linus Suryadi AG, lantas diriku teringat nama; Suminto A. Sayuti, Bakdi Sumanto, Ashadi Siregar, Umbu Landu Paranggi, Ragil Suwarno Pragulopati dan lainnya. Lalu terdengar suara mendengung keras, sepertinya Wiji Thukul, Sosiawan Leak, Kirjomulyo, Subagio Sastrowardoyo, Hamid Jabbar, Asep Zamzam Noor, Korrie Layun Rampan, Ikranegara, Ramadhan K.H., Agam Wispi, Nh Dini, Kho Ping Hoo, Zen Hae, Muhidin M. Dahlan, Aslan Abidin, Mashuri, Sitok Srengenge, Rakhmat Giryadi, Puthut EA, Abdul Wachid BS, Kuswaidi Syafii, yang malah menyuruku menghapus namanya, pun nama pengarang yang kusebutkan maupun yang tidak sempat kusebutkan.

Seperti ada jalannya parade kesadaran lain yang mengatakan kepadaku, bahwa sastra di indonesia masih berupa tangga kayu bagi para generasi mendatang. Sebagaimana yang diucapkan Iman Budhi Santosa, Suryanto Sastroatmodjo, mungkin juga Romo Mangun, Frans Magnis Suseno, Romo Sindu, Budi Darma pula menyadarinya.

Dataran lain, diriku diingatkan nama-nama yang masih perlu kusebutkan: Idrus, Chairil Anwar, Sanusi Pane, Amir Hamzah, Ajip Rosidi, Umar Kayam, Danarto, Indra Tranggono, Agus R. Sarjono, Agus Noor, Triyanto Triwikromo, Udo Z. Karzi, Heri Latief, Radar Panca Dahana, Isbedi Setiawan ZS, W. Haryanto, Akhmad Sekhu, Y. Wibowo, Zainal Arifin Thoha, Ratih Kumala, Helvy Tiana Rosa, Ratna Indraswati Ibrahim, Diah Hadaning.

Dan secara acak pula, nalarku disodok beberapa nama, seperti Rivai Apin, Aoh K. Hadimadja, Bambang Widiatmoko, Sutirman Eka Ardhana, SM Ardan, Sri Harjanto Sahid, Kuspriyanto Namma, Beni Setia, Ayu Utami, Satmoko Budi Santoso, Bambang Darto, Fauzi Absal, M. Faizi, Dharmadi, S. Jai, Rahman Sabur, S. Yoga, Sawali Tuhusetya, Budhi Setyawan, Budi P. Hatees, Oky Sanjaya, Riki Damparan Putra, lalu entah siapa lagi yang merambahi kepalaku. Jelas sementara ini jikalau mencermati, lumbung terbesar atau terbanyak sastrawannya di sebuah negara ialah Indonesia, kalau menegok data di Wikipedia.

Namun andai tangan kejam hendak mempreteli. Ada berapa gelintir dari semua yang akan kusebutkan lagi, pun yang sudah kucantumkan di atas, yang benar-benar layak pantas mewakili garda depan sastrawan indonesia? Pernah suatu kali aku berfikiran, kesusastraan di negara ini takkan dikenal gemanya menjulang di manca negara, kalau tiada beberapa orang darinya ditaruh di beberapa negara terpenting, yang susastranya diperhitungkan mata dunia, lantas mengabarkan gairah semangat putra-putra bangsanya dengan rasa cinta luar biasa.

Lalu berduyun-duyun nama lain datang meneror kepala ini dengan acak-acakan menghampiriku; Taufik Ikram Jamil, Wowok Hesti Prabowo, Oka Rusmini, T.S. Pinang, Rachmat Djoko Pradopo, Joko Pinurbo, Arsyad Indradi, Soni Farid Maulana, Fakhrunnas MA Jabbar, Aming Aminudin, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Wan Anwar, Nenden Lilis A., Nukila Amal, Ulfatin CH, Evi Idawati, Warih Wisatsana, AS Sumbawi, Asep Sambodja, Gunawan Maryanto, Faisal Kamandobat, Sunli Thomas Alexander, Indrian Koto, Mahwi Air Tawar.

Kemudian disusul nama-nama yang seolah enggan aku tuliskan di sini, Mh Zaelani Tammaka, Hasan Aspahani, Ahmad Kekal Hamdani, Amien Wangsitalaja, Dwi S. Wibowo, Andrea hirata, A. Rodli Murtadho, Herry Lamongan, Nur Wahida Idris, Kurniawan Yunianto, Lang Fang, Haris Del Hakim, Alfiyan Harfi, Abdul Aziz Rasjid, Imamuddin SA, Ahmad Muchlish Amrin, Chamim Kohari, Samsudin Adlawi, Dedy Tri Riyadi, Grathia Pitaloka, Imron Tohari, Hanna Fransisca, Denny Mizhar, Gampang Prawoto, Cecep Syamsul Hari, M.D. Atmaja, Timur Sinar Suprabana, Tengsoe Tjahjono, Eko Tunas, Beno Siang Pamungkas, Sutejo, Bandung Mawardi pun deretan nama-nama yang berjubel sampai kini terus bergentayangan.

Ada beberapa nama yang belum banyak dikenal, namun aku campurkan di sana dengan kesengajaan, sebab karya mereka kukira layak disandingkan, tapi mereka semua senantiasa diuji ruang-waktu yang mengintriki jiwanya. Dan kini tergopoh-gopoh, ada reribuan orang bertengger di kepala mereka, dengan kualitas tak diragukan, tak bisa dianggap enteng. Semakin waktu merangsek, merapatkan tangan, menikam mata pada kertas-kertas, juga nuanse bergolah di bathin kebangsaannya kian haus wacana, disamping gencetan faham politik kesusastraan mengerubungi bayang-bayangnya.


Nurel Javissyarqi,04 September 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar