Kamis, 09 September 2010

Tadarus Sastra

Cara Seniman Geliatkan Sastra di Bojonegoro
____________________________________________________________________________________


Bacakan Puisi, Macapat, dan Geguritan saat Pentas
Seniman Bojonegoro dari berbagai komunitas terus menunjukkan eksistensinya. Antara lain menampilkan berbagai pentas sastra, baik sastra Indonesia maupun Jawa.
NITIS SAHPENI, Bojonegoro

Suasana gelap menyelimuti pendapa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Sabtu (28/8) malam. Beberapa lilin yang diletakkan di botol mineral dan digantung di seutas tali. Di pendapa terpampang tirai hitam yang biasa dipakai komunitas seni untuk menggelar pentas. Tiga kursi diletakkan di bagian sudut dan tengah panggung, dilengkapi dengan pencahayaan dari beberapa lampu.

Puluhan warga memadati pendapa dengan posisi duduk di karpet. Ada pelajar, namun tak ketinggalan pula penonton yang tak lagi muda. “Mari kita mulai tadarus sastra ini dengan menampilkan seniman sastra Jawa,” kata sang pembawa acara di tengah suasana gelap.

Atur sugeng para rawuh, Ing pahargyan puniki. Hamba atur sekar macapat. Kaleresan amengati. Ari agung kamardikan. Miwah romadan kang suci.

Seorang perempuan setengah tua, mendendangkan tembang macapat dengan judul sekar kinanthi. Dengan bahasa Jawa, perempuan yang bernama Sri Mulyani itu melantunkan dengan suara lantang. Selesai menampilkan tembang yang merupakan karya sastra Jawa ini, aplaus bergema dari penonton. “Ini untuk melestarikan sastra Jawa, karena semakin lama kian punah. Saat ini generasi muda bahkan kian tak memahami. Paling-paling yang intens adalah kaum tua,” katanya.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu ada tindakan guna menyelamatkan karya-karya sastra Jawa. Perlu ada berbagai acara pertunjukan karya sastra, khususnya berbahasa Jawa di kalangan remaja. “Juga harus ada perhatian dari pemerintah untuk melestarikannya,” urai Sri Mulyani.

Selain Sri Mulyani, juga tampil Maklum yang membacakan puisi berbahasa Jawa, serta seniman lain yang ikut menampilkan karya dengan berbagai tema. “Ada 25 penampilan yang bergantian menyajikan karya dalam tadarus sastra, baik karya sendiri maupun karya orang lain. Baik puisi, geguritan (puisi dalam bahasa Jawa), dan cerpen,” kata Masnun, pelaksana tadarus sastra.

Guru seni dan budaya SMKN 2 Bojonegoro ini mengaku, semakin bergairahnya pelaku seni di Bojonegoro membangkitkan komunitas lainnya untuk tampil bersama, dimana momentumnya bertepatan dengan Ramadan 1431 Hijriah. “Biar ada regenerasi sastra.
Sebab, disadari atau tidak, sastra masih kalah dengan budaya populer yang digemari anak muda saat ini,” ujarnya. (*/fiq)

radar bojonegoro, [ Senin, 30 Agustus 2010 ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar