Sabtu, 22 Maret 2014

SINAR SEROJA DIANTARA BIANGLALA

sastra-bojonegoro.blogspot.com




sastra-bojonegoro.blogspot.com

Suryanto  Sastroatmodjo


1.
Satu kebahagiaan, sebetulnya, ketika saya dengar, pelukis kawakan Yogya, Sapto Hudoyo mengeluarkan gagasan yang unik, tetapi manusiawi. Sastrawan, budayawan dan wartawan di kota budaya ini selayaknya dikuburkan di makam khusus di atas bukit, mengingat peranan mereka yang mulia, selaku penerus kalam Nabi dan Wali-Wali. Suatu penghargaan biasa, ataukah basa-basi, tidak jelas benar.
Hanya saja, ibarat seroja yang gemilang dan nampak di ketimnggian, akan lebih mudah kiranya dikenang anakcucu. Sekalipun bukan berbicara tentang para kuli tinta yang kudu dikebumikan melalui prosesi keagungan, seperti ajalnya ningrat-ningrat dulu kala, namun amatlah mengharukan, ide yang orisinil Sapto Hudoyo itu teruncur, di kala masyarakat tengah kepincut kepada karya-karya jurnalistik yang besar, kidung-kidung sastra yang berbobot, dan kabar tentang menonjolnya Anugerah sastra di mancanegara. Apakah kemudian sah juga dikatakan, kubur merupakan penghargaan maksimal bagi seseorang yang seluruh hidupnya dipersembahkan untuk menciptakan pancaran sinar lembut di antara bianglala, sesuai gerimis sore. Lebih dramatis lagi, bila tokoh, yang sem,asa hayatnya tak pernah punya rumah sendiri, setelah mati justru bermegah-megah bagaikan seorang santo? Bukankah para Santo baru dimuliakan setelah diterpa ajal?

2.
Ketegaran manggala budaya semestinya berkisar antara empat kepentingan yang rangkut-merajut. Pertama : bahwasanya ia menjadi seorang penimbang suasana yang tengah berlangsung, bukan buat menilai baik-buruknya, melainkan buat memastikan, apakah dia dapat mengambil peranan aktif di dalam pertarungan yang seru, ataukah tetap tinggal netral dalam sikap nan kaku. Kedua, bahwasanya di tengah gemilang permasalahan yang berat, maka manggala kudu bisa memetik garis yang terang dan gamblang tentang siklus pemikiran individualnya. Ketiga, bahwasanya dengan menciptakan situasi yang “gelisah serta penuh keragyan”, maka sang manggala sedapat mungkin membuat obat mujarab untuk menaklukkan musuh-musuh di antara bangsanya sendiri. Yakni, orang yang hanya lahirnya saja bisa menerima kredo-juang itu, namun dalam batinnya memusuhi secara sengit (jadi, kaum munafik, begitulah!). akhirnya, keempat, bahwasanya orang-orang yang hanya memperkatakan epos-epos kebudayaan di hadapannya itu sebagai tontonan di arena-aduan, sedang diri mereka Cuma siap sebagai tontonan. Di sini, diperlukan suatu langkah penjlentrehan nan kuat, di mana budayawan adalah putera mahkota dari “Kerajaan Pemikiran Sepanjang Masa”, yang tiadapernah takluk kepada hasut-hasutan. Kalau keempat laku tindak yang demikian ini dijabarkan secara luas, hakikatnya akan teraba pada setiap proses evolusi kultur yang ada di suatu negri, bagaimanapun corak dan kiblatnya.

3.
Semasa saya masih kanak-kanak, seorangpakde(abang dari ibu), di Bojonegoro. Bernama Raden Mas Ngabehi Ruslan Umarkatab sastohamijoyo seringkali mengingtakan, bahwa ukuran kelahiran membawa serta pemahaman batin, betapa peliknya jika ini ditafsirkan dengan memandang waktu yang dialami kini. Sebagai contoh dikatakan, bahwa kalau rela memberikan kepandaian ataupun sesuatu harta milik kepada oranglain, setelah orang tersebut meminta kepada kita (secara langsung)—maka hendaknya kita menyerahkan dengan hati nan lapang pula. Permintaan yang demikian merupakan suatu”ungkap-rohani” yang tersendiri, di mana benda dimaksud telah sepatutnya lepas dari tangan kita, dan dilingsir pihak ketiga. Sebaliknya, manakala berkeinginan memiliki sesuatu yang berharga, mohonlah selalu pada Tuhan, dengan cara yang khusyuk, hingga Dia mengabulkannya. Perbendaharaan alam semesta raya tiada watas dan hingganya, dan sekali lagi, getaran yang menghubungi diri kita dengan dzat rabbani adalah sedemikian halus (namun akrabnya, tulusnya, naluriahnya), sehingga semua itu diperlukan komunikasi halus dan intiem. Soalnya, seraya mendekatkan diri dengan Allah Maha Rakhman dan Rakhim, kita bisa belajar tentang kerelaan hidup yang maujud ke dalam rasa eling lan waspada—dua gatra nan mempertalikan pikir, angan-angan, kalbu dan “osikan lebet” yang ada dalam tubuh kita ini. Sarana eling dan waspada memperkuat disiplin pasrah kepadaNya—dan di mana rengkuhan sanubaru Yang Maha kuat senantiasa pada rengkuhan hati insani, yang mencintai dan menyembahnya; satu kumandang dari binar-terang transendensi yang memikat.

4.
Dalam kitab “Pepali Ki Ageng Selo” (Nasehat Ki Ageng Selo) terungkap dua pupuh sekar Dhandhanggula, sebagai berikut : “Bumi, geni, banyu miwah angin, pan srengenge, lintang lan rembulan, iku aneng kene, segara jurang, gunung, padhang, peteng, pada sumandhing, adoh kalawan parek, wis aneng sireku, mulane ana wong ngucap, sapa bisa wong iku njaring angin, jaba jalma utama. /Tama temen tumanem ing ati, atinira tang nganggo was-uwas, waspada marang ciptae, tan a liyanipun, muhung cipta harjaning ragi, miwah harjaning wuntat, ciptane nrus kalbu, nuhoni inngkang mawenang, wenangira kawula punika pasthi, sumangga ring kadarman.// artinya kurang lebih demikian : “Bumi, api serta angin, matahari, bintang dan rembulan, itu semuanya ada di sini, laut, lembah, dan gunung, terang dan gelap ada di samping, jauh dan dekat, sudah ada dalam dirimu, karena itu ada orang yang berkata, siapa yang dapat menjala angin, kecuali Manusia Utama/ Kuat benar bertanam dalam hati, hatinya tidak mengandung was-was, waspada terhadap ciptanya, tiada yang lainnya, dalam ciptanya meresap dalam kalbu, menyaksikan kenyataan yang kuasa, kekuasaan manusia itu seseungguhnya pasti, terserah kepada kemurahan Tuhan”// Demikian piweling Ki Ageng Selo yang hingga kini masih dapat kita renungkan, bagaimana penjabarannya.

5.
Hidup manusia berpusat di Hati, namun gilir-gulirnya bergerak antara jantung(perasaan) dan dalam otak(fikiran)—sedangkan kemudian bersatupadunya perasaan dan fikiran ialah cipta. Cahya sejati nan gemilang diperoleh, manakala cipta pun memusat ke Hati. Dalam situasi demikian, lenyaplah segala perasaan was-was dan manusia akhirnya ansyaf bahwa dirinya sekadar piranti, yang harus menjalankan petunjukNya. Hidup adalah sumber segala tenaga atau gaya. Sedangkan tenaga(energi) merupakan asal mula segala zat yang ada di alam ini. Belakangan dapat dibuktikan pula, pembuatan bom atom berdasarkan perubahan massa(zat) yang menjadi tenaga. Bila zat dapat menjelma menjadi tenaga, maka sebaliknya tenaga harus dapat pula menjadi zat. Dengan perkataan lain : zat ini tiada lain adalah sumber segala tenaga, sedangkan tenaga adalah asal-kamulanya zat—maka segala zat di alam ini sudah terkandung dalam Hidup!

6.
Sejauh ini, perlu direnungkan, bagaimana setumpukan bidang-bidang yang tak terhingga banyaknya membentuk sebuah benda. Benda itu dapat dipersaksikan dengan indera yang kita miliki, lantaran punya tiga ukuran(dimensi), yakni panjang, lebar dan tinggi. Namun demikian, Karen abenda tersebut terdiri atas unsur-unsur yang tidak dapat dipersaksikan, yaitu titik-titik kemudian garis-garis dan bidang-bidang, maka konsekuensinya benda dan ruang itu sebenarnya maya alias tiada. Ruang dan waktu adanya hanya sebagai manifestasi hidup, yang mula-mula mengandungnya. Karena itu kita bisa mengatakan, bahwa “jauh dan dekat” bersarang dalam pribadi insani. Dengan demikian, menerjemahkan atas kehidupan nan gumelar juga tak jauh dari pandangan kita yang dinukil oleh kesunyataan itu sendiri, yaitu : setiap sejentik getaran pedalaman batin, sebenarnya merupakan resonansi dari Kehendak Buana Mahabesar, yang diracik-temu pada kehendak-kehendak makhluk nan kecil dan laif-dhaif—yang adalah bayangannya jua.

7.
Biarkan daku mewujudkan kekuatan yang bersinar perada dengan bias-sinar yang hanya bisa ditengok orang lain, ketimbang diri sendiri. Dalam keluargaku, aku juga telah memilih “rumah masa depan di atas bukit”, yakni pekuburan yang kelak kuhuni dalam istirah penghabisan. Soalnya, bukan jasa untuk mengantarkan praba dan perada di atas seroja itu, melainkan karena secara adat, kami semua memiliki setelempap tanah yang siap mewadahi detak sebuah swarga bumi. Kurun ini memang menggelisahkan, konon; sehingga maut telah lebih dulu disantunni, ketimbang keringat di bahu yang berlelehan. Sayang, selubung hati manusia masih berkelebatan, kawan.



 (Nurel Javissyarqi)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar